LUDIRA

LUDIRA
Tujuan Belas


__ADS_3

Aku duduk ruang kerja, menatap ke arah putriku yang sedang asyik membaca sambil mendengarkan musik melalui earphone nya. Kedua tanganku menyatu di bawah dagu.


Mataku memandang wajah yang selama ini aku yakini warisan genetik dari pria yang mutlak menjadi pemilik hatiku setelah Almeera.


Selama ini aku tidak pernah perduli bahkan mengamati wajah nya Narendra saja tidak pernah. Sikapku, perilaku yang aku tunjukkan kepada Narendra juga biasa seperti kepada yang lainnya. Tidak terlalu akrab dan juga tidak perlu terlalu jauh.


Namun, akhir akhir ini kenyataan yang membingungkan menuntut aku untuk sedikit memerhatikan wajah yang sebagian orang katakan sangat serasi dengan putriku.


Narendra, tidak! Tentu saja mereka berdua tidaklah mirip. Putriku mewarisi wajah Bapaknya. Ah, kepalaku masih terngiang dengan jawaban dari salah satu teman dekatku saat ku tanya tentang kebenaran soal ini menurut dirinya.


Lamunanku berhenti saat HP ku bergetar, ada panggilan masuk dari Ibu pria itu.


"Assalamu'alaikum, Bu." Sapaku mengawali pembicaraan.


"Waalaikumsalam, Dira. Ini Ibu mau kirim sesuatu buat Dira sama Adek. Di rumah tidak ya?"


"Repot repot, Bu. Iya ini kami di rumah."


"Enggak ah, Ibu sama Bapak rindu sekali sama kalian. Nanti Ibu kirim pakai kurir saja ya?"


Memang sudah beberapa minggu ini, aku menolak secara halus saat kedua orang tua Narendra mengajak ke suatu acara atau sekedar datang berkunjung ke rumah beliau atau ke rumah kami.


Sebagai tugas untuk Narendra, aku meminta untuk mengkondisikan Ibu serta Bapak yang berusaha ingin selalu bertemu dengan Almeera. Dan beruntung pria itu menyetujui.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu."


"Sama sama, Ludira. Tolong kalau sudah ada waktu, Almeera di ajak ke sini yaa."


Ah, "Iya, Bu. Maaf ya."


"Ibu punya banyak stok sabar kok, Nak. Bapak yang dari kemarin uring uringan minta ke tempat kamu. Katanya rindu sekali dengan cucunya." bisik perempuan Sepuh yang baik hati itu di ujung sana.


Ah, selalu saja di akhiri pembicaraan seperti ini. Aku memilih diam, satu usaha yang paling aman di lakukan.


"Ya sudah ya, Sayang. Salam buat cucu Ibu. Assalamu'alaikum."


Aku meletakkan hp di meja kembali setelah menjawab salam dari beliau dan menutup panggilan. Sebenarnya ada sedikit rasa bersalah yang menyusup secara pelan di dalam hatiku.


Jujur memang ada semacam prasangka buruk untuk pria yang tiga tahun lebih muda dariku itu, aku sedikit merasa bahwa pria itu seakan memang sengaja memamerkan kedekatan dengan putriku yang selalu mendapat kesan sulit untuk di dekati, dari beberapa pria yang sengaja mencoba masuk dalam kehidupan kami. Tentu saja aku berharap semoga ini hanya perasaan burukku saja, karena jika benar... Rasanya menyakitkan saat kita tahu bahwa kita hanya di jadikan objek untuk memenuhi ego pria yang cenderung ingin menaklukan.


****


"Kiriman paket dari Eyang ya Ma?" tanya putriku pelan. Ia berjalan menuju ke arah meja makan sambil memandang ke arah kotak kotak di meja makan. "Iya sayang, Tebak deh ada apa saja!" titah ku pelan, tidak pula senyum mengembang di wajahku.


"Apa yaa kira kiraaa. Yang jelas bukan bubur ayam hahahaha." suara tawa putriku menggema di ruangan. Aku juga ikut tertawa. "Taraaaa, kejutaan buat kesayangan nya mama.. Kesayangan nya Eyang juga katanya ini ada di kartu." ucapku sambil mengulurkan kartu yang aku tebak tulisan ibu Basuki.


