
"Itu putra kamu yang workaholic itu, sejak kapan sih perduli banget sama si penyihir itu! Geregetan aku tuh, Mas. Yang satu usahain supaya cepat sembuh, yang satunya lagi mau deketin lagi. Heran aku tuh, Mas. Pokoknya ya! Aku nggak ikhlas, Mas. Sedikitpun nggak akan setuju."
"Ibu, mbok jangan cerewet begitu. Telinga bapak berdengung nih."
"Bapak gitu! Ini masalah gawat kok!"
"Buu! Syailendra hanya perduli dengan sesuatu yang di anggap penting. Bapak yakin, bukan Shofia yang dia anggap penting. Syailendra hanya sedang melindungi apa yang dia anggap penting. Kalau Syailendra beneran anggap Shofia penting, putramu itu tidak akan mungkin berkali-kali menampar perempuan itu."
Hening.
"Narendra, hanya ingin memastikan perasaannya. Biarkan dia berusaha menerima masa lalunya dan berjalan maju."
"Tapi, Paaak!"
"Tapi apa?"
"Ibu bingung."
"Sudahlah, Bu. Ini urusan mereka. Kita sebagai orang tua berusaha memberikan doa terbaik. Mereka semua anak anak kita."
"Anak perempuan kita itu kok nggak peka ya perasaan nya, ibu sampai capek rasanya."
"Loh kenapa ibu yang capek? Biarin toh, dalam perjuangan ... Siapa yang bertahan, dia yang mendapatkan."
"Bapaaak!!!!"
"Apa toh, Bu? Mau bapak pijitin itu bibir biar bisa diem, enggak manyun?"
"Astaghfirullah! Bapak! Bikin malu aja!"
"Hahahahaha"
Demi apa coba, terjebak di sini. Menguping secara tidak sengaja percakapan pasangan yang subhanallah, masih seromantis itu meskipun sudah puluhan tahun bersama. Masih se syahdu itu bahkan masih membuat aku, yang mendengar secara tidak langsung menjadi malu malu sendiri. Keluarga Bagaskara memang luar biasa.
Aku yang tadinya ingin mengambil persediaan daging menjadi putra balik, kembali ke tempat di mana kami sedang bertamasya ala Bapak dan Ibu Bagaskara. Panggang memanggang di halaman belakang rumah mereka. Akhir pekan kebanggan mereka katanya. Bisa kumpul bersama anak dan cucu.
"Nggak jadi ambil?" tanya Narendra, begitu melihatku kembali dengan tangan kosong. Begitu aku aku menggelengkan kepala, Narendra menoleh ke arah tempat penyimpanan daging dan bahan bahan lainnya. Pria itu paham.
Aku malu, jika harus menginterupsi adegan romantis yang bikin baper pasangan sepuh itu. Ibu dan Bapak sedang duduk di kursi sambil menyandarkan bahu mereka dan menatap ke arah langit malam yang di hiasi bintang bintang.
"Pamer kemesraan di hadapan anak anak yang jomblo emang kurang ajar deh!" cibir Syailendra seenaknya. Sebenarnya, menurut orang lain dan bagi orang lain, Syailendra bukan tipe pria sopan dan baik. Apalagi jinak. Mulutnya cenderung pedas dan suka ceplas-ceplos. Menurut keterangan sekretaris nya yang beberapa kali bertemu denganku.
"πΌπππππππ, π±ππ πππ ππππ, π±π. π±πππππ ππππ ππππππ ππππππ, πππππ πππππ πππ πππππππ’π! " πππππππ ππππ, ππππππππππ πππππππ ππ’ππππππππ. "πππππ πππππ ππππππππ-πππππ ππππ ππππππ πππππ ππππππ’π ππ π±ππ. π±πππππππ-πππππ ππππππ πππππππ ππ πππππππππ πππππππ. "
"π΄ππππππ’π ππππππ, πππ? πΊππ ππππ ππππ? " ππππ’πππ πππππ.
