
"Maksudnya apa, Maaas. Kaaaan belum siap cerita juga? Lama lama ngeselin yaaa kalian!" sentak ku kesal. Aku berdiri dengan rasa amarah yang menyusup kedalam perasaanku, "Energi yang baku miliki tuh udah habis, Mas. Buat mikirin Narendra! terus juga buat nahan supaya nggak menduga-duga yang aneh aneh tentang Shofia. Jangan nyebelin, Mas." Aku melangkah di depan Syailendra yang masih duduk di lantai. Berusaha melewati Syailendra dan pergi meninggalkan nya. Muak rasanya kalau harus main teka teki kalimat ambigu!
"Hey tunggu, iya iya. Jangan ngambek." sahut Syailendra sambil menahan tanganku. "Lepas dih, sok drama Bollywood!" cibir ku sambil tertawa.
Ya Tuhan,
Ini orang bikin ketawa, bikin marah, bikin sedih, bikin bahagia dalam satu waktu. Berasa kaya lagi nonton film india. Syailendra menahan tanganku yang memang kebetulan berdiri di depannya. Mendongak ke arah ku sambil menahan tanganku, menatap dengan intens, kemudian ikut tertawa. Aku mengibaskan tangan Syailendra pelan.
"Mau makan, Mas?"
"Tadi nuntut di jelasin, sekarang nawarin makanan? Kamu itu gimana sih?"
"Ya barangkali. Pria katanya suka aja kalau di tanyain soal begituan. Kan maksudnya aku, kamu bisa jelasin sambil nunggu kamu buat makanan."
"Huuuh, alasannya kok pinter banget sih. Bilang saja kalau kamunya yang lapar. Ngaku saja deh, nggak usah malu-malu."
Aku tersenyum malu. Saat Syailendra menarik tanganku, tiba-tiba perutku berbunyi. Kelaparan.
"Iya iya, ayuk ke dapur."
Kami berjalan ke arah dapur, sebelum itu memastikan bahwa Aksara memang sudah terlelap kembali di kamar. Sesampainya di dapur, Syailendra bersabar dengan menyenderkan tubuhnya di dinding sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Mau buat apa?" tanya pria itu tanpa beranjak dari tempatnya. "Masak mie instan terus di kasih sayur, sosis, bakso, cabai. Enak deh kayanya." jawabku sambil meringis.
"Jangan coba coba, sok kuat aja itu perut. Kamu juga nggak suka makanan instan. Jangan konyol."
"Sesekali buat ngilangin stress tuh nggak papa, Mas."
"Terserah kamu dah kalau gitu."
"Kamu mau?"
"Boleh."
"Ayo dong mulai jelasin."
Aku tersenyum dan membelakangi Syailendra. Mengambil dua bungkus mie instan kuah dan beberapa bahan pelengkapnya. Aku siap, siap masak sambil mendengarkan Syailendra.
"Dulu, aku yang lebih awal mengenal Shofia. Dia jatuh cinta setengah mati padaku." Ucap Syailendra, berhenti. Aku menoleh. "Wajahmu, Masss, sombong sekali." cibir ku sambil tertawa kecil. Syailendra memang tersenyum sombong saat menceritakan hal ini. Mendengar tanggapan dariku, Syailendra hanya tertawa. Tapi sekilas, jika tidak keliru, aku melihat kesedihan di matanya. Penyesalan?
"Aku tolak, aku menolak Shofia karena aku tidak tertarik sedikitpun dengan dia."
"Jadi itu yang bikin kamu menyesal?"
"Bukan. Eh? Kok tahu?"
Aku hanya tersenyum dan memasukkan mie instan kedalam air yang sudah mendidih. Aku lebih suka memasak mie nya terlebih dahulu dan kemudian merebus sayurnya terpisah, setelah itu merebut sosis dan bakso serta cabe. Baru mie dan sayurnya aku masukin ke rebusan yang terakhir, sosis bakso dan cabenya.
"Kamu emang pandai membaca sorot mata."
"Kadang-kadang, nggak selamanya aku peka."
"Dan kalau lagi peka? Kamu justru terluka?"
__ADS_1
Aku tertawa sedih. Terbayang sorot mata Narendra saat membicarakan Shofia. Pandangan Narendra kadang masih menyimpan rasa rindu, sayang dan juga mendamba. Pria itu belum sepenuhnya mampu membiarkan bayangan Shofia pergi dari dirinya. Justru, karena terlalu sakit dan juga terlalu indah, Narendra seperti enggan melepaskan. Ironis, kombinasi yang memang sulit untuk di lupakan meskipun sudah berniat melepaskan, apalagi yang seakan membiarkan untuk di nikmati.
