LUDIRA

LUDIRA
Empat Puluh Satu


__ADS_3

Praaang!


Sofia membanting gelas di depannya. Aku menoleh panik, begitu juga Silvia. Bahkan saat keadaan jadi serba absurd, Narendra hanya duduk membisu dengan pandangan kosong ke arah Sofia yang terus menangis. Untung tidak teriak teriak.


Ah, padahal maksudnya aku tuh nggak gini, ini semua murni karena mulutku yang entah kenapa aku sendiri saja kaget. Tidak menyangka akan seperti ini. Dorongan ingin melindungi Narendra ternyata membuatku juga lepas kendali. Seperti inikah Narendra saat pria itu memukul Syailendra? Perasaan seperti inikah yang di miliki Narendra setiap kali melihat Syailendra berusaha menyentuh diriku, meskipun aku dan semua orang tahu itu sebagai hal yang normal.


"Tenang, Fiaa. Hitung sampai sepuluh. Okeee? Satu... Dua... Tiga..."


Suara Silvia yang sedang menenangkan Sofia tetap masuk ke dalam telingaku, sedangkan aku justru terpaku tanpa bisa mengedipkan mata untuk sesaat saat melihat pancaran kesedihan di wajah dan juga tatapan Narendra. Meskipun wajah ini masih sedingin, selatan tadi. Aku merasakan bahwa pria ini sama sakitnya dengan perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu di pelukan Silvia.


Ah, aku mengesampingkan rasa nyeri yang perlahan menyusup di dalam perasaanku, mengusir rasa itu jauh jauh. Takut jika aku membiarkan rasa itu hadir, aku takut tidak bisa lagi menggunakan akal sehatku dengan seutuhnya. Seperti tadi, seperti barusan ini. Seperti kejadian yang membuat Sofia histeris. Hatiku sakit boleh rasa bersalah. Sangat sakit. Aku tidak pernah suka berada di pihak yang menyakiti. Meskipun itu tidak dengan sengaja seperti ini.


"Mendekat lah, Narendra. Jika ingin mendekat, mendekat lah. Tenangkan perempuan mu itu." ucapku lirih, sangat lirih hingga menyerupai bisikan. Tapi aku tahu, pria yang sedang aku genggam lengannya ini mampu mendengar apa yang aku katakan.


Narendra menoleh ke arahku, matanya sendu. Wajahnya tak lagi berbinar seperti saat ngambek soal Syailendra. Kamu bukan milikku Narendra, bukan ... Aku yang terlalu bodoh membiarkan alam bawah sadar ku mengklaim bahwa kamu milikku. Maaf!


"Maaf, maafkan aku. Sungguh." ucapku tersendat.


"Tidak apa apa, ini memang sudah biasa terjadi. Dia akan histeris seperti itu saat melihat atau saat tahu bahwa aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan mood hatinya. Dan kamu tahu, Ludira. Dulu, dulu aku selalu datang ke pada wanita itu, bersimpuh memohon supaya wanita itu berhenti melukai dirinya. Bahkan hingga aku sendiri lupa apa itu yang di namakan harga diri suami, harga diri pria. Yang aku tahu pasti, dia adalah pusat duniaku. Dia adalah alasan aku bahagia. Mana mungkin aku membiarkan pusat duniaku terluka, mana mungkin aku membiarkan kebahagiaanku merasa sedih."


Suara tangis Sofia berhenti, kini perempuan itu menangis dalam diam. Air matanya terus mengalir meskipun bola matanya melihat ke arah Narendra, dengan tatapan penuh rindu, dengan tatapan memuja dan juga penyesalan. Sedangkan Narendra terus berbicara dengan surat yang membuat bulu kuduk ku merinding. Narendra lepas kendali, ini bukan Narendra. Jelas sekali bukan Narendra. Senyum mencemooh di wajah Narendra begitu menakutkan. Tatapan matanya meskipun ke arah Sofia, namun kosong.


Silvia yang mulai bergetar, memandang ke arahku dengan panik. Khawatir dan juga takut. Ia menggeleng lemah, menutup wajahnya kalut.


Ada apa ini?


Nightmare? Ini mimpi buruk?


"Kamu tahu, Ludira. Aku rela menjadi budak bagi perempuan itu. Melakukan segalanya yang menurut aku tidak pantas di lakukan oleh kepala rumah tangga. Yaa! Cinta! Cinta menutup mataku, Cinta mengaburkan apa yang seharusnya aku lihat jelas dan membuat jelas apa yang seharusnya buram. Wanita ini, Ludira. Akan selalu ada di hati ini, akan selalu ada di jiwa ini sebagai momok paling menakutkan. Aku benci, aku membenci diriku sendiri yang selalu saja lemah menghadapi dirinya."


Aku meneguk lidahku sendiri. Menegangkan. Sangat menegangkan. Saat Narendra mulai menundukkan kepalanya. Dan Sofia tersenyum puas. Demi apapun juga, perempuan ini bukan hanya sakit mental.


"Istighfar, Narendra." bisik ku di telinganya Narendra dengan suara bergetar. Narendra masih diam, masih menunduk. Sedangkan saat ku toleh perempuan bernama Sofia itu, sudah tertawa tanpa suara.


"Narendra sayangkuuu." ucap Sofia dengan suara yang membuatku bergidik ngeri. Aku menoleh ke arah Silvia, temanku itu sidah mulai menangis.


"Mereka gila, Mbak Dira. Tolong!" ucap Silvia tanpa suara.

