
***
Seperti biasa, Putriku bergegas keluar dari mobil dan berlari tidak sabaran ke arah Eyangnya yang sudah menunggu di depan pintu. Sedangkan aku turun dari mobil sambil menggendong putraku yang masih tidur.
"Terima kasih, Pak." kataku pada suaminya simbok ini. Beliau mengangguk.
Aku berjalan perlahan ke arah ibu Basuki yang masih menungguku, berdiri dengan pandangan yang sulit aku artikan. Yang jelas ada kesedihan di sana.
"Pak! Langsung masuk saja. Tunggu di dalam." teriak ibu.
"Aksara sudah mulai berat lo ini. Udah besar." Ucap Ibu setelah memberi arahan kepada sopirku.
"Lumayan, Bu." jawabku sambil berjalan di samping beliau. Ibu Basuki menggandeng tanganku erat. Kami berjalan masuk ke dalam rumah bersama.
"Heeey, Cah Baguuus." sahut Ibu Basuki sambil menoel-noel pipi putraku. Aku tersenyum, begitu Aksara meleguh dan bukannya membuka mata tapi hanya mengganti posisi.
"Nggak mau bangun diaa."
Aku tertawa kecil dan mengecup kepala Aksara. Putraku sebenarnya sudah bangun, hanya saja masih ingin bermalas-malasan.
"Saya bawa bubur ayam, Bu."
"Jangan pakai saya saya dong, berapa minggu nggak ketemu kok langsung formal lagi." sindir ibu Basuki.
Aku tertawa.
Sesekali menunduk.
"Eh, Cah Bagus ayooo bangun. Itu kakaknya udah cantik kan adeknya masih bau iler yaaa." goda Ibu Basuki pada Aksara.
"Eyaaaaaaaaang. Aaaah!"
"Ayooo, bangun dong. Pindah kamar sanaa. Masa mau di gendong terus."
"Eyaaaaaang." keluh Aksara masih sambil memejamkan mata.
"Di pindahin kamar aja sana, Ra." titah ibu Basuki.
Kamar yang di maksud itu kamar yang mana, kadang masih suka heran sama keluarga ini, masa... Aku dan putriku di kasih kamar juga, padahal kalau nginap kan cukup di kamar tamu. Tapi beliau, mereka. Justru selalu mengatakan ini salah satu bukti bahwa kami, aku dan Almeera memang sangat di anggap sebagai keluarga.
"Kepagian ya, Bu?" tanyaku menghalangi pertanyaan di sambungan telepon tadi.
"Nggak. Lebih cepat lebih baik, ibu pinginnya justru kemarin. Cuma ini nii, papanya adek kok marah marah. Nggak ngebolehin ibu menghubungi kamu." adu ibu Basuki sambil cemberut.
"Dira pindahin Aksara dulu, Bu. Ini tadi kan ikut sholat malam, jadinya sekarang ngantuk banget nih kayanya."
"Iyaa, tasnya udah di bawa sama Kakak tadi."
Aku mengangguk. Tas isi perlengkapan Aksara memang sudah di bawah Almeera tadi. Aku berjalan menuju kamar ku di rumah ini, di dalam sudah tertata rapi.
"Peluuuk, Ntee." pinta Aksara sambil merapatkan badannya ke arahku begitu aku tidurkan di atas kasur.
"Iyaa. Bobok lagi nggak papa." bisikku sambil menina boboin.
Tidak butuh waktu lama, putraku kembali terlelap dalam mimpi indahnya. Aku menarik selimut untuk menutup tubuh Aksara sebelum keluar dari kamar dan kembali menemui ibu.
"Sudah bisa di tinggal?" tanya ibu Basuki begitu aku ikut bergabung duduk di sofa.
"Sudah, Bu."
"Jadi om Narendra belum bangun eyang? " tanya putriku cemas. "Belum, Kakak mau bangunin?" tanya pak Basuki sambil kontak mata denganku. Sedangkan istrinya meraih tanganku dalam genggaman.
"Eeem, gimana ya. Nggak sopan Eyang."
"Nggak papa, Nanti eyang temani."
__ADS_1
"Nggak deh, nanti kalau waktunya Almeera berangkat tapi om belum bangun juga, nanti pulang sekolah, Al langsung pulang ke sini aja ya, Ma? Boleh?" tanya putriku penuh harap.
