
Setelah sekian lama, baru kali ini aku begitu mendambakan kedatangan Syailendra. Ingin rasanya aku bertanya banyak hal soal keputusan mendadak ini. Alasan mengapa harus secepat ini pergi ke negara lain. Terlebih ini soal membawa Aksara bersamanya.
Tentu bukan soal pekerjaan saja kan. Lantas bagaimana nanti Aksara di sana? Bersama siapa dan bagaimana soal pendidikan nya. Jika Syailendra bekerja di kantor kantor, dengan jam kerja yang begitu ketat. Apakah bukan hal konyol namanya? Meninggalkan anak sekecil ini sendirian di rumah? Dengan bahasa yang tidak ia kuasai.
Bodoooh.
Syailendra bodoooh sekali.
Lebih bodoohnya aku, seluruh kalimat caci maki berdengung di dalam kepala. Syailendra menyebalkan.
Selain bersama Syailendra, meskipun dalam kondisi dan keadaan seperti apapun, aku hampir tidak pernah tertarik untuk mengeluarkan makian. Bahkan memikirkan saja tidak. Tapi, saat bersama Syailendra. Aku jadi seperti sesuatu yang berbeda.
Mudah marah marah konyol yang tidak dewasa sekali. Cerewet. Aku terlalu ingin memegang kendali. Terlalu ingin ikut campur dalam urusan Syailendra. Terlalu ingin tahu apa saja tentang dia. Dan yang lebih menjijikkan, aku menjadi lebih murahan.
Aku merasa, jika bersama Syailendra. Tubuhku terlalu lepas kendali. Terlalu mudah membiarkan pria player itu menyentuh tubuhku. Entah pelukan, entah menyentuh kepala, entah menyentuh wajah.
Hal hal yang tidak akan mudah di lakukan oleh Narendra. Juga tidak akan mudah aku biarkan orang lain melakukannya. Bukan berarti aku membiarkan Syailendra melakukanya, tapi entah kenapa, tubuhku terlalu kuat melawan akal sehatku. Mungkin dengan seperti ini akan lebih baik untuk diriku sendiri.
Kecewa, aku sangat kecewa. Aku kira, sempat mengira, bahwa kami... Aku dan Syailendra begitu dekat. Sangat dekat. Bukankah dia bilang sendiri, dia sudah seperti abang bagiku. Kenapa saat ini dia memperlakukan aku layaknya orang asing?
Ini lebih menyakitkan,
Ini lebih menyebalkan di bandingkan dengan satu bulan yang seperti menghilang begitu saja. Tidak pernah menghubungi aku maupun putranya sendiri. Sekalinya menghubungi, dia memutuskan untuk kembali kesini. Tapi apa? Baru beberapa hari, Syailendra boodoh itu membuat keputusan seperti ini.
"Ludira?"
Sentuhan ringan di bahuku, membuat aku terkejut. Aku menoleh, Narendra berdiri di belakang tempatku duduk.
"Ngelamun lagi?" tanya pria itu sambil berputar ke arah depan. Sehingga kami berhadapan. "Mikirin Syailendra sama Aksara?" tanyanya lagi. Suaranya sedikit tertahan. Meskipun hanya sekilas, terlihat jelas. Ekspresi wajah yang kurang nyaman.
"Soal Almeera gimana?" tanyaku pelan. Mencoba mengalihkan pembicaraan. Juga mencoba mengalihkan fokus ku ke hal selain Syailendra.
Narendra menghembuskan nafas tenang. "Putri kita takut membuat kamu kesepian. Dia berjuang sangat keras hanya untuk membicarakan soal keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di tempat itu. Sempat galau juga." jelas Narendra dengan senyum yang menerawang. Wajahnya begitu bersinar tatkala membicarakan tentang Almeera. Aku tidak pernah meragukan kasih sayangnya kepada Almeera.
__ADS_1
Aku tentu saja paham bagaimana tabiat, karakter putri tunggal ku itu. Putri kami, aku dan Mas Dodi. Melihat Narendra mengucapkan putri kita, ada semacam perasaan kurang nyaman. Tapi, mulut ku memilih bungkam. Narendra memiliki obsesi yang sedikit berlebihan soal Almeera atau putrinya.
"Justru karena aku tidak ingin Almeera patah hati untuk yang pertama kalinya, aku takut, Ren. Kedekatan kalian ini yang membuatku takut." aku membuang nafas kasar. "Beberapa saat yang lalu, aku sempat berfikir, kalau Almeera memang menginginkan memanggil kamu dengan sebutan Papa, aku tidak masalah. Hanya saja sekarang, aku kembali takut. Sedekat apapun kalian berdua. Kalian tetaplah orang asing." sahut ku. Aku menengadah, menatap ke langit langit. Berusaha mengabaikan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.
