LUDIRA

LUDIRA
Enam Belas


__ADS_3

Sebelum Narendra, ada beberapa pria yang memang sangat bersemangat untuk dekat dengan kami. Namun hatiku tidak bisa bergeming, aku tidak tertarik sama sekali meskipun perhatian yang mereka berikan membuat orang lain jadi baper. Cuek, aku cuek dan tidak perduli.


Kesal, Marah. Begitu aku membuka akun ig Narendra yang di private, aku harus mengikuti ini orang sebelum melihat apa yang dia posting. Menyebalkan.


Aku memutuskan untuk bertanya kepada Dewi persoalan postingan di Ig itu, "Dew? Soal postingan Pak Narendra itu gimana sih maksudnya?" tanyaku setelah mengucapkan salam.


"Di Ig Story juga banyak banget Beliau posting foto beliau sama Dek Almeera. Cuma yang ada mbak Dira, hanya satu. Itu buka di Story. Mbak nggak cek sendiri aja?" tanya Dewi di ujung sana.


Aku mendesah kesal sekaligus gelisah. "Jangan bilang mbak nggak follow Mas Narendra?" Lanjut Dewi keras, terkejut.


"Parah banget mbak Ludira. Nanti saya kasih screenshot nya ya. Jangan panik jangan mikir macem-macem." titah Dewi keras.


"Kok ngomongnya gitu sih."


"Iyalah. Aku tahu persis mbak gimana kalau lagi di deketin sama Cowok. Sudah paham kita kita. Pokoknya mbak jangan menjelma jadi ratu es yang diingiiin, cuek. Kita udah asyik lihat mbak Dira kaya gini."


"Masa aku segitu jeleknya sih, Dew?"


"Iya. Ingat dulu saat Satria bilang kalau Dek Almeera butuh sosok bapak. Mbak Dira langsung mendiamkan Satria hingga berhari-hari?" tanya Dewi pelan.


Pertanyaan yang membuat dahiku berkerut, "Enggak deh. Aku cuma jaga jarak aja. Nggak suka sama orang yang sok tahu kaya gitu. Perasaan aku enggak mendiamkan Satria deh."


"Nah inii, mbak nggak pernah menyadari sebenarnya sikap mbak kaya gimana. Satria merasa bersalah banget tahu, Mbak. Dia jadi murung gitu. Mbak Dira bukan jaga jarak, tapi benar-benar tidak menganggap Satria ada di sekitar mbak." jelas Dewi telaten.


"Ah, Masa aku gitu. Aku masih senyum kok sama Satria. Masih jawab Salamnya Satria juga. Masih negur nyapa gitu." jawabku pelan.


"Tidak mbak, makanya kemarin Satria geger gimana caranya minta maaf sama mbak. Lagian Satria itu punya mulut kok nyinyir. Suka nyeblak gitu aja kalau ngomong."


Suara Dewi kesal, sepertinya bukan hanya soal Satria yang membahas tentang janda.


"Cieee, tumben sampai kesal gitu."


"Kesal deh, Mbak. Ini orang di bilang akunya sibuk, minta di temenin mulu."


"Jadi Satria beneran suka sama kamu, Dew?"


" Enggaklah, Mbak. Kita kan emang sudah kenal lama."


"Ya sudah, Dew. Makasih sebelumnya ya, saya tunggu lo."

__ADS_1


"Siap Komandan, Hahaha."


Setelah mengucapkan salam, aku mematikan sambungan telepon. Masih terbayang perkataan Dewi soal sikapku. Masa sih, Aku sebegitunya. Pantas saja setelah itu tidak ada yang pernyataan membahas tentang Almeera yang membutuhkan sosok Ayah atau menyarankan untuk menikah lagi demi Almeera.


Aku membuka pesan WhatsApp dari Satria yang sedari kemarin tidak aku buka, sebagian justru langsung aku hapus sebelum aku baca.


[Saya rela jadi babunya Mbak Dira, asal mbak Dira memaafkan kelancangan mulut saya, Mbaaaak.]


Ah, konyol.