Mau nolak, tapi kok nggak tega. Mau kasih izin takut jadi kebiasaan. Kemarin kemarin aja ini Eyangnya suka ngajak ke mana mana nggak bilang. Atau bilang pas udah jalan.
"Boleh ah." ucap Pak Basuki sambil nyengir. Mirip Syailendra.
"Nanti biar Eyang aja yang jemput ya." pinta Ibu Basuki.
"Iya iyaa, ngalah deh." ujarku pura-pura ngambek. Membuat mereka tertawa pelan, bahkan Ibu langsung memeluk tubuhku dari samping.
****
"Jadi soal tadi malam gimana, Ra?" tanya Pak Basuki begitu Almeera di antar ke sekolah oleh pak supir dan juga eyang putrinya. Beliau, ibu Basuki ngotot pengen nganter cucunya berangkat sekolah.
"Saya saja kaget, Pak."
"Saya merasa menyesal sudah kasih izin mereka bertemu. Juga menyesal karena mendesak Narendra untuk bertemu dengan dia, padahal Narendra sudah menolak. Saya kira dia sudah kembali normal, jauh dari obsesi tidak masuk akalnya itu. Jika dulu saat dia berusia dua puluhan tahun atau belasan tahun, saya maklum. Saya sedikit memaklumi jika dia terobsesi dengan hal seperti itu. Tapi sekarang? Tidak! Dia memang berambisi menjadi penyihir. Anehnya, ambisi itu hanya muncul ketika bersama Narendra." jelas Pak Basuki panjang lebar. Beliau memang terlihat tenang, namun dari kata kata beliau yang tidak menyebut nama Sofia, aku tahu... Pak Basuki sudah mencapai titik Marah yang teramat sangat.
"Memang dulu keluarga kita hanya fokus pada duniawi saja, Ra. Sama sekali tidak mengenal agama. Semenjak kejadian Narendra, kami jadi sedikit mengerti, ini kesalahan kami sebagai orang tua." ucap Pak Basuki dengan wajah lelah. "Kadang disini bapak menyadari bahwa pendidikan agama juga penting sekali." lanjut Pak Basuki.
"Ra? Bisa tolong bangunkan Narendra lagi?"
Nah kan! Untuk yang kedua kalinya. Seperti merasa deja vu.
Aku tertawa pelan,
Begitu pula pak Basuki yang tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
"Kami memutuskan untuk mengakhiri rencana perjodohan buat mereka, Ra. Narendra dan Silvia. Setelah kami tahu alasan keluarga mereka bukan sekedar menyesal atas sikap Perempuan itu."
Aku menoleh, keningku berkerut karena tidak paham kemana arus pembicaraan ini.
"Almeera belum setuju kalau kalian bersama?"
Aku seperti tersedak ludahku sendiri.
"Hahahaha, maaf. Bisa tolong bangunin Narendra ya?"
Aku memilih mengangguk daripada terus duduk disini dengan pembahasan yang membuat aku kurang paham.
"Nanti pintunya bukak aja, Ra. Kalau kamu kurang nyaman."
"Tentu dong, Paaak!"
Surat tawa menggema, beliau tertawa. Sedangkan aku sudah melangkahkan kaki menuju kamar Narendra.
Sesampainya di depan pintu kamar Narendra, aku menghembuskan nafas berkali kali, mengatur perasaanku sendiri yang tak menentu. Ragu? Gugup? Dan terlebih sedikit merasa ini salah.
Tanganku memegang daun pintu, membukanya dengan perlahan. Seketika, mataku menatap ke samping dan menemukan pria itu masih terbaring lemas, pucat dan terlalu rapi untuk ukuran orang yang tertidur. Tapi aku bersyukur, dia... Narendra terbaring di atas kasur sambil memakai selimut.
Aku berjalan perlahan setelah membuka pintu lebar lebar dan tetap membiarkan seperti itu. Duduk di samping Narendra tidur. Menatap wajah pria itu.
Sakit,
Nyeri,
Kesal.
"Nareen... Assalamu'alaikum!" bisik ku sambil menepuk-nepuk halus tangan Narendra yang masih tertutup selimut.
"Narendra!" panggil ku pelan. Namun aku semakin keras dalam menggerakkan tangan Narendra.
