
Menikah, bukan keputusan yang mudah di ambil begitu saja. Terlebih-lebih, ini dengan Narendra. Pria yang masih terbelenggu oleh masa lalunya. Sedangkan bagi diriku sendiri, perlu mempertimbangkan apa tujuan dari pernikahan ini.
Jika untuk mendapatkan keturunan, meneruskan keturunan, maka sudah cukup dengan adanya Almeera dalam hidupku. Bagiku cukup, sudah sebagai cukup. Meskipun aku pernah bermimpi ada bayi laki-laki mungil yang menghiasi hari hariku, maka dengan adanya Aksara di sisiku saat ini, semua sudah sempurna. Aku sudah berada di titik kesempurnaan ini.
Jika untuk mendapatkan kasih sayang seorang laki-laki, maka cukup bagiku tanpa menikah, ada sosok care yang tetap menjaga jarak kesopanan. Perduli dan bisa di andalkan. Aku di kelilingi oleh orang-orang yang dapat di percaya dan juga menyayangi ku sepenuh hati mereka.
Hanya saja memang selama ini aku menutup pintu kehidupan ku untuk mereka, akun membangun tembok untuk memisahkan diri. Dan mereka tetap menjagaku dari balik benteng, siap sedia kapan saja aku butuhkan. Mereka tidak pernah berkhianat sedikitpun meskipun sudah aku beri seluruh kepercayaan yang aku miliki sampai titik bodoh.
Jika untuk mendapatkan perlindungan secara finansial, maka kondisi keuangan ku jika untuk membiayai hidupku dan Almeera, sudah lebih dari cukup. Almarhum suamiku terlalu cerdas dan juga hati hati, beliau menyiapkan semuanya hingga entah sampai berapa keturunan. Dan beruntungnya... Aku memiliki orang-orang yang aku maksudkan tadi. Mengelolanya dengan penuh kejujuran.
Jika untuk mendapatkan kepuasan batin, kebutuhan seksual, biologis. Aku rasa selama ini aku cukup lihai dengan mematikan seluruh gairah seksual, di malam malam yang dingin, sunyi dan sepi. Meskipun terkadang gairah atau keinginan itu muncul, aku mampu mengatasinya dengan baik. Aku mampu meredam nya dengan sangat mahir. Jikapun, nanti aku tidak mampu meredam nya, banyak sekali solusi yang bisa di tawarkan oleh kecanggihan teknologi masa kini. Banyak alat yang sudah tidak tahu lagi di gunakan ataupun di perjual belikan.
Sosok yang menemaniku sehingga tidak merasa kesepian? Ah! Mungkin aku jadi manusia begitu mudah merasa puas. Masa kecil, masa remaja yang akrab dengan penderitaan, kepedihan dan rasa sepi akibat terlahir sebagai anak yang tidak di inginkan dan tumbuh di lingkungan yang meskipun pasangan, mereka tidak saling menginginkan satu sama lain. Membuatku begitu merasa cukup saat mendapatkan semua yang aku inginkan dan aku harapkan bahkan bayangkan, selama menjadi kekasih dan istri Mas Dodi.
Meskipun kebersamaan dengan Mas Dodi begitu singkat, namun mampu membunuh semua kesedihanku, mengusir setiap rasa sepi yang semula menemaniku. Memberikan sensasi kebahagiaan yang luar biasa. Aku merasa cukup dan puas dengan apa yang aku dapatkan. Aku tidak serakah dalam hal ini. Tapi, efek sampingnya adalah aku jadi merasa mampu hidup sendiri tanpa pasangan.
[Jadi kamu sudah tahu ya? Akan jadi seperti ini?]
Ibu jariku mengetik pesan itu dengan sangat cepat. Aku masih terdiam, wajahku tidak baik baik saja. Meskipun tadi selama perjalanan pulang, aku terus waspada supaya Almeera tidak curiga dengan wajah sedih tegang ku. Beruntung mereka berdua, Almeera dan adiknya tertidur pulas.
[Apa?]
Balasan singkat dari Syailendra. Aku menarik nafas dan mengeluarkan nya sambil memejamkan mata.
[Permintaan Narendra]
Aku mengirimkan pesan itu secepat mungkin.
[Dia meminta menikah dengan mu?]
[Ya]
Aku menghembus nafas kasar. Rasa kesal membuatku ingin melempar telepon genggam ini, Syailendra menolak panggilan ku. Sedang sibuk apa? Menyebalkan!