Putriku membaca kartu itu pelan, "Dear kesayangannya Eyang. Taraa, kejutaaaan. Eyang kakung dan Eyang putri rindu dengan cucu Eyang yang suka sekali membaca. You are my Sunshine."

__ADS_1


Aku yang menatap wajah putriku ikut tersenyum bahagia. "Jadii, ini kejutannya." ujarku sambil mengulurkan kotak kepada Almeera yang berada di sebrang meja makan.


Almeera menerima kotak itu dengan wajah yang berseri bahagia sekaligus antusias. "Ooh.. Mamaaa." Pekik putriku bahagia. Hatiku menghangat seketika itu juga. "Stowberry cheesecake, maaaa." teriak putriku, kini ia meletakkan kotak berisi kue itu di atas meja dan berjalan ke arahku. Memeluk tubuhku dari samping. "Ini gimana caranya Eyang bisa tahu kalau Almeera lagi pingin ini yah, Ma?" tanya putriku sambil menatap kearahku tanpa melepas pelukannya.


Aku tersenyum dan menatap ke arah Almeera pura pura curiga. "Mungkin kesayangannya Mama ini cerita ya sama Omnyaaa." Ucapku pelan yang di susul tawa Almeera. "Iya mah, hehehehe."


Sebenarnya ingin ikut tertawa gadis yang kini mengeratkan pelukannya sambil bersandar di lengan atasku, namun rasa gelisah menjalar di hatiku dengan tanpa sopan santun. Rasa gelisah yang berasal dari kenyataan di balik kalimat jawaban pertanyaan ku.


Sudah sedekat ini, sudah begitu terbuka putriku terhadap pria yang sedang aku usahakan untuk tetap di area asing. Tidak masuk kedalam lingkungan kami berdua. Namun, nyata nya justru bukan lagi sekedar mendobrak masuk, kini sudah membaur dengan putriku.


"Soalnya om Narendra itu bikin kesel deh, Ma. Kepoo banget sama mama. Selalu nanyain mama. Apa sih kekurangan nya mama, Dek? Mama kok bisa ya melakukan semuanya sendiri. Gitu deh, Ma. Makanya Almeera jawab aja apa adanya." Jelas putriku kesal namun nadanya itu terdengar begitu menyayangi orang yang di maksud.


"Jadiii? Apa adanya bagaimana ini maksudnya?" Tanyaku mencoba santai. Putriku memandang ke arahku malu malu, "Mama selalu gagal kalau buat cheesecake, jadi Almeera terpaksa beli di toko roti. Hehehe. Mama juga kalau goreng kacang sering gosong."


Suara putriku justru begitu bangga saat menyebutkan ketidak mampuan ku dalam hal tersebut. "Terus kamu juga cerita kalau mama enggak bisa masak Rendang, makanya mama suka beli daging mentahnya terus di bawa ke tempat tante Dewi?"


Putriku tertawa dan menyembunyikan wajahnya di bahuku. "Iyaaa hahahahaha. Terus om Narendra nggak percaya, Ma. Terus Om Narendra tanya sama tante Dewi. Mama mah di mata om Narendra sempurna bangeeet."


"Dan kejutan lagii yaaa, itu di kotak satunya ada rendang buatan Eyang. Makanya habis ini Almeera telpon Eyang ya. Bilang makasih ke Eyang." Ucapku pelan, yang di jawab anggukan kepala anak ini. "Jadi ini mau makan yang mana dulu?"


"Cake nya dulu deh, Ma. Almeera bawa ke samping rumah yaa. Pengen duduk di samping rumah. Sambil minum teh gitu. Kaaaan seperti kita sedang pesta kebun ala aristokrat."


"Kamu habis baca apa hayoh, minjem novel mama tanpa izin ya?" tanyaku penuh selidik.

__ADS_1


"Ampuuun maaa. Mama jangan bilang sama Om Narendra yaaa." bujuk putriku memelas. Sedangkan hatiku terperas, di telingaku kalimat ini begitu menusuk. Padahal kalimat Almeera yang tadi berusaha aku abaikan. Aku memilih untuk tidak menjawab dan memeluk putriku ini, mencium ubun ubun kepalanya.


__ADS_2