
POV NARENDRA
Takdir mempermainkan aku. Tentu saja mempermainkan perasaanku, menggoda imanku dan keteguhan jiwaku. Aku sudah belajar menerima, mengikhlaskan kepergian putri kecilku yang bakal bidadari. Belajar. Karena sebenarnya aku belum bisa melepas bayang bayang kelam itu dari hidupku.
Setiap aku memejamkan mata, aku masih terbayang dengan jelas seperti reka adegan. Bagaimana bayi mungil yang menggemaskan itu menatap mataku, tersenyum padaku. Tangan, jari jari mungilnya menggenggam telunjukku. Aku jatuh cinta begitu dalam pada buah cintaku itu. Lebih dalam di bandingkan dengan ibunya, perempuan yang melahirkan nya. Aku akui itu.
Tipe sosok ayah yang akan menjadi pahlawan sepenuhnya untuk bidadari kesayangan. Tipe ayah yang akan memuja dan juga melindungi dari apapun yang sekiranya mengancam. Bahkan ... Aku akan berbuat apapun demi senyum merekah di bibir mungilnya. Aku akan merasa sudah meraih kemenangan jika mampu membuat putri ku merasa bahagia. Aku ... Tipe Ayah yang seperti itu. Lebih dari itu juga.
Lagi lagi, aku menghembuskan nafas berat tanpa bisa aku cegah. Sakit. Nafasku seperti berhenti mengalir. Aku hancur. Hancur berkali-kali lipat setiap kali teringat betapa tidak berdayanya aku ... Harusnya aku jadi pahlawan bagi bayi mungil itu. Harusnya aku bisa menyelamatkan putriku itu. Namun kenyataannya ... Ah!
Bertahun-tahun akrab dengan mimpi buruk. Walaupun aku masih bisa senyum, masih bisa tertawa. Tetap saja, aku merasa kehilangan diriku sendiri. Segala kenangan menyatu menjadi satu, tidak ada yang lebih sedih saat aku gagal menjadi sosok suami, imam keluarga dan juga sosok Papa dalam waktu yang bersamaan.
Harusnya, ah! Penyesalan ini. Ya ... Harusnya aku mendengarkan semua nasehat dari kedua orangtuaku. Dan nasehat konyol dari saudara sepupuku. "Cinta membuat kamu kehilangan dirimu sendiri, membuat kamu kehilangan jati dirimu." Salah satu kalimat yang diucapkan pria urakan yang sejatinya begitu aku sayangi itu. Ucapan yang di keluarkan dalam kondisi kesal karena lagi-lagi aku tidak bisa menolak permintaan perempuan yang pada akhirnya melahirkan putriku.
Kala itu, aku hanya meringis. Mengabaikan wajah kesal dan kecewa Abang kesayanganku itu. "Berhenti sekarang sebelum akhirnya kamu tidak tahu caranya berhenti." sentakan dengan nada sedih yang begitu menyayat hatiku, sebenarnya. Namun, Lagi-lagi aku mengabaikan. Aku menutup mata dan telinga, bahkan ... Aku mematikan sumbu perasaanku.
"Aku menyayangimu, Narendra! Stop! Berhenti menjadi bodoh. Dia menyerap seluruh kesadaran mu. Dia menutup akal sehatmu dan bodohnya kamu-- ah! Persetan!" bentak Bang Syailendra kala itu. Saat di mana Ia mengetahui bahwa aku dengan rela menjadi kelinci percobaan hobi aneh perempuan yang pernah menjadi pusat kekuatanku. Sihir. Perempuan itu sangat penasaran dengan hal tersebut.
Aku menyesal. Lebih merasa begitu berat saat mereka semua justru tidak membenciku, memarahiku atau sekedar mengingatkan aku bahwa ini adalah kesalahanku. Abang Ku, yang aku kira akan menghakimi, justru memeluk tubuhku erat. Sambil menahan air matanya. Meskipun tersenyum ... Sorot mata Pria urakan penuh kasih sayang itu tidak bisa di tutupi dengan garis yang di bentuk oleh tarikan bibir kanan kiri. Pria gagah perkasa ini, dia hancur.
"Aku ... A--aku tidak tahu caranya henti, Bang. Seandainya waktu itu aku mendengarkan ucapan Abang, tentu saja putriku akan baik baik saja. Tentu saja aku tidak akan gagal menjadi seorang ayah."