__ADS_1


Aku menoleh lagi ke arah Pria ini, pria yang selama ini menjungkirbalikkan duniaku. Pria yang merubah warna dalam cerita dongeng hidupku.


"Narendraa! Angkat kepala!" titah Sofia dengan mata berapi-api.


Aku menunggu, sambil terus meminta pertolongan kepada sang Pencipta. Ini semua di luar dugaanku. Sangat di luar dugaanku. Apa ini? Sesungguhnya apa yang sedang terjadi?


Dan tiba akhirnya, Narendra mengangkat kepala. Menatap dengan pandangan kalah ke arah Sofia. Hanya Sofia, seakan-akan di sini hanya ada Sofia.


"Fia! Please." bujuk Silvia dengan nada yang begitu memilukan. Namun tangan temanku yang lentik mungil itu justru dihempas kan dengan kasar.


"Katakan! Katakan Narendra! Bahwa kamu! Narendra Bagaskara hanya milik Sofia."


Aku menoleh, menoleh ke arah pria yang pada akhirnya membuatku jatuh cinta ini. Dia? Dia seperti sedang menahan bibirnya untuk tidak terbuka tapi matanya tidak. Bisa lepas dari Sofia. Aku menoleh ke arah Silvia, berusaha bertanya tentang apa yang terjadi. Nihil! Perempuan itu hanya menangis sesenggukan.


"Narendra, istighfar! Papanya Almeera... Kita pulang, ayo pulang! Almeera menunggu di rumah!" perintahku dengan nada sedatar mungkin, setenang mungkin. Aku teringat, pernah mengatasi situasi konyol Narendra dengan menggunakan nama putriku, sungguh! Kali ini aku berharap bisa sesukses kala itu.


"Ingat? Almeera. Putrimu!"


Berhasil! Alhamdulillah! Narendra menoleh ke arahku. Masih dengan tatapan kosongnya.


"Semua akan baik baik saja, istighfar ... Ingat Dan Pencipta, Narendra. Aku di sini, aku dan Almeera ada untuk kamu." bisik ku sambil memeluk kepala Narendra.


Tolong.


"Narendraa!" teriak Sofia agak keras. Sedangkan aku, menahan kepala Narendra di pelukanku, sambil terus menciumi ujung kepala nya, terus ... terus menyebut Nama Sang Pencipta.


Aku mengabaikan suara menakutkan milik Sofia. Aku juga paham bahwa tindakan diam yang di ambil oleh Silvia mungkin ada alasan khususnya.


"Mas Syailendra!" panggil Silvia dengan suara paraunya. Aku menoleh ke arah pintu, di sana berdiri Syailendra yang menatap tajam dengan wajah penuh kemarahan ke arah kami semua. Entah bagaimana dia bisa berada di sini.


"Tolong, mas. Tolong bawa Narendra pergi." pintaku kepada pria yang kini sudah berdiri di dekatmu dan Narendra.


"Tahan sebentar, Ra." sahut Syailendra sambil mengeluarkan suntikan.


"Buat apa?"


"Aku butuh Narendra tenang. Nanti aku jelaskan."

__ADS_1


Aku mengangguk dan begitu cairan itu masuk ke dalam tubuh Narendra, pria itu terkapar lemas di pelukan Syailendra.


"Tolong tenangkan Sofia, itu ada satu suntikan lagi. Kalau dia histeris mukul ini itu, suntik saja. Aku mau bawa Narendra pulang. Kamu bisa pulang sendiri kan, Ra?"


Aku mengangguk.


"Terima kasih, Ra."


Aku mengangguk lagi, meskipun tidak mengerti. Aku seperti orang bodoh yang tidak tahu harus bagaimana.


"Narendra milikku. Hanya milikku." ucap Sofia.


Aku menoleh, berdiri dan menghampiri perempuan dengan sorot mata menakutkan itu.


"Sofiaa? Assalamu'alaikum Sofia?" ucapku halus. Entah kemana perginya kebencian di hatiku.


"Fia?" tanyaku sambil berusaha menyentuh perempuan manis ini. Dan hasilnya sama seperti Silvia. Tanganku ditangkis dengan kecepatan luar biasa.


Langsung, aku mencoba memeluk perempuan itu dengan paksa, Sofia terus melawan. Tenaganya sangat kuat. Hingga akhirnya aku memberikan kode pada Silvia yang sudah memegang suntikan berisi cairan penenang itu.


"Kamu baik baik saja, Sil?" tanyaku khawatir. Setelah tubuh Sofia mabuk di pelukanku.


"Kacau. Aku kira hasilnya akan baik baik saja."


"Maaf." ucap ku penuh penyesalan.


Silvia menggeleng dan tersenyum lemah ke arahku.


"Tidak, semua memang belum berakhir mbak. Semua belum baik baik saja meskipun mereka berdua selama ini terlihat baik baik saja."


"Memangnya ada apa, Sil? Tadi itu apa? Sungguh Silvia, ini semua di kuar nalar akal sehatku."


Silvia menggeleng pelan. "Saya urus pembayaran dulu, mbak. Mbak bisa tolong pulang bersama kita saja? Nanti saja antar." pinta Silvia dengan nada lelah.


"Mobil?" tanyaku pelan, aku bawa mobil kesini. Lebih tepatnya Narendra.


"Nanti izin parkir di sini saja dulu. Kebetulan ini punya teman saya, Mbak."

__ADS_1


Aku mengangguk. Mengiyakan semuanya, meskipun gemuruh rasa penasaran menggedor gedor hatiku. Sabar, Ludiraaa. Sabar


__ADS_2