LUDIRA

LUDIRA
Enam


__ADS_3

Pertemanan antara aku dengan pria bernama Narendra Bagaskara itu semakin hari mulai akrab. Terlebih semenjak Narendra mengirimkan foto foto masa kecilnya via WhatsApp yang semakin membuatku terpana.


Bagaimana mungkin wajah masa kecil Narendra bisa begitu mirip dengan Al meera, kebetulan macam apa? Semenjak itu kami mulai akrab. Tidak tega rasanya jika harus tetap bersikap jaga jarak sedemikian rupa dengan Narendra.


"Jaga sikap dong, Ren. Ini kampus lo ya. Jangan alay." Sahutku tenang.


"Mbak bisa aja. Masih ada kelas mbak?" tanya Narendra sambil mengimbangi langkah yang aku ambil.


"Enggaklah, ini udah jam berapa emangnya!"


Pertanyaan Narendra itu kadang seperti cuma basa basi, padahal aku paling nggak suka pertanyaan basa basi.


Mendengar suara ketus yang tidak sengaja aku ucapkan, Narendra hanya meringis.


"Ren, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku deh."


"Apaan mbak?"


"Kamu tahu kan, aku paling nggak suka drama. Status kamu yang baru saja aku ketahui beberapa hari yang lalu itu bikin aku kepikiran sesuatu."


"Mau gimana lagi, Mbak. Kita semua punya masa lalu kan. Beruntungnya, prestasi kelam aku di masa lalu itu tidak terekspos. Alhamdulillah."


Aku memutuskan untuk diam, saat beberapa mahasiswa yang akan pulang menyapa kami berdua. Tidak baik jika membahas persoalan seperti itu di lingkungan kampus. Kurang profesional rasanya, walaupun sudah bukan lagi jam kerja.


"Cieee, adik kakak udah mulai akur ni yeee." Celoteh seseorang begitu kami masuk kantor bersama.


"Alhamdulillah, Pak Umar. Mbak Ludira seperti nya sudah capek bersitegang dengan saya." jawab Narendra yang kemudian di susul tawa renyah teman teman kami.


"Begitu dong, Ra. Kamu itu harus sering sering bareng sama Rendra. Biar awet muda." sahut Bu Susi keras, semakin meriuhkan suasana.


Aku tersenyum sekaligus menggelengkan kepala.


"Memangnya kenapa bisa begitu, Bu?" tanya Narendra penasaran.


Karena gemas, aku menipuk lengan Narendra yang masih berdiri di dekat mejaku dengan buku yang sedang aku pegang.


"Aku menyerap sisi muda kamu, makanya aku awet muda." Jawabku seketika membuat teman teman yang sedang tertawa semakin riuh saja.


"Ah, kalau begitu mah saya ikhlas mbak, hahahaha."


Ya Tuhan, ini anak. Bikin teman teman jadi semakin semangat menggoda kami berdua. Hanya beberapa saja sih, kebanyakan yang junior atau yang lebih mudah dariku justru tersenyum sinis ke arah kami. Percayalah, mereka penggemar berat pria dewasa yang kekanak kanakan ini.


****


"Assalamu'alaikum, Mbak?" Sapa suara yang mulai akrab di telingaku.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Ren. Ada apa sih? Barusan juga sampai rumah ini saya."


"Mau ngobrol sama Almeera boleh, Mbak?"


"Sebentar."


Aku melangkah menuju ke arah Almeera yang sedang duduk sambil membaca buku.


"Nak, ini ada om Naren mau ngobrol katanya."


"Makasih, Ma."


Aku mengangguk pelan, mengusap rambut panjang lurus milik Putriku.


"Om, kita ngobrol di dapur aja ya. Almeera mau nemenin mama masak."


Sayup-sayup terdengar suara riang Almeera yang kini melangkah ke arah dapur.


"Mama masak apa, Al?" tanya Narendra dari sebrang sana.


Aku menoleh ke belakang, ternyata mereka sedang video call.


"Masak apa mah? Ini om Narendra tanya." sahut putriku antusias. Mengarahkan android itu ke arahku. Mungkin sudah di ganti kamera belakang.


"Kita mau buat ayam geprek, lalapannya daun singkong, terus ada mentimun juga ada sayur yang lainnya. Sebelum itu ada kolak nangka." jelasku sambil tersenyum.


Sebelum Almeera, putriku menjawab suara antusias milik Narendra, mulutku yang gemas sudah menjawab duluan. "Yang sopaaan, Om."


Hahahaha, suara tawa lepas Almeera memenuhi ruangan. Hatiku hangat sekaligus trenyuh. Almeera memang ceria, namun akhir akhir ini saat bersama Narendra bisa benar-benar lepas. Tertawa lepas tanpa beban.


"Boleh yaa maaah." bujuk Almeera tanpa mematikan sambungan video call. Aku yakin, diam diam Narendra di ujung sana dengan tersenyum bahagia.


"Tapi enggak gratis loh. Om Narendra sering banget numpang makan di sini sekarang." Ujarku sengaja lebih keras, supaya terdengar oleh sosok pria yang sedang tertawa di ujung sana.


