
"Baunya sudah tercium sampai ke mana-mana, Mbak." sahut Narendra dari belakangku. Aku menoleh ke belakang, dan pria itu sudah berdiri sambil menyandarkan sebagian punggungnya ke kulkas. "Sekali lagi, Terima kasih, Ludira." Bisik pria itu pelan. Wajahku masih sama, kesal. Aku merasa pria ini masih belum sepenuhnya kembali dari zona gilanya.
"Aku duduk di meja makan ya, Mbak. Nunggu di sana, ini kalau di sini aku jadi merasa penuh kemaksiatan." Ujar Narendra sambil berlalu meninggalkan ku.
Apa maksudnya?
Keningku masih berkerut karena tidak paham apa yang di ucapkan oleh pria menjengkelkan itu. Di sini kan ada asisten rumah tangga yang membantuku memasak, jadi tidak berdua saja dengan Narendra kan? Apa maksudnya penuh maksiat? Dasar pria gila.
"Ini sudah siap lumayan tidak panas sekali, Bu. Ayam gorengnya."
"Oh iya, ini sudah kok, Mbak. Habis ini biar saya saja yang menyiapkan buburnya."
Perempuan itu menjawab dengan senyuman yang sangat lebar, ceria. Aku jadi ikut tersenyum. Sambil menyiapkan bubur ayam untuk pria yang tadi tersenyum sambil bertompang dagu dan menjentikkan jarinya di pipi.
Aku? Mau bilang sok imut ke pria itu tapi kenyataannya emang dia imut. Ngeselin!
"Waaaaahhhhh, akhirnyaaaa." Teriak Narendra begitu aku berjalan ke arahnyas ambil membawa nampan berisi mangkok bubur ayam itu. "Kok nggak ada kerupuknya, Mbak?" tanya Narendra sambil cemberut.
Aduh, ini akting jadi anak kecil?
"Iya, kerupuknya habis kata mbaknya."
"Ayamnya di tambahin dong, Mbak. Hehehe."
Aku memandang tajam sekilas ke arah Narendra sebelum mengambilkan beberapa ayam goreng.
"Sekalian di suwir suwir dong, Mbak. Hehehe." Ucap Narendra begitu aku meletakkan piring berisi ayam goreng yang baru saja aku ambil dari dapur.
"Konyol." desis ku pelan. Menarik kursi di sebrang pria itu duduk.
Kami terdiam, aku memperhatikan Narendra yang kini begitu asyik menikmati makannya. Bahkan entah sejak kapan perasaan hangat di dalam hatiku begitu terasa nyaman hanya karena melihat Narendra begitu menikmati dengan begitu lahap apa yang aku masak.
"Lapar banget?" Tanyaku tiba-tiba. Sadar bahwa pria ini sudah menghabiskan dua paha ayam yang di depannya. Piring itu aku isi dengan tiga potong daging ayam.
"Iya. Kelihatan rakus banget ya?"
Aku mengangguk tapi juga menggeleng. Entahlah, aku bingung dengan situasi saat ini.
"Mbak?"
"Hem?"
"Aku bisa sembuh dari rasa sakit ini kan?"
Aku menghembuskan nafas berat.
"Izinkan kebahagiaan itu masuk di hatimu, Ren. Mungkin itu jawabannya." Bisikku ragu.
"Kalau kebahagian itu kamu, gimana Dira?"
Kelopak mataku bergerak. Menatap tidak percaya pria yang baru saja mengucapkan hal kurang masuk akal dan sekarang kembali menggigit daging ayam yang di tangannya.
***
Sejak Narendra mengucapkan hal konyol itu, dia tidak lagi mengungkit-ungkit sedikitpun soal hal tersebut. Bahkan setelah selesai makan, dia hanya mengucapkan Terima kasih dan bilang mau menemui Almeera, Putriku.
"Dira? Kok di sini?"
"Eh, Ibu."
"Kaget ya?"
Aku tersenyum malu, iya.. Aku kaget. Aku masih duduk di ruang makan. Melamun, menyelami pikiranku yang mulai semrawut.
