LUDIRA

LUDIRA
Empat Puluh Tujuh


__ADS_3

"Almeera kenapa berangkat pagi sekali?" tanya Syailendra pelan. Aku yang sedang membantu Ibu menyiapkan makanan di atas meja menoleh, saat mulutku hendak menjawab pertanyaan Syailendra, sudah kedahuluan Narendra.


"Les pagi. Semacam jam tambahan gitu. Gurunya totalitas banget." jawab Narendra pelan. Pria itu kini berdiri di belakang kursi, menarik kursi itu dan duduk di sana.


"Seger yaaa, pagi pagi udah dapat asupan cinta! Hahahaha."


"Ngiri? Bilang bos! Hahahaha."


Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat mereka berdua bercanda, seperti lupa bahwa beberapa saat yang lalu hampir saja saling adu kekuatan lagi.


"Asupan cinta itu kaya gimana, Pa?" tanya putra kecilku dengan mata yang menggemaskan.


Mendengar pertanyaan Aksara, pria itu menoleh ke arahku yang sudah mau duduk di samping putranya.


"Paa!" tegur Aksara. Menuntut penjelasan dari Papanya itu.


"Papa kamu nggak bisa ya kalau nggak lihatin Tante?" Sindir Narendra, manyun. Jelas sekali tidak perlu repot repot menutupi rasa tidak sukanya dia kepada Abang sepupunya itu.


"Sudah sudah. Kalian ini." sahutku pelan. Di sini ada anak kecil, masa iya... Aksaraku yang imut itu harus lihat tingkah konyol Papanya dan Omnya. Belum lagi, ada Ibu dan Pak Basuki yang sepertinya baik baik saja dengan sikap konyol Syailendra maupun Narendra, mereka berdua tidak terlihat kaget atau terkejut.


"Nteee, asupan cinta itu apa sih?" rengek Aksara padaku, membuatku menoleh sebal ke arah Papanya.


"Nanti papa yang jelasin ya dek, adek diem dulu ya sekarang." bisik Syailendra pelan. Padahal aku sudah siap siap mau menjawab. "Oke, Papa." jawab Aksara sambil mengangguk semangat.


Aku masih acuh dengan cengiran khas Syailendra ataupun ekspresi masam Narendra. Cuma bisa berharap kalau sarapan yang sudah terlalu siang ini lekas selesai.


"Dek Aksaraa?" panggil Pak Basuki pelan.

__ADS_1


"Iya Eyang." jawab Aksara sambil menoleh ke arah Pak Basuki. Aku yang sedang menyuap nasi ke mulutku jadi ikutan menoleh ke arah pria Sepuh itu.


"Dek Aksara pengen punya Mama seperti tante Ludira?"


Uhuk... Uhuk...


Suara batuk terdengar bukan hanya dari depanku saja. Pria yang menjadi Papanya Aksara juga tersedak. Sedangkan aku hanya kesulitan menelan saja. Mataku menatap ke arah Pak Basuki yang tetap menatap ke arah cucunya itu, meskipun istrinya... Putranya dan keponakannya, melotot ke arah pria itu. Mungkin, seandainya tidak ada Aksara, lauk ayam goreng atau gelas yang di pegang Narendra sudah melayang entah kemana, mengingat Narendra begitu sensitif dengan persoalan ini.


"Mau, mau banget. Aksara pengen kaya kakak. Bisa manggil tante, mama. Kaya kakak. Katanya Kakak... Adek boleh manggil mama kaya kakak manggil. Tapi katanya Papa, enggak boleh. Nanti om Narendra marah sama Aksara, terus nanti Aksara bikin Om sedih. Aksara jadi bingung, Eyang. Aksara pengen... Tapi Aksara nggak mau bikin om Narendra sedih. Aksara juga sayang sama om Narendra." jawab Aksara pelan.


Aku terpaku. Bukan hanya aku yang kini memandang ke arah Aksara yang menunduk, menatap ke arah piringnya sedang wajah yang sedih banget. Tenggorokan ku tercekat, nyeri. Mataku mulai terasa hangat.


"Hey--"


Suaraku terputus oleh kalimat yang di katakan oleh Narendra. Aksara yang semula menoleh ke arahku, berpaling menoleh ke arah Narendra.


