
Setelah menjadi penengah di antara mereka berdua, aku masuk ke dalam rumah. Ya, dua pria dewasa itu berhenti saat aku siram dengan air sekaligus aku pukul mereka dengan tempat yang biasa di gunakan untuk menyiram tanaman. Tentu saja aku ikutan kalap saat mereka mengabaikan guyuran air, aku pukul mereka berdua tanpa ampun. Aku lampiaskan semua rasa kesal yang aku miliki kepada mereka berdua.
Narendra yang bikin dunia aku jadi jungkir balik, berantakan. Belum lagi sikap dan tingkah lakunya bikin perasaanku tidak. menentu, aku benci dengan diriku yang tidak bisa aku kontrol seperti ini. Ada rasa ingin selalu memberikan penjelasan saat pria ini marah marah tidak jelas saat aku sedang bersama Syailendra yang notabene nya keluarga Narendra sendiri. Narendra, dekat tapi terasa ada sekat.
Syailendra yang vulgar seenaknya sendiri, nggak pernah memikirkan kalau aku dan dia tidak boleh saling bersentuhan. Suara beratnya yang sukar sekali untuk di abaikan. Konyolnya lagi, aku merasa tanpa sekat meskipun kami tidak sedekat aku dan Narendra. Mungkin karena ada Aksara di antara kami berdua.
"Mama kok basah gitu bajunya?" tanya putriku yang sedang duduk di lantai dengan Aksara, ternyata mereka sedang main Lego dan juga puzzle bersama. "Iya nih, barusan nyiram om Narendra sama Papanya Adek." jawabku pelan, sambil meringis.
"Tadi adek bisa ganti sendiri?" tanyaku ke pada Aksara.
"Di bantu sedikit sama Kakak, Nte."
Aku mengangguk mendengar jawaban anak kecil yang sangat menggemaskan ini. Setelah itu aku memutuskan pamit ke kamarku untuk mengganti pakaian yang aku pakai ini. Sejenak aku kepikiran Narendra yang tentu saja entah membawa baju ganti atau tidak.
***
"Sakit?" tanyaku pelan. Sesudah ganti baju dan merapikan diri, aku memang bergegas kembali ke belakang setelah meminta putriku mengambil kotak obat. Takutnya mereka berdua masih saling pukul. Ternyata yang di belakang hanya ada Narendra. Mendengar pertanyaan ku, Narendra menoleh.
"Nggak perlu tanya. Nggak penting juga." jawab Narendra masih ketus.
Aku menghembuskan nafas berat dan berjalan ke arah Narendra yang sedang duduk di kursi santai teras belakang.
"Bawa baju ganti nggak?" tanyaku pelan, setelah mengambil posisi duduk lumayan dekat dengan Narendra.
"Aku bawa motor kesini nya." jawab Narendra masih tanpa menoleh ke arahku.
Jadi itu artinya dia nggak bawa baju ganti. Aku masih mengamati wajah lebam Narendra, bibir yang aku yakini tidak baik baik saja. Pipi yang membiru. Pasti tidak lama lagi itu luka bakalan bengkak. Nyeri banget pastinya.
"Kotak obatnya di mana, Ra?" tanya suara berat milik Syailendra yang menyadarkan aku dari terlalu asyik mengamati wajah Narendra. Aku menoleh ke arah Syailendra yang sedang berdiri di depan pintu, bajunya sudah ganti. Penampilannya juga sudah rapi, kecuali wajahnya yang juga lebih buruk daripada Narendra.
"Tadi aku minta tolong ke Kakak buat ngambilin kota obat. Belum ketemu Kakak?" tanyaku pelan ke pada pria yang kini memilih duduk di sampingku.
"Kaaaaan." Sentak Narendra keras, mengagetkan. Bahkan kini dia sudah berdiri di depan aku dan Syailendra.
"Apaaa!!!" Bentak Syailendra tak kalah keras.
Aku memandang ke arah mereka berdua bergantian. Yang satu sudah rapi, yang satunya masih kotor basah dan juga tanah. Yang satu wajahnya lebih dewasa yang satu memang kelihatan masih imut gitu.
