LUDIRA

LUDIRA
Enam Puluh Empat


__ADS_3

"Seorang laki laki yang baik itu tidak mungkin tega melihat wanita menangis apalagi membuat setetes air mata jatuh karenanya."


Aku yang sedang menutup pintu kamar setelah menidurkan Aksara di tempat tidur, terperanjat kaget. Ternyata sudah ada Narendra yang sedang bersandar di dinding.


"Tadi bicara apa?" tanyaku pelan.


"Seorang laki laki yang baik itu tidak mungkin tega melihat wanita menangis apalagi membuat setetes air mata jatuh karenanya." sahut Narendra pelan, wajahnya menatapku dalam, sendu. "Mas Dodi tidak akan pernah tenang begitu mengetahui betapa kacau istrinya saat teringat dirinya. Semua pria, menginginkan yang terbaik untuk wanita yang di cintai nya, apapun itu. Bahkan bahagia dengan pria lain." sambung Narendra pelan. "Maaf, jika bersamaku justru membuatmu merasa menjadi begitu buruk." Narendra mengucapkan semua itu dengan nada yang begitu menyesal.


Dia melangkah pergi, aku mengikuti dari belakang. Sejenak, aku begitu merasa bersalah karena sudah menangis di depannya. Menangis sedih hancur setelah dia menanyakan apakah aku bahagia bersamanya. Seharusnya, aku tidak seperti itu. Seharusnya aku bisa lebih kuat lagi menahan semuanya. Sekarang, aku justru merasa bersalah karena telah menyakiti Narendra. Padahal selama ini aku justru yang selalu merasa tersakiti setiap Narendra terlihat merindukan Shofia.


"Narendraa." panggil ku pelan, begitu pria itu menuju pintu keluar.


Narendra terhenti dan menoleh ke belakang, ke arah ku yang sejak tadi mengikutinya dengan pikiran yang bergejolak.


"Maaf ... Maafkan aku." Ujar ku pelan, penuh penyesalan. "Harusnya aku tidak menangis seperti itu." lanjut ku, aku menundukkan wajahku karena malu dan juga merasa begitu bersalah. Bahkan desiran di dada membuat tubuhku gemetar.


"Ra? Kamu yang seperti ini, meremas jari-jemari mu seperti itu, terlihat begitu rapuh dan itu bikin aku pengen banget meluk kamu. Dan itu bukan sesuatu yang baik untuk kita berdua. Aku sudah berusaha sangat keras untuk tetap tahu batasan." sahut Narendra sambil terkekeh.


Aku mendongak, menaikkan kepalaku kembali untuk melihat ke wajah Narendra. Dia tersenyum?


"Nggak perlu minta maaf, Ra. Kita sama sama berjuang untuk berdamai dengan masa lalu kan?" sahut Narendra menenangkan. "Aku punya masa lalu yang menghantuiku dan kamu juga punya masa lalu yang harus kamu damaikan. Kita hanya butuh waktu, Ra. Dan tolong jangan berfikir bahwa kita bukanlah sesuatu yang tepat untuk bersama hanya karena saling menyakiti." Narendra berbicara dengan suara yang begitu tenang. Wajahnya juga tenang. Membuatku merasa teduh.


Pria baik hati dengan ketulusan yang luar biasa. Tidak memaksakan perasaannya untuk di akui, rela menerima sekaligus rela memberikan. Kenyataan yang membuatku begitu terenyuh. Beberapa saat yang lalu, aku memilih mundur dan menolak setiap sensasi nyaman yang hadir karena Narendra, hanya karena Narendra pernah menolak perasaanku. Memberikan aba aba bahwa pria itu tidak bisa melepas Shofia di hatinya.


"Aku pernah janji, asalkan kamu mau bersamaku memberikan kesempatan untuk kita berdua. Aku tidak masalah, tidak keberatan jika cintamu masih di miliki Mas Dodi." ujar Narendra sambil tersenyum meskipun matanya sempat menunjukkan luka. Namun sepertinya pria itu berhasil cepat menetralisir luka tersebut.


"Aku perempuan serakah, Narendra. Maafkan aku, aku tidak bisa berbagi dan membiarkan hatiku terluka karena kamu masih terbayang-bayangi perempuan lain. Ini yang membuatku begitu buruk." sahut ku jujur. Kepalaku kembali menunduk. Tubuhku bergetar. Aku tidak seharusnya seperti ini, mempermainkan perasaan dia.


"Hey, tenanglah. Aku pulang dulu ya?"


Aku mengangguk pelan.


