
Setelah kembali dari mushola rumah sakit, aku mengecek WhatsApp, ternyata ada dua panggilan tidak terjawab dari nomor baru. Akhirnya aku membuka bagian pesan masuk dan memilih untuk melihat yang dari nomor asing tersebut.
[Assalamualaikum, Mbak Dira. Ini ibu, Mbak. Nanti InsyaAllah kami mau ke rumah sakit, mbak Dira jangan beli sarapan di luar ya, sukanya apa ya mbak Dira kalau sarapan?]
Aku tersenyum geli, ternyata Ibu Basuki ini tidak hanya pintar berbicara di dunia nyata saja, tapi juga pandai berbicara via pesan seperti ini.
"Ada apa, Mbak?" tanya Narendra begitu keluar dari kamar mandi.
Aku menoleh ke arah Narendra yang masih berdiri di dekat ku, wajah basah rambutnya juga masih basah.
"Ibu kirim pesan, kata beliau mau kesini pagi ini." jawabku santai namun ternyata Narendra justru panik.
"Kalau mbak nggak kasih izin, bilang saja sama ibu, Mbak. Nggak papa kok."
Aku tersenyum, "Nggak papa, Ren. Kamu mau sholat?"
"Iya, Mbak."
"Bawa sarung atau pakaian serep di mobil nggak?" tanyaku mengingat baju yang Narendra pakai, bisa jadi adalah baju yang sudah di gunakan sepanjang hari kemarin.
"Alhamdulillah ada kok mbak di mobil, sama perlengkapan mandi juga. Terus ada laptop juga."
Aku mengangguk pelan, beranjak dari tempat dudukku pindah ke samping Almeera.
"Saya ke musholla dulu, Mbak." pamit Narendra yang ku balas dengan anggukan kepala.
"Sayang, Assalamu'alaikum. Sayang belum mau bangun ya? Mama sudah kangen sekalii. Jangan lama lama tidurnya, Dek. Biar om Narendra tidak terlalu lama di sini." Bisikku pelan sambil tertawa.
Aku memutuskan untuk mencoba membiasakan diri dengan semua kondisi ini, jika memang dengan kehadiran Narendra bisa menjadi lebih baik untuk Almeera, aku mencoba menerima. Toh, Narendra sepertinya memang tulus menyayangi Almeera.
"Assalamu'alaikum," salam Narendra begitu membuka pintu kamar rawat inap Almeera.
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Narendra dengan cekatan meletakkan tas kerjanya di atas meja. Kemudian melangkah ke arah sebelah sisi lainnya.
"Mbak butuh kopi atau teh?" tanya Narendra tulus.
Aku hanya menggeleng pelan, Air putih tadi sudah cukup bagiku.
"Selamat pagi Kesayangan. Belum mau bangun ya? Adek masih ngambek?" Bisik Narendra pelan sekaligus lembut, tanganya yang kokoh mengusap lembut rambut putriku.
Aku mencoba untuk tidak terpaku dengan setiap tindakan yang di lakukan oleh Narendra, mencoba untuk terbiasa dengan hal kecil namun begitu manis bagi sisi feminim yang aku miliki.
"Mbak? mbaak. Coba panggil dokter, Mbak. ini Almeera menggenggam tangan saya, Mbak." Sahut Narendra keras.
"Alhamdulillah Ya Allah, iya Ren."
Panik sekaligus bahagia, lega sekaligus terasa menyakitkan. Dada ini remuk, Jantung ini seakan di genggam erat. Aku mulai menangis. Bagiku ini adalah tanda bahwa putri kecilku yang begitu tangguh selama ini memang sangat rindu dengan kehadiran sosok Ayah.
Kalimat yang diucapkan Narendra tadi sebelum subuh dan reaksi yang di berikan Almeera membuatku terpana, meskipun usiaku tidak muda lagi, nyatanya aku sekarang mengalami fase di mana hatiku dan pikiranku tidak selaras. Gundah gulana, baper sekaligus galau.
Aku mengangguk, saat mulutku terbuka ingin mengucapkan sesuatu, Narendra sudah terlebih dahulu mengucapkan Terima kasih kepada dokter Widi.
Aku memeluk tubuhku sendiri, saat Narendra kembali mengambil peran sebagai orangtua Almeera. Mengantarkan dokter Widi hingga pintu kamar dan kembali memegang tangan Almeera erat.