"Ibu bahagia, Dira. Narendra sepertinya sudah kembali pulih. Dulu, Narendra melampiaskan semua itu dengan belajar banyak hal. Menghafal ini itu demi terus membuat sibuk isi kepalanya. Namun tetap saja, luka itu masih bertahan di sana hingga saat ini. Bertahun-tahun lamanya. Terlalu membekas hingga ibu rasa, ibu memilih untuk menerima kenyataan bahwa Narendra tidak akan mudah menerima perempuan. Mungkin jika ibu dan bapak meminta Narendra buat menikah dengan perempuan yang kami pilihkan, Narendra tidak akan pernah melawan, tidak akan pernah bilang tidak. Tapi, apa kita sebagai orang tua bisa egois seperti itu?"
Aku masih diam, namun otakku mulai berfikir. Ya... Narendra sudah di jodohkan dengan temanku sendiri, maka aku harus lebih keras menjaga hatiku yang mulai menghangat dengan perasaan lega saat melihat Narendra tersenyum bahagia. Jangan sampai aku sendiri terjebak oleh perasaan yang seharusnya mutlak di milikku oleh mas Dodi.
"Sekilas bisa di lihat bahwa Narendra yang sekarang lebih baik dari pada Narendra yang dulu. Dulu saat masih belum memilih menikah dengan Sofia. Tapi kenyataannya justru kami kehilangan Narendra itu sendiri. Mungkin kami harus belajar lebih bersyukur lagi karena pelampiasan yang di ambil Narendra adalah positif, hanya saja Ludiraa. Di sini suka masih begitu sakit."
Aku menoleh ke arah ibu Basuki yang memegang dadanya. Wajahnya meringis seperti menahan rasa nyeri.
"Sebaiknya kita siap siap untuk sholat Dhuhur, Dira. Maaf, ibu jadi curhat macam macam."
Aku memberanikan diri memeluk perempuan sepuh yang kini mencoba tersenyum meski wajahnya masih terlihat sedih. Aku harap, kita bisa saling menguatkan.
***
"Tadi siang ketemu sama papanya Aksara, Lama atau bentar?" tanya Narendra kepada putriku, pelan. Setelah memastikan bahwa aku tidak mendengar. Padahal melihat Narendra yang menatap ke arahku tadi, aku pura-pura menyibukkan diriku sendiri, seakan tidak tertarik dengan mereka berdua.
"Lumayan lama, Om."
"Terus?"
"Adek nunjukin mainannya sama Almeera."
"Terus mama di mana? ikut?"
Bukan hanya aku yang mencoba menahan tawa mendengar suara Narendra yang aneh sekali. Putriku, Almeera justru memegangi mulutnya supaya tidak tertawa keras.
__ADS_1
"Kok ketawa gitu, Dek. Tadi mama ikut nemenin Aksara kan?"
"Hahahaha. Om kok Kepo sih!"
"Ayolah, jadi mama tadi di mana?"
"Mama tadi sih di ruang depan sama om Syailendra, ngobrol gitu."
Narendra yang mendengar jawaban putriku sepertinya kini berdiri dan melangkah ke arahku.
"Jadi? kalian ngobrol apa?" sentak Pria itu masih sambil berdiri di depanku. Aku meletakkan sulaman di samping tempat dudukku sebelum memandang ke arah Narendra yang mengharuskan aku untuk mendongak.
"Yang sopan, Narendra."
Pria dewasa itu manyun terus menyembunyikan tangannya di dalam saku celana. Bahkan menghindari tatapan mataku.
"Duduk. Duduk Narendra! Jangan berdiri di depanku seperti ini. Kamu nggak malu sama orang-orang?" cibirku. Sambil menatap ke arah Almeera yang kini memeluk buku sketsanya sambil memandang ke arah kami. Untung Bapak dan ibu tidak ada.
"Jadi kalian hanya berdua saja gitu? Seakrab itu? Kamu kasih izin Syailendra deketin kamu?" cerca Narendra seperti tidak perduli dengan apa yang aku katakan barusan.
"Narendraaa." ucapku pelan.
"Kamu tuh gimana sih, Mbak. Kenapa sih sama Syailendra yang baru saja ketemu sudah akrab gitu. Karena dia papanya Aksara gitu, Mbak? Harusnya tuh mbak tetap dingin kaya yang sudah sudah. Harusnya mbak tuh jangan terlalu dekat gitu sama dia." sentak Narendra marah kesal.
"Dasar Bocah tua!! ngomel nggak lihat lihat tempat!" sahutku sambil berdiri. Mungkin sebaiknya pergi aja dari pada gini.
"Ehh... jawab dulu!"
