
Pagi ini, kabut menyelimuti langit. Mendung. Udara juga terasa dingin, khas musim dingin. Meskipun begitu, pria dengan baby face yang lembut itu tetap saja ngotot kesini dan berakhir duduk bersama dengan saudara sepupunya yang bad boy.
Aku kira, mereka akan seperti diriku saat bertemu saudara yang baru saja lama di luar kota. Berbagi kisah menarik untuk menghilangkan rindu karena sudah lama tidak bertemu. Nyatanya mereka justru adu mulut, berbeda. Memperdebatkan sesuatu yang tidak penting sama sekali.
Awalnya aku duduk bersama dengan mereka, tapi begitu mulai jengah. Aku memilih mundur, berjalan ke arah dapur setelah mengecek keadaan Anak-anak. Almeera sedang belajar sedangkan si adik sedang bermain lego di sampingnya.
"Kakak persiapan berangkat sekolah ya!" ujar ku sebelum meninggalkan kamar mereka. "Adek juga habis ini persiapan buat berangkat ya."
Aksara akhir akhir ini lebih suka mandi sendiri tanpa di awasi, jadi dia butuh cukup banyak waktu di kamar mandi. Begitu mereka mengiyakan perintah ku, aku bergegas menuju dapur. Menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Jadi bikin sup dimsum, Bu?" tanya simbok.
Aku mengangguk. "Sama telur gulung, mbok."
Aku menyiapkan telur gulung kesukaan Narendra dan juga menyiapkan sup dimsum untuk menyegarkan Syailendra yang baru saja pulang dari berpergian. Sayup sayup terdengar olehku, derap langkah kaki anak anakku.
"Masak apa, Mah?" tanya putriku. "Ada telur gulung, ada dinsum juga." jawabku kepadanya. Setelah aku menoleh ke arah Almeera yang sedang berdiri.
Aku mengangguk begitu putriku meminta izin ke depan, bergabung dengan mereka. Juga dengan diriku sendiri, setelah simbok membujuk aku untuk bergabung dengan mereka, aku memutuskan untuk ikut bergabung dengan mereka.
Suara Narendra yang begitu lembut terdengar oleh telingaku, "Sudah bilang sama Mama?"
"Bilang apa?" tanyaku spontan. Al Meera yang terlihat salah tingkah justru membuatku mengerutkan kening.
Saat aku duduk di samping Al Meera. Mereka masih saja diam, bahkan Aksara juga diam di pangkuan Papanya.
"Ada apa sih ?"
"Gini--" suara Narendra terdengar begitu lembut. Membuatku semakin curiga saja setelah melihat mereka bertiga saling melempar pandangan.
Kode?
"Al Meera sudah mantap ngelanjutin sekolah di pondok pesantren. Jadi--"
Mendengar ucapan Narendra, aku benar-benar kaget. Bagaimana bisa putriku sendiri justru lebih memilih membicarakan soal ini ke mereka. "Apaan! Beginian kok aku tahu yang terakhir?" potong ku, tanpa memberi kesempatan Narendra menjelaskan lebih lanjut. Memang, putriku itu pernah bercerita tentang hal ini. Tapi saat itu belum memutuskan benar-benar serius atau tidak. Tetap saja kan? Harusnya ibunya ini loh yang di ajak diskusi terlebih dahulu.
"Nggak usah kode kode kaya gitu!" sentak ku kasar, begitu Narendra kembali saling menatap dengan Syailendra. Aku baikan, anak anak. Biarlah semua tahu kalau akun juga bisa marah. Sekilas aku melihat ke arah Aksara yang mengerutkan kening, memandang bingung ke arah Papanya dan juga Kakaknya. Seakan minta penjelasan.
Syailendra berdiri dan mendengus. "Ayo, Kak. Berangkat saja sama pak sopir. Kita sarapan di luar." ajak Syailendra mengabaikan diriku.
"Yaaaaaaaaakkkkkh!" teriakku kesal. Diiih, bisa nggak dia tuh lebih menghargai aku.
