LUDIRA

LUDIRA
Enam Puluh Tujuh


__ADS_3

Tentu saja aku melewati sepanjang hari ini dengan mood yang berantakan. Pagi pagi sudah ada drama yang menyita energi sangat banyak. Bukan cuma energi ya, tapi juga menguras perasaan paling dalam. Sepanjang hidup Almeera, putriku itu hanya mengenalku. Terbiasa dengan ku, aku adalah satu-satunya bagi gadis imut yang sekarang beranjak remaja. Menjadi yang utama dan tinggal setelah bapaknya meninggal dunia. Kemudian, semua bergeser pelan pelan tapi pasti. Semua tatanan bergeser bahkan berganti tanpa aku sadari, setelah pria itu masuk kedalam hidupku secara lebih dekat. Narendra. Narendra Bagaskara. Pria yang datang memberikan berbagai macam kotak hadiah uang di dalamnya justru seperti kotak pandora. Sesuatu yang seharusnya tidak. Aku sentuh apalagi aku buka.


Narendra, duda tapi bukan duda. Belibet banget kalau keinget soal ini. Dianya nggak pernah mau cerita secara gamblang dan juga detail, padahal bagi aku tuh hal hal kecil apapun jadi penting kalau menyangkut orang orang yang masuk golongan penting dalam hidup aku. Kesannya aku emang terlalu nuntut di anggap penting bagi mereka, tapi gitu si. Aku selalu ingin tahu semuanya, hal sekecil apapun dan juga parahnya, meskipun menurut mereka nggak penting buat di ceritain tuh bagi aku penting. Jadi sesakit ini, se nyesek ini juga pas tahu anak aku sendiri yang lebih memilih cerita sama orang lain terlebih dahulu di bandingkan dengan aku, ibunya sendiri. Berasa di khianati juga.


Narendra pernah menikah secara agama dan tidak tercatat di kementerian agama. Parahnya lagi tidak di publikasikan. Hanya keluarga inti saja yang tahu. Untuk aku yang nggak suka drama dan rusuh, ini memang mengganggu. Bukan karena status Narendra. Tapi karena ternyata sampai detik ini, Narendra belum selesai dengan masa lalunya. Bahkan nggak tahu nih, sebenarnya pria itu sudah kasih talak atau belum ke si perempuan. Belum lagi, Narendra suka down gitu kalau bicara soal Shofia, perempuan yang dulu jadi istrinya Narendra. Kisah mereka itu aneh banget, otak aku sampai kurang bisa memahami dengan baik. Setelah sekian purnama kita, aku dan Narendra galau karena masa lalu kami masing-masing, pada akhirnya kami memutuskan untuk berdamai. Melepas bayangan masa lalu dan melangkah maju.


"Bu? Sudah sampai!" ujar Pak Sopir, membuyarkan semua lamunanku. Menarik akal sehatku kembali berfungsi. "Eh iya, Mang. Makasih ya." jawabku pelan. Merapikan baju dan membuka pintu mobil. Siang ini Almeera belum pulang, katanya pulang sore. Sesuai jadwal memang gitu. Dan lagi lagi, di jemput sama Narendra. Sedangkan Aksara, asyik dengan Papanya. Syailendra menghubungi ku kalau dia yang jemput Aksara. Tanpa kasih penjelasan habis itu mau ngapain atau mau kemana. Aku yang sudah kelewat moodnya hancur, cuma iya iya aja.


Aku turun dari mobil dan melangkah ke dalam rumah dengan langkah yang gontai. Malas. Sampai akhirnya terpaku dengan pandangan di ruang keluarga. Aksara tertidur di pangkuan Papanya yang duduk bersandar dengan mata tertutup, sepertinya juga sedang tertidur. Pemandangan yang membuatku tersenyum dengan sendirinya, mood booster. Aku melangkah menghampiri mereka. Wajah Syailendra masih terlihat kelelahan dan wajah Aksara yang begitu damai. Syailendra dan Aksara, dua hal yang hadir karena aku mengizinkan Narendra masuk kedalam hidupku dan menyeret kedalam hidupnya juga.


Mataku masih asyik mengamati setiap inci wajah anak dan Papanya itu. Aku baru menyadari, bahwa Syailendra tidak pernah bercerita tentang hidupnya juga, bahkan tentang perempuan yang melahirkan bocah ganteng yang selama ini aku rawat juga tidak pernah. Apalagi memperlihatkan potret perempuan itu, sama sekali tidak pernah. Setelah aku menyadari sesuatu, mendadak perasaan nyeri terasa lebih menyengat dari pada sebelumnya. Bukan hanya Narendra yang sepertinya enggan untuk menceritakan tentang dirinya, meskipun aku sudah memintanya berkali-kali. Namun juga ada Syailendra yang sepertinya tidak banyak bercerita tentang hidupnya.