Aku menangis. Terisak. Terguncang. Masa bodoh dengan harga diri. Masa bodoh dengan sebutan cengeng. Aku hanya seorang ayah yang jatuh cinta kepada putri pertamanya. Harapan yang menjadi nyata. Keinginan yang tepat berada di depan mata. Hingga insiden menyeramkan itu terjadi.
Jika aku tidak mengenal Perempuan yang melahirkan buah hatiku itu, perempuan yang menjadi pusat semesta ku, perempuan yang menjadi fokus utama ku, perempuan yang menjadi sumber kekuatanku. Tentu saja aku akan mengatakan ini hanya sekedar gangguan babby blue's.
__ADS_1
Shofia. Nama perempuan itu. Bukan lagi sekedar Princess tapi sudah aku perlakukan layaknya Ratu. Dan aku Raja? Tentu saja bukan. Lebih tepatnya dia penguasa tunggal. Aku hanyalah pelayannya, bodoh kan? Iya. Sebodoh itu.
Kami akhirnya menikah. Dengan usia yang masih sangat muda. Usia di mana masih menjalani masa penjajakan, begitu istilah bang Syailendra. Semua anggota keluarga memang menentang. Beruntung, Shofia berasal dari keluarga yang memang sangat dekat dengan keluarga kami. Jadi, mau tidak mau. Bapak dan Ibu akhirnya memberi restu.
Bang Syailendra?
Tentu saja menentang.
Sangat menentang sampai rela tidak menghadiri akad nikah kami berdua yang memang di selenggarakan secara tertutup dan parahnya tidak tercatat oleh negara. Syarat mutlak dari Shofia. Bodohnya aku ... Aku menyetujuinya. Aku setuju dan tunduk dengan semua permintaan perempuan itu.
Ide nikah? Tentu saja berasal dari Shofia.
Saat itu, aku merasakan kekosongan yang luar biasa. Seharusnya aku bahagia. Seharusnya aku lega karena sudah memiliki gadis pujaan ku. Namun yang ada aku justru merasa bingung. Hingga aku menyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini benar dan baik baik saja. Kekosongan yang aku rasakan berasal dari ketidak hadiran Bang
Shofia ... Mantan istriku itu, membunuh buah hati kami. Kesayangan kami. Membunuh dengan kesengajaan. Menjatuhkan putri imut ku tepat di depan mataku sendiri. Dari atas balkon lantai tiga.
Takdir mempermainkan aku dengan menumbuhkan perasaan aneh begitu aku melihat gadis mungil yang menjauh dari keramaian. Wajah itu--wajah itu begitu mirip dengan gadisku, putriku. Lagi lagi, perasaan ini hadir. Perasaan aneh yang aku rasakan saat pertama kali melihat buah hatiku dan melafalkan adzan untuknya.
Aku menangis.
Air mataku tumpah, setelah sekian lama aku tidak tahu bagaimana caranya menangis meskipun aku ingin. Aku tidak perduli dengan sorot mata gadis itu. Aku tahu, dia pasti bingung, penasaran dan kasihan. Wajah memang tidak mudah menampakkan perasaannya. Tapi sorot matanya-- Hahaha, aku yang tertawa kecil sambil mengusap kasar, bekas air mata sekaligus air mata yang masih di kelopak mata.
Ternyata, dia Almeera. Putri tunggal dari Rekan kerjaku, Ludira. Istri dari relasi keluarga Bagaskara, almarhum Dodi. Beliau sangat dekat denganku. Karena memang wajah kami banyak miripnya. Bahkan, dulu kita ... Keluargaku dan Almarhum Mas Dodi sering bercanda buat tes DNA barangkali kita ini saudara yang terpisah. Dunia emang sekejam itu. Dulu kebetulan memang jarang ketemu sama Ludira, karena dia harus stay di rumah buat jagain putri mereka yang masih balita. Entah bagaimana, semenjak Mas Dodi meninggal dunia. Ludira benar-benar hilang dari peredaran dunia kalangan atas. Memilih menjadi kalangan menengah dan bekerja sebagai dosen.
Ludira menjadi sosok yang tidak tersentuh, dingin. Hanya ramah dengan senior. Itupun sepertinya butuh tenaga ekstra. Karena kesedihan, dia memaksakan diri berperan sebagai perempuan tangguh yang seakan-akan semua baik baik saja. Jauh beda denganku. Aku memilih damai, meskipun aku mati rasa. Aku masih bisa ramah, masih bisa hangat dan masih bisa layaknya orang normal lainnya. Meskipun terkadang--yah! Hilang kendali dan terjebak dalam kegelapan.