"Kalian kalau nggak mau aku usir dari sini, tolong deh yaa... Di dalam sana ada anak anak saya yaa, saya nggak mau anak anak saya nonton adegan tinju secara live. Nggak baik buat perkembangan anak anak saya." sahutku pelan. Tapi ternyata di dengarkan oleh kedua pria yang tadi sudah saling berhadapan dengan wajah sama sama keras meskipun sudah saling babak belur.
"Kamu bawa baju ganti berapa?" tanyaku pelan, menoleh ke arah Syailendra yang kini sudah kembali duduk. "Di mobil masih ada beberapa baju sama celana." jawab Syailendra sambil tersenyum mengejek ke arah Narendra yang kini membuang muka.
"Mas!" bentakku kasar. Nggak nyaman juga ternyata kalau Narendra di giniin di depan aku secara langsung.
Buuuughh.
Suara pukulan mengagetkan ku kembali, ternyata Narendra memukul dinding di sebelah dengan kepalan tangannya. Membuatku terkejut bahkan sampai beranjak ke arah Narendra dan menarik tangan pria itu.
"Narendraa." bisik ku pelan sambil berlutut di lantai, tanpa aku sadari juga meraih paksa tangan pria itu yang tadi di gunakan untuk memukul dinding hingga terdengar suara lumayan keras.
"Dasar Bocah!" desah Syailendra yang juga berdiri ke sampingku.
"Ngapain sih manggil mas mas. Emang kalian sedekat itu hah? Enak aja manggil mas mes." sentak Narendra kasar, bahkan memaksa menarik tangannya dari genggaman tanganku.
"Lepasin, Ra. Ngapain juga kamu berlutut sama perduliin bocah kaya gini." Bentak Syailendra kasar sambil menarik lenganku keras.
"Sakit dih!"
__ADS_1
Narendra yang melihat Syailendra menyentuhku lagi, kini berdiri persis di hadapan Syailendra, sedangkan aku berasa di tengah tengah mereka. Aku memilih berdiri dan sungguhan menjadi penengah di antara dua pria yang entah kenapa di liputi amarah.
"Kalian mau saling pukul lagi?" tanyaku pelan.
"Ren, kalau kamu suka sama Dira, ngomong Ren. Jangan jadi pengecut kaya gitu." sahut Syailendra seakan aku tidak berada di depannya. Aku memandang ke arah Narendra yang mulai melangkah mundur sambil membuang muka.
"Jangan jadi ********, jangan bodoh untuk kesekian kalinya. Munafik kamu, Ren."
Aku menarik nafas berat, menoleh ke arah Narendra yang kini masih membuang muka.
"Sudahlah, mas. Ini ngomongin apa sih. Sudah, kamu masuk aja deh, Mas. Nggak baik di lihat anak anak." ucapku pelan, sedikit mendorong dada Syailendra ke belakang.
"Kamu suka sama bang Syailendra, Ludira? Orang yang nggak akan pernah manggil nama lengkap kamu karena bikin dia teringat sama istrinya yang meninggal karena pendarahan." ujar Narendra ketus.
"Kamu!!!" bentak Syailendra sambil melayangkan kepalan tangannya lagi, namun terhalangi oleh ku.
"Sudah Sudah. Jangan kelewatan, Narendra. Nggak perlu bawa bawa topik pembicaraan yang sensitif seperti itu." sahutku pelan.
"Itu sebagai bukti bahwa Narendra bukan hanya tidak bisa tegas dengan dirinya sendiri, Ra. Bukan hanya tidak bisa memiliki dirinya sendiri, tapi juga sebagai bukti bahwa pria ini, pria yang kamu tangisi ini benar-benar masih bocah. Nggak bisa bijaksana bahkan sama hidupnya sendiri!" Bentak Syailendra kasar.
"Abang nggak punya hak apapun untuk menilai aku begitu!" jawab Narendra tak kalah kasar.
"Emang bener kan? buat apa kamu cemburu buta kaya gini kalau emang kamu nggak ada rasa apapun sama Dira hah?"
