
[Aku jemput ya?]
Aku yang masih terdiam sambil memegangi tubuh lemas perempuan bernama Sofia ini, menoleh ke arah tas tangan yang aku bawa tadi. Ternyata pesan singkat dan panggilan tidak terjawab dari Syailendra.
[Iya. Aku ikut ngantar Sofia pulang.]
Aku mengetik balasan dengan cepat, sangat berharap bahwa nanti saat aku sampai di rumah perempuan ini, Syailendra sudah di sana.
"Siapa, Mbak?" tanya Silvia sambil menoleh ke arahku melalui kaca.
"Syailendra."
Silvia kembali terdiam.
"Sil? Saya masih nggak ngerti dengan kejadian tadi ini." desahku pelan.
"Kalau di jelaskan secara detail itu terlalu panjang, Mbak. Yang jelas, saya bersyukur mbak Dira ikut pergi menemani mas Narendra. Reaksi mas Narendra saat ada Mbak Dira juga membuatku kagum."
"Emang dulu kalau nggak ada saya gimana, Sil?" tanyaku penasaran. Jadi mereka pernah bertemu setelah bercerai? Atau bagaimana?
"Nanti aja deh, Mbak. Ceritanya panjang banget."
"Aku heran, Sil. Kenapa tidak ada yang mau membicarakan secara detail soal ini. Aku nggak ngerti!"
Marah, tentu saja aku marah kepada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku membiarkan diriku ikut campur pada sesuatu yang aku tidak tahu secara keseluruhan, sebodoh ini diriku.
Aku hanya orang asing yang kebetulan terseret masuk ke dalam arus. Kenapa harus aku? Kenapa bukan Silvia saja yang memang sudah seperti di siapkan oleh mereka. Ada apa? Sungguh, aku bukan wanita penggemar misteri.
"Jadi soal perjodohan kalian, kamu dan Narendra?" tanyaku pelan.
Silvia menggeleng. Tanpa suara. Kami menghabiskan waktu dalam diam, hingga mobil ini berhenti di salah depan gerbang sebuah rumah. Mungkin ini rumah Sofia karena jelas sekali bukan rumah temanku, Silvia.
"Sudah sampai, Mbak."
Aku mengangguk. Menenangkan diriku sendiri. Ya! Sekarang aku akan bertemu dengan keluarga Sofia. Minimal kedua orangtuanya.
"Mbak tunggu sini bentar ya? Biar aku panggil om sama tante."
Aku kembali mengangguk, tanpa menjawab dengan suara. Sedangkan Silvia berlari ke dalam rumah. Tidak lama kemudian Silvia sudah kembali dengan beberapa orang yang jelas tidak aku kenal. Mereka membantu mengeluarkan dan membawa Sofia.
***
"Jadi ini mbak Ludira ya?" tanya Pria yang sedikit lebih muda dari pada Pak Basuki, papanya Narendra.
__ADS_1
"Iya ... Ini Ludira." jawab Syailendra tenang, mendahului diriku sendiri, padahal aku mulutku sudah terbuka. "Ngobrol ini itunya besok besok saja ya, Om ... Tante. Sudah malam, kami di tunggu sama anak anak di rumah." pamit Syailendra dengan senyum di paksakan. Kemudian menarik tanganku kasar, padahal aku hanya mau berpamitan dengan sopan.
"Nggak perlu. Kita pulang sekarang." bisik Narendra sambil menggenggam tanganku erat.
Aku mengikuti langkah cepat Narendra yang langsung membukakan pintu mobil untuk ku kemudian dia memutar ke arah pintu yang satunya.
Doaku, harapanku menjadi kenyataan. Syailendra sudah berdiri dengan tegak dan wajah serius begitu aku keluar dari mobil Silvia, bahkan aku tidak perlu masuk ke dalam rumah Sofia.
"Semua baik baik saja kan? Kamu nggak ada yang terluka kan?" tanya Syailendra cemas, khawatir. Aku menoleh ke arah Syailendra, menatap pria yang kini sedang mengemudi dengan tatapan sebal.
