LUDIRA

LUDIRA
Empat Puluh Enam


__ADS_3

"Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap menceritakan semuanya, Narendra. Apapun itu, bagaimana pun itu, sejelek apapun itu, asal kita bersikukuh komitmen memperbaiki, tidak akan pernah menjadi persoalan." bisik ku pelan.


Tidak mudah, sangat tidak mudah untuk mengakui bahwa hatiku mulai terpengaruh oleh pria ini. Mas? Ini bukan pengkhianatan kan? aku bukan pengkhianat kan?


"Aku selalu cemburu melihat kamu dengan Syailendra." desah Narendra sambil menatap ke arah jendela kamarnya yang sedang aku buka.


Aku membalikkan badan, begitu mendengar Narendra mengucapkan hal tersebut. Bagaimana bisa cemburu, sedangkan kami berdua... Aku dan Syailendra kenal, bahkan akrab itu karena dia sendiri. Terlebih, urusanku selama ini hanya sebatas Aksara, itupun kebanyakan selalu berdua dengan Narendra.


"Aku merasa kamu lebih nyaman dengan Syailendra, kamu bisa jadi Ludira yang menampakkan sisi Perempuan mu yang rapuh, perlu di lindungi, manja, menggemaskan." lanjut Narendra sambil membuka selimut yang sejak tadi menyelimuti tubuhnya.


Aku memalingkan wajahku, membuang pandangan ku dari Narendra yang menggerakkan badannya, sekedar olahraga ringan. Aku takut, aku takut tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri hingga merasa begitu terpaku dengan gerakan sederhana tapi mengundang pikiran yang tidak tidak.


"Akhir akhir ini Bang Syailendra selalu memonopoli kamu, agak terlihat ketergantungan sama kamu. Padahal dia bukan tipe pria yang seperti itu. Dia kebalikan dari diriku, jika aku akan menjadi tidak sopan dengan orang yang aku cintai maka dia akan menjadi sangat sopan terhadap orang yang di cintai." ujar pria itu sambil turun dari tempat tidur.


"Bang Syailendra nggak sopan kok sama aku. Kamu juga lihat sendiri kan? Jangan menyimpulkan hal yang nggak masuk akal kaya gitu. Hubungan kami hanya sebatas Aksara." sahutku pelan.


Kakiku melangkah menuju tempat tidur pria itu.


"Nggak usah di beresin." sahut Narendra sambil tersenyum lucu. Membuatku juga ikut tersenyum meskipun keningku mengerut, tidak mengerti.


"Apaan sih, hehehe."


"Aku tahu, kamu mau beresin tempat tidur kan?"


Aku berhenti dan berdiri sambil menutup mulutku yang tertawa malu.


"Bagaimana bisa tahu? kamu bisa baca pikiran juga?"


"Kamu percaya yang begituan? kalau iya, percaya. Aku emang bisa baca pikiran kamu."


Hahahaha, Narendra tertawa dan membalikan badannya, tangannya begitu leluasa merapikan tempat tidur dan juga melipat selimut. Hal yang jelas terekam begitu saja di mataku. Memang benar, tadi sempat entah kenapa, rasa ingin merapikan tempat tidur pria itu muncul di otakku.

__ADS_1


"Aku sudah terbiasa merapikan sendiri."


"Jelas, terlihat jelas. Kamu kan emang perfeksionis sekali, suka hal-hal yang rapi dan wangi." ujar ku pelan. Kedua tanganku masih terlipat di dada. Mungkin jika ada yang melihat dari pintu kamar Narendra yang memang masih terbuka lebar, bisa jadi aku terlihat seperti majikan yang sedang main perintah ke anak buah.


Narendra,


pria ini memang suka berpenampilan rapi.


Keren.


Wangi.


Kalem.


Terlihat Good Boy.


"Hari ini aku ada jadwal pagi, Loh!" sahutku pelan. "Aku juga. Di tempat Bapak Basuki." jawab Narendra sambil nyengir.


"Kita berangkat bareng aja!"


Aku menggeleng.


Drama konyol kaya gini cukup di lingkungan ini aja ya, lingkungan kerja ya harus tetap profesional. Lagi pula hubungan ini belum ke tahap yang jelas. Bagiku masih lumayan simpang siur.


"Kenapa?"


"Ribet nanti, penggemar kamu banyak. Yang baik ada, yang menakutkan juga ada. Udah ya, aku mau lihat Aksara dulu."