Aku memilih diam. Aku salah, aku tahu ini salah. Harusnya aku pergi saja dari mereka berdua, namun hati ini perasaan ini, membuat kakiku tertahan. Pria ini, Narendra memilih diam.
"Kamu bahkan udah nolak Dira sebelum kamu yakin perasaanmu dan juga perasaan Dira, kamu pikir enak apa jadi pelampiasan. Mikir, Rendra. Selesaikan masa lalu mu sebelum kamu memaksakan perempuan lain mendapatkan rasa nyaman dari perilaku mu. Temui Sofia, dia menunggu kehadiran mu selama ini. Jangan terus menerus melarikan diri seperti orang pengecut. Nggak akan pernah aku biarkan kamu nyakitin Dira lagi, Ren. Tinggalkan sekarang jika memang kamu nggak ada niatan untuk serius dengan Dira."
Bruug!
Narendra melemparkan pukulannya ke arah Syailendra waktu aku menunduk, berusaha menentramkan hatiku yang entah sekali.
"Mas, masuk. Tolong masuk." bisik ku pelan.
Syailendra meninggalkan kami berdua, aku yang masih berdiri tidak jauh dari Narendra.
"Reen?" panggilku pelan, sejujurnya meskipun hatiku gundah sakit, pokoknya entahlah. Yang jelas aku justru mengkhawatirkan pria di depanku ini. Dia, dia tidak lebih kuat dari pada Syailendra maupun diriku.
"Kenapa? kenapa kamu hari manggil dia dengan sebutan akrab kaya gitu." desah Narendra pelan, tidak. lagi memalingkan wajahnya, namun menatap nyeri kearahku.
Tentu saja aku salah tingkah, karena memang kebetulan mulutku tidak sengaja namun juga keterusan manggil Syailendra dengan sebutan mas, dia lebih dewasa meskipun kita seumuran. Dan namanya sudah sekali untuk di panggil dalam satu panggilan.
"Cuma panggilan kaya gitu kan sudah biasa, Narendra. Biasanya juga aku manggil. gitu kan sama senior kita." jelasku pelan, entah kenapa aku ingin sekali meyakinkan pria ini bahwa panggilan itu bukanlah panggilan istimewa seperti yang di fikirkan Narendra.
"Jangan mengelak, Dira."
"Manggil Syailendra itu susah, nggak semuda nama kamu. Lagi pula ngapain tadi mukul Syailendra gitu, bikin kaget tahu. Untung saja Almeera nggak lihat kamu."
"Gimana nggak hilang kendali, lihat kamu pelukan mesra gitu sama Syailendra."
"Reen, itu bukan pelukan. Lagi pula reaksi kamu emang berlebihan sekali."
"Bukan muhrim, Ludira. Kamu mau. ngasih contoh nggak baik buat Almeera? Atau kamu ngebayangin keluarga sempurna gitu sama bang Lendra?"
Aku menarik nafas keras, itu wajah udah babak belur, ngotot banget ngomongnya sampai urat di leher menonjol.
"Nggak sakit wajahnya? Masuk aja yuk, ganti baju deh." bujukku pelan, mencoba mengabaikan nama Sofia yang terlintas di otakku.
__ADS_1
"Nggak usah sok perduli, sana urus calon suami kamu!"
"Terus?"
"Aku mau pulang, salam aja buat Almeera."
"Ah, jadi kamu emang cuma mau bikin drama ya? Egois ya, maunya hanya memercayai apa yang kamu yakini benar saja. Kamu nggak mau menerima kenyataan yang nggak sesuai dengan keinginan kamu. Sana, pergi aja. Lagi pula kamu nggak tertarik juga kan sama aku. Bodoh kalau aku maksa ini itu ke kamu." Sahutku kesal, marah. Hatiku hancur, perasaanku juga aduk aduk sekali. Entah faktor mana yang menyebabkan aku merasa begitu tidak nyaman.
Aku meninggalkan Narendra yang masih berdiri di tempatnya, aku semakin mempercepat langkah kakiku, langsung menuju kamar mandi terdekat. Aku butuh membersihkan wajahku dari tumpahan Air mata tidak jelas ini.