"Kalau di sini terus, nanti aku justru tidak bisa menghormati mu. Aku tidak bisa menjamin kalau aku tidak memeluk erat tubuhmu jika terus terusan di sini." sahut Narendra pelan.


Aku terkekeh. Menatap malu ke arah pria itu.


"Hati-hati ya!" ucapku tulus kepada pria yang sekarang sudah berjalan menuju mobil miliknya. Dia melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.


Aku masih termenung, meskipun Narendra sudah pergi dan mobilnya tidak terlihat lagi. Aku justru begitu merasa buruk untuk saat ini, jika Narendra sedang berjuang untuk melepaskan masa lalunya, kenapa aku justru begitu gamang dengan perasaan ini. Narendra, meyakinkan aku bahwa ia akan melakukan apapun demi aku, demi hubungan kita yang ia harapkan bisa melangkah ke arah yang tepat.


Apakah normal perasaan serakah semacam ini, aku tidak mau terluka melihat perasaan rindu yang di pendam Narendra untuk Shofia. Aku takut patah hati. Sepanjang hidupku, aku selalu patah hati karena tidak mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang memang seharusnya mencintaiku juga menyayangiku. Mereka membuatku memandang rasa patah hati menjadi sesuatu yang begitu menakutkan. Kehampaan yang tiada ujung.


Kedua orangtuaku memang tidak bercerai. Broken home bukan sekedar melulu soal anak yang tumbuh di lingkungan perceraian. Aku tumbuh besar di lingkungan hubungan kedua orang tua yang tidak sehat. Selalu saja ada perselisihan yang penuh kebencian di antara mereka.


Hingga datang dia, almarhum suami yang begitu sabar, dewasa. Menghujani ku dengan cinta tanpa syarat. Menfasilitasi hatiku dengan kasih sayang yang tiada henti. Mengenalkan aku yang buta kasih sayang ini pada lautan kebahagiaan. Perlahan, menuntun aku menuju cahaya. Telaten mengobati setiap luka yang tersebar di seluruh jiwaku dan hatiku. Hingga aku tidak lagi merasakan kesakitan, bahkan bekasnya saja tidak ada.


Aku rasa, aku sudah merasa cukup dengan cintanya yang luar biasa. Aku tidak perlu tergoda dengan perasaan cinta yang lainnya. Harusnya seperti itu dan selama bertahun-tahun ini, aku mampu bertahan dengan hati yang kosong. Mas Dodi pergi dengan membawa hatiku bersamanya. Aku dan Narendra sama, sama sama terbelenggu dalam masa lalu. Kepergian Mas Dodi yang begitu cepat, menyisakan duka yang terus saja menganga setiap harinya. Setidaknya aku bersyukur, Mas Dodi meninggalkan bidadari yang membuatku tidak sendirian. Tidak ada yang lebih berarti di bandingkan senyuman yang terukir di wajah Almeera, bidadari kebanggaan kami berdua.


***


"Assalamu'alaikum, Bu?" sapa ku..


"Waalaikumsalam, Dira. Sedang apa sayang?" tanya suara dari sebrang sana.


"Masak buat makan malam, Bu. Ibu sama Bapak juga Almeera kok belum pulang ya?" tanyaku sambil hilir mudik mengambil piring. Membuat simbok yang sedang meneruskan masakan ku menggelengkan kepala. Sempat terlihat oleh mataku tadi.


"Iyah, ini kalau Dira biar nginap saja ya di rumah."


Kaaaan, ibu suka ngelunjak gini.


"Ah, Ibu. Kan besok sekolah. Seragam sama buku bukunya itu loh. Ibu mah sukanya gitu."


Terdengar suara ketawa di ujung sana.


"Bercanda atuh, Neng. Hahaha. Ibu sudah di jalan kok, ini bentar lagi sampai. Kamu masak apa, Dir?"


Aku menghembuskan nafas pelan. Duh, mereka itu.


"Masak ikan goreng kering, terus ada sambalnya sama lalapan nya juga, Bu. Ibu belum makan malam kan? Sekalian makan di sini kan?" tanyaku berharap.


"Maaf yaa, kami sudah makan nih. Tadi bapak ngeyel minta makan di sate barokah, sayang."


"Yaaah, Bapak."


"Lain kali ya. Sudah dulu ya, ibu tutup."


"Iyah,"


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah panggilan ditutup, aku meletakkan ponsel di atas meja.


"Bu?" panggil simbok pelan. Aku menoleh. "Iya, Mbok?" tanyaku balik.