Ah, menyebalkan.


Aku rindu, diriku yang dulu.


Jatuh cinta ternyata membuat cara berfikir kita juga berbeda. Aku tidak lagi setangguh aku yang sebelumnya. Sebelum mengenal Narendra.


Aku menoleh ke arah Syailendra. "Sudah pulang?" tanya pria itu dengan suara serak. Khas bangun tidur. Sepertinya pria itu memang sudah tidur cukup lama di bandingkan perkiraan ku.


Aku mengangguk. "Sudah. Aku pindahin adek ke kamar saja ya?" tanyaku pelan.


"Biar aku saja."


Aku lagi lagi mengangguk. Membiarkan Syailendra meraih tubuh Aksara yang tertidur nyenyak itu ke gendongannya. Kemudian berdiri dan melewati ku pelan.


"Sudah makan siang?"


Syailendra berhenti dan menoleh kebelakang begitu mendengar aku bertanya padanya. "Sudah. Tapi kalau mau buatin cemilan, aku nggak nolak." jawab pria itu sambil tersenyum.


Tentu saja senyum di bibir Syailendra sebelum pria itu kembali berjalan menular ke arah ku.


Aku berdiri dari tempat duduk ku dan melangkah menuju dapur. Meraih dua bungkus bahan untuk membuat puding. Nyemil puding di siang yang menuju sore seperti ini mungkin bisa lebih menyegarkan.


"Kamu bisa minta Simbok, buat mengerjakan semua ini." sahut Syailendra yang entah sejak kapan sudah berada di belakangku. Tentu saja membuatku melompat karena terkejut.


"Mas!!" pekik ku kesal. Pria itu hanya tersenyum lembut, masih berada di tempatnya.


"Soal kakak tadi, kamu terluka sekali ya?" tanyanya padaku. Jelas bukan jenis pertanyaan yang patut untuk di jawab. Aku memilih diam dan meneruskan kegiatanku menuangkan puding ke cetakan.


"Almeera takut, sekaligus segan. Dia hanya bingung. Bingung harus memilih impiannya atau mamanya." ucap Syailendra padaku.

__ADS_1


Kalimat yang di ucapkan pria itu dengan nada yang membuatku mendadak menjadi perempuan melankolis. Bukan diriku yang biasanya akan tegar, tangguh dan tentu saja mampu berdiri di kaki sendiri. Jika bersama Narendra membuat ku plin-plan, kadang kadang plin-plan. Maka dengan adanya Syailendra, membuatku seperti keluar dari diriku sendiri. Memenuhi semua khayalan masa remaja ku, memiliki sosok abang yang bisa untuk bersandar atau pun bersembunyi dari pahit nya kehidupan.


"Almeera sudah remaja, Ra. Dan kebetulan yang menjadi teman curhatnya itu bukan teman teman sebayanya melainkan Narendra. Narendra menjadi sosok teman yang ideal bagi Almeera." ujar pria itu masih dengan nada yang lembut dan pelan. "Jangan terlalu di ambil hati, jangan insecure juga. "Kamu sudah hebat kok selama ini."


Aku masih aja diam. Meskipun aku mengiyakan semua ucapan Syailendra. Kalimat Syailendra mudah untuk aku pahami. Namun tetap saja, sesak dan nyeri menghantam jantungku. Aku belum siap untuk fase ini. Fase dimana putriku akan asyik dengan teman temannya.


"Hai--" Syailendra memeluk tubuhku dari belakang begitu saja. "Kalau mau nangis jangan di tahan. Keluarkan!" bisik pria itu sambil mencium pucuk kepalaku dari belakang. Aku, membiarkan. Membiarkan pria itu berbuat sesuatu yang tidak seharusnya. Aku juga membiarkan air mataku menetes dengan deras dalam diam.


"Semua akan baik baik saja, Ra."


"Aku--aku harus bagaimana, Mas?"


"Terima, jalani. Jangan justru menarik diri dari putrimu sendiri. Pahami dia."


Aku kembali menangis. Iya, jika aku terlalu sedih makan yang ada justru aku semakin jauh dengan Almeera. Hubungan kami akan seperti dulu lagi. Memakai topeng baik baik saja tapi nyatanya merasa begitu hampa.


Syailendra memutar tubuhku hingga menghadap ke arahnya. Menghapus, mengusap air mataku dengan jari jarinya. Aku lagi lagi terlalu lemah, membiarkan pria itu berbuat semaunya.


"Dari dulu, aku pengen banget punya saudara laki-laki yang bisa buat bersandar." bisik ku.


Aku memukul dada bidang pria itu pelan. Sebal karena suara tawanya terdengar seperti mencemooh diriku. "Yups! Terwujud. Aku kabulkan."


"Eeh!" Aku yang masih sesenggukan, terkejut.