Aku melangkah cepat meninggalkan pria yang kini menaikan data bicaranya itu. Menyebalkan!
"Ludiraa!!"
"Diraa!"
Aku berhenti, menoleh ke belakang. Aku benci drama. Adegan kayak gini bikin aku inget sama film film. Saling mengejar.
"Iya! Iyaa. jelas aku lebih nyaman sama Syailendra yang sikapnya itu sesuai dengan usianya. enggak labil atau sok bocah kaya gini." Bentakku kasar. Kali pertama aku membentak seseorang setelah sekian lama.
Narendra ternyata tidak hanya memberi efek negatif untuk Almeera, putriku. Tapi juga memberikan efek negatif untuk diriku sendiri.
Huh!
"Kok kasar?" tanya Narendra heran. Jelas saja dia heran dengan sikapku. Aku sendiri saja heran. "Saya capek, saya muak, Narendra. Ayolah, dewasa! saya lebih nyaman dengan sikap namun yang nggak kekanak-kanakan seperti ini." sahutku penuh emosi.
Narendra tersenyum penuh misteri, memasukkan tangannya kembali ke saku dan menatap ke arahku dengan terlalu tajam serta dalam.
"Saya sepertinya cemburu dengan Syailendra, Dira."
"Narendra, kalau ngomong itu jangan suka aneh aneh."
"Mbak ngapain saja sama Syailendra?"
"Kami cuma ngobrol!"
"Ngobrolin apa?"
"Kamu nggak harus tahu! Yang jelas kamu harus berterima kasih dengan Syailendra, Karena dia saya bisa berdiri di sini."
"Whaaat???? Sejauh itu?"
Aku memilih diam.
"Saya kok jadi takut gini, Mbak. Takut kalau lama kelamaan mbak justru tertarik dengan Syailendra bukan denganku."
Plaak! Aku memukul lengan atas pria itu. Muluuut, mulut. Kalau ngomong kok suka seenaknya saja.
****
"Assalamu'alaikum?" sapa ku pelan kepada seseorang di sebrang sana. "waalaikumsalam, sudah tidur ?" tanya sura berat di sebrang sana.
"Maaf, siapa ya?" tanyaku pelan. Setelah mengecek kembali layar, tidak ada nama di layar itu. Nomor asing.
"Syailendra, papanya Aksara." jawab suara berat itu. Oh, mungkin dia dapat nomorku dari mbak pengasuhnya Aksara. "Ada apa ya?" tanyaku terus terang, ini sudah pukul sepuluh malam. Tadi setelah pulang dari rumah Narendra memang aku langsung tidur.
"Mengganggu ya?"
"Iya kalau nggak ada yang penting. Aksara baik baik saja kan?" tanyaku mulai khawatir.
"Baik baik saja kok, sepanjang di mau tidur Aksara terus bercerita tentang kalian. Bikin aku galau."
"Tolong ya, saya bukan tempat curhatnya orang-orang galau."
Enak saja. Cukup bagiku menghadapi orang galau seperti Narendra. Tidak ada niatan untuk menambah satu orang galau lagi.
"Hahahahaha. Nggaklah, cuma mau bilang Terima kasih buat semuanya. Dan ngomong ngomong, tadi Narendra tanya aku cerita apa saja sampai sampai katanya dia di suruh berterima kasih ke aku. Sumpah, aku bahagia banget, sudah lama sekali rasanya aku nggak lihat Narendra marah kaya tadi."
"Cuma mau kasih kabar nggak penting kaya gitu?"
"Nggak juga sih, cuma hari ini itu aku berasa dapat kekuatan banyak hal. Pertama, mbaknya Aksara tiba-tiba minta izin buat berhenti karena mau nikah sama orang yang di jodohkan sama orangtuanya. Kedua, Anak aku bahagia banget. Ketiga, Narendra marah sama aku karena katanya aku mempengaruhi kamu dengan begitu mudah."
__ADS_1
Hah? Kan cuma dapat izin liburan. Kenapa sekarang jadi mengundurkan diri?
"Kami nggak ngapa ngapain itu mbak kan? nggak masuk akal banget deh. Aku jadi negatif thinking gini sama kamu."
"Ngapa ngapain gimana maksudnya?"
"Kamu nggak ngrayu mbaknya Aksara kan?
Wajah kamu tuh tipe om om mesum."
"Hahahahaha. Konyol dih, nggak mungkin lah. Aku bukan bisa kaya gitu."
