
"Om Narendraaaaa."
Aku menoleh canggung ke arah dua orang ini setelah mendengar suara putriku yang lembut itu berteriak. "Almeera tidak pernah seperti ini sebelumnya." Ucapku tanpa sadar. Bahkan pikiranku juga menerawang jauh, mulai berandai-andai sesuatu yang menurut aku sangat dosa. Namun tetap saja, terasa nikmat jika membayangkan putriku memanggil mas Dodi dengan begitu histeris saat mas Dodi pulang dari dinas luar kota.
Ya, harusnya sekarang ini bukan panggilan seperti itu. Ah, Ya Alloh... Maafkan hamba yang mulai terjebak angan angan sesat.
"Ikhlas itu bukan persoalan mudah yang bisa terjadi begitu saja, bahkan saat bibir sudah berucap ikhlas, bum tentu hati kita ini sudah ikhlas seutuhnya." Ujar Pak Basuki tenang.
Damai sekali rasanya, ada sosok bapak yang menasehati putrinya, ada pula ibu Basuki yang memerankan sosok ibu yang hangat sekali. Meremas jari jariku, seakan memberikan energi tambahan untuk hatiku yang memang belum pulih sedikitpun.
"Kok Om Narendra bengong siiih!"
Aku menoleh ke arah dua orang itu, yang satu sudah berlari sedang meneriakkan namanya, penuh dengan kerinduan. Yang satunya justru terbengong bengong.
"Ini nyata?" tanya Narendra keras, bergantian memandang ke arah Almeera kemudian ke arah kami dan kembali ke arah Almeera.
"Nyata dong Oom."
"Ya Allooh, alhamdulillah. Kesayangaaan ooom." Teriak Narendra tidak kalah histeris. Aku yang tidak terbiasa dengan suasana gaduh semacam ini hanya syok. Ini? Narendra? Childish sekali.
"Wajah mama kamu jelak sekali itu, Dek." sahut Narendra keras, terdengar hingga ke tempatku duduk. Demi apapun juga, aku seketika itu salah tingkah. Tentu saja tidak enak dengan pasangan Basuki ini.
"Pemandangan yang indah sekali kan, Bu?" tanya Pak Basuki, seakan tidak perduli dengan wajahku yang sudah memerah padam.
"Terima kasih, Nak Ludira." Bisik ibu Basuki sambil memelukku dari samping.
Eh?
__ADS_1
"Kenapa harus Terima kasih, Bu?" tanyaku pelan, memandang perempuan yang sedang memelukku ini dengan penuh tanda tanya. Namun sayangnya hanya di balas senyuman singkat saja.
"Surprised deh. Ini gimana ceritanya sih? Kemarin malam saya sempat ngemis ngemis gitu lo, tapi tidak ada reaksi positif sedikitpun." tanya Narendra kepadaku. Sedangkan Almeera yang sudah puas bermain dengan omnya ini sekarang berada di dapur dengan perempuan yang di panggil dengan sebutan Eyang putri. Sedangkan Pak Basuki masih di sini, duduk sambil membaca buku.
Aku mencoba mengabaikan Narendra, pura pura tidak dengar apa yang dia bicarakan seperti bapaknya sendiri.
"Mbaaak." panggil Narendra dengan suara yang tidak pantas di keluarkan oleh pria yang memasuki usia kepala tiga.
"Dih, Mbak Dira. Why? Kenapa? So sweet gini ya ternyata hehehehe."
Ya Tuhan, ini anak laki-laki atau orang dewasa sih.
"Jawab aja deh, Dira. Kuping bapak jadi gatal gini dengar suara Narendra." Titah Pak Basuki tanpa mengalihkan pandangan dari buku tebal yang beliau baca.
Aku menghembuskan nafas kasar, semakin kesal saja saat ku lihat wajah Narendra sungguh bukan pria dewasa yang berwibawa seperti biasanya. Ini kelihatan anak muda yang gimana gitu. Atau memang dasarnya akun yang sudah kelewat tua kali ya. Entahlah.
Narendra mengangguk, menarik kembali bibirnya kebelakang. Tersenyum konyol sekali. Mungkin memang sebaiknya aku ikut ke dapur meskipun ibu tadi menyuruhku untuk tetap duduk di sini. Berlama-lama dengan Narendra itu tidak ada positif positifnya.
****
"Kenapa ke sini, Dek. Ini ibu sudah cukup kok sama cucu ibu yang sholehah sekali." ujar ibu Basuki begitu melihatku berdiri di tidak jauh dari meja makan. Setelah bertanya dengan suami beliau, aku memutuskan untuk gabung di dapur. Meninggalkan Pak Basuki yang menggelengkan kepala karena melihat kelakuan putranya yang senyum senyum tidak jelas serta wajah yang sukses bikin aku kesal. "Tolong panggil Bapak sama Narendra saja, Dira." lanjut ibu Basuki. Baiklah, Aku menganggukkan kepala. Membalas senyum bahagia perempuan itu sebelum memanggil dua pria lintas generasi tersebut.
