
Terkadang kita kuat saat menghadapi permasalahan orang lain, kita bisa begitu tegar dan menjadi begitu penuh semangat satu mencoba menyemangati kehidupan orang lain. Tapi, saat kita menghadapi persoalan diri kita sendiri, saat kita mencapai titik rendah diri kita sendiri, untuk hanya sekedar bersemangat saja membutuhkan ribuan tenaga ekstra.
Narendra, pria yang begitu tangguh di mataku kini sedang terisak memilukan di ujung sana. Mendengar suaranya yang terisak, jantungku kembali nyeri. Ternyata selama ini entah akunya yang tidak menyadari perasaan care dengan Narendra atau menang aku menolak mengakui tentang keberadaan pria itu di hatiku karena terus sibuk dengan kehaluanku sendiri.
"Kakak sama Tante lagi apa?" Sahut Aksara, Aku yang sedang asyik berdoa untuk Narendra, menoleh ke arah tempat tidur. Aksara sudah duduk dengan selimut di kakinya. "Sholat subuh, sayang. Aksara sudah bangun ya. Sini sayang." pintaku sambil melambaikan tangan. Aksara mengikuti apa yang aku pinta, kaki kecilnya berjalan ke arahku, masih dengan muka bantal dan kucek kucek mata.
Kemewahan yang terasa begitu nyata. Yang besar dengan membaca Al-Quran Qur'an, berhenti sejenak buat tersenyum ke arah yang kecil. Kemudian yang kecil membalas senyuman yang besar dan duduk di pangkuanku sambil bersandar. Nikmat sekali rasanya.
"Aksara masih ngantuk, Nte." Aku tersenyum, mencium ubun ubun balita menggemaskan ini. Dan juga menepuk nepuk ringan punggungnya. "Tidur lagi nggak papa." bisik ku.
Dari mengizinkan Narendra masuk ke dalam hidup pribadi ku, mengenal pria itu hingga akhirnya aku bisa jatuh cinta dengan mahluk kecil ini. Aku menduga bahwa akan banyak persoalan rumit sekaligus pelik yang akan aku hadapi karena mengizinkan Narendra masuk kehidupanku dan juga mengizinkan diriku sendiri masuk kedalam hidup Narendra.
Ada rasa Kasihan yang lebih mendominasi perasaanku kepada Narendra, kita memang sama sama kehilangan. Namun, aku lebih normal dibandingkan dengan Narendra. Bagaimana bisa seorang ayah tahan melihat putrinya di bunuh oleh perempuan yang begitu ia cintai. Aku... aku sekarang sedikit meragukan kewarasan jiwa Narendra. Pantas saja jika kami membahas tentang Sofia, Narendra begitu berbeda. Atau saat Almeera terbaring di rumah sakit, Narendra tampak begitu kacau untuk ukuran pria yang hanya baru mengenal beberapa saat. Semua kini tampak masuk akal, pantas jika Narendra sedikit terobsesi menjadikan Almeera sebagai putrinya.
Tapi kenapa harus putriku?
Apakah seperti aku yang seketika menyayangi Aksara dalam sekali pandangan saja?
****
"Semua sudah beres, Mamaa. Baju sudah rapi di jemuran. Teruus Almeera juga sudah nyapu bersih bersih sama Adek jugaa." Ujar putriku sambil tangannya di pinggang. Senyum bangga tampak di wajahnya. Dan Aksara, yang semula hanya tersenyum sambil berdiri di samping Almeera, kini juga mengikuti semua gerakan putriku setelah menoleh ke arah Almeera. Dengan tatapan kagum, idola.
"Baguuussss sekali anak anak Mama, sekarang Kakak mandi dulu, bersihin diri kakak yaa, habis itu nanti bantuin mama di dapur, biar mama bisa bersihin tubuh Adek. Adek ke sini, bantuin mama dulu di dapur." Pintaku. "Okeee mamaa." ucap putriku. Sedangkan Aksara justru mematung, memandang ke arahku dengan wajah bingung.
Ah, sepertinya aku terlalu bersemangat hingga tidak mengontrol apa yang aku ucapkan.
Aku meletakkan pisau di atas talenan, mencuci tanganku dan mengeringkannya sebelum berjalan ke arah malaikat kecil itu.
"Sayaang?" Bisikku pelan, memeluk tubuh Aksara yang lebih kaku dari biasanya. Dan saat aku mengusap rambut anak tampan ini, tangisnya pecah. Keras, sangat keras.
__ADS_1
"Aksara pengen punya mama kaya kakak, huhuhuhuhu."
"Sayang, cup cup cup." bisikku sambil menggendong tubuh Aksara dan duduk di kursi, Aksara masih menangis sambil duduk di pangkuanku. "Sudah ya sayang ya, lihat itu ada cicak yaaa!" ucapku sambil menunjuk ke arah langit langit rumah, salah satu usaha yang bisa di lakukan saat menenangkan anak yang sedang menangis. "Manaa?" tanya Aksara pelan. "Yaaah, mana yaa, Cicaknya lari ke mana yaa. Aksara coba cari ke depan sana, di usap dulu ini air matanyaa. Biar bisa lihat cicak. Nggak buram gitu pandangannya."
