
Berbicara bersama Narendra seperti ini, kenapa hatiku tidak bergetar seperti dulu. Kenapa aku tidak salah tingkah seperti dulu. Kenapa tidak ada getar cemburu, justru hatiku ... Perasaanku begitu muak dan bosan. Semudah itukah perasaan ku menguap, hilang dan meninggalkan jejak.
Ya Tuhan,
Kenapa aku jadi tidak jelas seperti ini.
"Narendra?" panggil ku pelan. Tubuh yang mulai berjalan meninggalkan aku duduk sendiri itu berhenti dan menoleh ke belakang.
"Hmmm,"
"Apakah depresi itu menular?" tanyaku bodoh.
"Hahahahaha. Kamu ini salah satu perempuan paling cerdas yang aku kenal, Mbak Ludira. Bagaimana bisa bertanya seperti itu!" ejek Narendra dengan wajah khas bercandanya.
Aku tersenyum, Narendra ceria dan riang kini kembali. Mungkin aku terlalu sibuk dengan mempermasalahkan sesuatu yang tidak perlu. Mungkin aku terlalu keras tentang Shofia. Aku yang membuat semua ini jadi semakin rumit.
"Ren? Jadi mau pulang? Nggak makan malam disini sekalian?"
"Aku rindu Ludira yang dulu, yang nggak akan mudah menawarkan hal sederhana seperti itu."
Aku tentu saja terkejut. "Banyak hal yang sudah berubah semenjak kamu masuk dalam hidupku, Narendra. Aku sendiri juga rindu diriku yang dulu." cibir ku. Aku yang dulu tidak akan mencibir seperti ini. Tidak akan menyalahkan seperti ini.
"Lebih manusiawi," Sahut pria itu setelah tertawa. Membuatku akhirnya ikut tersenyum. "Jadi?" tanya pria itu menggantung.
"Jadi apa?"
"Jadi soal kita bagaimana?"
"Kita jalani saja deh, Ren. Saya nggak tahu harus seperti apa."
"Cieee, pakai saya saya lagi. Hahahaha. Di tegur sedikit aja sudah gitu ya." sahut pria itu sambil tertawa lucu. "Aku harus panggil mbak lagi dong."
Aku lebih nyaman kita seperti ini, Narendra. Tertawa bersama. Tidak memusingkan soal perasaan.
"Aku merindukan kita yang dulu, Ra. Sebelum aku terlalu memaksa untuk diterima kamu."
"Aku juga, Narendra."
"Kita sudah memutuskan bersama, aku memastikan hatiku terlebih dahulu kan?"
Aku mengangguk. "Kita masih bisa bersahabat terlebih dahulu."
"Oh ya! Bu Dosen--" Narendra menoleh kembali ke arahku, dengan wajah jenakanya. "Ternyata, Bu Dosen yang luar biasa, image nya tidak pernah ternoda. Memiliki sisi yang membosankan juga. Terus menerus mengulang sesuatu yang seharusnya sudah selesai. Menolak paham atas sesuatu yang sudah di jelaskan berulang ulang kali. Menggenggam erat ketakutan yang sebenarnya itu nggak perlu sama sekali. Apalagi saat dalam kondisi tertekan dan gelisah seperti ini, jadi kacau. Mungkin nanti, jadi istri yang tidak akan pernah melupakan kesalahan yang di perbuatan oleh suaminya ya? Bisa bisa, kesalahan beberapa tahun lalu di ungkit ungkit terus." jelas Pria itu membuatku begitu malu. "Tapi bagaimana pun. Aku tetap suka! Bye, Assalamu'alaikum!" ucap Narendra dengan senyum cerahnya.
Kali ini, aku tidak mengantarkan pria itu seperti biasanya. Aku masih duduk di tempat ku. Dengan wajah yang begitu geli ingin tersenyum, tidak selaras dengan rasa malu yang aku rasakan.
****
"Assalamu'alaikum!"
Tanganku yang sedang meletakkan piring berisi steak untuk makan malam bersama anak anak, berhenti sejenak. Kemudian kembali bergerak menaruh di dekat Aksara dan Juga Almeera yang sedang menjawab salam dari suara berat Syailendra.
"Papaaa! Waalaikumsalam!"
