
"Biar aku saja yang gendong Aksara, Mbak." Pinta Narendra lembut, Aksara memang tertidur saat masih nonton film. "Berat deh ini si gembul." lanjut Narendra.
"Nggak papa kok, lama juga nggak gendong anak kecil, untung tadi bawa gendongan ya." jawabku pelan, mensyukuri ingatanku tentang Almeera yang juga selalu tertidur saat nonton film di bioskop dulu, seumuran Aksara gini. "Nanti kalau saya sudah capek, saya bilang kok biar gantian sama kamu, Ren." lanjut ku.
"Jadi sekarang kita apa, Ma? mau makan tapi adek masih bobok gitu." tanya putriku. "Sayang sudah lapar belum?" tanyaku, balik bertanya. "Belum kok, Mah. Tadi pas berangkat kita sudah ngemil buah kan. Jadi amaaan." Jawab putriku ceria. Hal yang paling aku syukuri setelah membiarkan Narendra masuk dalam kehidupan pribadi kami adalah senyum ceria dan wajah yang berseri seri putriku, matanya tidak. lagi tertekan. Wajahnya tidak lagi terlalu serius. Rileks dan ceria.
"Ya sudah, kita belanja dulu aja, Mbak. List belanjaan biar aku aja yang bawa." pinta Narendra kepadaku. Aku tersenyum, "Almeera tolong, Nak. Ambilan daftar belanjaan mama di tas sini." pintaku pada putriku, karena sulit dengan tubuh besar di gendongan ku ini.
Aku tersenyum malu sendiri, kebanyakan perempuan muda yang sedang nongkrong tidak malu malu memandang ke arah Narendra dengan pandangan yang terkagum kagum. Tentu saja begitu, wajah Narendra memang tidak bisa di bilang standar. Dia tampan, gagah juga. Apalagi memakai pakaian kasual seperti ini, tidak terlihat pria tua tiga puluhan.
Narendra cekatan sekali saat mengambil beberapa barang yang di butuhkan, sesekali bertanya padaku, atau ribut dengan putriku karena terlalu banyak mengambil mie instan yang menurut Narendra tidak baik untuk kesehatan Almeera.
"Tante?" bisik Aksara serak, khas bangun tidur. "Iya, Sudah bangun ya sayang." ucapku. "Aksara mau turun."
Aku menurunkan Aksara dari gendongan ku, "Tante capek?" tanya Aksara yang aku jawab dengan gelengan kepala. "Kakak di mana?" tanya Aksara lagi. Aku menuntun Aksara menuju tempat Narendra dan putriku, mereka berdua sedang memilih buah jambu kristal.
"Adek udah bangun? Sini deh, sama kakak." ajak Almeera sambil berjalan ke arah kami, aku dan Aksara. "Gandeng tangan kakak ya." titah Almeera, Aksara mengangguk antusias.
"Maa, Kita ke sebelah sana dulu ya, mama di area ini dulu." Pinta putriku, Aku mengangguk. "Hati hati lo, Adek baru bangun tidur soalnya."
"Mbak?"
"Iya, Ren?"
"Tadi mbak bilang soal Silvia gimana?"
__ADS_1
Ah ya! Tadi aku sempat cerita soal pembicaraan ku dengan Silvia.
"Silvia nggak mau cerita sama aku tentang Sofia, Ren. Katanya biar kamu aja yang bilang sendiri."
Saat aku mengucapkan nama Sofia, tubuh Narendra yang semula baik baik saja, kini menegang. Wajahnya juga tidak seramah barusan.
"Ren, Are you oke?"
"Kita bahas nanti aja ya, Mbak. Eemm, soal mamanya Aksara.. Beliau sudah meninggal saat melahirkan Aksara mbak."
Aku yang merasa tidak enak dengan perubahan ekspresi Narendra kini jadi kaget, jadi mamanya Aksara juga sudah meninggal. Pantas tidak ada pembahasan ke situ.
"Kalau papanya, sibuk gitu. Workaholic banget, liburan sama Aksara paling bisa di hitung pakai jari dalam dua bulan. Jarang bisa ketemu sama Aksara."
