LUDIRA

LUDIRA
Tiga Puluh


__ADS_3

"Kamu menakutkan deh, Lendra!" Sentak ku kasar. Aku mulai tidak merasa nyaman dengan senyum menakutkan pria ini, buka senyum menggoda. Tapi senyum yang terlalu misterius. "Hahaha, Aku nggak gigit kok menakutkan." Tawa Syailendra pecah. "Di minum dulu cokelat nya." tawar pria itu.


Aku mengangkat cangkir berisi cokelat hangat, meniup pelan isinya dan menghirup baunya. "Aku juga suka seperti itu, menghirup bau cokelat panas atau kopi bahkan teh. Aromanya menenangkan jiwa." jelas Syailendra tanpa aku pinta pendapatnya.


"Narendra itu benar-benar bodoh, gila, konyol gegabah. Pokoknya durhaka bangeeet dah itu anaaaak." Sentak Syailendra kasar.


Aku?


Tentu saja tersedak oleh cairan manis berwarna cokelat ini. Tiba-tiba ngomong begitu. Kesal, entah karena Narendra yang di maki atau lebih karena aku ngerasa nggak rela gini kalau Aksara yang menggemaskan itu punya papa yang mulutnya lemes banget.


"Uhuk... Uhukk."


Aku menerima tisu yang di ulurkan oleh Narendra.


"Sorry... Saya kelewat marah kalau ingat sama Narendra jaman dahulu. Dia itu stupid banget, rela bikin nangis om sama tante demi nikah sama perempuan yang nggak jelas banget perilakunya. Bodoh bangeet, bucin tingkat orang gila deh. Masa mau maunya nikah sama perempuan yang menuntut di nikahin tapi dia nggak mau ada legal hukumnya, cukup sah di mata agama, konyol kan? Begoooo ****!"


Aku yang asyik syok kembali terkejut, fakta baru yang mengejutkan sekali. Bahkan aku terus mengucapkan istighfar saat mendengar kalimat yang keluar dari pria yang saat ini berwajah penuh amarah.


"Istighfar, Syailendra. Ingat di rumah ada Aksaraaa!"


"Ya Tuhaan." ucap Syailendra sambil menutup wajahnya dan menengadah. "Ini sangat melukai kami semua, Dira. Sangaat. Terlebih kami harus kehilangan Narendra yang menggemaskan, Narendra yang asyik, Narendra yang hidup. Dia itu tidak pernah terpeleset, tapi sekali terpeleset jatuhnya benar-benar di lobang yang menyedot dia hingga habis."


Aku masih diam, mencoba memberikan kesempatan kepada Syailendra untuk bercerita tentang saudara nya itu. Cerita yang selama ini berusaha aku tanyakan kepada beberapa orang yang mengenal Narendra, bahkan sempat ku tanyakan sendiri kepada pria itu.


"Narendra jatuh cinta kepada adik kelasnya, dari zaman SMP hingga dia kuliah. Nah, adik kelasnya ini namanya Sofia, perempuan nggak beres. Berusaha mendapatkan semuanya tapi dia ingin statusnya sebagai istri Narendra di rahasiakan. Singkat cerita, setelah menikah, Sofia itu bukan lagi posesif tapi semacam terlalu ingin mengekang Narendra, Narendra ngobrol sama cewek aja dia marah. Gitu terus, rumah tangga mereka itu isinya cuma pertengkaran yang menurut aku tuh nggak masuk akal banget."

__ADS_1


Syailendra diam, menutup matanya pelan. "Narendra yang sudah terlalu bodoh, di butakan cintanya kepada Sofia, selalu berusaha mengalah. Terlebih saat itu Sofia langsung hamil. Sejak saat itu emosi Sofia berubah-ubah, kadang baik banget kadang jahatnya minta ampun, marah marah tanpa sebab yang jelas. Dan saat putri mereka lahir, Sofia merasa tidak ada ikatan dengan si bayi ini. Konyol kan?" tanya Syailendra sambil menggelengkan kepala.


"Itu bisa jadi baby blues syndrome atau depresi pasca melahirkan. Emang nggak di bawa ke psikiater?" tanyaku heran.


