
"Assalamu'alaikum, Selamat pagi! Paket makanan dari Ibu!"
"Wa'alaikumsalam, selamat pagi juga. Makasih ya. Dingin dingin gini mau saja jadi kurir"
Di depanku, berdiri pria yang memiliki average body shape . Pria dengan bentuk tubuh yang sama mulai dari tubuh bagian atas dan bawahnya. Tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Narendra memiliki proporsi tubuh yang pas. Terlebih sekarang dia memakai kaos dengan ukuran yang pas ditubuhnya jadi semakin menunjukkan proporsi tubuhnya dengan baik.
Pagi ini hujan. Sudah sejak tadi malam hujan turun terus menerus. Dari gerimis lalu hujan sedang lalu gerimis lagi. Bahkan sekarang ini meskipun waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, langit masih saja mendung. Masih terlihat gelap. Untung saja sekarang akhir pekan jadi aku dan juga anak anak bisa santai.
Begitu santainya sampai malas malas deh jatuhnya. Almeera masih memakai baju tidur, piyama motif Minions yang kembaran sama si adek. Duduk setengah tiduran di sofa sambil memakai selimut tipis, menonton serial kartun di televisi. Begitu bingkisan yang berada di tangan Narendra berpindah kepadaku, pria itu berlari kecil menuju tempat anak-anak.
Aku masih berdiri di tempat yang sama, tersenyum memandang punggung Narendra. Istirahat memang membuat pikiran kembali jernih, aku tidak lagi mempermasalahkan Syailendra yang sampai jam segini belum menghubungi kembali padahal dia sudah berjanji akan menghubungi Aksara pagi pagi. Aku memutuskan untuk membiarkannya, tidak lagi menagih janji, kalau dia memang berniat menghubungi putranya, tanpa di ingatkan pun dia akan menghubungi Aksara.
"Mbok, tolong ya!" pintaku sambil mengulurkan bingkisan dari Ibu Basuki. Simbok mengangguk pelan. Aku yang sudah berada di dapur, membuatkan tiga gelas susu kedelai, satu rasa melon, satunya cokelat dan satunya murni. Tiga selera yang berbeda-beda.
Tidak lama kemudian setelah semuanya siap, aku membawa gelas gelas itu ke ruangan tempat mereka sedang berkumpul. Almeera sudah duduk samping bersandar di dada Narendra. Aksara berada di pelukan dan juga pangkuan Narendra. Pemandangan yang membuat hatiku terasa hangat. Aku meletakkan pelan gelas gelas itu di meja lalu memilih duduk di samping Narendra, di sisi lain Almeera. Mereka berdua, Anak-anak mengabaikan aku. Masuk saja sibuk dengan apa yang mereka lihat. Sedangkan Narendra menoleh dan tersenyum.
"Hal mewah yang dulu begitu tidak terjangkau oleh ku, bahkan berharap saja tidak berani." bisik Narendra. Aku menoleh, dan tersenyum.
"Aku juga" batinku. Hangat ruangan ini, membuat kenangan ku berteriak liar. Begitu melihatmu bersama anak anak, aku sempat berhenti. Hanya untuk menatap kalian lebih lama. Wajahmu, Ren. Wajahmu terlalu mirip, menerjang ingatan yang meskipun telah kusut tetap tak pernah surut maupun redup. Perlahan wajahmu berubah menjadi dia, dia tersenyum. Bercengkerama dengan putri kesayangannya sambil tidak lupa pada putra kebanggaannya. Ah, Narendra. Kita adalah dua orang yang sama sama terluka. Yang berjuang untuk pulih dan bertemu cahaya.
"Sebentar, Dek." sahut Narendra kepada Almeera dan juga Aksara, membuat Almeera tidak lagi menyandar dan Aksara berpindah ke pangkuan ku. Sedangkan Narendra sedang berusaha mengeluarkan ponsel dari sakunya. "Dari Bang Lendra." ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel dan jarinya menggeser layar tersebut.
"Papaaaaaa!" teriak Aksara penuh kenahagiaan. Begitu wajah Papanya muncul di layar ponsel Narendra. Sedangkan aku? Yang berada di samping Narendra, mencengkeram kain bajuku erat. Kesal!