Ah, menyedihkan.
"Biasa aja sih, tahu papanya sibuk. Untung papanya Aksara nggak menjauhi Aksara gitu, jadi kalau lagi pulang ya waktunya untuk Aksara."
Aku mengangguk paham, kemudian kami berdua kembali saling berdiam diri. Aku dengan pikiranku dan juga sibuk memilih telur dan bahan makanan lainnya, Narendra sibuk dengan pikirannya sendiri.
***
Hari ini kita selesai belanja kebutuhan bulanan terus makan Pizza, dan yang paling membuat aku tersentuh adalah komentar dari Aksara. Aksara lebih suka masakan rumah dari pada harus beli di luar. Sudah terlalu sering beli junk food jadinya ini anak bukannya kecanduan justru bosan.
Narendra sejak aku menyebut nama mantan istrinya, kini lebih berjarak. Tidak lagi iseng atau cerewet bahkan ceria. Saat perjalanan pulang, anak anak ketiduran karena terlalu capek, Narendra justru diam. Entahlah, minggu kemarin ternyata hanya sedikit dari sisi Narendra yang seperti ini.
__ADS_1
"Langsung pulang, Ren?" tanyaku sedikit basa basi, rasanya ada yang kurang saat kita terbiasa dengan rengekan seseorang dan tiba-tiba dia cuek begitu saja. "Iya, mbak." Jawab Narendra singkat tanpa menatap ke arahku, sedangkan aku masih berdiri di depan pintu rumahku yang terbuka karena Almeera masuk ke dalam terlebih dahulu. "Hati hati, Ren. Terima kasih." Lanjutku yang hanya di balas senyum singkat dan lambaian tangan sebelum Narendra masuk ke dalam mobil.
Padahal ini kali pertama aku lebih bersikap hangat dan juga berterima kasih. Tapi justru Narendra seperti enggan, lemas dan juga tidak ingin di ganggu. Wajahnya terlalu menunjukkan ingin mengabaikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Ini baru menyebut nama mantan istrinya, belum bercerita tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Pantas saja Silvia memilih untuk berharap dalam diam, benar apa yang di katakan oleh Silvia. Dia terlatih tidak berharap untuk di balas oleh Narendra meskipun hanya sekedar senyuman lepas ataupun tawa lepas dari Narendra.
Aku masuk ke dalam rumah, rencana hari ini kita bertiga, aku putriku dan Aksara akan tidur bersama di kamarku. "Sayang mandi dulu deh sana." Perintahku kepada Almeera yang sedang duduk di sofa. "Iya, Ma. Barang barangnya Aksara, Almeera pindah ke kamar mama ya." ucap putriku sambil berdiri. "Iya. Makasih sayang."
Aku duduk di atas sofa yang tadi menjadi tempat duduk Almeera, memandang wajah Aksara yang terlelap. Tentram dan tenang, aku selalu menikmati perasaan nyaman yang hadir saat memandang wajah anak anak tidur seperti ini.
"Mamaa." Bisik Aksara pelan, membuatku terkaget dan memeluk Aksara lebih erat. Mencium kening, pipi anak ini dengan lembut. Dulu, Almeera juga sering sekali mengigau seperti ini.
"Sayaang, bangun yuk. Ini sudah sampai rumah loo." Bisikku pelan. Mencoba membangunkan Aksara. Dia perlu membersihkan diri. "Heeeem." hanya suara dengusan dan tubuh yang bergerak.
Aku tertawa, entah mengapa ini begitu terasa lucu. "Aksara sayaang."
"Heeeem, sebentar lagi ya."
"Sudah sore lo, ayo mandi dulu. Kakak sudah mandi lo, nanti habis mandi bisa main lagi sama kakak."
"Iya, Tante. Tapi nunggu kantuk Aksara hilang sepenuhnya dulu ya."
"Siaap."
hahaha, aku tertawa kecil. Dan kembali mencium Aksara, Gemas. Meskipun begitu, tetap saja ada yang mengganjal di dalam hati. Ini tentang Narendra yang menurut aku jadi kehilangan semangat semenjak aku mengucapkan Nama itu, Sofia.
__ADS_1
****