
"Anak anak gimana?" tanya Narendra sambil menjalankan mobilnya. "Sama Mas Syailendra." jawabku pelan.
"Akhir akhir ini, Bang Lendra nggak pernah ambil pekerjaan di luar kota lagi ya? Sering banget di rumah." keluh Narendra dengan wajah nggak nyamannya itu. Ujung mataku memang sekilas menoleh ke arah Narendra yang fokus ke jalan.
"Biar ada waktu buat Aksara. Itu kesepakatan saya sama papanya Aksara. Kalau Aksara nggak boleh pindah dari sekolahnya itu, ya papanya ngalah buat kerja dari sini. Lagian Bang Lendra itu kan arsitek luar biasa, kalau dia kerja dari rumah juga nggak rugi." jawabku apa adanya.
Dahi Narendra berkerut, bibirnya juga agak maju sedikit.
"Kok buat kesepakatan kaya gitu nggak bilang bilang dulu?"
"Bilang bilang sama siapaaa?"
Itu nada bicara ngambekan emang bikin gereget, sabaaaar deh pokoknya. Harus ekstra sabaar, ngadepin kemanjaan dari pria dewasa kaya gini.
"Saya lah. Siapa lagi!"
"Ngapain juga harus tanya pendapat kamu, Ren. Kamu nya aja ngambek nggak jelas saat aku lagi sibuk mikirin Aksara yang kena Bully." ujarku cetus. Emang harus di ingetin, biar nggak nglunjak ngambeknya.
"Kan jadi sering di rumah bang Syailendra. Lagian sekarang soal Aksara nggak bisa lepas dari campur tangan kamu. Udah ada bapaknya, kamu jangan terlalu over merhatiin Aksara bisa nggak sih!" omel Narendra asal asalan.
Aku menenangkan diriku sendiri, sebisa mungkin menghitung angka satu sampai sepuluh dalam diam. Berusaha mengendalikan amarahku sendiri. Narendra ini apa dia nggak mikir gitu pas ngomong gini, dianya itu kalau soal Almeera juga hampir seratus persen terlibat. Lebih jauh terlibat di bandingkan soal Aku dan Aksara. Harusnya dia sadar diri dong!
"Jangan jangan kamu nikmatin kedekatan kalian ya? Awas ah, jangan terlalu terbiasa, nanti jadi sulit pisahnya." lanjut Narendra dengan mimik wajah yang menurut aku tuh emang bikin kesel, gereget, tapi juga nggak bisa mangkir kalau ada imut imutnya.
Haduuuh, ini hati dan jantuuung.
"Narendraaa!" tegur ku pelan.
"Apaa!"
"Kamu sadar diri juga dong, kamu juga ikut campur soal Almeera. Harusnya kamu orang yang paling bisa ngertiin soal saya sama Aksara."
"Iya iya, cuma bang Lendra kan sekarang sok nggak bisa ini itu. Minyak buat mijat Aksara aja tanya ke kamu. Apa apa kamu! Kamu juga sih, ngapain nerima kartu kredit juga debit dari bang Lendra."
Naaaah, kaaaan.
__ADS_1
"Narendra, itu karena abang kamu itu yang maksa saya buat nerima itu kartu. Bilangnya buat keperluan nya adek. Cuma emang nggak pernah saya pakai. Saya nerima kan juga di depannya kamu, ada kamu, Ren. Dih, kalau mau mempermasalahkan itu harusnya saat itu. Bukan sekarang!"
Narendra diam. Sepertinya juga mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Aku nggak suka lihat kamu lebih nyaman sama Bang Syailendra. Cuma itu."
Aku memilih diam. Mengalihkan pandangan ke luar jendela. Suara lemah rendah dan juga mata yang sedikit basah itu emang selalu bikin hatiku luluh.
"Almeera tahu soal ini?"
"Iya. Kakak tahu kalau kita mau ketemu sama Sofia."
"Terus?"
"Udah gitu aja."
"Nggak tanya apa apa?"
Narendra menoleh, aku menggeleng. Putriku hanya mengangguk dengan wajah datar dan biasa biasa saja. Tidak menanyakan apapun.
"Iya"
"Kemarin simbok cerita, kamu kenal sama ibu ibu di kompleks ini ya?"
"Lumayan lah. Dulu kan sering nguntit kalian. Eh ada ibu ibu yang belanja sayur, sekalian beli roti sekalian aja kan ngobrol sama mereka."
"Ngobrol apaa!"
Serius, aku terkejut dengan kalimat yang diucapkan Narendra barusan.