__ADS_1
Almeera.
Aku tahu, dia bukan tipe anak yang mudah mendekat ataupun mudah di dekati oleh orang asing. Wajahnya datar, tapi sorot matanya lebih mendung daripada ibunya. Anak yang dewasa terlalu cepat. Mungkin, karena kasihan atau dia tahu apa yang aku rasakan, sehingga kami langsung akrab sejak pertama kali kami bertemu. Aku menceritakan semuanya. Tentang Shofia, tentang diriku dan tentang putriku.
Lambat laun, kami menjadi sangat dekat. Ikatan antara anak dan bapak begitu kental aku rasakan, meskipun kami tidak ada hubungan darah sedikitpun. Tentu saja, tidak semudah itu. Ada Ludira, induk singa yang tidak akan pernah membiarkan bahaya mendekati anak anaknya.
Baginya ... Bagi Ludira, aku ini bahaya. Pedofil yang sedang menargetkan putrinya sebagai mangsa. Kesal dan marah tentu saja, tapi hatiku menghangat. Aku tertawa lepas setelah sekian lama aku lupa caranya tertawa, meskipun aku ingin. Perempuan yang terkenal dingin, sadis namun cerdas itu ternyata memiliki banyak sekali sisi tersembunyi yang tidak banyak orang tahu, bahkan aku rasa tidak ada yang tahu selama ini. Kekanak-kanakan, manja. Mudah dilema. Paranoid. Ketakutan dan kecemasan yang terlalu berlebihan.
Entah bagaimana ceritanya. Ludira menerjang bebas pertahanan hatiku. Jika awalnya aku rela mendekat ke arah singa betina itu demi putriku, Almeera. Lambat laun, aku merasa hidup kembali dan bisa bernafas dengan damai hanya karena melihat senyum cerah mereka berdua, ibu dan anak itu. Bahkan, hanya dengan berhalu kami bertiga adalah keluarga kecil yang bahagia, membuatku mampu tersenyum sepanjang hati. Benar-benar senyum.
Aku bahagia.
Hingga akhirnya mimpi buruk itu kembali. Membuatku kehilangan perempuan luar biasa itu. Aku kehilangan Ludira. Aku menolak Ludira. Aku menghancurkan harapan dan imajinasi ku sendiri. Aku mematahkan hati perempuan yang entah sejak kapan menjadi pujaan jiwaku. Aku kira, aku masih mencintai Shofia. Tidak adil rasanya jika menggenggam Ludira namun nyatanya aku masih belum mampu menghapus nama Shofia di dalam jiwaku. Ini kesalahan terbesarku.
Almeera, putriku itu memang dekat denganku. Kami, sepasang Papa dan putri kesayangannya. Meskipun begitu, dengan tegas Almeera tidak menyetujui jika aku menikah dengan Mamanya. Aneh bukan? Dia mau memanggil ku Papa, tapi masih begitu keberatan jika aku menikahi Mamanya. Dan saat Almeera menyetujui kami bersama, aku baru menyadari, ternyata kesalahanku benar-benar fatal. Sangat fatal.
Ludira tidak lagi dekat dengan keponakanku, Aksara. Tapi juga begitu dekat dengan Papanya Aksara, Abang kesayangan sekaligus kebanggan aku. Aku yang saat itu sedang sibuk dengan sisi gelap ku, justru membuat mereka saling mengenal satu sama lain. Menyalahkan bang Lendra? Atau menyalahkan diri sendiri? Enggak. Toh, segala sesuatu menang sudah di atur sama sangat Pencipta.
Aku memilih menjadi lemah karena masa laluku, aku memilih tetap terbayang-bayangi Shofia. Padahal Sang Pencipta sudah memberikan Ludira dan Almeera untuk masa kini dan masa depanku. Hasilnya, aku harus tanggung jawab. Tidak boleh egois. Tidak boleh menutup mataku dari kenyataan lagi.
Kenyataannya, Ludira jatuh cinta dengan Bang Syailendra. Aku bisa apa? Mungkin memang bisa memaksa Ludira untuk bersamaku. Tapi-- Tidak! Sepertinya cintaku kepada Ludira lebih besar di bandingkan cinta yang pernah kurasakan. Aku lebih memilih terus memberi, terus mencintai. Persoalan dia balas memberi atau balas mencintai itu bukan sesuatu yang utama.
🥰🥰🥰🥰🥰
Terima kasih buat dukungannya dan doa nya. Mohon Maaf, baru bisa Update kembali.
__ADS_1