"πΈππππ ππππππππππ πππ π’πππ πππππππ πππ, π±π? ππππ πππππππππ πππππ πππ? "
π°ππ ππππππππππ. "πΈππππ"
"π³ππ ππππ ππππ ππππππππ ππππ’ππ πΉπππππ! π±ππ’ππππππ! π°πππ£πππ πππ." πππππ ππππ ππππππ πππππ π’πππ ππππππππ-ππππ. π±πππππ πππππ ππππππππ.
π°ππ ππππππ π πππππ. "πΌπππππππ’π ππππ, πππππππππ ππππππ ππ ππππ ππππππ πππππππ?" ππππ’πππ πππππππ ππππ. π°ππ πππππππ ππππππππ πππππ π’πππ πππππ. πΉπππ πππ ππππππππ πππππ π’πππ πππππ ππππππ πππππ ππππππ ππππ. πππππ, ππππ πΏπππππ’π πππππ π’πππ πππ πππ’ππππ πππππππ ππππ πππ πππππππππ’π ππππππππ.
πΌπππ πππ π ππππ ππππππππππ ππ’ππππππππ ππππππππ. "π±ππππππ. π±ππππ ππππ! π°π, πΈππ π»πππππ! π±ππ πππππ πππππππππ ππππππ ππππππ π±ππ ππππ πππππ πππππππππ πππππππππππππ πππππππ."
"πΉπππ? π³π πππππ πππππππ ππππ ππππππππ ππππ πππ πππππ ππππ? " ππππ’πππ ππππππ πππππππππ ππππ πππππ.
ππππ ππππππππππ. "πΉπππππ ππππππ ππππππ πππππ πππ ππππππ πππππ, π±ππ ππ’ππππππππ ππππππππππ ππππππ πππππππ π’πππ ππ ππππ ππππππ ππππππ. π±πππππ πππ, π±π... πππ’π ππππππ ππππππ ππππππ πππππππ πππ’π πππππππ, πππ ππππππ ππππ... π΄πππ! πΈππ πππππ ππππππππ ππππ ππ ππππππππππ ππππππ ππππππ. πΊπππππ πππππππ πππππππ π, ππππππ ππππππ πππ πππ ππ π’πππ πππ ππππππ. πππππππ, πππππ ππππππ deh, π±π!"
π°ππ ππππππ π, ππππππ ππππ. πππππ’πππ πππππ-πππππ πππ ππππππ πππππππ πππ πππ’πππ ππππππ ππ’ππππππππ.
__ADS_1
"πΊππππ’πππ πππ, ππππ ππππππππππ’π π±ππ πππ ππππππ ππππ π’π ππππππ’π." πππππππ ππππ.
π°ππ πππππππ ππππππ π, πππππππ ππππππ ππππ πππππ ππππππ πππππππ π’πππ πππππ ππππ ππππππ ππ ππππππππ. "πΉπππππ ππππ ππ ππππ, πππ!" πππππ ππ.
"ππππππ, π±π. ππππ πππππ ππππ ππππ πππππππππ! π½ππππ πππ ππππ ππππ ππππ ππππππ ππππππππ. π»πππππππππ, π±ππ πππ πππππ πΈππ π»πππππ πππππππ!" πππππ ππππ ππππππ πππππ πππππ ππ πππ πππππ πππ.
π°ππ ππππππ π. "π±πππππ πππ, πππππ πππππ ππππ. πππ’π πππ πππππππ. πΉπππππ ππππ πππ’π ππππππππ! " πππππππ.
"Auuww!" teriakku. Panas yang terasa di ujung jari membuyarkan lamunanku.
"Hati-hati!" sahut Syailendra, sambil menarik tanganku cepat. Aku yang masih terpaku, belum sepenuhnya sadar, tidak menyadari kalau Syailendra sudah memegang tanganku dan membawa jari yang terkena alat pemanggang itu ke dalam mulutnya. Sensasi aneh yang terpadu dari wajah khawatir Syailendra dan juga bibir kenyal pria itu membuatku tersadar sepenuhnya, kemudian menarik jariku dari dalam mulut pria itu.