"Assalamualaikum, Bang!" sapa Narendra sambil menjauhkan ponselnya, bermaksud supaya Syailendra bisa melihat kami semua. Bahkan Almeera melambaikan tangan dengan senyum cerianya. Sedangkan aku memandang ke arah Syailendra dengan wajah tanpa ekspresi. Lebih mendekat ke arah Narendra supaya wajahku bisa terlihat di kamera. Begitu aku melihat wajah pria itu yang tersenyum, kedua alisku kontak naik ke atas, kesal. Kecewa.
"Hay semuaa. Waaah, family time nih yeeee. Nih, jadi seperti lagi gangguin keluarga berencana ya? Dua anak cukup! Hahahaha." Suara tawa Syailendra menggelegar. Membuatku mendengus.
"Aku mau siapin sarapan dulu ya." bisik ku arah Narendra. Pria itu menoleh dan mengangguk.
"Wiuuuuhhhh, sah pokoknya. Nikah aja deh." teriak Syailendra sembarangan. Membuatku melotot. Ini orang! Mulutnya duh! Ada anak anak. Dari pada kesal, aku meninggalkan mereka ke dapur.
"Sudah siap semua, Bu." lapor simbok begitu aku menghampiri nya.
"Simbok sarapan dulu sama mamang, nggak papa. Ini sepertinya masih lama deh."
"Di belakang saja ya, Bu?"
"Terserah simbok saja, mana yang nyaman."
Aku tersenyum. Beliau juga tersenyum. Ternyata bingkisan yang di kirim ini Basuki cukup banyak. Jadi teringat menghubungi beliau.
"Assalamu'alaikum, Bu." sapa ku begitu tersambung.
"Waalaikumsalam, sayang. Sudah sampai?"
"Sudah sampai meja makan inih, cuma kita belum sarapan, Bu. Anak-anak sama Narendra masih asyik ngobrol video call sama mas Lendra."
"Oh gituu. Siang nanti, Almeera nemani ibu sama bapak buat ke tempat Pak Joko ya? Punya cucu katanya."
Hmmmm, apa nggak berlebihan ya selama ini selalu di ajak ke acara acara kaya gitu. Mau nggak kasih izin tapi nggak enak, kasih izin tapi juga nggak enak.
"Ra? Dira bingung lagi ya? Masa gini terus kalah ibu minta izin ajak cucu ibu."
Duh, mulai ngambek deh.
"Kayanya udah terlalu sering deh, Bu. Dira nggak enak aja sih kalau jadinya nanti banyak kabar macem macem."
"Tenang aja ah. Kalau ada yang berani gitu, biar Bapak yang ngadepin. Bapak lebih milih ngadepin orang-orang itu daripada ngadepin istri bapak ngambek karena nggak di kasih izin buat bawa cucunya kemana-mana. Di pamerin ke teman temannya." suara Pak. Basuki terdengar melucu. Aku tertawa, begitu juga beliau.
"Paaaak! Udah di tutup aja, udah di bolehin kok sama Dira!" teriak Ibu Basuki. Suaranya terlalu jauh.
"Begitu kamu diam saja, ini ponsel di lempar ke bapak, untung saja walaupun sudah tua, bapak masih gesit. Hahahaha."
Aku ikut tertawa.
"Sudah dulu ya, nanti kami jemput."
"Pak?" kataku cepat.
"Iya?"
"Kenapa nggak sama Aksara juga?" tanyaku lirih.
"Kesal ya? Kamu nggak terima ya kalau putra mu nggak di ajak juga? Merasa kesal, hahahaha. Dira... Dira. Kamu memang mamanya Aksara ya? Hebat!"
Aku tersenyum malu. Iya sih, nggak terima aja. Berasa nggak di anggap kan?
"Nggak boleh sama Syailendra. Kalau nggak sama dia." ucap Pak Basuki mantap.
Eh?
Kenapa?
__ADS_1
"Alasannya tanya ke Syailendra langsung ya? Bapak aja nggak tahu. Udah dulu ya? Itu istri Bapak sibuk ngomel mulu. Hahahaha."
"Iya, Pak."
Aku menjawab salam sambil tertawa kecil. Kemudian menutup panggilan. Dan meletakkan ponsel ke saku kembali.
"Raa?"
Aku hampir saja melompat karena terkejut. Ternyata Narendra sedang berdiri di samping ku.
"Sejak kapan di situ?" tanyaku pelan.
"Sejak kamu bengong. Mikirin apa sih?" tanya pria itu khawatir.
"Nggak kok, cuma tadi ibu mau ngajak Kakak ke rumah pak Joko."
"Ooh, biarin saja."
"Hmmmm"
"Nggak usah mikir aneh aneh."