"Waalaikumsalam, Om!"
"Lagi mau makan apa nih?" tanya Syailendra yang entah sejak kapan sudah berada di dekatku.
"Daging!" jawab Almeera dengan suara bercandanya.
"Daging Sapi Panggang, Pah!" jawab Aksara, meneruskan kata Almeera. Mereka bertiga nyengir gitu. Sedangkan aku cuma diam. Beranjang meninggalkan mereka dan mengambil satu piring yang masih tertinggal di dapur. Piring berisi daging bikinan ku.
"Kok nggak ikut jawab salam?" Protes Syailendra pelan. Rupanya dia mengikuti aku masuk ke dapur. "Anak anak udah makan dulu. Aku buatin juga dong." pinta Syailendra, entah sejak kapan sudah berada di sampingku.
"Masih marah ya?" tanya Syailendra dengan nada prihatin. Aku abai. Mengabaikan pria itu. Dan kembali ke ruang makan sambil membawa piring.
"Om sudah makan?" tanya Almeera, begitu Syailendra mengikuti ku duduk di kursi. Tanpa membawa piring.
"Hmmm, belum hehehe. Kalau om minta tolong sama kakak dan adik gimana? Mau?" tanya Syailendra. Aku hanya melirik ke adah Syailendra sekilas.
"Iya Pa?"
"Why? Kenapa, Om?"
"Habis makan langsung ke kamar ya, terus di dalem kamar, dengerin musik. Papa mau bicara penting sama Mama!" sahut Syailendra, kemudian memandang ke arahku. Namun aku masih memilih diam. Menikmati makanan di depan ku.
__ADS_1
"Good Luck, Om!"
"Makasih, Cantik."
Aku sekilas melihat, Almeera menyentuh tangan Aksara begitu adik kecilnya itu akan berbicara sesuatu. Dengan senyuman khasnya, Almeera memberikan peringatan yang sepertinya langsung di mengerti oleh Aksara.
Begitu mereka selesai makan, seperti permintaan Syailendra. Mereka pamit ke kamar terlebih dahulu. Mencium pipiku dan melambaikan tangan ke pada Syailendra.
"Bye, Papa!"
"Nanti Papa ke Kamar kok. Jagain Adek dulu ya Kak!"
"Siap, Om!"
Aku meninggalkan Syailendra yang menatap ke arah anak anak sampai mereka tidak kelihatan lagi. Membawa piring bekas kami makan ke dapur dan mencucinya.
"Hey, jangan diam gini dong." bisik Syailendra di sampingku.
"Alasanku kenapa besok ke Jepang, karena urusan pekerjaan. Terus kenapa harus bawa Aksara juga. Hmmm. Aku kesepian, Ra."
Aku membasuh tanganku dan mengeringkan nya. Menarik nafas perlahan dan menghembuskan nya juga perlahan.
"Tapi kalau Aksara ikut di sana, dia mau sama siapa? Pengasuh? Kamunya pasti sibuk kerja, Maa." sahutku dengan suara serak.
"Duduk dulu yuk, duduk di belakang? Sambil lihat langit malam? Biar lebih tenang? Iya?" bujuk Syailendra dengan suara yang begitu menenangkan.
Lagi-lagi aku mengangguk. Kemarahan yang begitu memuncak kini hilang entah ke mana. Kenapa gini amat ya kalau lagi sama Syailendra.
"Berat banget gitu ih, nafas aja sampai gitu! Aku buatin cokelat panas dulu ya, tunggu di sana bentar" ujar Syailendra.
"Aku aja yang buat. Kamu bisa mulai cerita dari sekarang."
"Ayolah, Ra! Wajah kamu suram banget loh. Lagi pula aku nggak mau kamu pingsan lagi."
Aku mendengus kesal. "Parah kamu, Mas. Tau aku pingsan bukannya di bantu buat bangun, sadar lagi, eh malah di tinggalin entah kemana." Marahku. Kecewa aja, pas sadar dianya nggak ada.
"Udah ada Narendra" sahut pria itu pelan.
"Narendra bilang kalau aku memiliki sisi membosankan. Mengulang ulang apa yang seharusnya nggak perlu lagi di bahas." entah kenapa, mulutku ini ringan sekali kalau soal mengadu ke Syailendra.