"Yang bikin aku menyesal adalah Shofia memanfaatkan Narendra. Dia tahu betul aku sangat menyayangi saudaraku itu. Perlahan dari rasa pelampiasan jadi cinta dan obsesi. Shofia tidak sanggup menghadapi penolakan sekecil apapun, dulu aku tidak menyadari hal itu. Seandainya aku lebih cepat menyadari--"
"Jangan menyesali sesuatu yang memang sudah terjadi, ingat... Usia kamu dulu berapa tahun. Meskipun kamu lebih dewasa dari pada Narendra, tetap saja. Kalian masih remaja."
"Saat itu aku juga asyik dengan duniaku sendiri."
"Terus?"
"Terus beberapa tahun kemudian tragedi itu terjadi."
Aku menoleh ke arah Syailendra. Menatap tajam pria itu. "Aku sudah cerita banyak hal dulu? Ingat?" lanjut Syailendra. Aku mengangguk.
"Setelah beberapa tahun kemudian, aku jatuh cinta begitu dalam dengan perempuan. Mamanya Aksara. Awalnya aku cuma simpati, kasihan. Dia berjuang begitu keras buat deketin Narendra. Jatuh bangun di cuekin, hampir mirip sama Silvia. Bedanya Silvia dekat dengan kami, sedangkan Mamanya Aksara salah satu murid Narendra kalau tidak salah."
Gerakan tanganku sempat terhenti, untung mienya tidak tumpah. Aku berusaha kembali mengendalikan diriku dari rasa terkejut. Sebisa mungkin menyembunyikan dari Syailendra yang sepertinya memandang ke arahku. Punggungku jadi terasa mau bolong. Aku selalu jadi nggak nyaman kalau di pandang atau di amati seseorang terlalu lama.
"Dia masih, imut, mungil. Hidungnya kecil. Pipinya chubby. Centil. Sedikit mirip sama artis Chika itu, kamu tahu?"
"Iya. Yang sempat jadi co-host nya Masternya para master pesulap kan?"
"Aku tertarik pada pandangan pertama, lucu. Dia lucu sekali saat menggoda Narendra. Saat itu kebetulan aku sedang mampir di kampus nya Narendra. Makanya bisa lihat itu mahasiswi."
"Pindah yuk, udah matang ini." ajakku sambil membawa baku berisi dua mangkuk mie instan dan dua gelas susu cokelat serta dua gelas air putih. Syailendra mengekor di belakang ku, karena aku sudah dahulu melewati pria itu dan menuju meja makan.
"Makan dulu atau lanjut cerita?" tanya Syailendra sambil menarik kursi yang akan di duduknya itu. Berada di sebrang ku, jadi kami berhadapan.
"Terserah. Aku mau nunggu mie nya agak dingin. Aku nggak suka makan makanan yang masih panas." jawabku sambil tersenyum kecil. Kebiasaan sekali, apalagi kalau nasi.
"Makan makan aja, baru cerita. Aku nggak mau nanti jadi tersedak. Ini pedas loh!"
"Makanya kamu buat susu juga? Buat Menenetralisir rasa pedasnya?"
Aku menganggu dan membalas senyum pria itu dengan tawa yang aku tutup dengan telapak tangan. "Kalau aku sih suka pedas." sahut Syailendra kalem.
"Gimana ceritanya bisa dekat sama mamanya Aksara?" tanyaku pelan.
"Lewat instagram sama Twitter, aku aktif kan di sosial media. Nah, dia ngirim DM ke aku. Minta kenalan. Terus lama lama kita dekat. Kamu tahu? Gimana bahagianya aku saat itu? Hahahaha. Ya Tuhan, konyol sekali. Cinta bikin kita jadi kekanak-kanakan padahal usia kita sudah dewasa."
Syailendra tersenyum malu malu, meskipun matanya entah kenapa terluka, wajah nya berseri-seri. Aku mempercayai, jika Syailendra kalau itu sungguh bahagia hingga tidak mampu di jabarkan oleh kata-kata. Saat ini saja masih ada sisa sisa kemegahan rasa itu. Aku membalas senyum pria itu sambil menghirup kuah mie instan.
"Saat dia tersakiti oleh sikap acuh Narendra, aku ada disisinya. Pada akhirnya kami menjalani hubungan hingga jenjang pernikahan."
"Hebat ya, kamu cinta banget kan sama mamanya Aksara?"
Syailendra mengangguk, menundukkan kepala cepat tapi sedikit ragu saat memutuskan untuk menikmati Mienya. Entah ragu, entah memikirkan hal lain. Yang jelas dia kini diam membisu. Aku memilih untuk ikut diam, memberikan sejenak waktu dia dan perasaanya.
"Ra?"
Aku menoleh ke depan, "Ya?" Jawabku sambil mengusap bibir dengan tisu yang aku ambil.
"Aku ke kamar dulu aja deh."
__ADS_1
"Eh?"
Aku mengerutkan kening bingung, menatap ke arah Syailendra yang wajahnya memerah. Malu? Atau nahan sakit karena habis cerita tentang perempuan yang begitu ia cintai? Setelah menjawab pertanyaan ku dengan anggukan, Syailendra diam. Sibuk menghabiskan makanannya. Dan mungkin sibuk mengendalikan diri karena teringat kenangannya. Entahlah.