"Iya iya. Oh ya, kemarin gimana ceritanya? Soal bertemu dia?" tanyaku. Teringat dengan pesan yang salah terkirim ke Syailendra.
"Nanti aku cerita. Laper nih, anak-anak di ajak sarapan yuk."
"Syailendra?"
"Udah di tutup kok panggilannya."
Aku mengangguk dan berjalan menghampiri anak anak.
Duh, mereka belum ada yang mandi. Kan, jadinya lupa tadi padahal mau nyuruh mereka mandi terus sarapan. Bisa-bisa mereka mandi siang nih.
Sambil mengunyah sarapan ku, mataku tidak bisa lepas dari Narendra dan juga anak-anak. Memandangi mereka bergantian. Narendra yang memakai baju santai, jadi lebih terlihat begitu alami berperan sebagai ayah yang baik. Ngomel-ngomel sambil menepuk tangan Almeera yang berkali-kali ingin menambah sambal ke piringnya. Begitu kakaknya kesal dan cemberut karena di larang mengambil sambal, Aksara tertawa.
Harmonis, bukan?
****
Sinar matahari siang ini begitu terik, padahal tadi pagi gerimis, sejak tadi malam langit terus saja menjatuhkan air hujan. Siang ini, Almeera sudah siap dengan penampilan yang begitu manis. Siap dijemput oleh eyangnya, pasangan Basuki. Orang tua Narendra.
Sudah sebesar ini, Mas. Putrimu.
Seperti ada pukulan tak kasat mata di dadaku, membuat nafasku begitu sesak dan juga berat. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri dengan mengukir senyuman di bibir, pandanganku yang terpusat kepada Almeera, aku alihkan ke arah Aksara yang mengacungkan kedua jempolnya. Ke arah Almeera, kakaknya. Mataku juga melirik ke arah Narendra yang bersedekah dengan senyuman merekah sempurna, dia bahagia. Juga bangga.
Wajah ini, wajah Narendra begitu mirip dengan Almarhum Mas Dodi. Mendorong pedih yang sudah berada di tenggorokan naik ke atas, ke arah kedua mataku.
Mas? Kamu juga iya kan? Bahagia melihat putri kita tumbuh menjadi perempuan yang luar biasa seperti ini?
Lagi lagi, bayangan keluarga harmonis yang sempurna tercetak di kepalaku. Kakak perempuan yang begitu menyayangi adik laki-laki nya, adik kecil yang begitu memuja kakaknya. Suami yang bahagia, bangga memiliki kami sebagai keluarga.
Tes.
Air mataku menetes dalam keheningan. Secepat mungkin, aku mengusap kasar air mata itu. Bersyukur tidak ada yang menyadari nya, karena mereka asyik berbicara satu sama lainnya. Beruntung, suara bel pintu menyelamatkan aku dari kondisi memilukan ini.
"Sepertinya Ibu sama Bapak!" ujar Narendra ke arahku. "Biar aku saja yang buka pintunya." sambungnya.
"Aku saja, Ren." sanggah ku. Narendra mengangguk dan tersenyum. Mempersilahkan.
Ternyata memang benar, pasangan Basuki. Begitu aku membuka pintu, Ibu Basuki dengan penuh semangat, "Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam, Ibu." jawabku sambil membalas pelukan Perempuan Sepuh yang penuh kegembiraan itu. Beliau begitu memperlihatkan perasaan betapa semangatnya mengajak Almeera, putriku. Pergi mengunjungi rekan beliau. Sesuatu yang terlalu intim bagiku.
Apa yang akan beliau jelaskan jika mereka menanyakan siapa Almeera?
Pertanyaan yang masih terus berputar-putar di kepalaku dan juga mengganggu ketenangan ku selama ini.
"Bapak," sapa ku.
"Ayo masuk, Pak.. Bu. Almeera sudah siap kok." ujar ku, mempersilahkan merka masuk.
"Mereka di mana?" tanya Pak Basuki tenang, menurutku yang sudah terbiasa dengan beliau, ini adalah hal biasa. Ekspresi beliau yang datar dan dingin itu hal yang biasa. Padahal beliau aslinya baik hati dan pribadi yang hangat. Tipe suami yang rela terjajah oleh istrinya sendiri. Hahahaha.
"Di tengah ya, Dira? Ibu ke sana yaa!" Ibu Basuki mendahului diriku yang susah membuka mulut. Bahkan Ibu Basuki langsung berjalan cepat ke arah anak anak. Sedangkan aku secara reflek bertukar padangan dengan Pak Basuki.