Bukan hal yang mudah. Perasaan yang aku rasa ini, selalu saja naik turun tidak menentu. Aku pernah begitu nyaman dengan Narendra, hingga merasa bersalah dengan almarhum Mas Dodi. Namun, saat aku kira kita berdua, aku dan Narendra baik baik saja. Pantas serta layak jika nanti di sebut keluarga, karena ada Almeera di antara kami, meskipun putriku itu bukan putri kandung Narendra, ternyata ... Ternyata pria secara gamblang mengatakan berapa ia tidak akan memilih atau menerima wanita lain masuk kedalam hidupnya. Mungkin, jika aku bukan Mamanya Almeera, bisa jadi pria ini tidak akan berusaha begitu kuat meyakinkan aku untuk bersama setelah dia menginginkan hal tersebut.
Aku menoleh ke arah Narendra yang menghembuskan nafas berat. Wajahnya terlihat begitu lelah. "Kenapa tiba-tiba kamu berfikir seperti itu?" ujar Narendra dengan suara resah. "Aku sudah pernah bilang, hidupku untuk putriku. Bagaimana mungkin aku akan mengabaikan dia."
"Tetap saja, Narendra. Kamu bisa lihat sendiri kan? Aku juga menyayangi Aksara seperti hal nya kamu menyayangi Almeera. Namun apa yang aku dapatkan? Syailendra dengan mudahnya membawanya pergi dan aku? Aku tidak memiliki hak apapun untuk mempertahankan." Sentak ku.
Sepertinya Narendra tidak merasa terganggu dengan suaraku yang mulai meninggi. Dia hanya mengusap wajahnya dengan kasar setelah menatap ku dengan pandangan tersiksa dan nanar.
"Sebenarnya apa yang ada di otak mu, Ludira! Kamu terlalu rumit!"
"Kita tidak akan pernah tahu di masa depan seperti apa! Narendra ! Jikalau bukan bersama Shofia, bisa jadi bersama dengan perempuan yang lain terus kamu memiliki putrimu sendiri! Apakah kamu yakin akan tetap seperti ini dengan Almeera? Menjadi super hero nya dia? Menjadi tempat yang siap siaga di tuju pertama kalinya setiap putriku memiliki masalah?" marahku. Nafasku tersengal sengal. Mataku mulai buram oleh air mata.
"Harus aku bilang sampai berapa kali, Ludira!" bentak Narendra kesal. "Aku tidak akan pernah menerima wanita lain di hati ini. Tidak akan pernah!"
"Kaaan!" sentak ku membuat Narendra semakin terkejut. Tampaknya, rasa marah membuat Narendra lepas kendali, sampai-sampai dia sendiri terkejut dengan apa yang keluar dari mulutnya itu.
"Kamu terlalu rumit, Ludira. Aku sungguh mencintai mu, meskipun aku belum bisa melupakan sepenuhnya cintaku pada Shofia. Mana aku tahu jika hati ini bisa mencintai dia sosok perempuan yang berbeda." Narendra menatap ke arah ku, dengan sorot mata yang begitu sulit aku artikan.
"Aku atau Shofia?" tanyaku dengan tatapan tajam.
Narendra justru terkekeh, tertawa tanpa suara. Memandang ke arahku gemas. "Aku sudah katakan. Aku akan memilihmu, kamu yang menjadi masa depanku."
"Jika aku menolak?"
"Maka tidak akan ada yang lainnya. Aku sudah cukup puas dengan hanya memiliki Almeera sebagai putriku. Aku tidak akan pernah menempatkan Shofia di masa depan ataupun masa kini. Hanya kamu dan Almeera." Sahut Narendra dengan nada yang begitu yakin.
"Bahkan--" suaraku terpotong. Narendra menyela dengan cepat. "Bahkan jika kamu menerimaku, namun kamu tidak pernah mencintaiku, aku tidak akan pernah keberatan. Seperti yang pernah aku katakan. Cukup dengan kamu merasa bahagia, nyaman dan baik baik saja. Aku sudah merasa cukup." potong pria itu.
"Bersamamu, Ludira. Aku memahami, jika mencinta itu tidak akan pernah menuntut yang di cintai." sambung pria itu tenang. Ingin rasanya aku percaya dengan semua ini. Tapi begitu sulit. Sangat sulit.
__ADS_1
"Aku selama ini tidak mengenal cinta, Narendra. Aku mengenal cinta setelah bersama Almarhum Mas Dodi." Cinta yang Mas Dodi kenalkan padaku, begitu adem ayem. Bukan seperti rollercoaster seperti ini.