Aku yang sedang membuat cokelat panas, tiba tiba berhenti saking terkejut nya. Memandang ke arah Syailendra kesal.
"Manyun gitu imut banget loh! Hahahaha. Emang benar kan? Kamu gitu. Aku mah sudah hafal sih, kamu orangnya gimana ya kadang labil banget. Heran aku tuh! Sok kuat tapi ujung ujungnya ribet sendiri. Sok menerima tapi justru keadaan yang emang udah rumit di buat semakin rumit." Syailendra berhenti berbicara dan tersenyum manis. Sorot matanya begitu sukar aku artikan. "Aku yang buat aja, kamu dengerin aku ngomong." Titah Syailendra.
"Soal Shofia dan Narendra itu kamu justru meributkan gimana kalau mereka bersama. Padahal kamu bilang ke aku mau menerima, toh itu masa depan. Harusnya kamu udah, lepas aja. Nggak perlu ngabisin tenang buat ketakutan yang nggak jelas itu. Fokus ke Narendra yang katanya mau berdamai dengan masa lalu, yang mulai kembali bertemu dengan Shofia, itu juga syarat dari kamu kan? Bodoh!" runtuk Syailendra.
Aku mundur ke belakang begitu tangan pria itu sepertinya mau menyentuh kepalaku. "Kamu hobi banget nyentuh nyentuh!" sahutku sambil mengerutkan kening.
"Sorry!" ujar Syailendra, meringis.
"Harusnya kamu tuh kalau mau menerima Narendra, ya udah biarin Narendra seperti saat ini. Dia nggak mau kontak lagi dengan Shofia, justru menguntungkan kamu." sahut pria itu.
"Tapi nggak bisa gitu kan!"
"Yelaaah, kamu dan pikiran rumit mu itu. Terus nih, masalah Kakak. Nggak perlu di buat rumit. Kamu bilang nggak setuju, dia nggak akan nolak. Hidup kamu sudah rumit, Ra. Jangan di persulit."
Aku menunduk. Seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan. Tanpa aku sadari, aku juga sejak tadi meremas jari jariku.
"Kamu pasti merasa hancur sekali ya saat aku bilang mau ke Jepang sama Aksara besok. Pasti kamu merasa kalau harusnya aku tanya pendapat kamu dulu soal ini, iya kan ?"
Aku mengangguk.
"Tolong, gelasnya!" Pinta Syailendra. Aku mengambilkan dua mug, dan dia mengucapkan Terima kasih.
"Raa, aku kebayang soal omongan Narendra soal aku yang tidak bisa menghormati kamu. Makanya aku berusaha menjauh dari kamu, Ra. Susah, Ra. Buat aku tetap di sini. Bawaannya pengen nempel sama kamu mulu. Nggak baik buat kita semua" suara Syailendra lirih.
"Aku juga merasakan hal itu."
"Yuk, pindah belakang. Aku bawain gelasnya."
Aku ikut aja. Kami berjalan ke arah belakang rumah. Duduk di sana sambil menatap langit yang kebetulan begitu ramai bintang bintang.
"Aku nggak tanya pendapat kamu dulu, bukan berarti kamu nggak penting buat aku, Ra. Aku nggak mau hati aku, perasaan aku semakin ketergantungan sama kamu. Aku nggak mau terlalu percaya diri kalau aku sepenting itu buat kamu, siapa sih aku? Iya kan?" tanya Syailendra. Begitu kami duduk di kursi.
"Kamu udah seperti abang aku sendiri, Mas!" sentak ku. Membela diri.
__ADS_1
"Terus Narendra adik kamu gitu? Hahahaha. Lucu ah!"
"Dih! Bilang aja emang kamu tetap nganggep aku orang asing!"
Suaraku bergetar. Tenggorokanku tercekat. Duh, jangan nangis deh. Jangaaan.
"Aku pengen peluk kamu, sumpah!" ucap Syailendra, membuat aku menoleh ke arah dia. Kami saling menatap. "Tapi aku udah janji, buat menahan sekuat mungkin."
Aku menghembuskan nafas berat. Lagi lagi terasa aneh sekali.