"Hahahaha."
"Hahahaha. Duh, istriku itu memang menggemaskan sekali kan Nak?"
Aku mengangguk sambil tersenyum bahagia. Meskipun sudah sepuh, sudah berumah tangga puluhan tahun, namun binar binar cinta yang terpancar di wajah Pak Basuki masih begitu besar. Tidak jaim untuk memperlihatkan cintanya kepada sang istri, seakan tidak pernah lelah meyakinkan semua orang tentang berapa beliau mencintai perempuan yang menjadi pasangannya itu.
"Bapak duduk di sini saja, nggak papa ya Dira?" tanya Pak Basuki, begitu beliau mendaratkan tubuhnya di atas sofa.
__ADS_1
"Iya, Pak. Bapak sama Ibu mau minum dulu? Atau butuh sesuatu?"
"Nggak usah. Kamu susul Ibu saja sana, kita langsung berangkat saja."
Aku mengangguk dan berjalan perlahan meninggalkan Pak Basuki. Hingga baru beberapa langkah, aku terhenti oleh panggilan Pak Basuki.
"Ludira?"
Aku menoleh ke arah beliau.
"Iya, Pak?" jawabku.
"Tidak akan pernah ada yang memaksa kamu menerima Narendra, meskipun Narendra adalah putra bungsu dan kesayangan kami."
Aku tersentak kaget. Namun berhasil dengan cepat menguasai diriku sendiri.
"Terima kasih, sudah menyayangi saya dan Almeera dengan penuh ketulusan." ujar ku sungguh-sungguh.
"Terima kasih juga sudah menjadi sosok Ibu yang begitu hebat untuk Almeera dan Aksara."
Aku mengangguk dan tersenyum hari sebelum kembali melanjutkan langkah kakiku.
"Bapak ya yang nyuruh buat nyusul Ibu? Nggak sabaran banget sih itu bapak kamu!" gerutu Ibu Basuki dengan wajah lucunya. Membuat aku tertawa kecil.
"Ibuu." desah ku sambil memeluk tubuh Ibu Basuki. Hangat dan nyaman. Ibu Basuki mengelus tanganku yang melingkari tubuhnya dengan penuh kasih sayang.
Kami sangat dekat, menurutku begitu. Beda sekali dengan gambaran Ibu versi Silvia, perlakuan Ibu kepada Silvia, walaupun Silvia dan Ibu sudah mengenal bertahun-tahun lamanya. Bahkan mungkin sejak Silvia bayi.
"Kita berangkat ya, ayo Kak!" ajak Ibu Basuki sambil menggenggam tangan Almeera, begitu aku melepaskan pelukanku.
"Ayo, Eyang." jawab Almeera dengan antusias.
"Hati-hati ya Eyaaang, Kakaaak!" sahut Aksara dengan wajah yang berseri-seri.
"Dadaaah, Adek!"
Aksara membalas lambaian tangan Almeera. Sedangkan Narendra masih duduk di tempatnya dengan kebanggaan dan kebahagiaan yang begitu bersinar. Sorot matanya meskipun mengarah kepada kami, tetap saja menerawang jauh.
"Adek nggak kepengen ikut Eyang sama Kakak nih?" tanyaku sambil berlutut di depan Aksara, mensejajarkan pandangan kami berdua.
Bagaimanapun, aku sempat khawatir. Takut kalau putraku ini, merasa berkecil hati karena Almeera yang lebih sering di ajak pergi ke acara acara formal oleh Ibu dan Pak Basuki, Eyangnya Aksara.
"Aksara yang lebih berhak di posisi itu dari pada Almeera." batinku sedih.
"Enggak." ujar Aksara sambil menggelengkan kepala. "Kata Papa, Aksara nggak boleh ikut Eyang Basuki kalau nggak sama Papa. Tapi kalau cuma jalan jalan, boleh." sambung bocah kecil itu dengan wajah yang tenang, yakin dan dewasa. Berkarakter.
"Sayang tahu kenapa Papa bilang gitu?" tanyaku hati-hati. Setahuku selama ini ternyata Syailendra tidak pernah hanya memberikan peringatan tanpa penjelasan yang tepat.