Setelah kami kumpul di meja makan, Aku harus tepuk jidat karena kelakuan Narendra yang bikin aku malu sekali. "Om Narendra mau duduk di sebelah Almeera, boleh ya Dek?" tanya Narendra pada putriku yang memang sudah duduk di samping diriku dan di samping Pak Basuki yang duduk di bagian kepala, sedangkan istrinya di sebrang tempat Almeera dan diriku.
"Narendra!" panggilku sedikit keras, tidak lupa tatapan tajam dari kedua bola mataku. "Duduk samping ibu." begitu jika mataku bisa berbicara, sayangnya Narendra memasang wajah sok tidak tahu kode apa yang aku kirimkan. "Mama di suruh geser dong, Sayang." bujuk Narendra menyebalkan. Ini apa lagi coba, di depan ibu bapak. Wajahku yang semakin panas karena amarah tidak kuasa memandang ke arah Ibu dan Bapak yang aku yakin sekarang menatap ke arah kami.
"Duduk, Om. Ini mama sudah geser. Oh iya om.. " Ucap putriku tenang tapi dalam sekali. Aku memang memilih untuk geser gitu saja, tanpa memandang ke arah putriku sendiri. "Jangan jadi king Drama deh, Almeera sama eyang sih nggak masalah, cuma ini looo. Mama nggak terbiasa sama drama kaya gini." Lanjut putriku tenang, namun di sambut gelak tawa kedua orang tua Narendra dan Narendra sendiri.
__ADS_1
"Aduuuh kesayangaaan, kok dewasa sekali sih. Padahal Om pengennya kamu jangan cepat dewasa."
Aku berdehem, mengangkat kepala ke arah Pak Basuki. Mencoba mencari perlindungan untuk keluar dari situasi yang bikin aku nggak nyaman sama sekali. Dan alhamdulillah, beliau memahami pandangan mataku yang memelas.
"Sudah, ayo kita sarapan saja."
Begitulah, suasana di meja makan kembali khidmat dengan doa yang di pandu langsung oleh Pak Basuki.
"Sayang mau apa?" tanyaku pada Almeera, putriku. "Sayur sop dulu aja, Ma." Jawab putriku lembut. Dan saat aku selesai meletakkan mangkuk Almeera yang baru saja aku isi sup, Narendra mengangkat piringnya sambil memandang ke arahku, namun urung begitu mendengar dehem dari putriku sendiri. "Awas lo kalau om bikin masalah, Ribet urusannya nanti. Kerja sama dong, Om. Demi kebaikan kita semua." bisik putriku sambil mencondongkan badannya ke arah Narendra, tetap saja aku bisa mendengar. Telingaku cukup sensitif untuk hal seperti ini.
"Baiklah, Tuan Putri."
Gemas, Marah, Kesal dan Malu. Kombinasi perasaan yang tidak begitu baik untuk di rasakan pada saat santap pagi.
"Almeera suka sambal, Sayang?" tanya Pak Basuki penuh kelembutan. "Hehe, iya Eyang." jawab putriku.
"Coba ini.. Sayur kubis yang sudah di rebus di kasih sambal ati, nah begini.. Aa.. Eyang suapin."
Mataku memanas, pemandangan semacam ini baru pertama kali ini aku saksikan. Ternyata benar, selama ini aku sudah sangat egois dengan merasa bahwa aku bisa memenuhi semua kebutuhan peran apapun yang putriku butuhkan.
Saat aku mencoba mengabaikan perasaan sensitif di dalam hatiku, dengan memandang ke arah ibu Basuki ternyata hatiku justru tercabik sangat dalam. Perempuan baik hati yang keibuan itu sedang menghapus air matanya dengan diam diam dan sembunyi sembunyi.
Aku mencoba memandang ke arah Narendra, berharap pria itu sedang asyik makan tanpa perduli interaksi Bapaknya dengan putriku. Ternyata justru mata kosong yang aku lihat. Pandangan terluka.
"Enak sekali ya Eyang." puji Putriku senang. "Eyang sukanya sarapan seperti ini tanpa nasi lo, Sayang. Tapi karena Eyang punya asam lambung jadi kadar pedasnya harus di kurangi. Biar enggak Dzolim sama diri sendiri." ucap Ibu Basuki antusias, kegembiraan begitu cepat kembali di wajah dan mata perempuan ini.
"Haha, ibu jangan buka aib dong." Sahut Pak Basuki. Yang di balas kekehan lembut Narendra. "Jangan banyak banyak ya sambalnya." Bisik Narendra penuh kasih sayang. Bahkan aku sendiri masih belum bisa terbiasa dengan sikap Narendra yang seperti ini, meskipun hampir setiap bersama Almeera, Narendra tanpa sadar memposisikan dirinya sebagai sosok Ayah di bandingkan sosok om. Begitu yang tergambar di mataku.
__ADS_1