LUDIRA

LUDIRA
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

"Kok kesini, Mas?" tanyaku heran.


"Memanjakan diri sendiri juga perlu, Ra. Nggak melulu soal memanjakan orang lain. Aku yang traktir dah! tenang aja." sahut Syailendra sambil membuka sabuk pengaman.


"Bukan soal uang, Syailendra. Sombooong." kataku judes.


Pria yang di sampingku hanya meringis, beranjak keluar mobil dan berlari menuju pintu mobil di sebelahku.


"Player mah udah biasa ya bukain pintu buat penumpang." sindir ku.


"Ini mulut kok jadi sarkasme. Di ajarin siapaaa?" tanya Syailendra dengan Nada gemas.


"Kamulah, virus yang jelek jelek pokoknya dari kamu." ujar ku manyun.


Hahahaha,


Aku yang memang sudah berjalan lebih dulu, kembali menoleh ke belakang, kearah pria yang sedang tertawa dan menatap dengan sorot mata tidak percaya.


"Kamu terbaik!" teriak Syailendra.


Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah nya yang mengacungkan kedua jempol.


Sesampainya di dalam, kami memilih single room. Meskipun Syailendra sempat iseng memesan couple room.


"Dosaaaa, Narendra!" ujarku sambil tertawa. Sedangkan Syailendra tampak tersenyum masam.


"Narendra eh?" tanya pria itu sambil mengangkat alisnya.


Ah, aku kelepasan.


Aku menarik nafas berat, bayangan Narendra memang sekarang memenuhi otakku. Pikiranku bahkan fokus yang aku miliki tertuju pada pria itu. Narendra Bagaskara.


"Maaaf."


Aku membisikkan kata maaf pada Syailendra yang kini tersenyum maklum. Meskipun tadi sedikit ku rasa ada gejolak tidak suka, tapi dia tetap dewasa. Mungkin jika ini Narendra dan aku salah memanggil pria itu dengan nama Syailendra, mungkin sudah ngambek dengan gaya menggemaskan nya.


Ah, mulutku tersenyum.


Rindu.


Aku rindu.


Sial!


Aku sungguh rindu dengan Narendra.


"Baru menyadari kalau porsi Narendra begitu besar di hatimu?" tanya pria itu pelan. Masih dengan senyuman ala dirinya.


Aku menghembuskan nafas berat,

__ADS_1


Ya!


Kali ini hatiku tidak bisa menyangkal lagi. Pria ini sudah masuk terlalu dalam di hatiku. Narendra... Gimana kabarnya saat ini?


"Rileks dulu, Ra. Butuh tenaga buat menghadapi kejadian sesudah ini. Ayo, kamu masuk!" bujuk Syailendra dengan kesabaran yang menurut aku terlalu berlebihan. Syailendra memiliki rasa pengertian yang tinggi, ternyata.


Aku mengangguk. "Terima kasih." bisik ku tanpa suara.


Syailendra tersenyum, tersenyum sangat manis dan juga hangat.


****


Kemarin Syailendra langsung pulang, bahkan tidak keluar dari mobil. Sedangkan aku langsung beranjak ke kamar anak anak, sesuai dugaanku bahwa anak anak sudah tertidur pulas.


Pagi ini putriku sempat mengetuk pintu kamar. Membangunkan untuk sholat tahajud bersama. Dan si kecil mengekor di belakang kakaknya.


"Kesayangan sudah bangun ini, ikut bangun pagi yaaa." sahutku lembut, sangat lembut. Menggapai tubuh mungil Aksara dan memeluknya, erat. "Nunggu Kakak ya." bisik ku kepada Aksara yang kini meringkuk di pangkuanku.


Aku terus berdzikir sambil menepuk-nepuk lembut Aksara yang mulai terpejam kembali. Sedangkan putriku sholat tahajud.


Narendra, pria itu kembali hadir di setiap aku menutup kelopak matakku. Narendra yang tersenyum bahagia, Narendra yang tertawa. Narendra yang ngambek dan juga Narendra yang berbeda. Bayangan itu hilir mudik di dalam pikiranku. Menganggu, sangat menganggu karena aku justru khawatir sekali. Aku terus memikirkan kabar pria itu sekarang.


"Sayang... Tolong ambilkan hpnya mama di situ." pintaku pada Almeera yang sudah selesai sholat. Dan sedang mengambil Al Qur'an. "Terima kasih." ucapku pelan sambil tersenyum, begitu putriku mengulurkan HP yang aku pinta.


[Assalamu'alaikum, Narendra?]


Aku mengetik pesan tersebut dan mengirimkan ke nomor Narendra. Berharap pria itu akan membalas, entah dengan pesan singkat atau panggilan telepon. Aku menunggu, menunggu dengan detak jantung yang tidak setenang biasanya.


"Ma? Mama kenapa? Khawatir banget kelihatannya." usap Almeera dengan tatapan mata menyelidik ke arahku.