Aksara mengangguk. "Nanti ngrepotin Eyang, kan Aksara masih kecil. Masa Eyang harus bawa bawa anak kecil. Terus katanya Papa, kalau Aksara sudah terbiasa ikut sama Eyang. Papa jadi berasa bersalah karena tidak bisa jadi Papa yang baik. Katanya Papa, harusnya Papa yang ngajak Aksara buat kenalan sama teman teman keluarga." Jelas bocah kecil itu dengan lancar.
Sedangkan aku terpaku. Menyadari kalau Aksara, bocah menggemaskan ini terlalu dituntut dewasa oleh Papanya sendiri. Dan beruntunglah Syailendra, memiliki putra semata wayang yang memang istimewa.
Aku merengkuh tubuh mungil itu ke pelukanku, mengusap usap rambutnya dan juga punggungnya. "Tante banggaaa sekali bisa mengenal Aksara, bisa tinggal bareng sama Aksara. Terima kasih ya, Aksara sudah jadi anak yang hebat sekalii." bisik ku pelan.
Aku melepas pelukanku dan memegang kedua pipi Aksara. Mengamati setiap inci wajah mungil ini. Matanya tidak setajam Syailendra, mungkin warisan ibunya.
"Hari ini, Aksara mau kemana?" tanyaku.
"Nonton film boleh?" tanya Aksara hati-hati. Sambil tersenyum malu.
Aku mengangguk. Memegang lembut bahunya. "Boleh, dong. Apa lagi?" tanyaku antusias. Terlebih wajah Aksara semakin berseri-seri bahagia. Bagiku, ini adalah keberuntungan yang luar biasa.
Sejenak, aku menoleh ke arah Narendra yang memandangku dengan sorot mata yang sulit ku artikan. Senyumnya terlalu memukau, membuatku jadi tersenyum malu malu. Salah tingkah.
"Duh, Ludira." batinku.
"Jalan jalan ke taman kota ya, Ntee? Mainan di sana saja. Terus nanti beli jagung buat di rebus. Aksara sudah lama sekali nggak makan jagung rebus buatan Ntee." keluh Aksara.
Aku tersenyum, mengangguk. "Nggak minta beli mainan? Belanja snack atau jajan? Eskrim mungkin?" tanyaku beruntun.
Ayolah, aku pengen lihat Aksara seperti anak anak yang lainnya. Merengek minta mainan atau minta ini itu yang bikin orang tuanya gereget. Dia selama ini terlalu manis dan imut.
"Mainan yang di belikan Papa masih banyak kok yang belum di buka, Ntee."
Ah, Syailendra! Selalu saja pengen mengumpat setiap dengar nama pria itu. Terlebih tadi pagi? Janjinya ke siapa, eh... Menghubunginya ke siapa? Apa kurang menyebalkan!
"Om Narendra boleh ikut nggak?" tanya Narendra pelan, entah sejak kapan sudah berada di sampingku.
"Boleh doooong!" teriak bahagia Aksara.
Aku berdiri, begitu tubuh kecil Aksara sudah di angkat oleh Narendra ke gendongannya. Narendra menggelitik tubuh Aksara dengan wajahnya. Membuat kami semua tertawa. Namun, entah mengapa, ada rasa kecewa di ulu hati ini. Bukan ... Bukan karena alasan seperti biasanya. Aku yang mengharap almarhum papanya Almeera yang di sini. Melainkan, Syailendra. Harusnya dia ... Dia yang sedang menikmati akhir pekan dengan kami.
Ku tepis perasaan itu dengan cepat. Tidak akan aku biarkan meskipun kekecewaan yang hadir dalam hatiku karena Syailendra. Pria menyebalkan, hidung belang! Playboy! Badboy! Sosok ayah yang nggak peka sama sekali dengan kerinduan putranya sendiri. Huuh!
__ADS_1
Bisa-bisanya dia lebih memilih menghubungi Narendra padahal aku sudah menunggu dia menghubungiku selama ini. Bagaimana bisa dia lebih memilih Narendra di bandingkan diriku? Bagaimana bisa di lebih membutuhkan orang lain untuk menanyakan kabar putranya di bandingkan aku yang selama ini standby melototi layar ponsel, berharap pria itu mengirimkan pesan singkat mengenai kabarnya sendiri dan juga menanyakan kabar kami. Ah, bukan kami. Tapi Aksara. Ternyata, meskipun aku berusaha sangat keras menepis perasaan ini. Aku tidak berhasil melakukannya dengan sempurna. Ini bukan sekedar rasa kesal atau marah. Tapi kecewa. Aku kecewa.