"Kamu habis nonton drama Korea? Teriak teriak pakai kata kaya gitu!" sahut Syailendra dengan sorot mata mengejek. "Yuk, berangkat. Mama tuh gitu kalau marah. Nyebelin." sahut Syailendra dengan suara lemah lembutnya. Berbeda sekali dengan suaranya saat mengejek diriku.
"Berangkat sama Om Syailendra dulu ya. Biar Om yang ngomong sama Mama." giliran Narendra yang menenangkan Al Meera. Putriku itu sepertinya tidak terpengaruh dengan wajahku yang sudah kesal betul dengan dirinya. Meskipun wajahnya tersenyum meringis, sorot matanya tidak sedih ataupun ketakutan. Sebesar itukah pengaruh Narendra?
"I'm so sorry, Ma. Al Meera sayaaaang banget kok sama Mama." bisik Al Meera sambil memeluk diriku.
"Nggak boleh ada yang keluar!" sahut ku dengan suara lemah.
Syailendra yang sudah berdiri kembali duduk, di ikuti Al Meera dan juga Aksara. "Bicaranya jangan pakai urat."
Aku hanya fokus mengatur pernafasan, berusaha mengabaikan ucapan Syailendra. Ini tentu saja bukan hal yang mudah. Sangat tidak mudah dan juga bukan hal sepele.
Otakku berusaha mencerna semua ini, berjelajah ke peristiwa yang sudah berlalu. Mungkin kah semua ini karena aku kurang perhatian dengan putriku sendiri? Tapi, selama ini aku sudah bertanya bahkan tidak hanya sekali menanyakan soal rencana meneruskan di mana.
Sesekali, ah ... Bahkan beberapa kali, aku mengajukan beberap informasi tentang sekolah menengah pertama yang sekiranya di sukai oleh Al Meera. Semenjak mendengar tentang pondok pesantren, aku juga memberikan informasi informasi itu ke Al Meera.
__ADS_1
Tapi kenapa? Kenapa justru putri ku lebih tertarik membicarakan semua ini dengan Narendra? Bukan dengan diriku. Kenapa?
Aku menoleh ke arah Narendra yang berdehem kemudian juga memandang ke arahku, tenang. Teduh. Dewasa. Pria itu menjelaskan dengan pelan, tentang pondok pesantren yang di inginkan Al Meera. Aku mendengarkan, menyimak dengan hati yang entah sekali. Berusaha tetap memfokuskan diriku sendiri. Beruntung, Narendra selalu seperti sedang menguatkan.
"Dek? Beneran udah mentok pengen di tempat itu? Kalau kemungkinan terburuknya nggak lolos seleksi gimana?" tanya Narendra pelan, setelah selesai dengan diriku. Suaranya tidak menuntut namun justru menentramkan. Baiklah. Pantas jika putriku kini lebih leluasa membicarakan apapun dengan Narendra.
"Sudah, Om. Kan makanya Almeera masih punya beberapa bulan buat persiapan."
"Kan bentar lagi Kakak ujian loh yaaa." ucapku mengingatkan.
"Iya, Mamah"
"Kalau keterima, jarak rumah sama pondok pesantren nya itu enggak cukup lima atau enam jam loh sayang." Sahut ku tidak yakin. Ragu. Jaraknya terlalu jauh, sangat jauh.
"Iya, Mamah."
"Kalau ada apa apa, Mama nggak bisa cepat sampai sana loh." suaraku bergetar. Membayangkan saja sudah membuatku sedih dan nyesek seperti ini.
"Kan bisa minjem helli nya om Syailendra. Hehehehehe."
Ya Salam, tepuk jidat aku dah. Suara tawa putriku memang tidak menggema menggelagar seperti milik Narendra dan juga Syailendra. Hanya Aksara yang seperti nya abai dengan situasi saat ini, karena dia sibuk dengan ponsel milik Papanya. Dan tidak lama kemudian, pamit ke ruangan lain.
"Ini kode buat om beli Helli kaya papanya Aksara dong?" tanya Narendra di tengah tengah tawanya.