Aksara mengikuti semua yang aku sarankan, mengusap air matanya dan turun dari pangkuanku. Setelah memastikan bahwa Aksara tidak lagi menangis, aku kembali melanjutkan meracik bahan bahan yang akan aku gunakan untuk memasak masakan request dari bocah kecil itu. Dadar gulung sayur dan daging cincang. Kebetulan juga aku membuat susu kedelai sendiri.
"Mamaa." Panggil Almeera, Aku membalikkan badan. "Aksara di mana, Ma?" tanya putriku begitu menyadari adik kecilnya itu tidak berada di dapur. "Di depan, coba di lihat sayang. Di suruh siap siap mandi." pintaku.
"Mama aja deh, sekalian ajak adek mandi. Ini sudah kan buat susu kedelainya?"
"Sudah, tinggal ini tumis daging sama bawang bombai nya, Kak. Sama yang buat sarapan kamu sama mama."
Putriku tersenyum jahil, "Cieee.. Kakak yaaaa. Mama berkhayal apa niiih."
Aku tertawa malu, aduh ini mulut.
"Jangan nggak sopan gitu ya sama mama."
Aku tertawa pelan sambil menggerakkan tangan, kemudian menuju ke arah depan. Mencari Aksara.
"Aksaraaa, Sayaaang." panggilku
"Di sini tanteee."
"Mandi dulu yuuk,"
Aksara menggapai tangan yang aku ulurkan kepadanya. Kami berdua saling memberi senyuman dan menuju kamar tidurku.
***
__ADS_1
"Gimana, Dek? enak nggak?" tanya putriku, "Enak dong, Kak. Susu kedelai nya juga lebih lezat, ini beli atau nte yang buat?" tanya Aksara, bergantian menatap ke arahku dan juga Almeera. "Tante yang buat." jawabku singkat.
Aku menatap ke arah mereka berdua, setelah itu mataku bergerak ke arah kursi yang ada di depanku. Berharap di sana ada mas Dodi yang juga sedang sarapan dengan kami semua. Hatiku kembali sesak, nyeri. Hingga akhirnya suara bel pintu menyadarkan kami.
Siapa yang bertamu di jam pagi seperti ini? Narendra kah?
"Biar mama saja yang buka." sahut ku sambil berdiri. Almeera yang sudah berdiri tersenyum dan kembali duduk. "Adek mau tambah apa lagi, biar kakak ambilkan." Ucap putriku yang masih terdengar oleh telingaku.
"Maaf? ini kediaman Bu Ludira?" tanya sosok pria begitu aku membukakan pintu. "Iya, maaf dengan siapa ya?" tanyaku pelan.
Pria ini jelas bukan Narendra.
"Saya papanya Aksara, mohon maaf. Bisa saya bertemu Bu Ludira?" tanya pria itu.
Ah! Ya! Kemarin ibu Basuki sudah kasih kabar jika papanya Aksara yang akan datang menjemput, tapi tidak harus sepagi ini kan?
"Maaf, saya Ludira. Silahkan masuk."
Aku mempersilahkan pria yang mengenalkan diri sebagai papanya Aksara itu untuk duduk di ruang tamu. "Aksara nya lagi sarapan, eem-- Mau bergabung?" tanyaku sungkan. Mau gimana lagi, aku memang tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang asing. Apalagi beramah tamah seperti ini.
Syukurlah wajah pria itu sepertinya memahami kecanggungan ku. "Maaf sekali, ini saya manggilnya apa ya? atau ngikut Aksara aja ya. Aksara manggilnya apa?" tanya pria itu ramah. "Tante, Tante dira. Mau minum apa, Papanya Aksara?" tanyaku berusaha ramah. Aku sungguh berusaha keras untuk menjadi tuan rumah yang baik sekaligus memahami tata krama. "Apa saja." jawab papanya Aksara itu.
"Sebentar ya."
Aku pamit kebelakang, kembali ke dapur. "Siapa, Ma?" tanya putriku sambil mengulurkan gelas air putih ke arah Aksara.
"Papanya Aksara."
"Papaaa?" teriak Aksara kaget. Aku mengangguk. "Papanya Aksara suka susu kedelai tidak ya?" tanyaku pelan, di jawab anggukan kepala oleh anak itu. "Suka, Suka sekali. Cuma papa itu kadang ribet, Tante. Suka komentar ini itu sama susu kedelai yang di minum." jelas Aksara cemberut.
__ADS_1
Aku tertawa pelan, "Aksara mau menemui, Papa?"
Aksara mengangguk, "Sama kakak ya, biar Aksara kenalin ke Papanya Aksara." pinta Aksara lembut. Aku memandang ke arah putriku yang tampak berfikir keras. Almeera bukan tipe yang juga mudah bertemu dengan orang asing. "Baiklah." jawab putriku berat. Aku mencoba menahan tawaku sendiri, ternyata putriku juga tidak. tahan dengan eye puppy milik Aksara.