"Hatiku selama ini beku, membatu, Narendra. Hidup dan besar di lingkungan yang membuat mental menjadi sakit itu tidak mudah. Setiap saat selalu saja di pojok kan. Selalu saja ada kekerasan verbal. Kehadiran ku bahkan tidak pernah di anggap penting. Makanya, begitu Almeera secara tidak sengaja seperti itu, aku tentu saja merasa seperti jatuh di kubangan masa lalu. Kenangan jahanam yang membuatku kacau. Meskipun aku tahu sejatinya Almeera berbuat seperti itu karena memang dia membutuhkan sosok Ayah. Bukan sekedar sosok ibu. Akhirnya aku menerima keadaan itu, Ren. Aku memahami, bagaimana pun... Almeera membutuhkan sosok Ayah. Sekuat apapun aku berusaha melakukan dua peran itu dengan baik." Aku menarik nafas setelah begitu panjang aku mengucapkan penjelasan itu.
Aku kembali menjelaskan kepada Narendra, mengangkat tanganku saat pria itu akan menjawab ucapan ku. "Kemudian, Syailendra datang dengan keputusan yang semakin membuat jiwaku bergetar karena perasaan tidak di inginkan itu menjadi sangat nyata. Siapa aku, Ren? Sampai-sampai berharap, Syailendra akan mendiskusikan perihal Jepang itu padaku. Iya kan? Hahahaha" aku tertawa getir. Sakit, sesak sekali hatiku. Nyerinya lebih tidak tertahankan.
Aku mengusap air mataku yang jatuh ke pipi dengan kasar. Menolak untuk menjadi lemah. "Aku jadi terlalu takut, Almeera merasakan rasa kecewa yang begitu besar. Aku takut, aku terlalu paranoid. Bukan berarti aku menuduh kamu akan berbuat seperti itu. Bukan berarti aku su'udzon, berprasangka buruk kepada Tuhan atas masa depan." jelas ku lemah. Perasaanku tidak hanya sekedar kacau dan porak poranda. Seperti tanpa sandaran. Rasa lelah yang tidak tertahankan.
Beruntung, saat ini anak anak sedang tidak di rumah. Mereka sedang bersama simbok di halaman belakang. Jadi mereka tidak perlu memergoki kondisi kacau ku ini.
"Tenanglah, sayang. Semua akan baik baik saja." ucap Narendra sambil menggenggam tanganku. "Kita berjuang bersama." Aku menatap ke arah mata Narendra yang menatapku.
Jika kondisi jiwa Narendra tidak stabil, bagaimana bisa dia akan berjuang bersama? Bagaimana dia akan baik baik saja?
"Ren--" suaraku tertahan di tenggorokan. Narendra mengangguk. "Kalian kekuatanku. Apapun yang terjadi, kalian dan kebahagiaan kalian adalah prioritas ku. Bahkan jika kamu memilih pria lain. Aku tidak perduli. Asalkan kamu terus mengizinkan aku berasa di hidup kalian berdua."
Aku menatap pria itu ragu. "Hanya diri kita yang bisa menolong diri kita sendiri, Ren." ucapku samar samar.
Narendra mengangguk.
"Aku ragu apakah aku akan bisa menerima kenyataan jika kedepannya ada yang lebih mengecewakan di bandingkan kejadian saat ini. Aku tidak yakin."
"Ludira ... Kamu hanya butuh waktu untuk terbiasa."
Aku mengangguk.
Ya, aku hanya butuh waktu untuk terbiasa. Ini tidak seberapa di bandingkan rasa sakit karena harus berbeda alam dengan mas Dodi. Aku hanya perlu berusaha menguatkan diriku kembali. Menata kondisi jiwaku kembali dan menerima keadaan. Memberi yang terbaik untuk orang-orang yang aku sayangi.
Menerima kenyataan pahit tentang Syailendra yang tetap mengorang asingkan diriku. Menerima kenyataan, bahwa Syailendra terlalu bajingaan karena telah mempermainkan perasaanku seenaknya. Menerima kenyataan bahwa Syailendra terlalu egois. Iya kan? Dia egois!
Menerima kenyataan bahwa kondisi jiwa putri ku lebih baik saat ini di bandingkan dulu. Sebelum mengenal Narendra. Menerima kenyataan bahwa Narendra, kehadiran Narendra mengisi peran ayah yang selama ini di inginkan, di rindukan oleh Putriku.
Aku hanya perlu menata kembali susunan perasaanku sesuai keadaan saat ini. Aku harus bisa kuat dan baik baik saja. Aku harus bisa baik baik saja. Iya ... Apapun keadaannya, apapun yang akan terjadi selanjutnya, aku harus baik baik saja.
__ADS_1
Toh, selama ini aku sudah terbiasa meyakinkan dirimu bahwa semua akan baik baik saja. Tidak perlu merasa sedih ataupun menderita. Aku hanya perlu mengikuti keadaan.