"Lepasin, dih!" Marahku.


"Kamu sudah memutuskan untuk bersama Narendra?" bisik pria itu.


"Iya."


"Tidak takut kalau nanti Shofia merebut kembali Narendra?"


Aku menggelengkan kepala, menghembuskan nafas kasar. "Sudah takdir begitu bagaimana lagi? Iyakan? Kalau sekarang mikir gitu artinya Su'udzon!" sentak ku.


"Terus apa sih yang bikin kamu mikir keras banget. Bimbang, galau gitu kalau di minta nikah sama Narendra?"


Aku menghembuskan nafas kasar. "Aku nggak bisa melupakan papanya Almeera. Aku sudah berjanji bahwa akan selalu mencintai dirinya sampai akhir hayat nanti. Dia suamiku, Mas."


"Dengar--" Syailendra berhenti bernbkcara dan kembali memegang kedua lengan atas, bagian bahwah bahu dengan sangat erat. Tatapan matanya yang tajam itu membuatku takut, bukan salah tingkah. Meskipun Syailendra tersenyum, wajahnya lembut, tapi tetap saja menakutkan. "Dia mantan suamimu, bukan lagi suamimu." lanjut pria itu. Membuat hatiku kembali teriris. Kalimat Syailendra seperti Koki yang sedang meringis bahan makanan dengan sangat cepat.


"Jika nanti kamu menikah dengan Narendra atau siapapun. Betapa besarnya kamu mencintai Almarhum Dodi, tetap saja... Faktanya kamu harus tetap melayani suamimu dengan ikhlas, penuh kerelaan." sambung Syailendra. Pria itu tersenyum lembut, kembali membawa tubuh ku kedalam pelukannya.

__ADS_1


Sakit,


Sangat sakit.


"Dengar Ludira. Pernikahan itu bukan sekedar demi siapa atau untuk siapa." bisik pria itu. Membuatku merinding. "Jadi tolong, pikirkan lagi." Pria itu masih berbisik. Kemudian melepas pelukannya dan dengan kedua telapak tangannya, merengkuh pipiku. Menggerakkan ibu jarinya, menghapus jejak air mata.


"Terima kasih, sudah berjuang selama ini. Kamu hebat, Ludira. Berdiri teguh sebagai perempuan yang terhormat." sahut pria itu setelah mengecup keningku pelan namun juga lama. Seperti terhipnotis, aku hanya mampu diam. Munafik jika aku tidak mengakui perasaan nyaman yang hadir di dalam jiwa ini.


"Mana ada perempuan terhormat yang mau di cium begini sama pria yang bukan siapa siapanya." sahutku di sela sela isak tangis. Menyesal. Selama ini, hampir selalu melakukan hal yang di luar batas saat bersama Syailendra.


Syailendra tersenyum, kemudian menutup mulutnya. Menahan diri untuk tidak tertawa. Meskipun pada akhirnya keluar suara kekehan nya itu. "Abang kamu kan? Nggak masalah kan nyium kening adik sendiri."


"Dih!"


Aku melangkah kasar meninggalkan pria itu sendirian. Meskipun begitu, dia tetap mengikuti ku. Berjalan di belakangku. Pasti dengan senyum konyolnya itu.


"Ra!" panggil Syailendra keras. Membuat aku tidak jadi membuka pintu kamar dan justru menoleh ke arahnya. "Apa pangil-panggil!" sentak ku.


"Besok aku mau ke Jepang--" Pria itu berhenti sejenak. Sedangkan aku mengerutkan kening tidak mengerti. Bagaimana bisa dia mau pergi ke Jepang mendadak seperti ini. "Untuk waktu yang cukup lama." lanjut pria itu. Wajahnya tidak selembut tadi, sekarang datar. Terlalu datar. Sebal, aku nggak suka wajah Syailendra seperti itu. Menyebalkan.


"Berapa minggu?" tanyaku ketus.


"Dua atau tiga tahun."


"What??" teriakku.


Dia gila?


Bisa bisanya... Bisa bisanya memutuskan seperti ini begitu mendadak.


"Apaan sih kamu, Bang! Kenapa mendadak gini sih ngasih taunya." Marahku. Mataku masih menatap tajam dan marah ke arah Syailendra yang kini menghembuskan nafas lesu.


"Aku sekalian mau bawa Aksara--"


"Apa!" teriakku memotong kalimat Syailendra. "Bercandanya nggak lucu, Bang! Udah ah, mau tidur aku. Pusing." sahutku.


"Aku nggak bercanda. Tadi Aksara sudah setuju."


Argh!


Kepalaku semakin pusing saja rasanya. Pandangan mataku seperti mulai buram. Perlahan tubuh ku terasa begitu lemas. Entahlah, ini semua benar-benar mimpi buruk.

__ADS_1


__ADS_2