Aku menoleh, tersenyum ke arah putriku yang ternyata sekarang sudah mulai remaja. Sebentar lagi sudah lulus sekolah dasar. Padahal berasa baru kemarin ini, meringkuk di pangkuanku seperti Aksara.


"Om Narendra sakit." jawabku pelan.


"Sakit apa, Ma?" tanya putriku lebih tenang dari pada saat Narendra sakit dulu.


"Mama juga kurang paham." sahutku sedikit terkejut dengan ketenangan Putriku.


"Ma? Almeera nggak mau nanti kaya drama di film film, soal mama sama Om Narendra."


Keningku berkerut, mencoba memahami perkataan putriku itu.


"Kalau mama menikah dengan om Narendra terus om belum bisa move on dengan tante Sofia. Nanti jadi drama banget kan, Ma?"


Ah, ternyata...


"Ini pendapat Almeera, Ma. Al nggak mau mama menderita dalam bentuk apapun."


Ah, so sweet sekali.

__ADS_1


"Sini sayangku, mama pengen peluk deh." pintaku.


Dengan memangku Aksara tentu aku tidak bisa beranjak memeluk tubuh putriku, Almeera paham. Dia tersenyum dan memeluk sebelah tubuhku yang tidak di peluk adiknya.


"Tapi kalau menikah dengan om Narendra bikin mama bahagia. Why not? Kenapa tidak? Toh itu yang di inginkan Bapak kan? Bapak selalu mengutamakan kebahagiaan Mama." bisik putriku sambil menenggelamkan kepalanya di tubuhku.


Aku tahu ini bukan hal mudah untuk putriku. Kami hidup dalam gelembung kami sendiri selama ini hingga Narendra datang dan menarik kami keluar, bergabung dengan dunia luar. Rasa rumit, rasa senang bahagia, sedih, khawatir dan yang pasti, adanya keluarga.


"Eyang sempat tanya kalau Mama menikah sama Om Narendra, aku kasih izin nggak." ucap putriku pelan.


Aku tercengang.


Bukannya mereka sedang mempersiapkan perjodohan dengan Silvia?


"Terus Almeera bilang, Almeera nggak setuju. Entah kenapa, Almeera takut."


Kenapa suara putriku bergetar ?


"Takut apa sayang?"


"Entahlah, Mama. Almeera selalu berdoa semua akan baik baik saja. Jujur, Almeera pengen punya Papa. Om Narendra sangat sempurna, selama ini adanya om Narendra bikin Almeera berasa punya papa. Cuma entah kenapa, setiap Almeera memikirkan Mama dengan Om Narendra, muncul rasa takut di hati Almeera."


Aku mengusap tubuh putriku lembut. Berusaha menenangkan putriku ini. Mungkin memang benar bahwa putriku takut tanpa alasan yang jelas.


"Almeera takut di tinggal sendiri." bisik putriku pelan, lirih tidak jelas.


"Kok mikirnya gitu?" tanyaku heran.


Almeera, putriku hanya diam dan mengeratkan pelukannya. Mencoba tetap tenang meskipun aku tahu dia gelisah. Mungkinkah ada semacam hubungan batin antara dia dan Narendra? Ah, masa iya?


Setelah sholat subuh, aku kembali membaringkan Aksara di tempat tidur, meskipun ada asisten rumah tangga, tetap saja aku terbiasa bangun pagi, menyiapkan ini itu untuk anak anakku. Awalnya simbok keberatan, tapi lama kelamaan beliau memahami. Sedangkan putriku memilih untuk menghabiskan waktu setelah sholat subuh untuk belajar.


"Nggak apa apa nih belajar sekarang?" tanyaku pelan.


"Iya dong, Ma. Biar nanti bisa punya banyak waktu buat Adek." jawab putriku.


Hatiku menghangat, berterima kasih kepada Syailendra yang memang mengizinkan Aksara sering tinggal di sini. Kerjaan Syailendra emang fleksibel sekali. Jadi bisa dengan mudah menyesuaikan kesibukannya.


"Mau mama buatin apa?" tanyaku pelan.


"Bubur ayam aja? Al rindu sama om Naren. Padahal kemarin baru ketemu kan." jawab putriku, membuatku berhenti mengelus rambutnya. "Almeera merasa nggak enak, boleh Video Call sama Om nggak, Mah?" pinta putriku.


"Om belum bisa di hubungi. Gimana kalau sayang siap siap sekarang aja, terus sebelum berangkat kita ke tempat om dulu aja, izin ke eyang coba." titahku pelan. Mungkin ide bagus.


"Kalau adek belum bangun?"


"Kita bisa pakai pak sopir, Mama gendong adek."


Almeera mengangguk.

__ADS_1


"Al ambil HP Mama dulu ya." pinta putriku pelan.


Aku mengangguk, memandang wajah putriku yang suram tak ada semangat. Ah, Narendra! Bahkan Almeera sudah begitu dekat denganmu.


__ADS_2