
"Jadi gimana keadaan Almeera, Mbak?"
Ah, aku terkejut. Suara di belakangku membuatku yang sedang asyik dengan pikiranku sendiri sambil memandang langit malam, menjadi terkejut.
Dan saat aku berbalik, ternyata benar. Narendra. Pria ini sebenarnya saat mobil ambulan keluar rumah, dia sudah berada di depan rumahku. Lebih tepatnya di jalan menuju rumahku. Mengawasi dari balik setir mobil. Dan saat kami menuju rumah sakit, dia mengikuti dari belakang. Aku terlalu sibuk dengan Almeera yang terus mengigau, hingga mengusir semua pikiran tentang Narendra.
"Maaf, saya tidak bisa bertahan lama lagi, Mbak. Tolong, tolong kasih izin saya buat menemani Almeera."
Suara Narendra parau, matanya seperti habis menangis. Wajahnya kusut dan rambutnya berantakan. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Dosen yang begitu populer di tiga kampus terkemuka seperti ini?
"Jangan, Ren. Terlalu banyak fitnah nanti. Tolong juga pahami status saya."
Yaa, begitulah. Pria ini cukup populer. Di sini saat ini hanya menggunakan hoodie dan celana panjang layaknya anak muda. Bukan jenis pria dewasa tiga puluh lima tahunan.
"Ya Alloh, ini rumah sakit, mbak. Mbak bisa di luar saat saya di dalam. Atau saya di luar. Tolong, Mbak. Tolong izinkan saya berada di sini."
Suara memohon Narendra membuatku kacau.
"Pulang, Narendra. Besok bukan hari libur. Banyak sekali jadwal atau agenda harian kamu yang penting." jelasku mencoba menolak kehadiran Narendra.
Siapa yang kuat menahan gejolak seperti ini, di saat aku memang benar-benar membutuhkan sandaran untuk berbagi berbagai hal yang membuatku gelisah. Ketakutan ketakutan yang hadir karena kenangan masa lalu.
Bohong bila aku tidak merasa takut sekaligus kalut saat menghadapi Almeera yang tiba tiba-tiba kehilangan kesadarannya setelah mengigau menyebut nama bapaknya berkali-kali.
Munafik bila aku tida mengakui bahwa ada getaran rasa lega saat mengetahui pria ini berada di sini. Berada di dekat kami sekaligus membuktikan secara tidak langsung bahwa dia begitu ingin berada disisi kami.
Namun, aku sadar. Aku sadar sepenuhnya. Aku tidak boleh memberikan izin kepada diriku sendiri untuk menerima siapapun pria memberikan rasa nyaman dalam hatiku.
"Ren, tolong hormati saya. Pulanglah, Narendra." Bisikku parau. Sesak sekali tenggorokan ini.
__ADS_1
Aku melangkah meninggalkan Narendra yang tampak begitu lemas. Aku mencoba memantapkan langkah kakiku yang mulai bergetar. Aku terus meyakinkan dirimu sendiri supaya tidak menoleh ke belakang.
Rasanya berat sekali, Ya Tuhan. Berat.
****
Pagi ini, selepas Dhuha. Putriku belum juga siuman. Masih asyik dengan tidur nyeyaknya sedari tadi malam.
Tadi malam, sambil menunggu ambulan, aku mengambil tas darurat yang berisi surat surat untuk keperluan kesehatan dan beberapa pakaianku dan juga putriku serta peralatan membersihkan diri.
Mungkin, setelah ini. Aku membutuhkan bantuan sopir dan juga asisten rumah tangga. Setidaknya lebih menghemat tenaga juga lebih normal.
Puluhan pesan dari Narendra aku abaikan. Biarlah sikapku terlalu kejam, biarlah saat ini aku egois. Yang jelas, aku sedang berusaha menjaga hati ku sendiri dan hati putriku supaya tidak terbiasa dengan rasa nyaman yang hadir karena Narendra. Jadi suatu saat Narendra pergi dari hidup pribadi kami, kami akan baik baik saja.
"Assalamu'alaikum."
Ibu dan bapaknya Narendra berdiri di depan pintu kamar rawat inap Almeera.
"Waalaikumsalam, Bu.. Bapak." Jawabku pelan sambil berjalan ke arah mereka dan mencium tangan mereka secara bergantian.
"Mbak Ludira, bagaimana kabar dek Almeera ?" tanya Ibunya Narendra pelan, lembut sekali.
"Masih belum siuman, Bu." jawabku pelan. Sesak sekali, nyeri sekali.
Air mataku tumpah begitu Ibu Narendra memeluk tubuhku erat. Mengusap kepalaku yang masih terbungkus mukena.
"Yang sabar, Cah Ayu. Sabar."
Kalimat yang di ucapkan Pria Sepuh yang penuh wibawa itu membuatku berusaha menghentikan air mata.
__ADS_1
"Maaf njeh, Bu. Ini malah kerudung ibu jadi basah."
Ah, bodohnya kamu, Ludira.
"Hanya kain, Mbak. Tidak masalah."
Sejuk sekali beliau. Rasa tenang yang terpancar dari wibawa beliau membuatku ikut tersenyum lemah.
"Adakalanya semua tidak bisa di atasi sendiri, Nak. Adakalanya kita membutuhkan bantuan orang lain. Orang hebat bukan berarti dia tidak membutuhkan tempat bersandar." Ucap Pak Basuki Bagaskara lembut.
Aku mengangguk lemah, sedangkan ibu Basuki kembali memeluk bahuku.
"Bagus bersandar kepada Alloh SWT. Hanya saja, kamu perempuan, Mbak. Kita memiliki batas dalam banyak hal." Sambung Ibu Basuki.
Aku mengangguk lagi.
Aku mengenal secara dekat kedua orang tua Narendra. Kebetulan juga kami, aku dan mas Dodi sering bertemu dengan beliau ini.
"Naren... " Sahut ibu Basuki mengambang.
Aku diam, mencoba untuk profesional.
"Maaf, Mbak Ludira. Ini soal Narendra. Putra bungsu saya." Lanjut Pak Basuki tenang, setelah bergantian memandang ke arah aku dan juga istrinya.
Aku masih diam, menunggu kelanjutan dari mereka berdua.
"Jadi begini, Mbak Ludira. Mohon maaf sekali sebelumnya."
Kedua orang tua Narendra saking bertatap muka, seperti berat sekali untuk menyampaikan hal ini. Nafasku semakin berat, bukan berburuk sangka, hanya saja berharap semoga tidak ada hal buruk yang terjadi saat ini, saat aku sedang mencoba tetap berdiri tegak untuk putriku yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Aku harus kuat untuk putriku yang kini kondisinya di pantau oleh alat alat di tubuhnya.
__ADS_1