"Nangis lagi?" tanya seseorang begitu aku keluar dari kamar mandi. "Cengeng." lanjut pria itu sambil menyilangkan tangannya.
"Narendra sudah ganti pakaian, pakai kamar tamu yang aku pakai. Sekarang lagi duduk di ruang tengah." jelas Syailendra kepadaku.
"Anak anak?" tanyaku pelan.
"Aku minta mbok sama suaminya buat nganter anak anak makan di Ayam lumpang. Tadi sebelum aku memutuskan gabung dengan kalian berdua. Sebenarnya aku nggak mau ikut campur, cuma gemes gitu sama Adik yang bodoh. Cemburu kok sok bilang nggak cinta."
"Apaan sih, ngaco! dia cuma mau melindungi aku dari tangan tangan sembrono mu itu, Mas." sahutku keras. "Tapi makasih, seenggaknya anak anak nggak mendengar keributan tadi." lanjutku pelan.
"Aku udah bilang sama Kakak juga adek, kalau aku sama Narendra latihan tinju, tadi sempet tanya macem macem Aksara, kalau Almeera cuma diem aja."
Aku mengangguk pelan, bersyukur bahwa pria di depanku ini memang bisa di andalkan.
"Jadi kalian di sini? Bedua duaan terus! Emang aku tuh yang jadi setannya ya dari tadi." Sentak Narendra yang ternyata sudah berdiri tidak jauh di antara kami berdua.
"Rendraa" panggilku pelan sambil berjalan ke arah pria yang kini sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian milik Syailendra. Bagaimanapun, bohong jika Narendra benci dengan Syailendra. Tidak akan pernah, pria itu terlalu menyayangi Syailendra. Begitu pula Syailendra.
"Duduk di sana aja yuk, luka kalian perlu di obatin." ajak ku kepada Narendra dan juga Syailendra.
***
"Sakit, Ra. Pelan!" Sentak Syailendra keras. Dia memang bukan tipe yang tahan dengan luka luar seperti ini. Mungkin kalau bukan karena amarah yang menggebu, ini orang sudah teriak teriak dari tadi. "Ini aku udah pelan banget." sahutku pelan.
"Obati sendiri aja, Bang. Manja banget!" Bentak Narendra kasar, judes.
"Bilang aja kamu juga pengen di obatin Dira, ngomong makanya Ren. Kalau diem mulu, gimana kita bisa tahu. ****!"
"Uuuuh!" ucapku sambil menekan luka Syailendra. "Sekali lagi maki maki di depan aku, awas pokoknya." ancamku tanpa memperdulikan suara teriakan Syailendra. Yang di susul suara kekehan Narendra.
"Nggak usah ngejek juga kamunya. Kenyang mentang kamu tahan sama luka luar begini."
"Bela terus, Ludira. Belaaaa. Kesayangan sih ya, jadi di bela terus."
"Begoooooo, Narendra ****!" teriak Syailendra yang aku balas dengan hembusan nafas kasar.
"Kalian selesaikan sendiri!" ucapku sambil berdiri meninggalkan mereka. Perutku terasa lapar sekali, mengahadapi dia pria yang berbeda karakter tapi juga sedikit banyak punya kesamaan ini, bikin energi tubuhku habis.
"Buatin bubur, Ra." bisik Narendra pelan, sedikit manja.
"Ribet, Ren. Aku buatin puding roti tawar aja ya? mau?" tanyaku pelan.
"Roti tawar sama susu hangat ajah." jawab Narendra sambil meringis.
"Huh, menyebalkan." sabut Syailendra keras.
"Abang apa?" tanyaku pelan.
__ADS_1
"Luka begini mana bisa makan, Ra. Sup buah aja, konyol kalau luka kaya gini kok mau minum yang panas panas."
Narendra tampak diam saja, menyibukkan dirinya dengan wajahnya sendiri. Sedangkan aku memilih untuk ke dapur. Menyiapkan makananku sendiri terlebih dahulu.