[Ra, kamu bisa menghadapi ini. Tenanglah, kamu pernah menghadapi yang lebih buruk lagi. Cukup tanyakan kepada hati kecilmu. Maaf, aku sedang tidak bisa menerima panggilan.]
Mataku berkaca-kaca, pandangan ku mulai buram karena air mata yang memenuhi kelopak mataku, nafasku mulai memburu. Hatiku, perasaanku di kuasai oleh amarah yang tiba-tiba datang setelah membaca pesan Syailendra. Bukan hanya sekedar kesal karena merasa di tolak.
Aku benci,
Aku benci situasi ini. Entah sejak kapan Syailendra membuatku ketergantungan, tanpa aku sadari membuatku merasa ragu pada keputusanku sendiri sebelum membicarakan nya dengan dia.
Aku benci pada diriku sendiri yang begitu kacau. Kacau karena perasaan yang tidak jelas ini, kacau karena aku bimbang serta dilema saat menyikapi perasaanku terhadap Narendra. Aku mulai tidak mengenal diriku sendiri. Aku merasa mulai kehilangan kekuatanku. Aku merasa kini menjelma menjadi perempuan pada umumnya, yang rapuh, yang butuh sandaran dan butuh pertolongan.
[Sesibuk apa sih sampai nggak bisa di ganggu????]
Aku mengetik pesan itu dengan isak tangis yang tumpah begitu saja. Aku merasa hampa, aku merasa membutuhkan Syailendra saat ini. Dan dia sengaja, dia pasti sengaja pergi meninggalkan aku di saat aku benar-benar membutuhkan nya.
[Kamu perempuan kuat, Ra. Selama ini kamu mampu mengatasinya sendiri. Kamu merasa bisa berdiri sendiri, gagah berani tanpa memerlukan kaum ku sebagai pendamping. Ayolah, Ra!]
Isi balasan dari Syailendra membuatku semakin marah, terluka dan merasa di khianati. Aku merasa di ejek bahkan di tertawakan.
[Hebat! Hebat banget! Hahahaha, ternyata aku masuk dalam perangkap kamu ya Syailendra!!! Kamu pasti puas banget sudah merasa menaklukkan egoku yang begitu tinggi!!! Selamat! Kamu berhasil!! Selamat bersenang-senang dengan perempuan perempuan jahanam mu itu!!!]
Aku meletakkan telepon genggam ku dengan kasar di atas meja. Aku kembali menangis, tubuhku merosot ke lantai. Aku memeluk lutut ku dan menyembunyikan wajahku, tangis ku. Suaraku. Iya, aku mulai paham sekarang.
Syailendra benar-benar King Drama, bagaimana bisa aku membiarkan dia masuk kedalam hidupku? Syailendra mengatur semua ini. Dia sengaja memancing kecemburuan yang secara tidak sadar juga membuat Ego Narendra merasa terluka.
Selama ini Narendra berusaha keras menaklukkan benteng pertahanan milikku, dia butuh banyak sekali waktu yang dia habiskan, usaha usaha tanpa lelah untuk masuk kedalam hidupku. Sifat alamiah laki-laki yang selalu ingin menaklukkan wanita, membuat Narendra hilang kendali, jalan satu satunya adalah mengklaim aku sebagai miliknya. Syailendra tahu dan benar-benar mampu membaca setiap langkah Narendra.
Apa yang di pertimbangkan Syailendra semua tepat. Syailendra juga sengaja membuatku nyaman dan bergantung kepadanya, sehingga ketika tiba waktunya, Syailendra bisa menunjukkan kepadaku bahwa aku tetaplah perempuan. Membutuhkan laki-laki dalam hidupku. Aku begitu merasa terkhianati habis habisan.
Apakah... Apakah ini menjadi salah satu bukti bahwa aku memang harus melanjutkan hidupku, membuka hatiku. Kepada siapapun juga. Menerima kepergian Mas Dodi bukan berarti aku harus menikah lagi kan? Aku mengusap air mataku secara paksa. Kemudian berdiri dan mengatur nafas untuk ketenangan ku sendiri.
Mungkin aku harus mempertimbangkan ini dengan Almeera, sudah lama sekali aku tidak berdiskusi tentang hal pribadi kepada putriku itu. Aku merapikan pakaianku. Ujung mataku terganggu oleh nama yang muncul di layar telepon genggam ku.
Syailendra
Aku mengabaikan panggilan masuk itu dan berjalan meninggalkan perpustakaan. Melangkah menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Sudah cukup air mata serta kegundahan hati ini. Aku sudah memutuskan untuk kembali menyimpan rapat air mataku. Tidak perlu lagi menangisi segala sesuatu yang tidak penting.