Aku mengetik satu huruf untuk membalas pesan Satria, [Y]


******


Pesan masuk dari Dewi membuatku memanas. Foto-foto yang di ambil Narendra membuat kepalaku geleng geleng, kelakuan Narendra akhir akhir ini memang menyebalkan. Apa dia tidak takut jika semua ini akan mempengaruhi kredibilitas nya sebagai sosok yang selama ini menjadi idola banyak orang. Bahkan menjadi kiblat beberapa mahasiswa.


"Lekas sembuh kesayangan."


Kalimat yang tertulis di foto Almeera yang masih tertidur. Rupanya ini story.


"Karena senyum seorang anak begitu berarti bagi orang tua. Jangan lupa tersenyum hari ini."


Ada foto Narendra selfie sambil di peluk oleh Almeera, jadi Almeera hanya kelihatan belakangnya saja. Caption nya bikin ini Uki nyari nyesek.


*Jim DeMint:


“One of the greatest titles in the world is parent, and one of the biggest blessings in the world is to have parents to call mom and dad*.”


Salah satu gelar terbesar di dunia adalah orang tua, dan salah satu berkat terbesar di dunia adalah memiliki orang tua untuk bisa dipanggil mama dan papa.


Ah, Kenapa? kenapa harus begini, Ren? Bahkan ada kalimat yang menegaskan betapa kamu menyayangi Almeera sebagai putrimu sendiri, kenapa kamu tidak berfikir jauh bahwa diluar sana banyak sekali orang yang bisa salah menafsirkan.


*Kent Nerburn:


“Until you have a son of your own... you will never know the joy, the love beyond feeling that resonates in the heart of a father as he looks upon his son.”


Sampai kamu memiliki anak sendiri... Kamu tidak akan pernah tahu kegembiraan, kecintaan di luar perasaan yang bergema di dalam hati seorang ayah saat ia memandang anaknya*.


Foto selfie bersama putriku, aku memandang foto itu lumayan lama. Bahkan berkali kali aku mencoba memperbesar. Aku menolak dengan sangat keras saat hatiku berbisik betapa miripnya mereka berdua. Aku menolak. Sungguh, Ini adalah kebenaran yang sangat menyakitkan. Aku mencoba mendikte kepala dan hatiku, bahwa semua ini hanya ilusi optik. Tidak... Mereka tidak mirip sama sekali.

__ADS_1


[Dew? menurut kamu... Mereka berdua mirip nggak?]


Aku mengetik balasan pesan di bawah foto yang Dewi kirim.


[Kalau aku jujur, Mbak Ludira benaran bisa menerima? Jangan mbak... Jangan paksa hati mbak untuk menerima kebenaran kalau belum benar-benar siap.]


Sudaaaah, siap atau tidak siap. Jawaban ini membuat bahuku terkulai lemas.


[Jadi sungguh mirip?]


Dewi mengetik lama sekali,


[Iya.]


Kaaan, ini anak pasti banyak berfikir. Bagaimana bisa mengetik lama sekali tapi ujung ujungnya hanya satu kata.


[Aku sedang belajar untuk berfikir terbuka dengan kenyataan ini, Dew.]


Dewi mengetik,


[Mau jujur tapi takut bikin mbaknya hancur.]


Hahahaha, aku tertawa sumbang.


[Aku udah hancur, Dew. Berasa hilang kredibilitas sayaaa.]


[Berlebihan aah. Mbak masih the best of the best. Cinta emang gitu kan mbak? Bikin rumit hidup yang emang sudah rumit. Makanya aku nggak maunjatuh cinta.]


Dasar perempuan,


[Kamu ahli matematika aja ngomong kalau cinta rumit.]


[Matematika itu penuh kejelasan, Mbak. Sedangkan Cinta? yang aku kira kejelasan eeeh ternyata ketidak pastian. Ancur dah ancur.]


Aku tertawa geli,


[Curhat deeeeh. Pinter banget usahanya buat keluar dari topik permasalahan.]


Aku merasa beruntung, memiliki orang orang terdekat, teman yang begitu baik sekaligus tulus dan berdedikasi dalam hubungan ini. Mereka tidak segan bertanya namun juga tahu batas di mana sekiranya aku mampu menerima atau tidak. Namun tetap saja banyak faktor yang menjadi sebab aku begitu takut dengan kenyataan. Kehilangan membuatku rapuh dan hilang arah tujuan.

__ADS_1


__ADS_2