"Ibu bisa santai saja? Ini biar simbok yang ngurusin. Kalau ibu ikutan ngurusin, simbok jadi nggak punya kerjaan."


Lagi lagi protes terhadap hal yang sama.


"Nggak apa apa, mbok. Simbok menemani saya saja sudah cukup. Makasih ya."


"Duh si nyonya. Bikin saya jadi tambah nggak enak. Saya babunya nyonya loh ini." Sahut simbok sambil tertawa. Membuatku ikut tertawa juga.


"Simbok sama mamang makan di sini saja ya, temani saya." pintaku pelan. Makan berdua sama Aksara itu terlalu sepi.


"Nggak usah, bu. Kita makan di belakang saja. Saya benar-benar sungkan kalau makan satu meja sama ibu. Bisa bisa jadi nggak enak makan."


"Ya sudah deh, Bu. Tolong panggilin Aksara ya."


Simbok mengangguk, beranjak pergi menemui Aksara yang sedang main game. Sudah satu minggu ini, aku mengizinkan anak anak main game. Ternyata hal yang aku takutkan tidak terjadi, mereka berdua... Almeera dan Aksara tidak terlalu menggilai game. Justru lebih memilih main sepeda muter-muter komplek.


"Adek makannya Tante suapin aja ya?" pintaku sambil mengambil nasi. Aksara mengangguk.


"Ntee? Papanya Adek udah makan belum ya?" tanya Aksara membuat tanganku yang sedang memisahkan daging dan duri berhenti.


"Nanti habis makan, adek bisa tanya sama papa, ya? Sekarang makan dulu ajah." sahut ku pelan. Mungkin memang harus menghubungi pria itu terlebih dahulu.


"Dulu, pas adek masih sama mbak. Papa juga jarang menghubungi seperti ini?" tanyaku pelan, sebelum menyuapkan nasib lagi kepada Aksara.

__ADS_1


"Iya." jawab Aksara tenang, tidak menyadari nada hal aneh yang muncul di otakku.


Deg!


Nyeri.


Kenapa?


Kenapa dia menghindari ku seperti ini?


Ada apa?


****


"Assalamu'alaikum!" sapa Almeera yang berjalan masuk di ikuti Eyangnya, Pak Basuki dan juga Ibu Basuki.


"Waalaikumsalam, sayang."


"Waalaikumsalam, Kakaaak! Gimana kak? Seru jalan jalannya?" tanya Aksara begitu si Kakak duduk di sampingnya.


"Seru banget, Dek. Besok setelah kakak pulang dari sekolah kita main sepeda ya!"


"Siaap!"


Aku menoleh ke arah Ibu dan Pak Basuki, "Ra, Ibu sama Bapak pamit ya!" ujar Ibu Basuki.


"Nggak mau minum apa gitu, Bu? Keburu-buru sih."


"Bapak capek, Ra. Habis jadi bodyguard perempuan perempuan kesayangan bapak!" ujar Pak Basuki sambil tertawa.


Aku dan anak anak ikut berdiri begitu mereka berdua berdiri. Dengan cepat Ibu Basuki menegur Almeera dan Aksara, meminta mereka tidak perlu mengantar sampai ke depan.


"Byee Eyaaang!" sahut Aksara dan Almeera berbarengan. Di balas lambaian tangan Ibu dan Bapak.


"Syailendra masih sering kasih kabar?" tanya Pak Basuki pelan.


Aku menggeleng. "Selama ini nggak pernah kasih kabar. Tadi kasih kabar lewat Narendra. Kadang saya kasihan sama Aksara. Bagaimanapun dia tetap merindukan sosok Papanya." jawabku.


"Syailendra memang susah di tebak. Terbiasa seenaknya sendiri." sahut Ibu Basuki kalem. "Tapi meskipun dia kelihatan liar, dia sebetulnya baik banget. Perduli." lanjutnya.


Aku mengangguk. Berusaha tersenyum. "Kamu kasih izin Narendra buat bertemu Shofia, Ra?" tanya Pak Basuki dengan nada yang berbeda dengan yang tadi. Ini lebih serius.


"Iya, Pak."


"Nggak menyesal? Kalau nanti Narendra justru terikat kembali dengan perempuan gila itu?" tanya Ibu Basuki kesal. Wajahnya tampak begitu marah. "Ibu selalu darah tinggi kalau mengingat perempuan jahanam itu!"


"Ibuu!" tegur Pak Basuki lembut. Menyentuh pundak istrinya. "Jangan terlalu di pikirkan. Kita sudah sepakat bukan? Urusan anak anak biar mereka yang menentukan sendiri, menyelesaikan sendiri. Mereka sudah dewasa."