"Terus kenapa kamu harus bawa Aksara, Bang? Kamu kesepian? Yang benar saja! Alasan paling konyol dan alasan yang paling nggak terpikir oleh ku."
"Banyak hal yang nggak kamu ketahui, Ra. Aku benar benar kesepian. Siialnya, aku memang baru merasakan ini setelah mengenal kamu."
Aku membuang muka sebelum akhirnya mengambil mug berisi cokelat panas buatan Syailendra. Menghirup aromanya dan meneguk perlahan.
"Aku tahu, mas. Kamu nggak akan pernah kekurangan ataupun bingung karena nggak ada wanita yang mau mengusir rasa sepimu." sahutku pelan. Syailendra, bad boy yang profesional.
"Emang! Tapi nyatanya? Nggak semua keadaan itu tetap sama Ra!" sahut Syailendra dengan nada tinggi. Pria itu mengusap wajahnya kesal.
"Kalau aku di sini terus juga nggak baik buat hubungan kamu dan Narendra!"
"Tapi kamu juga tahu kan? Almeera minta melanjutkan di mana? Kamu setega itu sama aku, Mas!" sentak ku keras. "Nggak usah ketawa!" bentak ku kemudian.
Bagaimana bisa dia tertawa di saat seperti ini? Bagian mana yang lucu?
"Kita seperti suami istri yang sedang ribut karena berebut gak asuh anak!" Syailendra masih tertawa. Pandangannya begitu hangat kepadaku.
"Nggak nyambung!" cibirku.
Syailendra masih tersenyum lucu sambil menikmati cokelat panas yang di genggam. Harusnya aku marah, gelisah, galau. Entah kenapa, saat ini justru terasa damai hanya dengan berbicara seperti ini dengan Syailendra. Perasaan aneh yang begitu menganggu. Sebenarnya ada apa dengan diriku ini. Otak ku juga kembali normal.
"Kamu sama Narendra gimana? Jadi bersama kan?" tanya pria itu tiba-tiba. Mengusir kesunyian di antara kami.
"Aku heran, Mas. Saat sama Narendra, bawaannya rumit banget ini isi otak. Perasaan juga kacau. Tapi kalau di tanya sama kamu gini, aku tuh lancar gitu mikirnya. Nggak tau kenapa aku mau jawab pertanyaan kamu gini, ya! Mungkin lebih baik kalau aku sama Narendra, tunangan dulu." curhatku apa adanya. "Padahal kenyataannya, nggak gitu mas. Aku kalau ngobrol berdua sama Narendra bawaannya mau nolak pria itu terus. Ngomongin hal yang nggak berguna. Muter muter mulu." Lega rasanya. Bisa mengeluarkan apa yang membuat aku gelisah.
Syailendra menggenggam erat cangkirnya. "Kamu ibadahnya tetap rajin kan?" tanya Syailendra.
Apa hubungannya?
"Apaan sih, Bang! Nggak nyambung!" ucapku sambil mengerutkan kening.
"Aku tanya, jawab aja!"
"Ya seperti biasa. Gini gini aja."
"Kamu ilfil sama Narendra?" tanya pria itu lagi. Aku mengangguk.
"Aku ngerasa gitu kalau lagi sama dia. Tapi kalau lagi gini, gimana ya bang? Aku sampai ngerasa kalau aku tuh sakit mental."
"Ngaco kamu! Udah, aku nggak jadi ke Jepang besok." sahut Syailendra dengan nada suara yang khawatir.
Apa yang bikin khawatir?
"Tapi--"
"Nggak tapi tapian. Kamu istirahat saja. Seneng kan? Aku nggak jadi ke Jepang?"
"Ehh?" Aku mengerutkan kening, bingung. "Eh iya, senang sih. Tapi kamu kok khawatir gitu."
"Nggak Papa, khawatir kamu tertekan. Sudah ya? Aku pamit."
"Pamit?"
"Iya! Aku nggak tidur di sini. Banyak banyakin minta perlindungan sama Alloh ya!"
Aku mengangguk, meskipun tidak paham maksudnya apa.
"Aku pamit. Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam! Ke kamar anak anak dulu, Mas. Pamit sama mereka."
Pria itu tersenyum dan mengangguk. Kami berdiri, dan berjalan bersama ke arah kamar anak anak.
****
__ADS_1