"Aku bukan pria sopan seperti Narendra, Ra. Maaf, nggak kuat aja lama lama lihat kamu makan mie. Aku ke kamar duluan ya. Kamar tamu." sahut Syailendra sambil meringis, seperti nahan nyeri. Semakin bikin aku bingung.
"Perut kamu sakit? Kepedasan?" tanyaku ikut berdiri. Syailendra hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum dan membalikkan badan, berjalan ke arah kamar sambil sesekali mengusap bahkan mengacak-acak rambutnya.
Kenapa sih dia? Aneh.
💜💜💜💜💜💜
"Pagi, Mbak." sapa Silvia dengan suara lembutnya. Aku menoleh. "Habis sholat, Mbak? Kok masih pakai mukenah?" Aku tersenyum, mengangguk. Tadi sebelum Silvia ke dapur, aku memang masih beberes mangkuk, gelas dan beberapa peralatan.
"Kamu habis bangun tidur langsung minum air putih ya?"
"Iya, Mbak."
"Kok nggak bawa gelas ke kamar saja, Sil?"
"Hehehe, kelupaan."
"Soal tadi malam, maaaf ya."
"Maaf buat apa, Mbak?"
"Nggak jadi makan nasi goreng buatan kamu."
"Nggak masalah kok, Mbak. Eh? mbak lapar nggak? Kemarin kan belum jadi makan."
Aku ikut duduk di sebelah Silvia. "Sudah tadi, ini habis nyuci mangkuknya." Jawabku pelan.
"Mbak perfeksionis banget ya? Kenapa nggak nunggu simbok aja sih."
"Silvia, aku tuh udah kebiasaan gini. Susah aja gitu kalau harus ganti kebiasaan. Toh cuma nggak repot repot amat."
Kami duduk bersama, saling diam. Silvia menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Kenapa?" tanyaku pelan.
"Nggak papa, cuma pengen kaya gini aja."
"Kamu dekat sama Shofia, Sil?" Bisikku pelan. Munafik bila aku sejak tadi tidak terbayang wajah Narendra. Meskipun aku rindu, bukan berarti aku harus menghubungi pria itu tanpa alasan yang kuat. Toh, jika memang masih ada sedikit ruang untuk mengingatku, dia... Narendra pasti akan menghubungiku.
"Dekat, sangat dekat. Dulu aku pernah buat kesalahan, mbak. Aku pernah jadi selingkuhan pacarnya mbak Shofia. Itu dosaku yang paling besar, kesalahan yang selalu menjadi alat terbaik untuk membuatku tidak bisa menolak permintaan mbak Shofia. Terlebih, dulu mbak Shofia pernah menyelamatkan aku saat aku hampir saja tertabrak mobil." jawab Silvia dengan suara serak, aku tahu dia menahan air mata.
"Sudah, nggak perlu cerita kalau bikin nggak nyaman di kamu. Kamu milik dirimu sendiri, Silvia. Kamu punya hak untuk berkata tidak."
"Aku nggak mampu, Mbak. Semua keluarga selalu mengungkit kekhilafan yang aku perbuat dan hutang budi ku kepada mbak Shofia, makanya bisa apa aku mbak? selain menerima?"
Suara tangis Silvia membuatku ikut sedih. Pelukan tanganku semakin aku eratkan. Apa yang bisa akun perbuat saat ini, aku harap dukungan lewat sentuhan fisik lebih terasa daripada harus memberikan sebuah Nasehat. Lingkungan, lingkungan memang sangat berpengaruh membentuk seseorang. Jika terbiasa berada di lingkungan dengan orang-orang nya memiliki karakter Pemimpin, kita akan lebih mudah mengembangkan kemampuan kita. Jika terbiasa berada di lingkungan yang orang-orang nya suka menekan dan seenaknya sendiri, memang kalau sudah terlanjur tidak bisa ya tidak bisa jadi tidak ada istilah belum bisa lalu belajar dan berusaha menjadi bisa.
Aku bersyukur, mengenal mereka semua. membuatku bersyukur. Meskipun aku sebatang kara dan hanya memiliki mas Dodi, hidupku normal tanpa ada tekanan batin atau hal-hal yang melukai kondisi kejiwaan ku. Syailendra benar, mas Dodi membuatku begitu kuat dan berdaulat atas diriku sendiri. Apakah aku bisa? Menerima kondisi kejiwaan Narendra dan segala tentangnya? Sampai kapan aku akan bersabar menunggu pria itu siap membicarakan semuanya. Sampai kapan perasaan cinta ini akan bertahan dengan terus menerima kenyataan bahwa Narendra masih menggenggam erat kenangan masa lalunya meskipun pria itu berkali-kali mengatakan ingin melepaskannya.
__ADS_1
Ah, Mas? Aku harus bagaimana?