LUDIRA

LUDIRA
Enam Puluh Tiga


__ADS_3

Aku sadar, menyadari sekaligus memahami. Bahwa Narendra dan Shofia bukan sebaris kalimat sederhana yang tertoreh begitu saja. Kisah mereka sudah terukir begitu dalam dan panjang, jika ada alasan yang tepat untuk saling mengakhiri kisah tersebut adalah takdir. Bukan pilihan. Karena setiap kali aku menoleh ke dalam mata pria ini, Narendra. Selalu saja masih ada bongkahan rindu yang Ia kira luka.


Meskipun sekarang pria ini memilihku untuk menjadi masa depannya, ingatanku tidak bisa melupakan semua kalimat yang pernah ia katakan. Narendra pernah dengan tegas mengatakan tidak bisa meninggalkan Shofia, tidak bisa mengusir Shofia yang sudah memiliki dirinya dan juga jiwanya. Saat itu, hatiku bukan hanya remuk redam, hancur berantakan. Tapi perasaanku yang mulai nyaman dengan Narendra, terlukai begitu dalam. Di tolak sebelum jatuh cinta itu mengerikan. Mungkin ini yang menjadi sebab hatiku tidak langsung merasa begitu bahagia, dan juga yakin dengan apa yang Narendra ucapkan.


Aku menjadi masa depannya?


"Ludira?" sapa Narendra pelan. Aku menoleh dan tersenyum, kembali ke alam sadar setelah sibuk berjelajah mengingat berbagai hal. Narendra berdiri dengan tangannya menggenggam tangan mungil Aksara dan satunya memegang tiket.


Pria idaman, aku tersenyum geli begitu mataku memandang ke sekeliling. Ada beberapa gadis remaja yang masih memakai seragam, tidak malu malu memandang kagum ke arah Narendra, bahkan ada yang mengeluarkan kamera ponselnya. Resiko, resiko keluar bersama pria keluarga Basuki memang bikin ribet.


"Yaaah, sudah punya istri." seloroh seseorang yang tidak jauh dari meja tempatku duduk. Menunggu Aksara dan Narendra membeli tiket.


Aku menoleh, begitu juga Narendra. Gadis gadis itu tersenyum malu sambil bersisik. Salah satu dari mereka, memukul lengan temannya yang sepertinya tidak sadar kalau suaranya terdengar sampai tempatku. Aku memberikan senyum ramah dan mengangguk. Mereka membalas dengan senyuman juga anggukan, meskipun kaku terlihat juga malu-malu. Sedangkan Narendra? Pria itu justru menatap datar, cool ke arah remaja remaja itu.


"Raut wajah kaya gitu justru bikin mereka semakin meleleh, Narendra." bisik ku pelan. Takut terdengar Aksara yang sedang sibuk menghabiskan es cream nya.


"Wajah kamu tuh putih bersih, mulus, glowing. Sedangkan mereka itu pasti suka sama artis korea, nah kan cocok tuh sama kamu." sambung ku, begitu pria itu hanya menarik kedua alisnya.


"Jangan sok manyun gitu! Ih, sengaja ya kamu biar keliatan semakin imut. Ya Alloh, bagaimana aku bisa lupa kalau kamu sudah terbiasa jadi tokoh yang di gemari kalangan anak anak muda." sahutku masih berbisik.


Narendra tertawa.


Duuuh, suara dari meja tempat anak anak tadi, semakin riuh saja.


"*Aduuh, aku mau dong jadi perempuan di depannya."


"Meleleh dehh akuu seperti eskrimnya si adek."


"Butuh mama tiri nggak ya si adeek, uwuu*."


Mendengar bisik bisik mereka yang semakin keras, Narendra hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Heran aku tuh, dia sadar nggak sih kalau kayak gitu juga bikin mereka semakin baper. Haah. Aku hanya bisa menutup wajahku, malu sendiri.


"Eskrimnya sudah habis, Om Ntee!" teriak Aksara ceria, bahagia.


"Yeaay! Ternyata bukan anaknyaaa!"


Teriakan itu membuat Aksara menoleh ke arah mereka bingung.


"Yuh, pindah. Lama lama aku yang jadi malu sendiri ih!" sahutku sambil berdiri, di ikuti Narendra yang masih tersenyum. Entah gemas dengan siapa?


"Wajah kamu gitu amat sih!" ujar ku sambil berjalan. Kami berjalan bersama, menggenggam tangan Aksara satu persatu.


"Emang kenapa?"


"Bahagia banget jadi pusat perhatian." sindir ku pelan.


"Bukannya gitu, aku bahagia... Aku gemes aja lihat reaksi kamu tadi. Hahaha." Narendra tertawa. Sedangkan aku membuang muka, menyembunyikan semburat kemerahan di wajahku, aku yakin... Aku pasti tersipu malu. Karena sudah terasa begitu hangat di pipiku.


****


"Aksara tidur?" tanya Narendra dari balik kemudi nya, sesudah menoleh sebentar ke arah kami.