"Iya iya." jawab Ibu Basuki masih dengan wajah yang muram.


"Kami pamit ya! Assalamu'alaikum!" sahut Pak Basuki.


"Waalaikumsalam, Hati-hati Bapak Ibu!"


Aku melambaikan tangan sampai mobil kedua orang tua Narendra itu keluar dari halaman rumah. Baru setelah itu kembali masuk kedalam rumah.


Ah, iya.


"Iya, sayang. Tante ambil ponsel tante dulu ya? Emm, Kakaknya di mana?" tanyaku pelan. Saat menyadari Almeera tidak berada di ruangan ini.


"Mandi katanya, terus nanti mau kesini lagi sambil belajar bareng sama Adek." jawab Aksara dengan suara khas nya.


Tidak lama kemudian, aku kembali keruangan itu dengan ponsel yang sudah berada di tanganku. Aku duduk di sofa, mendudukkan Aksara di pangkuanku begitu aku selesai mencari nomor kontak Papanya dan menghubungi nya. Sudah berdering, tapi belum di angkat.


"Hallo"


Wajah Syailendra terlihat jelas di layar. Dengan senyuman yang begitu lebar. Tidak kalah lebar dengan senyum milik putranya sendiri.


"Hay, Papa! Assalamu'alaikum!" sahut Aksara bahagia.


"Waalaikumsalam, Boy! Adek apa kabar? Sehat kan?"


Aksara mengangguk. "Sehat, Papa. Papa bagaimana kabarnya? Baik baik saja?"


"Baik dong! Kakak sehat juga?" tanya Syailendra dengan wajah yang antusias. Hanya saja. Meskipun aku di belakang kepala Aksara, pria itu seperti mengabaikan keberadaan ku. Dan hanya fokus kepada putranya saja.


"Sehat, lagi mandi. Tadi habis pergi sama Eyang Basuki."


"Oooh, Adek nggak ikut kan?" tanya Syailendra memastikan.


"Enggak. Tadi adek di ajak jalan jalan sama Tante terus sama Om Narendra juga!" celoteh Aksara. Tidak menyadari wajah kaku Syailendra begitu mendengar nya. Namun secepat kilat, Syailendra mengkondisikan wajahnya seperti tidak terkejut.


"Bagus dong, jalan jalan kemana Boy?" tanya Syailendra dengan ujung mata yang melihat ke arahku sekilas. Hanya sekilas kemudian kembali menatap ke arah putranya.


"Kita nonton di bioskop terus habis itu kita jalan jalan. Ke area bermain uang baru saja di buka, Pah!"


"Bagus dong ya. Aksara bahagia?" tanya Syailendra dengan nada sendu. Entah kenapa, raut wajah Syailendra membuatku terenyuh.


"Papa kapan pulang?" tanya Aksara tiba-tiba. "Aksara pengen jalan jalan sama Papa!"


Uuuh, hatiku!


"Hay, Om!" sapa Almeera yang baru saja dari kamar.


"Hay, Cantik! Baru Mandi ya?" tanya Syailendra.


"Papaaaah! Pertanyaan Adek belum di jawab!" teriak Aksara kesal. Sedangkan Almeera yang sudah duduk di sebelahku menoleh dengan pandangan bertanya. Aku menaikkan alis dan tersenyum.


"Aksara rindu sama Papa?" tanya Syailendra pelan. Wajahnya melembutkan, senyumnya juga penuh kasih sayang.


Aksara mengangguk, bahunya mulai bergetar. Aku yakin, dia mulai menangis. Ya Tuhan, baper sekali ini perasaan. Bukan cuma aku yang ikut terharu, putriku juga seperti nya ikut terharu. Almeera bersandar ke arahku dan tangannya mengelus bahu Aksara lembut.


"Sebentar lagi ya," jawab Syailendra pelan.


"Sekarang aja deh, Om. Adek udah kangen banget loh ini." sahut Almeera pelan. "Om kan punya helikopter, ayolah Om! Nggak sulit buat Om sampai sini dalam waktu yang cepat." lanjut Almeera. Sedangkan Aksara sudah berbalik memeluk leherku. Putraku akhirnya menangis juga.


"Dari mana kamu tahu Om Syailendra punya helikopter?" tanyaku pelan.