"Hahahaha, sekarang mama perhitungan gitu."


"Iya deh, mbak. Nggak baik ih, ngajarin Almeera jadi pelit sama enggak tulus gitu." sahut Narendra.


"Kamu kalau mau makan di sini, buruan deh kesini." Ujarku keras tanpa mendekat ke arah meja.


"Ah hahahaha. Makasiiih mama." Teriak Almeera sambil tepuk tangan. Sedangkan suara tawa Narendra juga tidak kalah keras.


"Om siap siap dulu ya. Sampai jumpa di rumah, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, hati hati ya om."

__ADS_1


"Oke kesayangan."


*****


Selepas maghrib, Narendra baru saja sampai di rumah. Langsung buru buru minta izin buat numpang sholat. Tidak lagi kaget tentu saja, karena memang dia ini tipe pemuda yang sholeh tapi gaul. Di lihat dari penampilannya, mbois gitu. Meskipun sudah kelewat matang usianya, tetap saja raut wajahnya tidak menua. Menurutku begitu si. Masih pantas di bilang pemuda dia puluh lima tahunan dari pada bapak bapak tiga puluhan tahun.


Aku bersabar di tembok, memandang ke arah dua manusia lintas generasi yang kini sedang asyik bercengkerama. Yang satu masih pakai kopiyah dan sarung yang satunya lagi masih menggunakan mukena. Narendra sedang menyimak putri kesayanganku menghafalkan surah Al waqi'ah lanjut Ar Rohman.


Aku harus menelan ludah berkali-kali demi menghilangkan rasa tersedak di tenggorokan sekaligus dada ini. Pemandangan yang sederhana namun sukses membuatku ingin menangis.


"Mas? Mas bisa lihat dari atas sana? Maafkan kami mas, bukan maksudku menghilangkan posisi mas. Ini semua di luar kendaliku. Aku lemah jika menyangkut kebahagiaan, binar semangat di mata putri kesayanganmu." Batinku.


Tangan memegang mulut. Seakan tidak percaya bahwa kebersamaan yang aku lihat ini semakin hari semakin membuat hatiku galau. Bahagia namun juga menderita.


"Kamu bikin om jadi kagum." Puji pria itu pelan. Menatap putri ku yang tersenyum lega dengan penuh kekaguman. Narendra memang bapakable banget.


Mau tidak mau, aku memang harus mengakui bahwa pria yang kini sedang memberi nasehat serta semangat kepada putri kecilku memang memiliki banyak sekali alasan untuk di jadikan sebagai tipe idaman sebagai suami, teman, sahabat, ayah, menantu atau idola.


"Sudah lama, mbak?" tanya Narendra membuat kesadaran ku kembali.


"Lumayan, kamu hafal dia surat itu ya?" Aku balik bertanya yang di jawab sendiri oleh putriku.


"Om Narendra hafal semua, Ma. Makanya tadi menyimak Rara tanpa lihat Al Qur'an."


Dari Almeera yang berbinar penuh kekaguman, aku menatap ke arah Narendra yang salah tingkah. Persis sekali anak baru gede yang ketahuan bohong. Salah tingkah sambil megang bagian belakang kepala.


"Bagus dong ya. Sayang mau ganti baju dulu atau langsung nunggu sholat isya?" tanyaku pelan sambil memegang pipi kesayanganku itu.


"Nunggu isya aja, Ma. Mau belajar ngaji aja sama On Naren. Iya ya Om?"


Tanpa aku sadari, aku menatap penuh selidik ke arah Narendra.


"Iya, Al. Kalau mama kamu kasih izin." sahut Narendra pelan, sambil melirik ke arahku.


"Boleh kok. Tapi, maaf ya. Mamah nggak bisa sholat isya bareng kalian." Ujarku pelan.


"Iya, Ma. Nggak papa kok. Almeera sayang banget sama mama."


Kalimat yang terucap dari gadis mungilku itu terdengar lebih dalam di telingaku, seakan anak kecil ini tahu betul bahwa mamanya sedang merasa kurang nyaman dengan kondisi seperti ini.


Almeera dan Narendra menatap ke arahku penuh pengertian, seakan mereka memahami bahwa aku belum bisa meski hanya sekedar sholat bertiga dengan mereka.


"Mas? Aku tidak berlebihan kan?" Batinku gelisah.


Faktanya memang aku belum bisa, belum bisa sholat bersama dengan putriku namun bukan almarhum suamiku yang menjadi imam. Aku masih butuh banyak sekali waktu untuk terbiasa dengan keadaan ini. Aku butuh banyak sekali perjuangan untuk bisa keluar dari gelembung khayalan ku tentang keluarga penuh kebahagian bertiga dengan mas Dodi.

__ADS_1


Bahkan aku sekilas berharap, jika yang mengajari hafalan putri kesayanganku itu adalah bapaknya. bukan orang asing yang kebetulan memiliki. hubungan rumit dengan kami berdua.


__ADS_2