
Papanya Aksara tersenyum hangat sambil mendengarkan semua yang di ceritakan oleh Aksara dan di depannya ada putriku yang sepertinya berusaha untuk terlihat ramah demi membuat senang Anak balita yang di sebut Adik kecilnya itu. Aku sendiri yang membawa baki berisi susu kedelai, mencoba menahan tawa melihat semua ini.
"Silahkan, Pak. Saya tadi bikin susu kedelai untuk Aksara, kebetulan mbaknya Aksara bilang kalau Aksara suka sekali sama susu kedelai." jelas ku panjang lebar, sebetulnya ingin sekali aku tambahkan kalimat, Aksara baik baik saja kok di sini. Tapi kesannya kok kurang sopan. "Wah, jadi repot ya. Terimakasih." sahut papanya Aksara tetap sopan.
"Papa kok pagi sekali jemput Aksara nya." Ucap Aksara cemberut. "Kan Aksara masih ingin main bareng sama Kak Almeera." lanjut Aksara masih tetap cemberut tapi tentu saja menggemaskan.
Ujung mataku menangkap gelagat bahagia di wajah Almeera, rasanya justru ingin tertawa.
"Jadi maaf ini, Ludira. Saya panggil Ludira saja ya." pinta pria itu. Aku mengangguk, dia papanya bocah mungil yang bernama Aksara itu, tidak masalah sepertinya jika memanggil namaku langsung. "Silahkan." jawabku pelan.
"Anda bisa panggil saya Syailendra saja." sahut papanya Aksara, aku mengangguk. "Maaf lo ini merepotkan pasti ya, Terima kasih juga sudah jagain Aksara. Ini saya juga mohon maaf, karena harusnya yang jemput itu Narendra, terus karena Narendra nya kemarin kasih kabar ada acara mendadak jadi dari Surabaya saya langsung ke sini. Kebetulan juga, mbaknya Aksara masih libur, takutnya nanti Ludira sama keluarga merasa keberatan karena terlalu lama menunggu jemputan Aksara, jadi saya langsung kesini. Walaupun ya, sebenarnya sedikit ragu karena jam nya ini jam sarapan pagi ya. Hehehe."
Amazing sekali, entah berapa kata yang di keluarkan oleh Syailendra. Bahkan putriku memandang heran, keringnya sampai berkerut seperti itu. Aku berdehem pelan.
"Tidak masalah kok kalau jemput nya kelamaan. Ini justru jujur saja kalau sebenarnya kami sedikit terganggu karena Aksara di jemput terlalu pagi, Kami sudah ada rencana kalau setelah sarapan, Aksara sama Almeera, putri saya. Mau menanam jagung di belakang rumah." sahut ku juga panjang lebar.
"Aduh, jadi enaknya gimana ya ini." tanya Syailendra. Bergantian menatap aku, putriku dan putranya. "Papa, Aksara mau nanam jagung dulu deh." Pinta Aksara dengan wajah yang memelas. Aduh, gimana ini. Aku menoleh ke arah putriku yang juga menoleh ke arahku. "Tanya sama tantenya dulu, Mas." jawab Syailendra lembut. Sabar.
"Jadi om baru saja pulang dari Surabaya langsung ke rumah saya?" tanya putriku pelan. Syailendra tersenyum malu, "Iya."
Putriku mengangguk pelan, sambil menyenggol tanganku.
"Silahkan, Syailendra. Di coba dulu susunya. Aksara mau ikut tante sama kakak ambil kue buat papa?"
"Iyaa dong, maau. Boleh ya, Paa."
Syailendra tersenyum dan mengangguk. Mengusap rambut putranya lembut.
"Gimana, Ma. Itu papanya Adek pasti capek banget kan. Suruh istirahat di sini atau suruh pulang dulu aja terus nanti kita yang nganterin Adek?" tanya putriku saat kami sudah berada di dalam. "Adek mau coba? Choco Chip buatan Kakak lo ini." ujar putriku sambil mengambil satu kue kering cokelat dan menyerahkan ke Adik kecilnya.
__ADS_1
"Pilihan kedua yang paling bagus deh." ucapku menjawab pertanyaan Almeera tadi. "Bawa ke depan dulu, Sayang." pintaku.
Putriku mengangguk, "Ayo, Dek."
Aku mengikuti mereka berdua dari belakang, Aksara duduk di samping Almeera.
"Sepertinya mereka sangat dekat, Dira." Sahut Syailendra padaku. "Saya heran, kenapa bisa selengket itu." lanjut Syailendra.