Putriku justru menutupi wajahnya karena tidak bisa berhenti tertawa. Sedangkan aku, meskipun kesal jadi sedikit terhibur. Aku sempat berfikir kalau rapat bertiga seperti ini akan menjadi momen haru biru, ternyata justru penuh tawa dan keceriaan seperti ini.
"Tahu dari mana papanya Adek punya helli Kak?"
"Kan dulu pas om Syailendra pulang itu loh mah, pas itu pokoknya. Yang keburu huru pulang itu." jelas Almeera yang memancing rasa penasaran di wajah Narendra, karena begitu mendengar jawaban putriku, Narendra menoleh dan menatapku tajam. Bukan hanya kepadaku, tapi juga kepada Syailendra yang hanya mengangkat alisnya. Cuek.
"Dek? Tutup telinga bentar !" perintah Narendra dengan nada tegasnya ke arah Al Meera.
"Nanti, di bahas nanti. Jangan berlebihan. Ini fokus sama Almeera dulu, Ren."
"Kamu gitu, kalau soal Syailendra pakai di umpet umpetin."
"Narendraaa." sahutku sambil bergumam, mencoba menghadirkan kesabaran ekstra kalau menghadapi Narendra yang childish seperti ini. Syailendra hanya mencibir. Duh, ini orang, mereka seperti tidak saling menganggap ada.
"Oke. Tapi nanti jelasin." sahut Narendra yang aku jawab dengan anggukan kepala. "Buka dek matanya, udahan juga tutup telinganya." Lanjut Narendra dengan suara yang sangaaat berbeda ketika menuntut penjelasan barusan.
"Jadi sayang? Beneran nggak bisa kita ganti daerah sini aja? Maksimal satu provinsi deh." Sahut ku berusaha membujuk. Beda provinsi dan letaknya juga sangat jauh.
"Om kan sudah setuju kemariiinn." Protes Al Meera, putriku. Membuat aku menoleh ke arah Narendra.
"Oh jadiii sudah di Acc yaaaaa. Pantesan yaaaaa adem ayem gituuu." sindirku keras.
"Kan om juga udah janji bakal bantuin bilang pelan pelan sama Mamaaah, orang kemarin eyang kakung aja sudah mau bantu daftarin Almeera ke tempat kursus bimbingan masuk sana kok, Mah. Iya sih, Eyang putri belum setuju kaya Mamah."
"Udah deh! Lanjut nanti siang bisa nggak sih kalian. Ini udah jam berapa? Sarapan! Habis itu berangkat sekolah." sentak Syailendra yang sepertinya sudah kesal. Entah kesal atau apa. Yang jelas sekarang sudah berdiri sambil menyuruh tanpa suara kepada Al Meera untuk sarapan.
"Sebentar, Mas. Belum selesai ini." ujar ku pelan meskipun nahan perasaan nggak nyaman seperti ini. Al Meera yang sudah berdiri, duduk lagi. Sedangkan Syailendra memilih mengabaikan aku dan pergi.
"Dek, ini itu untuk jangka panjang. Minimal tiga tahun, nah selama tiga tahun ini kita nggak tahu kaaan kedepannya. It's oke, bukan soal jauh dari Mama, Dek. Tapi gini loh, kalau terlalu jauh... Kalau ada apa apa, nanti mama juga kepikiran. Mama cuma takut kalau nanti mama nggak bisa tepat waktu kalau pas kamu butuh mama." Jelas ku sebisa mungkin menjaga intonasi bicaraku untuk tetap tenang.
"Kamu jangan bicara seolah olah nggak ada aku, Ra!" Bentak Narendra kesal. Memancing emosiku yang memang sudah berada di puncak.
"Kenyataannya emang gitu. Kalian cuma orang luar!"
__ADS_1
"Kok gitu? Kita lagi bahas adek lo! Ini otak kamu larinya ke mana sih!"
Nada suara Narendra sudah mulai meninggi. Wajahnya mulai terlihat kaku.
"Kita nggak akan pernah tahu kedepannya kaya gimana. Satu tahun dua tahun. Emang kita tahu kalau kamu masih seperti ini walaupun sudah menikah dengan perempuan lain? Masih bisa fokus dan perhatian kamu buat Almeera kaya gini. Kita mah harus tetap tahu posisi, sadar diri." ucapku tanpa menoleh ke arah Narendra. Namun sekilas aku melihat putriku membuang nafas keras. Memandang khawatir ke arah Omnya itu.