Sepertinya bukan hanya aku yang terpaku dengan gerakan reaksi Syailendra. Narendra, pria itu juga masih terpaku di tempatnya. Menatap nanar ke arah kami berdua. Wajahnya terluka. Sangat terluka.
"Reen!" panggil ku cemas.
Narendra hanya menoleh.
"Maaf!" bisik ku sambil memegang lengan pria itu.
Entah kenapa, aku begitu merasa bersalah saat ini.
"Ngapain minta maaf! Nggak salah kok kamu." sentak Syailendra kasar.
"Ludira? Bisa minta waktunya sebentar?" bisik Narendra sedih. Membuatku menggigit bibir, hal yang akan aku lakukan ketika sedang merasa cemas. Bagaimanapun, aku menyayangi pria ini. Meskipun sampai detik ini aku belum bisa mencintainya.
Aku mengikuti pria itu, memilih berjalan di belakangnya. Aku tahu, saat ini ... Syailendra sedang menatap ke arahku. Pandangannya begitu terasa menembus punggungku. Sangat tajam. Biarlah, aku abaikan perasaan yang ingin sekali menoleh ke arah Syailendra.
"Ra?"
Aku menunduk. Tidak berani kontak mata dengan pria yang kini menghembuskan nafas berat. Sangat berat. Hingga terdengar oleh telingaku.
"Argh! Sakit, Ra." keluh Narendra. Aku mengangkat kepalaku, untuk melihat Narendra. Pria itu menyembunyikan tangan di sakit celana, Menengadah ke arah langit. Jangan bilang kalau dia sedang berusaha mengusir air mata. Ah, tidak ... Mungkinkah sesakit itu bagi Narendra?
"Saat aku sedang makan siang dengan Shofia, yang ada di otak dan hati aku hanya kamu. Saat aku memandang binar mata Shofia, yang terbayang justru senyum kamu dan Almeera, kita menjadi keluarga kecil yang penuh cinta." Narendra berhenti berbicara, setelah suaranya begitu berat.
Aku menunduk lagi, meremas jemariku. Nafasku juga ikut memburu, aku ... Aku tidak kuat mendengar suara tersiksa Narendra. Bagaimana bisa dia begitu tersiksa.
"Berkali-kali aku abaikan, berkali-kali aku selalu meyakinkan diriku sendiri, asalkan kamu tetap mau berada di sisiku dan kamu bahagia. aku tidak perduli kamu mencintaiku atau tidak." lanjut Narendra, lagi lagi menatap ke atas langit malam.
"Reen ... Narendra. A--aku--" Suaraku terputus oleh kepala Narendra yang menggeleng.
"Aku tidak perduli betapa sakitnya saat kamu menatap ke arahku dengan senyuman yang begitu indah. Aku tahu, bukan aku yang sebenarnya kamu inginkan. Bukan aku yang kamu pikirkan setiap kamu memandangku penuh kerinduan."
Jantungku seperti berhenti berdetak. Air mataku tumpah ruah di atas pipiku. Ya Alloh, sedalam itukah rasa sakit yang aku sebabkan? Maafkan aku, Narendra. Sungguh, maafkan aku. Suaraku hilang entah kemana, tenggorokanku tercekat. Aku terhipnotis dengan rasa sakit yang begitu nyata di wajah Narendra.
"Aku ... Aku siap menanggung semua konsekuensi yang ada. Aku siap menerima rasa sakit yang tiada artinya ini di bandingkan dengan kamu yang nyaman bersamaku." sahut Narendra tetap tenang, meskipun deair mata mulai menetes dari matanya.
"Reen ... " bisik ku parau. Aku hancur. Begitu Narendra tersenyum lembut, meskipun sorot matanya masih hancur.
"Aku bahagia, Ludira. Sangat bahagia. Aku merasa hidup kembali begitu aku mengenalmu. Awalnya, aku mendekat ke arahmu demi Almeera, nyatanya Kamu yang dingin dan tidak terjangkau, berdiri kokoh, gagah berani. Namun nyatanya kamu begitu rapuh dan penuh kesedihan. Justru membuatku jatuh bangun, memporak-porandakan benteng pertahanan ku. Aku jatuh cinta lagi, cinta yang berbeda. Cinta yang masih memberikan semangat kehidupan dan harapan meskipun aku tahu, tidak akan terbalas. Bukan perasaan menggebu-gebu, tapi menerima dan memberi."