"Aksara atau papanyaaaaa?"


"Reeeen!" sentak ku pura pura kesal.

__ADS_1


"Oke okee. Aku mau mandi."


Aku mengangguk dan beranjak keluar dari kamar Narendra. Pagi ini aku belum mendapatkan cerita lengkap tentang Narendra dan juga Sofia, aku harap suatu saat nanti, tanpa aku minta... Narendra, pria ini akan bercerita dengan sendirinya.


***


"Gimana? Sudah bangun Narendra nya?" tanya Ibu Basuki begitu aku masuk ke area dapur.


"Alhamdulillah sudah, Bu."


Ibu Basuki tersenyum kemudian memeluk tubuhku erat. Aku membalas pelukan beliau, Sorot mata beliau begitu lelah. Ibu mana yang baik-baik saja saat putranya terluka parah meskipun tidak berdarah? Ibu mana yang tetap tenang saat putra yang ia besarkan dengan suka cita, tersakiti hatinya? Ibu mana yang tetap merelakan saat putranya yang selalu ia cintai d ngan kadar ketulusan tanpa batas justru di khianati?


Aku yakin, semua ibu akan murka begitu buah hatinya di sakiti oleh orang lain, mereka tidak akan tetap merasa baik baik saat buah hati yang begitu di puja justru terluka. Meskipun mereka selalu menyembunyikan perasaan hancurnya di hadapan sangat buah hati, bukan berarti mereka selalu kuat, tegar dan tak akan tumbang.


"Nteeeeee."


Teriakan putra kecil itu membuat pelukan kami terlepas, aku menoleh ke sumber suara. Aksara sudah berada di gendongan Papanya yang berjalan menjauh dari kami, sedangkan Aksara masih melihat ke arah kami berdua, Aku dan Eyangnya.


"Adek lengket banget sama kamu, Ra." bisik Ibu Basuki kepadaku. Membuatku menoleh ke arah beliau setelah membalas lambaian tangan kecil Aksara.


Aku mengangguk,


"Mereka berdua, Narendra dan Syailendra adalah anak anak ibu semua. Kamu juga putri Ibu. Jika kalian terjebak di hubungan cinta segitiga, mungkin ibu lebih memilih untuk mengamankan putra putri kalian di bandingkan harus ikut campur." sahut Ibu Basuki sambil menatap ke arah Syailendra yang sedang bermain dengan Aksara.


"Ah, Ibu." bisik ku pelan.


Tidak, kami tidak akan terjebak di cinta segitiga. Kalaupun dalam hidupku ada drama semacam itu, mungkin yang ada justru antara Aku, Narendra dan Sofia. Bukan Syailendra. Meskipun pria itu jelas menyayangi ku, namun jelas sekali tidak ada perasaan antara sepasang kekasih di antara kami berdua. Justru terasa seperti perasaan antara saudara.


Aku sebatang kara, tidak pernah merasakan kehangatan seorang saudara membuatku merasa nyaman dengan kehadiran Syailendra. Pria itu selalu bisa menjadi sosok Abang yang selalu aku dambakan. Sosok yang melindungi, perduli dan juga ngeselin. Iya... Aku selalu nyaman dengan Syailendra karena pria itu selalu bisa menjadi sosok figure yang selama ini aku bayangkan.


Hidup sebatang kara memang membuat kita menjadi hebat. Iya... Hebat. Apapun bisa di lakukan sendiri. Tapi, ada sisi rasa sedih yang begitu mencengkeram. Fakta bahwa kesendirian terasa nyata adanya. Aku bersyukur, berterima kasih kepada Narendra. Pria gigih itu menyeret aku keluar dari gelembung yang aku nikmati selama ini. Membuatku masuk ke dalam hidupnya yang ramai dengan orang-orang penuh kasih sayang dan juga ketulusan. Meskipun, ada beberapa drama yang lainnya. Setidaknya, putriku... Almeera kini memiliki keluarga. Ya! Keluarga selain mamanya. Ada Aksara yang begitu memuja Almeera, ada Syailendra yang begitu menyayangi Almeera. Belum lagi Eyang Basuki dan juga Narendra.

__ADS_1


Apapun yang terjadi hari ini, aku tahu betul bahwa campur tangan Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Aku hanya perlu terus berbaik sangka dan juga waspada. Kesedihan dan Kebahagiaan itu seperti satu paket utuh yang jarang sekali bisa di ambil satuan.


__ADS_2