"Dek? Ikut sama Papanya Aksara ya. Sarapan terus berangkat. Maaf, Om nggak anter. Om mau jelasin sama Mama dulu. Mama itu ribet kalau udah ngambek kaya gini." ujar Narendra dengan suara yang sangat lembut. Putriku mengangguk pelan, memandang ke arah kami secara bergantian.
"Good luck, Om!"
"Terima kasih sayang." Jawab Narendra dengan senyum tulus yang menurut aku tidak di paksakan sama sekali. Hebat banget, dia tetap bisa selembut itu meskipun sepertinya sudah mulai marah.
"Kok ngomongnya gitu? Sampai kapanpun juga, Almeera ya putri aku, nggak akan ada yang mengubah keputusan ini. Aku sudah jelasin berkali-kali, Ludiraaaa!" lanjut Narendra kembali berapi-api begitu Almeera tidak lagi terlihat.
"Aku cuma ngomong Apa adanya Narendra. Kamu jangan sok selalu ada buat kami, nanti kalau perempuan yang kamu jadiin istri menolak Almeera, tidak nyaman dengan kehadiran kami kamu nggak akan lagi seperti ini. Lagian konyol, nggak ada yang nama anak angkat padahal keluarganya mampu."
"Kamu lagi PMS ya? Atau bentar lagi ya?"
"Apa hubungannya?"
"Dulu Sofia kalau lagi PMS juga suka ngomel kaya gini."
Aku melempar HP di samping tempatku duduk ke arah Narendra. Menyebalkan!!!!!
Narendra mendekat ke arah tempatku duduk. Bahkan sekarang sudah berlutut di hadapanku. "Makanya, kita nikah. Biar kamu nggak perlu punya ketakutan ketakutan konyol seperti itu." bisik Narendra sambil menatapku dengan matanya yang, ah! Beda sekali dengan milik Syailendra.
"Ren! Kita ini sedang bahas Al Meera loh."
"Hmmmm. Adek milih aku sebagai tempat diskusi, dan kenapa nggak kamu dulu. Itu karena dia nggak mau bikin kamu sedih."
Aku bukan lagi sekedar galau karena putriku lebih memilih Narendra di bandingkan diriku sendiri. Naif bila aku tidak merasa sedikit tersisihkan. Aku merasakan itu. Dan sekarang, semua hal bisa terjadi kan? Entah kenapa, aku masih saja takut dan juga terbayang-bayang Narendra yang akan bersama Shofia. Bukan dengan diriku. Meskipun saat ini, detik ini. Narendra memohon untuk menikah denganku.
"Ra? Menikahlah denganku."
Aku menatap ke mata Narendra, melihat sorot mata yang begitu serius dengan ucapan nya. Dan hatiku? Bergemuruh.
Mungkinkah ini yang terbaik?
Aku harus mengiyakan permintaan ini?
"Mungkin kita memang harus mencoba ini, Ren. Usaha kita sudah sejauh ini. Dan Al Meera? Dia begitu memujamu sebagai sosok ayah yang hebat."
Suaraku bergetar ragu. Wajahku tidak secerah perempuan pada umumnya yang menerima lamaran dari seseorang yang di sayang. Wajahku pias. Terlebih, saat Narendra tersenyum maklum. Membuatku semakin salah tingkah.
"Terima kasih, Ludira."
"Narendra?" panggil ku, tanpa menjawab pertanyaan pria yang kini menggenggam tanganku erat.
"Aku tidak ingin kembali menjadi bodoh karena kamu lebih memilih dirinya dari pada diriku." ujar ku pelan. Aku terlalu egois. Sangat egois.
"Aku janji. Akan terus menunggu hatimu kembali mencintaiku."
💜💜💜💜💜💜💜
Hay, Reader's. Terima kasih atas dukungannya selama ini. Kalau menurut kalian, ini lebih cocok jadi visualnya siapa? 😁
"
__ADS_1