"Nggak, kata Papa... Nanti om jadi sakit lagi. Aksara nggak mau bikin Om jadi sakit. Aksara nggak papa kok nggak punya Mama. Sekarang Papa udah sering main bareng sama Aksara, terus ada Kakak juga. Ada Tante. Nggak papa kok Om, nggak papa kalau Aksara nggak punya Mama. Aksara bukan anak bandel yang susah di kasih tahu... Dulu, Papa pernah bilang sama Aksara... Bilang kalau kita tidak bisa memiliki semua yang kita inginkan. Iya kan, Pa?" tanya Aksara dengan wajah polosnya. Sedangkan kami, para orang dewasa sudah merasa payah untuk menyembunyikan gejolak di hati kami.


Ibu Basuki bahkan berkali-kali mengusap wajahnya, meskipun sesekali memandang marah ke arah suaminya. Sedangkan Narendra menatap sedih ke arah bocah kecil itu. Nyesek.


"Dek? Papa udah terlambat deh. Ikut Papa kan?" sahut Syailendra mencoba keluar dari topik pembicaraan. Wajahnya sedih. Syailendra, pria ini mencoba mengabaikan wajah wajah dewasa di sekitarnya, dia hanya fokus dengan putranya.


"Biar Adek ikut aku aja." sahutku pelan, nyaris berbisik.


Aku tahu, Narendra menatap ke arahku. Aku abaikan, aku hanya ingin menatap putraku yang sedang kebingungan.


"Ya sudah." jawab Syailendra tanpa menoleh ke arahku. "Baik baik ya sayang. Papa berangkat dulu." bisik Syailendra sambil memeluk putranya.

__ADS_1


Kemudian... Pria itu pergi, melangkah pergi dari ruangan ini tanpa pamit. Seakan-akan di sini hanya dirinya dan putranya.


Kami semua terdiam. Memilih untuk melanjutkan sarapan, meskipun kini terasa hambar di lidah. Dadaku nyeri sesak. Ekspresi wajah kami begitu sendu, kecuali Aksara dan pemicu semua ini, Pak Basuki. Wajah beliau sedatar tapi, seakan tidak ada kejadian yang menguras emosi seperti tadi.


"Ntee, sudah habis ini makannya." sahut Aksara mengagetkan ku. Aku menoleh ke arah Aksara dan mengangguk.


"Pamit dulu sama Eyang, sama Om Narendra." sahutku pelan. Sambil tersenyum, meskipun terasa kaku.


"Eyang sayaaaaang... Sayaaang banget sama Aksara." sahut Ibu Basuki yang menghampiri Aksara, begitu bocah itu turun dari kursi makannya. Memeluk tubuh kecil Aksara. Menciumi seluruh wajah Aksara dengan wajah sendu, bukan gemas seperti biasa.


"Aksara juga sayang sama Eyang Uti." sahut Putraku pelan, sambil membalas pelukan Bu Basuki.


Ah, terenyuh. Air mataku menetes perlahan. Apalagi saat Pak Basuki memeluk tubuh Aksara tanpa kata-kata, namun jelas sekali sorot rasa sakit yang begitu mendalam.


Dan saat akhirnya Aksara akan salim dengan Narendra, pria itu mengangkat tubuh kecil Aksara dan membawanya ke pelukan.


"Om Narendra nggak akan sakit kalau Aksara manggilnya Mama. Nggak masalah kok. Iya kan, Ntee?" sahut Narendra sambil menoleh ke arahku. Aku mengangguk. Tidak mampu mengatakan apapun, karena takut akan membuat Aksara bertanya-tanya mengapa aku menangis sampai sesenggukan. Kepolosan dan juga kecerdasan yang dimiliki Aksara membuatku kagum sekali khawatir. Anak ini terlalu cerdas untuk bocah seusianya.


"Kamu yakin, Ren?" tanya Pak Basuki tiba-tiba. Membuat kami semua menoleh ke arah beliau. Sedangkan beliau masih dengan wajah datarnya.


"Bapak!" sentak Ibu Basuki keras. Bahkan memukul lengan atas suaminya itu.


"Nggak boleh marah marah, Eyang. Nggak baik kan, Ntee?" tanya Aksara sambil menoleh ke arahku.


Lagi lagi aku mengangguk. Sedangkan Narendra menarik nafas berat. Kemudian menyerahkan Aksara ke arahku.


"Aku antar ya?" tanya Narendra dengan pandangan penuh harap.

__ADS_1


"Nggak usah. Udah ya? aku pamit." sahutku sambil menoleh ke arah Orang tua Narendra. "Pamit dulu, Bu.. Pak." lanjut ku pelan.


__ADS_2