Mencium tangan putri kecilku. Membisikkan kata kata penuh semangat dan kata kata yang jelas sekali meyakinkan bahwa kami semua membutuhkan Almeera bangun secepatnya. Menjanjikan banyak hal untuk putri kecilku ini.
Aku masih terpaku membisu, menatap seolah semua ini hanya khayalan yang muncul di otakku. Hingga suara pintu terbuka dan suara salam membuatku kembali ke alam sadar.
"Ada apa?" tanya ibu Basuki setelah aku dan Narendra salim kepada beliau.
"Alhamdulillah tadi Almeera sudah mulai membaik, Bu." Jelas Narendra setelah menatap ke arahku yang masih mencoba menata kembali kesadaranku.
"Dira? Ludira?" sapa bapak begitu kami duduk di sofa.
Aku yang masih terpukul dengan semua kenyataan ini, terkejut dengan panggilan mendadak dari Pak Basuki, padahal ibu dan Narendra dengan ngobrol tentang Almeera di sebelah putriku itu.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya kurang fokus." jawabku singkat. Mencoba untuk tersenyum kepada beliau.
"Jangan pernah merasa kehilangan peran karena Narendra, Dira. You are the best, kamu terbaik dari yang terbaik." ucap Pak Basuki sambil menyodorkan gelas berisi teh hangat yang di bawakan beliau dan istri beliau.
Aku tersenyum kecut. Mungkin ini yang membuatku sempat galau baper tidak menentu, mungkin karena aku terbiasa menjadi satu satunya dunia bagi Almeera dan kini putriku membiarkan orang lain selain diriku masuk ke kehidupannya, begitu cepat mengambil peran penting yang biasa hanya aku yang melakukannya.
"Terima kasih, Pak." ucapku tulus.
"Terkadang kita merasa tidak di harapkan hanya karena ada orang lain yang secara tidak sengaja mengambil peran kita." Sahut Bapaknya Narendra penuh makna.Aku tersenyum malu, membenarkan apa yang beliau ucapkan.
Aku meneguk cairan hangat yang terasa pahit itu sambil menatap ke arah yang di tatap oleh pria Sepuh penuh wibawa ini.
"Saya bersyukur kepada Allah Swt dan juga berterima kasih kepada mbak Dira karena telah mengizinkan Narendra mengenal kalian lebih dekat." bisik beliau pelan.
"Narendra membuat dirinya sendiri selama ini seperti robot yang di ciptakan begitu sempurna tanpa kesalahan sedikitpun, saya bukannya bangga dengan semua itu, Mbak. Saya justru miris, karena saya tahu betul bahwa semua itu hanya untuk menutupi luka yang mengangga di jiwa Narendra. Saya ingin Narendra memiliki emosi yang normal, kacau misalnya. setelah bertahun tahun lamanya, baru ini saya kembali melihat Narendra mengizinkan dirinya sendiri untuk merasa kacau dan tidak teratur." Lanjut pak Basuki sambil terus menatap nanar ke arah putra bungsunya itu.
"Narendra seperti itu, Mbak. Dia mencoba melakukan semua hal baik demi membuktikan kepada kami bawa dia baik baik saja. Namun saya sebagai orang tuanya justru merasa tersiksa setiap kali kami memergoki matanya kosong tanpa sinar kebahagiaan."
Ah, kenapa sekarang Narendra jadi terdengar seperti Almeera. Kebetulan seperti apa lagi ini?
"Mbak Ludira, Ayo bubur ayamnya di coba. Itu ibu yang bikin sendiri lo." sahut Bu Basuki memecahkan kesunyian di antara aku dan suaminya.
Aku mengangguk pelan setelah mengiyakan kalimat bu Basuki yang terdengar sangat manis di telingaku.
Ada dua porsi bubur ayam, sebenarnya aku cukup ragu menyiapkan porsi yang satunya untuk Narendra, kamu saat pak Basuki tersenyum penuh harap ke arahku, tanganku seperti bergerak secara otomatis menyiapkan sekaligus menyerahkan bubur ayam itu ke pada Narendra.
"Kesukaan Om." Bisik lemah suara di sampingku.
Aku menangis, menatap Almeera yang kini terbangun. Tersenyum manis sekali kepada ku.
"Mama"
"Oh sayaang."
__ADS_1