"Apa nya yang baik baik saja? Aku tuh seperti sedang berada di dunia mimpi buruk tahu nggak! Tiba-tiba begini, tiba-tiba begitu. Hidup aku kacau begitu aku mengenal Narendra." sentak ku kasar. Jiwaku lelah, meskipun tubuhku tidak merasakan kelelahan sedikitpun.
"Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, Ra. Kamu nggak bisa menyalahkan momen di mana Narendra bertemu dengan Almeera dan terobsesi dengan kalian." ucap Syailendra tenang tapi berwibawa. Membungkam mulutku dalam seketika itu juga.
"Sudahlah, tidak perlu membahas apa yang sudah lalu. Kita fokus jalanin aja kedepannya gimana. Jangan sampai rasa menyesal membuatmu harus membenci sesuatu atau seseorang. Nggak baik, iya kan bu dosen?"
Syailendra, meskipun terlihat lelah. Pria ini masih berusaha bercanda, mencairkan suasana.
"Narendra gimana?" tanyaku pelan.
"Baik, dia tidur di rumah orang tuanya. Ibu nangis terus. Sedangkan Bapak, kamu bisa tebak sendiri bagaimana kondisi mereka."
Tentu saja ibu Basuki akan meneteskan air matanya begitu melihat Narendra seperti itu. Sedangkan Pak Basuki, aku rasa beliau setenang Syailendra saat ini, meskipun aku yakin isi kepalanya terus berputar.
"Trims, aku juga sempat males harus bertemu dengan keluarga Sofia padahal aku sendiri nggak paham alur permasalahan yang aku ikut ini. Konyolkan?"
"Tidak ada yang konyol dalam cinta, Ra. Kita bukan anak baru gede yang rasa tertariknya itu muncul akibat paras seseorang itu, atau kecerdasaan nya. Kita ini, usia ini ... Mulai mengenal kebodohan cinta. Memberikan hati kita begitu saja kepada dia yang kita tidak tahu siapa dia."
Aku mengangguk setuju.
"Kamu penasaran kenapa Sofia seperti penyihir?" tanya Syailendra dengan suara melucu. Niatnya bercanda tapi garing.
"Nggak lucu, mas. Tadi tuh seperti atraksi sulap atau hipnotis." sahut pelan. Jujur, meskipun aku tidak terlalu agamis, aku tidak menyukai hal hal seperti itu.
"Padahal Sofia baik baik saja selama ini, dia tidak pernah segila itu dan juga seberbahaya itu. Aku pernah bilang kan kalau Sofia sekarang mendirikan pantai asuhan dan mengasuh anak anak yatim piatu itu. Keibuan, baik hati dan sosok istri sempurna. Tapi begitu aku melihat kilat cahaya matanya saat meminta izin bertemu Narendra saat Silvia kelepasan membicarakan kedekatan kalian, aku ragu ... Ragu jika Sofia sepenuhnya sudah berubah jadi perempuan dewasa normal."
Aku menyimak dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Syailendra. Karena hanya pria ini yang mau sedang suka rela tanpa di minta, menceritakan segala sesuatu ya g membuatku penasaran.
"Silvia kelepasan bilang kalau Narendra cemburu dengan kedekatan aku dan kamu, sampai-sampai memukul wajahku." sahut Syailendra sambil menoleh sesaat, tersenyum.
Aku membalas dengan tersenyum dan menunduk malu. Teringat kejadian waktu itu.
"Saat semua orang tertawa dan sibuk meledek diriku, aku justru sibuk memperhatikan reaksi Sofia." lanjut Syailendra dengan suara berat.