Bahuku bergetar, menyakitkan sekali. Rasa bersalah ini semakin membuatku merasa buruk. Sangat buruk. Aku menyakiti pria yang sudah membawaku keluar dari pekatnya kesedihan. Bagaimana bisa aku menyakiti pria yang sudah begitu baik padaku.
"Narendra--"
"Aku mencintaimu, Ludira. Amat sangat mencintai mu. Aku ... Aku sudah puas dengan hanya melihat kamu tersenyum bahagia dan lepas menjadi dirimu sendiri." Narendra menatapku dengan senyuman dan juga Air mata. "Saat aku melihat kalian bertiga di departemen store, aku menyadari hal yang tidak bisa aku abaikan. Aku tidak lagi bersaing dengan seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini."
Aku menggeleng keras. "Kamu salah paham, Narendra!" sahut ku di tengah tengah tangisku sesenggukan. "Aku menyayangimu, Ren." bisik ku kalut.
"Ikuti kata hatimu, Ludira. Jangan akal sehatmu. Biarkan cinta menuntun mu." bisik Narendra. "Siapapun juga bisa melihat, cinta di antara kalian, Ra. Aku akan sangat egois jika menutup mataku atas kenyataan ini." Suara Narendra membuat tangis ku semakin kencang. Tidak! Aku tidak akan rela siapapun membuat pria ini hancur berantakan, meskipun itu diriku sendiri.
__ADS_1
Sungguh, aku tidak tahu sama sekali jika Narendra menyusul kami bertiga kala itu. Aku--aku-- ya! Aku saat itu bahkan tidak menyadari kehadiran pria itu di otakku. Bahkan--Mas Dodi. Aku tidak memikirkan siapapun. Aku murni menjadi diriku sendiri. Kenyataan yang membuatku begitu pilu. Aku mengkhianati pria yang aku cintai dan pria yang aku sayangi.
Tangis ku terus bertambah kencang, mengiringi hatiku yang terasa begitu di remas sangat keras. Dadaku sakit, nyeri. Dan jantungku seperti berhenti berdetak. Aku kesusahan bernafas. Tubuhku lemas.
"Ludira, aku berfikir, aku akan bersikap Egois dengan menjerat mu untuk terus bersama ku, meskipun aku tahu ... Aku tidak pernah hadir di pikiranmu ataupun perasaanmu. Aku rela menjadi bayang bayang orang lain. Nyatanya, cintaku menghalangi keegoisan ini. Aku memilih untuk mencintaimu dengan kadar kemurnian yang sesungguhnya. Mencintai, tidak akan pernah menginginkan, bahkan berfikir untuk di balas."
"Narendra... "
"Mencintai dalam diam itu lebih menyakitkan, Ludira. Pergilah, Aku mencintai kalian berdua. Kamu dan Syailendra, begitu berarti bagi diriku."
"Aku memilih sendiri jika pada akhirnya aku menjadi sebab rasa sakit yang begitu menyiksa di hati kalian. Entahlah--" suaraku terhenti. Kepalaku terasa lebih berat dan tubuhku hilang kendali. Dalam pandangan yang kabur dan samar. Ada wajah panik Syailendra.
****
"Selemah kapas kamu tuh. Ya Alloh, bikin khawatir! Aku kira, jantung kamu beneran berhenti berdetak." bisik seseorang yang aku kenal betul. Kesadaran ku kembali begitu aroma minyak kayu putih memenuhi indera penciuman ku. "Aku kira bakalan lama seperti yang kemarin, sampai berjam-jam." suara Syailendra terdengar lagi.
Kelopak mataku bergerak perlahan. Terbuka dan senyum ibu Basuki langsung terlihat olehku. "Anak anak?" tanyaku lemah. Suaraku masih sangat pelan.