"Maa, Almeera ajak adek ke luar dulu ya, sebentar." pinta putriku sambil menggandeng tangan Aksara. "Maaf, Om. Kami tinggal dulu." pamit Almeera pelan, sambil tersenyum agak terpaksa.
Syailendra mengangguk dan juga membalas senyum putriku.
"Di coba dulu kue nya, ini yang buat Almeera."
"Hebat ya, ini maaf Dira. Saya bisa bertemu dengan papanya Almeera?" tanya Syailendra hati hati. "Papanya Almeera sudah almarhum, sama seperti mamanya Aksara." jawabku tenang. Setelah bertemu dengan Narendra yang patah hati kini aku bertemu dengan sosok yang juga hampir seperti ku. Ah, betapa lucunya drama ini.
"I'm so sorry."
"Kok kesannya saya harus memberi pilihan putra saya untuk memilih anda atau saya ya, hehehehe."
Syailendra tertawa pelan, kemudian mengambil kue kering yang di depannya. Sedangkan aku masih terdiam, menunggu kelanjutan dari ucapan papanya Aksara itu. Sepertinya aku memang harus bersabar, karena setelah selesai menikmati satu kering kue kering cokelat, dia kembali mengambilnya.
Tentu saja bukan karena aku takut pria itu menghabiskan kue keringnya, bukan dong. Cuma ini lo, kenapa lama sekali. Padahal aku jelas jelas tadi berbicara dengan nada serius.
"Enak kuenya. Saya boleh pesan satu toples?"
Hahahaha, setelah aku tunggu tunggu, ternyata yang keluar justru bukan kalimat yang sesuai topik pembicaraan. Kesal tentu saja, tapi raut wajah yang begitu lucu membuatku tertawa pelan.
"Jangan terlalu serius, Dira."
__ADS_1
"Jadi?"
"Putrimu memang susah tersenyum lepas ya? padahal kalau saya lihat di Instagram Narendra, senyumnya bahagia sekali."
Aku yang baru saja tertawa, kini menatap tajam ke arah pria yang berwajah komedi itu. Dia suka stand up komedi kah?
"Terus kalau sama Aksara juga hangat juga ekpresinya, kalau sama saya kesannya terlalu di paksa untuk sopan, kepaksa kalau saya ini papanya Aksara. Iya nggak sih, Dira? atau hanya perasaan saya saja?"
Fix deh pokok nya, ini mah nggak jauh jauh dari fuckboy. Ya Salaaam, kenapa keluarganya Narendra aneh aneh gini sih!
Aku masih terdiam saat pria itu meminta resep kue kering cokelat dan juga susu kedelai, katanya pas sekali dengan seleranya hanya saja kurang manis sedikit.
"Hebat lo, ini susu kedelainya itu tidak bau. Baiklaah. Maaf kalau kesannya saya itu sok dekat, sebenarnya saya cukup penasaran dengan mamanya Almeera, benaran deh, kenapa bisa ya Almeera mirip sekali dengan Narendra waktu kecil. Sudah kenal lama ya sama Narendra?" tanya Syailendra pelan tapi penuh selidik, matanya yang tajam menatap penuh perhitungan ke arahku.
Sabar Dira.. Sabar!! Demi bisa menghabiskan waktu minggu pagi hingga siang bersama balita menggemaskan itu, maka kamu harus sabar menghadapi papanya yang terlalu sekali.
"Kesannya kok menuduh ya, Pak? Nggak enak gini nada bicaranya di telinga saya. Saya kenal emang sudah lama, dia junior saya. Dekatnya baru baru ini. Itu prasangka tolong di jaga yaa. Terlalu kotor! Butuh sapu buat bersihinnya?"
"Hahahaha, kamu lucu! Baiklah, nanti Aksara bisa di antar ke rumah saya, siang boleh, malam juga boleh. Maaf ya, kesan pertama yang cukup buruk."
Aku menghembuskan nafas kasar, betapa tidak bisa di tebak pria ini. Narendra!! Kenapa kamu membawa begitu banyak pengaruh jelek dalam hidup ku yang semula datar dan juga nyaman.
"Saya bisa pamit sekarang? Aksara di mana ya?"
"Di samping rumah, mungkin lagi main ayunan. Mari saya antar."
"Terima kasih, Ludira. Namamu unik sekali, kalau dalam bahasa Jawa itu artinya Darah, Lo. Saya suka ngeri ngeri gimana gitu sama Darah, sepertinya di masa depan kita nggak bakalan sering komunikasi deh. Kebayang merahnya darah setiap menyebut namamu, lebih enak manggil Tantenya Aksara atau mamanya Almeera dari pada Ludira."
"Kamuuuuu, Ya Tuhaan."
__ADS_1
"Hahahaha."