Perlakuan Syailendra lebih menyakitkan dari pada apa yang pernah di lakukan oleh Narendra. Mungkin aku memang terlalu bodoh menjadi perempuan, sehingga bisa-bisanya di permainkan oleh kedua kakak beradik itu.
"Bu?" Simbok menyapa saat aku sedang mengaduk susu putih yang baru saja aku sedu. Setelah aku menyegarkan diri di kamar mandi, aku menuju ke dapur. Mencari sesuatu yang sekiranya bisa membuatku kembali tenang. Tanganku sempat terhenti saat memegang bubuk cokelat. Tindakan sederhana yang membawa ingatanku pada Syailendra.
"Iya, Mbok." aku menoleh sebentar dan tersenyum. "Bu Ludira tidak apa apa?" tanya simbok dengan wajah khawatir.
"Tidak apa apa, Mbok. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."
"Mungkin Simbok lancang, Bu. Ingin ikut campur urusan Ibu."
"Ada apa mbok?"
"Ibu sedang ada masalah dengan Pak Syailendra?"
__ADS_1
Senyumku menghilang begitu mendengar nama pria itu. Aku memegang gelas yang berisi susu itu dan membawanya ke meja makan. Menarik salah satu kursi untuk aku duduki.
"Sini, Mbok." aku melambaikan tanganku. Wajah sepuh Simbok tadi tampak begitu sedih.
"Saya kecewa, marah sama Syailendra. Mbok... Saya ini janda yang di tinggal meninggal dunia. Bukan hal mudah bagi saya untuk menerima kepergian almarhum suami saya. Satu tahun, dua tahun saja tidak cukup. Bahkan saya harus pindah rumah, mengganti lingkungan saya supaya saya bisa memulai hidup baru dengan langkah yang ringan. Apa itu tidak cukup sebagai upaya menerima keadaan?"
Simbok yang sudah duduk di dekatku itu tersenyum teduh, sorot matanya begitu menenangkan. Ada kesabaran di sana.
"Mbok kira itu tindakan pelarian, Bu." ucapan yang di ucapkan dengan nada pelan, lembut dan juga senyuman itu membuatku terkejut. Mungkin selama ini sudah banyak sekali yang mengucapkan hal itu kepadaku, tapi aku selalu menutup mata dan pendengaran ku. Aku abaikan semua pendapat ataupun tanggapan mereka. Nyatanya memang, aku--aku ingin lari dari kenyataan pahit yang begitu datang tanpa peringatan itu.
Hanya butuh waktu dua bulan aku pindah dari rumah kami, menghilang dari lingkungan sosial kami. Dan memulai hidup baru. Kerjaan baru. Lingkungan baru. Almeera selalu menjadi anak yang patuh, tidak pernah bertanya apapun kepadaku. Hingga akhirnya aku tahu bahwa ia tidak baik baik saja.
Narendra
Pria itu memberikan surga dan menuntun Almeera untuk memulai hidup baru, keluar dari kondisi baik baik saja yang terpaksa ia ciptakan. Dan akhirnya, putri kesayanganku itu benar-benar baik baik. Tentu saja aku bahagia. Narendra, tipe Papa yang sempurna.
"Apa yang membuat Ibu bingung seperti ini?" suara Simbok membuatku kembali sadar. Setelah asyik dengan pikiranku sendiri.
"Kenapa saya jadi galau gini ya, Mbok? Jangan jangan saya depresi juga ya? Aduh, penyakit depresi kan nggak menular." Aku meracau dan tertawa. Iya, akhir akhir ini aku begitu kelelahan. Aku sibuk dengan sesuatu yang nggak jelas. "Aku bingung, Mbok. Harus memberikan kesempatan untuk Narendra atau bagaimana." ucapku setelah tawaku hilang.
"Ibu bimbang dengan perasaan ibu sendiri?"
Aku mengangguk.
"Coba tanya kepada hati ibu sendiri, sebenarnya apa yang ada di dalam sana."
Aku memejamkan mata, berusaha memusatkan seluruh energi yang aku miliki dan melepaskannya. Mengatur pernafasan untuk membantuku tetap fokus dan tenang. Aku melepaskan semua rasa kesal ku kepada Syailendra. Aku melepaskan semua amarahku kepada pria itu. Aku bisa, yaa... Aku mulai tenang. Kemudian tentang Narendra, mengingat semua yang pernah kami lakukan.