Heran pastinya, mengingat keluarga Narendra dan keluarga Silvia itu semua memiliki peran begitu besar di dunia pendidikan, tentu saja mereka bukan orang-orang yang tidak memiliki jalan keluar secara medis kan?


"Narendra sudah berusaha membujuk Sofia untuk ke psikiater atau psikolog, bahkan sebelum Sofia mengandung. Jawabannya selalu sama, Sofia mengancam akan bunuh diri jika Narendra sampai membicarakan tentang hal itu kepada keluarga nya. Dan bodohnya Narendra, dia setuju saja. Akhirnya apa? dia setres sendiri." jawab Syailendra pelan.


"Saat kejadian Sofia melemparkan bayi mereka dari balkon kamar, itu karena Narendra ketahuan ngopi bareng teman perempuan nya, hanya kebetulan bertemu terus ngopi bareng. Demi Tuhaan!!!"


Nafas Syailendra sudah mulai ngos ngosan. Aku tahu, pria ini menahan emosi. Menahan mulutnya untuk tidak mencaci maki.


"Setelah itu, Narendra pulang dan membujuk Sofia untuk ke psikiater demi bayi mereka. Selesai, kamu tahu akhir ceritanya. Sofia marah, tidak terima dan melampiaskan ke bayi mereka."


"Sekarang kabarnya mereka mau menjodohkan Narendra dengan salah satu keluarga Sofia."


Aku yang sedari tadi menatap ke bawah, kini mengangkat kepalaku dan menatap pria di depanku ini.


"Iya, dia Silvia. Teman satu kampus dengan saya."


"Narendra tidak pernah menolak, Dira. Narendra tidak akan pernah menolak perjodohan itu!!" tegas Syailendra keras. Membuatku sangat tidak nyaman, pikiran negatif seketika masuk ke dalam otakku.


"Tidak penting bagi saya di yakinkan seperti itu, Syailendra. Itu bukan urusan saya!! why not? kenapa tidak? saya setuju dengan perjodohan itu. Saya mah siapa, Syailendra. Saya hanya orang asing yang kebetulan dekat dengan pria bernama Narendra." Ucapku emosi, nada bicaraku penuh amarah. Aku paham betul jika Syailendra meyakinkan aku bahwa aku tidak akan pernah bersama dengan Narendra. Apa perduli ku? selama ini kami memang hanya berteman.


Syailendra terkekeh pelan, bahkan kini tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Jadi maksudnya kamu hanya sekedar pelampiasan saja? Begitu, Ludira Merah?" ucap Syailendra sambil bergidik jijik.


Nafasku tidak lagi beraturan, Dadaku kembang kempis karena menahan gejolak amarah yang kian mendesak ingin keluar.


"Tolong panggilkan anak anak, kami mau pamit."


"Diraaa, hey. Aku sudah bilang kan kalau aku jijik dengan darah. Bukan dengan kamu, jadi tolong. Duduklah, Anak-anak masih asyik bermain." sahut Syailendra pelan, sangat halus dan juga lembut.


Dasar Badboy kurang ajar!!!!!


Ya Allah, Astaghfirullah.


"Mamanya Almeera, tolong duduk kembali, Oke? serius saya bukan cuma jijik sama darah, tapi saya takut sama darah. I'm So Sorry, gaya bicara sama intonasi aku emang gini banget, maafkan. Tolong."


Aku mencoba tetap mengabaikan permintaan maaf Syailendra, hingga pria itu berdiri dari duduk nya dan melangkah ke arahku, berusaha menggapai tanganku.


"Eeeh, ya ya ya." ucap Syailendra begitu aku bergeser, menghindari tangan Syailendra yang sudah terjulur ke arah lenganku.


"Jadi kita mau berdiri saja? capek duduk ya, Mama nya Kakak. Mau aku ajak tour? lihat lihat rumahnya Adek Aksara?" bujuk Syailendra dengan Nada melucu.


Tidak, aku tidak terpengaruh sedikitpun.


"Oke, Dira. Saya panggil anak anak dulu." sahut Syailendra menyerah, "Dasar keras kepala." desah pria itu sambil melangkah pergi dari ruangan ini, namun desah suara itu lebih mirip dengan sentakan karena terlalu keras hingga sampai di telingaku.


Sabar, Ludira. Sabaar!!

__ADS_1


__ADS_2