"Kan dulu pernah pulang pakai helikopter kan? Pas Mama sakit itu loh, yang tiba-tiba siang siang sakit itu terus Om Syailendra sampai sini cepat banget itu. Setelah adek kena bully itu loh Mah! "

__ADS_1


Aku mengingat dengan jelas. Mungkinkah pada saat aku menangis karena Narendra hingga tanpa sadar menghubungi Syailendra.


Ya, seperti nya saat itu. Saat di mana Narendra mengatakan tidak akan pernah memilih, menerima perempuan lain selain Shofia.


Ah!


"Om sudah nggak ada kerjaan kaaaaan? Bisa di kerjain di rumah jugaa kaaaan. Pulang ih!" sentak Almeera kesal.


What?


Sebentar?


Sejak kapan putriku seperti ini? Duh, semenjak kenal Narendra, Almeera jadi lebih bisa ber ekpresi.


"Iya... Iya princess. Hey, Boooy. Sini dooong, lihat Papa." bujuk Syailendra.


"Tuh di panggil sama Papa." bisikku pelan. Aksara menoleh ke arah layar ponsel kembali.


"Jangan nangis dong. Ayo senyum!"


Mendengar suara Papanya, Aksara justru kembali membalikkan badan dan memeluk erat leherku. Syailendra menggaruk kepalanya sambil meringis.


"Hahahaha" Almeera tertawa sambil bergerak memeluk Aksara.


"Ngantuuk." sahut Aksara manyun.


"Ngantuk katanya, Pah. Hahahaha." ujarku sambil tertawa. Membuat Syailendra semakin meringis.


"Terus Papa ngobrol sama siapa dong? Katanya kangen sama Papa," ucap Syailendra dengan nada yang di buat buat.


Aksara menolehkan kepalanya ke belakang, menatap ke arah Syailendra dengan bibir manyun. "Papa sudah makan?" tanya bocah laki-laki itu pelan. Malu malu.


"Sudah dong, Adek udah makan belum?" tanya Syailendra dari sebrang sana.


Aksara mengangguk. "Sudah, di suapin nte. Makan sama ikan."


"Kalau Kakaknya gimana? Besok ada ujian ya?" tanya Syailendra ke arah Almeera.


"Sudah makan juga, Om. Iya nih, do'ain ya. Besok ujian praktek."


"Tentu dong. Doa terbaik selalu. Mau minta oleh oleh apa nih Kakak sama Adek?"


"Nggak usah!"


"Nggak usah!"


Aku dan Syailendra tertawa mendengar jawaban kompak dari Almeera dan juga Aksara.


"Beneran?"


Lagi lagi mereka berdua kompak menganggukkan kepala.


"Pah? Adek ngantuk."


"Ya sudah, adek bobok ya. Jangan lupa berdoa."


Aksara mengangguk. "Jangan di matiin dulu, Papa mau ngobrol sama Kakak." sambung Syailendra. Aku mengangguk dan menyerahkan ponsel kepada Almeera, sebelum menggendong Aksara ke kamar.


"Aksara mau tidur sendiri atau sama Tante?" tanyaku pelan.


"Sendiri tapi ditemenin dulu ya sampai Aksara tidur." pinta bocah kecil itu dengan mata menggemaskan.


"Siap!" Aku menjawab sambil berjalan ke arah kamar tamu yang sudah di rombak menjadi kamar Aksara.


"Nte? Nyanyi gugur bunga dong." Pinta Aksara sambil menarik selimutnya.


Dahi ku mengernyit. "Gugur bunga, sayang? Duh, apa enggak terlalu sedih ya buat lagu pengantar tidur?"


"Kemarin di ajarin sama Miss, terus Aksara belum hafal hafal" jawab Aksara dengan raut wajah sedih. Kalau sudah begini, bagaimana bisa nolak coba.


"Oke okee. Adek sambil merem ya. Jangan lupa berdoa dulu" Pintaku. Aksara mengangguk, berdoa sebelum tidur dan berdoa juga untuk aku, kakaknya dan Papanya.


"Betapa hatiku takkan pilu


Telah gugur pahlawanku


Betapa hatiku takkan sedih


Hamba ditinggal sendiri


Siapakah kini plipur lara


Nan setia dan perwira


Siapakah kini pahlawan hati


Pembela bangsa sejati


Telah gugur pahlawanku


Tunai sudah janji bakti


Gugur satu tumbuh seribu


Tanah air jaya sakti


Gugur bungaku di taman hati


Di hari baan pertiwi


Harum semerbak menambahkan sari


Tanah air jaya sakti"


*******


Gugur Bunga


Pencipta Lagu : Ismail Marzuki

__ADS_1


__ADS_2