"Heeeem." gumam Narendra sambil menggerakkan badannya, menggeser badannya mendekat ke arah aku duduk.
"Sudah bangun kan? Ayo buka mata, Ren."
__ADS_1
Perlahan Narendra menggerakkan kepalanya, yang semula menunduk kini mengangkat kepalanya dan membuka matanya perlahan.
"Ah, hay. Aku kira ini masih mimpi." bisik Narendra dengan suara khasnya. Terlebih ini bangun tidur.
Istighfar, Ludira. Jangan mikir aneh aneh.
"Nggak, aku kesini sama anak anak. Almeera ngotot pingin kesini tapi nggak berani bangunin kamu. Nggak sopan katanya." ucapku sambil tersenyum.
Narendra tersenyum lemah. Pria itu menggerakkan badannya hingga kini kepalanya di atas pangkuan ku.
"Eh!" sentak ku terkejut.
"Bentar aja. Tolong, bentar ajaa." pinta Narendra sambil memutar badannya hingga wajah pria itu menghadap ke perutku.
"Jangan seperti ini, Ren."
Ini terlalu berlebihan,
"Eeeemmm." gumam Narendra. "Aku butuh sedikit tenaga." bisik Narendra sambil menggerakkan kepalanya. Bahkan kini tangannya berada di pinggangku.
Narendra!
Jantungku... Berdetak sangat keras. Tanganku seperti bergerak sendiri menyentuh rambut pria itu. Kenapa sekarang tubuh ini mengkhianati pikiranku.
"Kamu pasti jijik sama aku kan? Jujur Ludira, aku bisa memahami kok." bisik Narendra dengan suara Parau.
"Iya, apalagi nafas kamu terasa di perutku."
"Bukan soal itu!" ucap Narendra dengan mendongakkan kepala. Menatap ke arah mataku. Kamu saling berpandangan. Sangat dekat.
"Cieeee cieeeeeee."
Mendengar suara itu aku terkejut. Sedangkan Narendra memejamkan mata marah.
"Baaang!" teriak Narendra kesal. "Please. Jangan ganggu dulu." sahut Narendra sambil mengganti posisinya, sekarang duduk di samping ku.
Aku yang masih terperanjat rasa kaget dan terkejut hanya menatap ke arah Syailendra yang entah sejak kapan berasa di pintu yang memang sengaja aku buka itu.
"Makanya kalau mau morning love itu di tutup pintunya. Kan biar nggak ada yang ganggu. Hahahahaha."
Morning Love ? Apaa?
"Pengen nonjok kamu banget, Bang. Untung badanku masih terasa lemas."
"Hahahaha kaliaaan!"
"Bisa nggak sih bang, kali ini beri kesempatan aku buat ngabisin waktu sama Ludira tanpa kamu, Bang. Please! Kamu akhir akhir ini selalu menguasai Ludira."
Aku menoleh ke arah Narendra setelah mendengar apa yang di katakan pria itu,
Narendra memohon?
Untuk hal nggak penting dan pemikiran kekanak-kanakan itu?
Kata siapa aku menghabiskan waktu ku hanya dengan Syailendra?
Sedangkan saat aku kembali memandang Syailendra, pria itu sedih?
Wajahnya terlihat sedih? Kenapa?
"Dia milikmu, Boy!" ucap Syailendra pelan. Masih di tempatnya.
Menyender ke pintu sambil melipat tangannya di dada.
"Aku cuma mau tanya, bajunya adek itu di mana? Adek udah bangun. Mau aku mandiin sekalian." ujar Syailendra sambil menatap nanar ke arahku.
__ADS_1
"Kamu kan bisa sendiri, Bang. Ngapain sih manja kayak gitu! Kamu juga, Raa! Aku manja dikit, kamunya ngomel ngomel. Iniii, bang Syailendra manja gini, kamunya diem aja. Nikmatin aja." ucap Narendra kesal, membuatku menarik bibirku dan juga mengerutkan keningku secara bersamaan.
"Kalian emang cocok, aku sadar diri kok. Sudah, Ra. Sana urusin anak kamu itu. Sekalian urusin bapaknya juga." sentak Narendra sambil bergerak merebahkan badannya kembali di atas kasur, membelakangi kami berdua.