Aku belum bisa tenang.
"Terus gimana?"
"Ya enggak gimana gimana. Aku minta waktu sampai dapat penggantinya baru dia bisa lepas gitu. Repot kan jadinya."
Aku menghela nafas kasar, kebayang Aksara sendirian di rumah.
"Orang tua kamu?"
"Jauh, meskipun aku yakin mama sama papa mau jagain Aksara di sini."
"Kalau orangtuanya Almarhumah mamanya Aksara?"
"Mereka di luar pulau."
"Jadi keluarga kamu di sini cuma Narendra ya?"
"Begitulah. Aku sempat dapat ide gila saat Narendra marah marah cemburu gitu."
"Heh?"
"Aku pingin nitipin Aksara ke Kamu, Dira."
"eh?"
Haduh, otak aku jadi berasa berhenti sejenak. Macet, gagal paham dengan pembicaraan ini.
"Dira? Pendapat kamu gimana? Aku nggak perlu tanya pendapat Narendra kan? Hahaha."
"Maksudnya?"
"Mulai besok kalau Aksara tinggal sama kamu, boleh?"
"Eh? kamu gila ya?"
"I'm Sorry."
"Bukannya aku nggak mau, justru bahagia banget. Cuma ini kok konyol ya? kita dia orang asing lo!"
"Emang sih ide aku terlalu gila. Cuma lihat Narendra yang cemburu sama aku karena hal kecil, aku jadi berharap kalau saudara aku itu beneran jatuh cinta sama kamu. Bukan sekedar jadiin kamu dan putrimu sebagai pelampiasan."
Aku diam, entah kenapa ulu hatiku terasa nyeri.
"Sofia juga belum nikah lagi sampai saat ini, aku takut jika perempuan sebaik kamu, sepolos kamu hanya menjadi pelampiasan Narendra. Bukan berarti aku mencoba mempengaruhi kamu buat mikir buruk, tapi ini kenyataan. Narendra belum bisa melupakan Sofia, kenangan paling menyakitkan justru membuat kita semakin susah untuk melupakan nya kan? Sofia menjerat Narendra sedemikian rupa. Aku takut."
Tanganku bergetar. Kenapa semakin Rumit seperti ini.
"Jadi kamu tahu keadaan Sofia saat ini?" tanyaku pelan.
"Iya. Aku terus mengawasi setiap gerak gerik perempuan itu. Dan ternyata selama ini dia mencoba menyembuhkan dirinya sendiri. Sofia memilih sendiri hingga saat ini, seperti Narendra. Terjebak dalam masa lalu. Sofia memilih mendirikan panti asuhan untuk mengobati rasa bersalahnya. Dan tentu saja terus berobat ke psikiater."
"Terus kenapa keluarga mereka mau menjodohkan Narendra dengan Silvia?"
"Aku nggak paham juga sih."
"Jadi kembali ke soal Aksara. Kamu sudah mempertimbangkan semua ini?"
"Belum sih, cuma baru terlintas ide seperti itu. Terus kepikiran kamu sama Almeera, Narendra juga Sofia."
"Terima kasih, meskipun sebenarnya aku dan Narendra tidak memiliki sesuatu yang kamu khawatirkan itu, tapi tetap saja Terimakasih untuk niat baikmu ini."
"Tidak ada yang tidak mungkin, aku sendiri sudah sangat lama tidak teringat tentang mamanya Aksara. Tapi saat bertemu denganmu, mendengar namamu, aku jadi kembali teringat betapa perempuan itu sangat luar biasa. Menyerahkan hidupnya demi melahirkan putraku."
"Semua perempuan melahirkan seperti itu, Syailendra."
"Ya!"
"Sudah? Aku mau lanjut tidur!"
"Oke, trims buat waktunya. Nomor aku kamu simpan ya. Biar enggak kaget kalau sewaktu-waktu aku kasih kabar."
"Ya."
"Bye bye tantenya Aksara."
"Assalamu'alaikum, Papanya Aksara."
__ADS_1
"Hahahaha, waalaikumsalam."
Aku menatap layar yang kembali ke menu utama, tidak menyangka bahwa diriku sendiri kembali berbuat sesuatu yang di luar kebiasaan. Aku yang sebelum kenal dekat dengan Narendra tidak akan pernah menerima nomor asing. Terlebih berbincang-bincang selama ini dengan lawan jenis.