"Mbok," Aku membuka mata, terasa berat melanjutkan semua itu.
"Iya, Bu."
Aku terdiam setelah menghabiskan segelas susu putih yang mulai dingin. Aku tidak masalah dengan Narendra. Tidak ada perasaan apapun yang tersisa selain biasa biasa saja. Mungkin karena sudah terbiasa. Atau karena apa?
"Mungkin saya sebaiknya memang sendiri saja, Mbok. Sudah cukup dengan semua yang ada. Nggak perlu menerima siapapun sebagai suami."
"Semoga Ibu mendapatkan yang terbaik menurut sang pencipta."
"Terima kasih, Mbok."
Aku tersenyum kepada perempuan sepuh itu, membalas genggaman erat tangannya.
"Ibu butuh di pijat supaya rileks?"
"Baik, Bu."
"Makasih ya, Mbok. Sudah menemani saya ngobrol."
Beliau mengangguk. Sedangkan aku beranjak berdiri dan menuju perpustakaan ku, mengambil telepon genggam yang sengaja aku tinggal di sana.
****
[Percayalah, aku menyayangimu.]
Bunyi pesan dari Syailendra. Awalnya aku tidak ingin membuka pesan tersebut. Namun akhirnya ibu jariku menekan layar untuk membuka pesan darinya. Dan ku putuskan untuk membalas pesan tersebut.
[Trims.]
Sesudah mengirim pesan kepada Syailendra, aku menghubungi tukang pijat langganan ku, meminta nya untuk datang ke rumah. Setelah itu, telepon gengamku kembali berbunyi, ada panggilan masuk dari Ibu Basuki.
"Assalamu'alaikum, Bu?"
"Waalaikumsalam, Sayang. Tadi ibu pulang, kalian sudah nggak ada. Padahal ibu bawa kue terang bulan loh."
"Ah, ibu. Jadi repot kan. Maafin ya, saya sama anak anak nggak pamit dulu sama ibu."
"Nggak papa, oh ya. Eeemmm, Ibu mau tanya ini, Ra. Maaf ya. Emmm... Narendra beneran minta kamu buat nikah sama dia? Dan kamu belum kasih jawaban?"
Ah, Narendra!
"Hehehe, begitulah Bu."
"Nak?"
"Iya, Bu?"
Haduh, jantungku. Jantungku berdetak sangat keras. Nervous.
"Kamu menerima atau tidak, tolong jangan menjauh dari Ibu dan Bapak."
Aaaahhhh, nangis lagi kan saya jadinya. Duh, terharu banget. Orangtua idaman sekali.
"Duh, Ibu. Saya jadi nangis, Bu. Terharu."
__ADS_1
"Ibu dan Bapak, sangat menyayangimu dan Almeera. Ibu harap, kita masih bisa terus seperti ini meskipun kamu tidak menerima Narendra. Dan ibu tidak akan pernah berbuat egois dengan memaksa kamu menerima Narendra."
"Terima kasih, Bu."
"Ya sudah, ini kuenya ibu kirim lewat pak sopir ya? Atau Narendra?"
"Pak sopir saja, Bu. Tolong jangan Narendra."
"Ya sudah, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Salam buat Bapak, Bu."
"Iya."
Aku mengusap air mataku yang lagi lagi tumpah ruah. Aku bersyukur karena di kelilingi oleh orang-orang yang begitu baik hati.
[Narendra, jika nanti aku tidak menerimamu, apakah kamu akan menjauh?]
Aku mengetik pesan singkat itu kepada Narendra, mengirimnya tanpa ragu ragu. Dan tidak menunggu lama, Narendra membaca pesan tersebut dan menghubungiku.
"Assalamu'alaikum, Ra?"
"Waalaikumsalam, Ren."
"Tenang, Ra. Aku tidak akan berubah menjadi joker kalau itu yang kamu takutkan. Hahahaha."
Mendengar suara tawa Narendra aku menjadi lega, bahagia dan juga tenang. Ketakutan dan kegundahan hatiku sirna begitu saja.
"Semua salah aku, jika aku tidak terlalu melebih lebihkan hal sepele, mungkin dulu Syailendra tidak perlu bertemu denganmu dan menjadi dekat denganmu. Mungkin, jika aku tidak terlalu paranoid saat bertemu Shofia, kita masih baik baik saja. Aku tidak perlu menghindari mu, aku masih fokus kepadamu. Dan salah aku sendiri, pernah menolak cintamu sebelum kamu jatuh cinta beneran dengan ku. Ini tentang menerima dan memberi kan Ludira?" suara Narendra terdengar begitu tenang dan juga memenangkan.