Ibu Basuki mengusap kepalaku penuh kasih sayang. "Mereka lagi sama Eyang Kakung nya. Nggak usah khawatir."
Ah, ibu. Betapa malunya aku.
"Benci drama tapi sekarang jadi Queen Drama. Diraa ... Dira!" sahut pria itu lagi. "Kamu tuh udah tuaaaa! Bukan anak dua puluhan lagi. Dikit dikit, tumbang." julid nya, Ya Alloh.
Aku menoleh ke arah Syailendra yang duduk di ujung ranjang. Pria itu menoleh ke arah ku dengan pandangan kesal, begitu ia menyadari tatapan mataku.
"Kalau bukan karena sikap kurang ajar kamu, Mas. Nggak akan ada drama kaya gini. Kamu emang-- Hah!" sentak ku. Suara tawa kecil Ibu Basuki membuatku kembali menunduk malu.
"Narendra?" bisik ku pelan. Bibirku bergetar. Melihat Narendra sedih, membuat hatiku hancur.
Ibu Basuki masih diam dan tersenyum. Sedangkan Syailendra--
"Aku keluar dulu. Manggil anak ingusan itu!" sahut pria itu sambil berdiri. Yang aku tahu, dia menghindari pandanganku.
"Syailendra mencintaimu. Ibu yakin, kedua putra ibu mencintai perempuan yang sama." ujar Ibu Basuki, setelah membantu ku duduk bersandar. "Syailendra menjadi lebih sopan saat bersamamu, lebih perduli dengan keadaan sekitar. Terlebih Aksara."
"Mas Syailendra memang tipe pria yang baik, Bu. Bukan karena mencintai saja." sanggah ku.
Ibu Basuki menggeleng. "Narendra menjadi lebih kuat dan hidup, dengan dia yang mencintaimu." Suara Ibu Basuki bergetar. Beliau berusaha keras menelan sesuatu setelah selesai berbicara. "Ibu bersyukur dengan dua kenyataan tersebut. Yang satu workaholic sampai lupa dengan dirinya sendiri. Yang satu terlalu memaksakan untuk baik baik saja sampai lupa dengan dirinya sendiri."
Ibu Basuki menggenggam tanganku. "Hancur rasanya, Bu. Melihat Narendra seperti itu. Bagaimanapun Dira tidak bisa meninggalkan Narendra." bisik ku, menerawang jauh.
"Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu, Ra. Untuk kalian bertiga."
Menenangkan. Suara beliau memang sangat menenangkan. "Istirahatlah." bisik Perempuan sepuh itu, kemudian mencium kening ku, seperti memperlakukan putri kecilnya. Membuat hatiku menghangat.
"Atau kamu lapar?" tanya Ibu Basuki sambil tertawa kecil. "Ibu kalau habis nangis, habis berantem sama Bapak, suka lapar. Kehabisan tenaga. Kalau iya? Mau ibu buatkan sesuatu?" tanya Perempuan sepuh itu dengan mimik wajah yang mau tidak mau membuatku ikut tertawa.
"Bu? Aneh tidak kalau Dira pengen Sate? Sate daging sapi?" tanyaku sambil meringis. Membicarakan makanan membuatku jadi terbayang Sate daging sapi.
"Hahahaha, tentu saja tidak. Kamu ini ya. Nanti ibu bilang sama Syailendra deh, pasti dia mau buatin." usul Ibu Basuki.
Kenapa bukan Narendra? batinku bertanya-tanya.
"Mau Narendra aja?" tanya Perempuan sepuh itu hati hati. Seperti paham betul apa yang ada di dalam angan angan ku.
Aku tersenyum getir. "Saya tidak boleh menyakiti Narendra sedalam itu, Bu. Tidak adil rasanya."
"Sayang ... Justru dengan kamu yang memaksakan diri untuk bersama Narendra, itu semakin membuat pria itu terluka."
Aku menunduk. Entahlah ... Aku tidak punya pengalaman soal seperti ini.
__ADS_1
"Sebentar ya" bisik Perempuan sepuh itu sebelum meninggalkan aku sendiri.