"Iya, kecapean kan dianya." jawabku.

__ADS_1


"Kamu sendiri gimana? Bahagia?" tanya Narendra pelan. Dengan suaranya yang entah sejak kapan terdengar begitu dewasa. Tidak terlihat bahwa dia berusia tiga tahun di bawah ku. Tiga tahun? Layak sebagai adik bukannya pasangan. Umumnya seperti itu.


"Ludira? Kamu bahagia bersamaku?"


Pertanyaan yang di ucapkan Narendra dengan suara dalam itu membuatku terlalu menatap ke arah wajah Narendra yang masih fokus ke depan, jalan. Bagaimana?


Aku bahagia bersamanya?


Kilas balik tentang apa yang sudah kami lakukan seharian ini, membuatku memang yakin bahwa aku merasa bahagia bersamanya. Meskipun tadi, awal awal masih terbayang-bayang wajah Mas Dodi. Berharap bahwa Narendra adalah dia. Namun, setelah kami bertiga menghabiskan waktu bersama? Aku hampir tidak menyadari bahwa aku begitu nyaman. Sangat sangat sangat nyaman hingga tidak memikirkan siapapun selain menikmati kebersamaan ini.


Tidak ada Almarhum suami,


Tidak ada putri kesayanganku,


Dan juga... Juga tidak ada bayangan Syailendra.


Tidak ada yang lebih pedih dari pada menyadari bahwa aku mulai kembali terjebak dalam perasaan nyaman bersama Narendra. Aku mungkin berhasil mengingatkan diriku sendiri bahwa ini bukan suatu pengkhianatan terhadap pria yang begitu aku cintai selama ini, pria yang memberikan segalanya kepada ku. Keinginan maupun kebutuhanku.


Sesak rasanya, pedih rasanya. Aku sudah pernah kehilangan dia, pria itu. Dodi. Aku mulai takut cinta ini mulai beralih. Dan saat sudah sepenuhnya beralih, ternyata aku keliru. Aku takut, aku takut aku keliru melabuhkan kapal. Narendra, pria itu ... Penolakan pria itu dulu, membuatku takut sekaligus tidak mudah mempercayai kesungguhan Narendra yang memang sudah di depan mata.


Bukankah memang perasaan manusia itu bisa saja berbalik dengan begitu cepatnya? Bukankah tidak ada jaminan bahwa hal yang kita yakini akan terjadi justru tidak terjadi? Hal yang tidak di yakini terjadi justru terjadi.


Ah, berat. Semakin berat saja, karena sekarang aku harus menjaga perasaanku dari prasangka, berburuk sangka terhadap masa depanku sendiri.


"Ra?"


"Aku bahagia, bahagia bersamamu. Dan hanya ada dirimu."


"Iya."


Suaraku serak, bergetar dan akhirnya air mataku yang sudah mengumpul di kelopak mata jadi saling berjatuhan. Padahal selama ini aku begitu yakin bahwa aku akan terus menggenggam cinta ini hingga akhir hayat nanti. Tidak akan ada cinta yang lainnya lagi. Dia menjadi yang pertama dan menjadi yang terakhir. Namun kenyataannya, aku mulai merasakan ada desir desir aneh di hatiku, perasaanku ini. Untuk Narendra. Pria yang jauh lebih muda tiga tahun di bawah ku. Pria yang juga sama sama masih terbelenggu oleh masa lalunya.


Perasaan cinta kah ini?


Entahlah, aku tidak tahu. Karena sepanjang hidupku, aku hanya mengenal cinta nya, pria yang yang meninggalkan ku untuk pulang ke pada Tuhan terlebih dahulu.


Aku menghidupkan saluran radio, berusaha membelah keheningan yang menyakitkan ini dengan suara dari saluran radio. Berharap mereka saat ini memutar musik bernada bahagia dan ceria. Ternyata--


Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu


Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku


'Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu


Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari


Walau masih bisa senyum


Namun tak selepas dulu


Kini aku kesepian


Kamu dan segala kenangan

__ADS_1


Menyatu dalam waktu yang berjalan


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan


Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu (padamu)


Ho-o-o-o-oh ...


Walau masih bisa senyum


Namun tak selepas dulu


Kini aku kesepian


Kamu dan segala kenangan (kenangan)


Menyatu dalam waktu yang berjalan (berjalan)


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan hanya bayangan


O-o-oh ...


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


'Ku mencintamu (mencintamu)


Kamu (kamu) dan kenangan


Ternyata suara merdu milik penyanyi Maudy Ayunda itu justru terputar dengan merdu. Membangkitkan kesedihan dan kepedihan yang memang sudah bermunculan di dalam perasaanku. Aku menangis, menangis dalam diam. Menangis tanpa suara. Air mata jatuh saat aku tidak lagi mampu menampung duka derita di dalam jiwa.


"Ra? Menangis tanpa suara itu rasanya begitu menyakitkan!"

__ADS_1


__ADS_2