"Aku baru saja menyadari, ini tentang aku yang harus menerima diriku sendiri, bagaimana bisa aku meminta orang lain untuk menerima diriku? Sedangkan aku sendiri tidak tahu caranya bagaimana untuk menerima diriku sendiri. Iya kan? Dan juga ... Aku harus mampu memberi maaf kepada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku memberi maaf kepada orang lain, jika aku sendiri tidak tahu caranya memaafkan diriku sendiri." sambung Narendra. Semakin membuatku tenang dan bangga. Senyumku semakin lebar.
"Narendra?" panggil ku pelan.
"Ya, Ludira."
"Aku rindu Narendra yang seperti ini. Aku sempat merasa bahwa aku kehilangan Narendra yang aku kenal. Narendra yang konyol, Narendra yang pantang menyerah, Narendra yang suka tertawa, Narendra yang kekanak-kanakan."
"Terima kasih, Ra. Aku tidak akan memintamu untuk menunggu, kita akan jalani bersama sama. Biar waktu yang menentukan."
Aku mengangguk. "Mungkin sebaiknya seperti ini, Ren."
"Tapi kamu perlu tahu, Ra. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Suara Narendra di sebrang sana berusaha meyakinkanku.
"Terima kasih, Ren."
"Sudah ya? Aku tutup?"
"Iyaa."
"Assalamu'alaikum, Ludira. Mamanya Almeera."
"Waalaikumsalam, Narendra."
"Ra?"
"Heeem."
"Hahahahaha."
Suara tawa Narendra mengakhiri pembicaraan kami berdua. Semua beban terasa hilang begitu saja. Aku merasa damai dan tenang kembali. Aku berharap, Narendra akan terus menjadi Narendra yang aku kenal. Aku bahagia, karena kembali bisa mendengar suara lucu Narendra.
****
Cinta bukan hujan yang masih memberi peringatan kedatangannya yang berupa awan mendung. Cinta tidak memberikan peringatan apapun, saat ia mau datang, maka ia akan datang begitu saja. Dan saat mau pergi, ia juga pergi begitu saja. Begitu pula ajal, kematian.
Subuh hari ini terasa lebih sejuk dari pada hari-hari kemarin. Aksara masih sama, terbangun dari tidur lelapnya. Ikut wudhu bersama Almeera dan juga ikut sholat, tapi ketika sujud. Dia justru tertidur kembali. Dengan pose imutnya yang menggemaskan.
Aku memutuskan untuk berdamai dengan kesedihanku atas kepergian Mas Dodi. Belajar menerima kenyataan meskipun pahit. Menerima bukan berarti melupakan, tapi menyimpannya di tempat yang tepat.
"Mamaa" Almeera memanggilku pelan. Aku menoleh ke arahnya, yang kini sedang duduk bersilah. "Iya sayang." jawabku pelan. "Ada apa?" lanjut ku mencoba menunjukkan bahwa aku tertarik dengan apa yang akan dia bicarakan. Wajahnya sendu, cemberut.
"Mama sayang sama Om Narendra?" tanya Almeera. Mendengar pertanyaan Almeera tentu saja aku terkejut. Almeera menjadi canggung, putri kesayanganku itu meremas remas jari jari tangannya. Semakin menandakan kalau dia sedang gundah.
"Apa yang mengganggu pikiran kamu, Sayang. Ayo, cerita sama Mama." bujuk ku pelan.
"Almeera tahu kok kalau Om Narendra habis berkelahi dengan Papanya Adek. Em, Mah... Kalau Mamah beneran mencintai Om Narendra, Almeera boleh kok. Mama boleh kok menikah dengan Om Narendra. Mama juga berhak bahagia kan? Lagi pula, Almeera jadi nggak tega kalau kebayang Mama di masa tua nanti sendiri tanpa pasangan." sahut Almeera sambil menundukkan kepalanya. Aku terharu.
"Kemarin Om Narendra minta izin sama Almeera, kalau Om Narendra mau melamar Mama." lanjut putriku dengan senyum canggung.
"Itu bukan hal mudah bagi Almeera, Ma. Tapi kebahagiaan mama bagi Almeera adalah hal yang utama." sambung Almeera.
"Sayang, Terima kasih ya. Terimakasih karena sudah begitu perhatian sama Mama." ucapku pelan. "Peluk Mama sini sayang." pintaku.
__ADS_1