__ADS_1
"Dulu ... Perempuan itu suka sekali dengan film jenis fantasi, sihir magic sejenis itulah. Kebawa hingga tingkat obsesi yang berlebihan. Aku akui perempuan itu sangat genius, dia cerdas. Mungkin itu juga yang membuat Narendra jatuh cinta. Putih, cantik, menarik dan cerdas. Perempuan itu salah mengambil langkah, dia menggemari hal hal aneh yang emang nggak masuk akal. Mantra dan sihir. Dunia dongeng yang menurut dia itu sebenarnya ada. Konyol kan?"
Aku terus menyimak tanpa menjadi ataupun bertanya. Takut jika itu justru membuat cerita tentang Sofia dan Narendra berhenti.
"Ternyata aku salah, Narendra bukan semacam rasa tertarik saja yang di persembahan kan untuk Sofia, tapi cinta. Cinta sepenuh jiwa. Dia rela menjadi kelinci percobaan dari kegilaan Sofia, bodohnya lagi ... Narendra terlalu penurut, tipe budak cinta begitulah."
Dadaku nyeri, bukan karena mendengar Narendra sebegitunya kepada Sofia, tapi nyeri karena aku seakan tidak terima jika pria itu di sakiti sedemikian rupa, meskipun dia sendiri menerima dengan suka rela. Ah! Mungkinkah ini karena usiaku yang di atas Narendra?
"Pernah denger black magicnya orang Indonesia?" tanya Syailendra sambil menoleh ke arahku. Aku menggeleng, keningku berkerut bingung.
"Santet! Semacam pengasihan. Tahu?" tanya Syailendra lagi.
Aku menatap Syailendra, tidak percaya. "Ini zaman Millenium kan? Zaman modern, Mas! Masa iya masih ada gituan. Terlebih ini Narendra? Keluarga Bagaskara?" ujar ku kaget. Santet? Ilmu pengasihan?
"Dia terobsesi dengan sihir sihir western. Kemudian tertarik juga sama begituan ala Indonesia. Dan kamu harus tahu, Ra. Dulu keluarga Bagaskara, bahkan Narendra sendiri tidak seagamis sekarang ini."
Aku mengangguk. Tidak heran. Tidak juga perlu mencela.
"Itu terus Sofia lakukan sampai mereka akhirnya menikah. Dasar ******* emang! Dia nggak mau berbagi Narendra dengan siapapun tapi dia juga nggak mau terikat. Dia ingin kebebasan, dia ingin terlihat seperti masih gadis saja. Makanya mereka memutuskan nikah Siri, ****** begonya si Narendra nurut aja gitu. Pokoknya Narendra kalau sudah sama Sofia itu bagai kerbau di apa Ra?" tanya Syailendra lucu, wajahnya kocak. Antara benci, marah, sedih, kecewa.
Aku tersenyum, "Kerbau di cucuk hidungnya." jawabku sambil tersenyum.
"Tahu kan artinya?"
Aku mengangguk, tertawa kecil. Ah, Narendra.
"Entah, sihir apa ... Mantra apa saja yang sudah di kasih ke Narendra." ucap Syailendra dengan nada sedih.
"Semoga tidak akan terjadi jika tidak di hendaklah oleh Alloh, Mas. Tidak perlu membenci siapapun. Apalagi membenci orang tua atau keluarga Sofia karena apa yang terjadi dengan Narendra. Meskipun, yaah ... Aku sendiri marah mendengar semua ini." ucapku lembut. Bukan hanya marah, dada ini ... Hati ini, hancur. Sakit ... Sangat sakit.
"Ah!" desah Syailendra pelan. Lalu tersenyum ke arahku. "Aku memang sangat membenci mereka. Sangat sangat sangat benci." ujar Syailendra
tanpa ditutupi.
"Kamu terlihat sangat menyayangi
Narendra." sahut pelan. Bangga dengan mereka berdua. Meskipun bukan saudara kandung, tapi kasih sayang satu sama lain terasa nyata.
"Begitulah. Aku ini family man."
Hahahaha, aku tertawa pelan. Tawa yang aku akhiri dengan membalas senyum pria itu.
"Family man kok playboy!" cibirku.
__ADS_1
Hahaha, Syailendra tertawa lepas.