"Ngobrol aja, terus kan aku juga sering sholat di masjid. Aku juga laporan ke RT kalau ke rumah kamu sampai agak malam."
"Ah masa sih?"
"Iya, aku WhatsApp pak RT."
__ADS_1
Eh? Kok bisa? Kenapa sih Narendra punya pikiran harus berbuat seperti itu?
"Udahlah, nggak usah di bahas."
Aku mengangguk meskipun sebenarnya masih penasaran, cuma ada sedikit rasa takut jika aku mendengar semua penjelasan Narendra, aku takut semakin kacau. Iya, perasaanku semakin kacau.
"Perasaan kamu gimana, Ren? Ini mau ketemu Sofia, Lo ya. Sofia."
"Biasa aja sih, saya ajah heran. Justru ini bawaannya kesel aja sama mbak, kenapa sih tadi harus pakai acara peluk peluk dulu sama Bang Lendra? Coba tadi nggak ada Almeera yang megangin tangan aku, udah aku pukul itu wajah! Ngeselin banget! Sembarangan sentuh sentuh, kamunya juga nurut aja!"
Aku menghembuskan nafas kasar. Gini yang aku nggak suka dari Narendra, dia itu paling suka kekeh sama apa yang dia pikirkan. Apa yang paling dia anggap benar.
Nggak heran kalau bertahun-tahun dia kekeh nggak mau komunikasi dengan Sofia maupun keluarganya. Pantas jika dia mudah tumbang hanya karena teringat tentang Sofia.
"Narendra Bagaskaraaa. Kalau ngomong itu pakai akal sehat, bukan pakai perasaan bad mood kaya gini. Yang ada tadi saya tuh cuma cipika cipiki sama Aksaraa. Kebetulan Aksara lagi di gendong papahnya."
Ngomong sama Narendra kalau soal Aksara dan juga papanya itu emang butuh mengumpulkan segenap kesabaran yang ada.
"Di mata aku tuh kelihatan kaya istri pamitan sama suami. Heraaaan, kamu tuh bisa bisanya jadi Ludira yang berbeda kalau sama Syailendra!"
Pada awalnya emang masih suara kesel ngambek, eehh ujung ujungnya bentak.
"Narendra, istighfar!" Bentakku tak kalah keras.
Nurut juga akhirnya, pria itu kembali tenang. Meskipun matanya masih fokus ke jalan. Syukurlah, dia nggak gegabah, nggak ceroboh. Cuma orang bodoh yang mau mau bertengkar di saat mengemudi begini.
"Maafin aku, aku tuh suka gelap mata kalau lihat kamu tertawa atau tersenyum lepas dengan Syailendra, meskipun itu abang aku sendiri. Dia begitu mudah masuk ke dalam hidup kamu, beda denganku yang butuh banget perjuangan yang nggak mudah hanya untuk dapat izin lebih mengenal Almeera."
Aku menghembuskan nafas kasar, lagi lagi suara rendah Narendra membuatku luluh untuk memaafkan tingkah konyolnya itu. Bagaimana bisa pria ini lebih sibuk memikirkan aku dan Syailendra dibandingkan mengkhawatirkan dirinya sendiri karena akan bertemu dengan perempuan yang sudah ribuan hari tidak bertemu.
Terlebih seseorang itu, perempuan itu bukan perempuan sembarang, bukan orang lain dalam hidupnya seperti diriku ataupun Almeera. Dia, perempuan yang selalu menjadi pemilik Narendra, isi pikirannya. Perasaannya bahkan juga mimpi mimpinya, walaupun itu mimpi buruk.
"Please, jangan bikin aku gundah kaya gini hanya karena senyum kamu itu." sahut Narendra dengan suara memohon yang tercekat.
"Aneh kamu, Ren." ujarku kesal.
__ADS_1
Aku kembali membuang muka, pikiranku terisi banyak sekali kata kata liar. Prasangka prasangka yang begitu buruk dan juga baik. Bisa saja kan? Narendra sekarang ini cemburu dengan Syailendra. Tapi juga bisa saja itu semua hanya cara Narendra untuk mengalihkan pikirannya dari rasa gugup saat akan bertemu dengan Cinta pertama sekaligus mantan istrinya yang paling ia cintai. Entahlah, aku tidak berani menduga-duga lebih lanjut. Yang jelas, di sini posisiku adalah sebagai penguat Narendra. Aku akan tetap berdiri di samping pria ini sebagaimana ia berdiri di sampingku akhir akhir ini. Kita akan saling menguatkan, tanpa melibatkan perasaan yang berlebihan. Semoga, semoga seperti itu.