
"Cieee yang mandinya sampai satu jam, seger amat yaaak kelihatannya!" seru suara yang sudah aku hafal dengan betul, Syailendra. Dia sudah berada di samping ayunan. "Habis mandi langsung kesini ya? Menikmati pemandangan dan semilir angin sambil duduk meringkuk di ayunan." Katanya kepadaku.
Aku menarik kakiku saat Syailendra mencoba duduk di sampingku, "Liburnya kamu gini ya? Nggak ada aktivitas lain?" tanyanya lagi, kepadaku.
"Ada dong! Masak sama anak anak terus berkebun terus olahraga atau jalan jalan ke taman kota." sergahku tanpa menoleh ke arah Syailendra.
"Nonton gitu?"
Aku menggeleng. Sudah lama sekali aku nggak terlalu tertarik dengan film apapun.
"Baca novel yang romantis gitu?"
Aku juga menggeleng lagi, aku tidak suka membaca novel seperti itu. Kalaupun di perpustakaan banyak, itu semua mas Dodi yang memaksa membelinya. Katanya siapa tahu nanti aku bakalan suka baca yang begituan.
"Nonton drama Korea deh, kaya perempuan pada umumnya?"
"Enggak, aku nggak suka nonton film yang romantis aku nggak suka baca buku yang romantis juga. Apalagi yang erotis!"
"Whaaat?? Kenapaaa???" teriak Syailendra kaget.
"Aku nggak suka hal yang begituan, novel romantis film romantis, drama drama yang bikin baper. Nggak suka. Aku terlalu takut bikin aku berkhayal yang berlebihan sampai-sampai aku jadi merasa begitu kecewa atas apa yang aku miliki. Hidup aku berat banget, Syailendra. Sebelum bertemu almarhum suami, kenyataan dalam hidup akun tuh pahit banget, jadi aku nggak mau meneguk manisnya sebuah khayalan, kehaluan. Enggak deh. Nanti aku jadi lemah buat menghadapi kerasnya hidup." jelasku sambil terus memandang ke arah hamparan kebun yang sejuk. Ada sayur sawi mulai siap di panen, ada buah timun yang sudah terlihat imut imut.
"Ya Tuhaaan, masih ada ya? Perempuan yang model beginii? Haduuuh, polos sih polos. Tapi begoooo banget dah!"
Aku menepuk lengan atas Syailendra keras. "Kasar banget kalau ngomong!" sentak ku.
"Sakit, duh! Kamu bar bar jugaa!!!"
"Mas Dodi juga beliin novel romantis yang agak erotis, tapi aku nggak tertarik baca. Katanya buat jaga jaga kalau tiba-tiba aku kepingin baca yang genre begitu."
"Terus selama ini kamu sukanya baca atau nonton yang kaya gimana?"
"Yang apa ya? Random aja dih, selain yang terlalu romantis."
"Narendra tahu?"
Aku menggeleng, "Enggak, dia tahunya aku suka baca begituan, dulu--dulu kita sering diskusi di perpustakaan. Aku, Narendra dan juga Almeera." Suaraku sempat tersendat-sendat. Mengingat semua kehangatan dan juga kedekatan kami. Apalagi keposesifan Narendra kepada Almeera. Papaable banget pokoknya.
"Pantesan, nggak ada manis manisnya. Lagian hal kaya gitu tuh nggak masalah asal jangan berlebihan, buat semangat juga kan!"
Aku menggeleng, belum ada alasan yang cukup menarik untuk membaca hal hal seperti itu.
"Apalagi kalau baca novel judulnya Fifty Shades! Atau nonton filmnya, wiiih jadi referensi bagus tuh buat orang yang kaya kamu." Kata Syailendra sambil tersenyum aneh, aneh menurutku. Senyum iseng tapi juga bernafsu. Fifty shades? Yaelah, di kira aku nggak tahu apa! "Kalem sih tapi liar hahahahaha." lanjut Syailendra mendahului ku, padahal mulutku sudah terbuka.
Seketika aku langsung menendang tubuh Syailendra. "Aku tahu ya itu soal apa! Aku punya temen yang sukanya ngomongin novel begituan! Enak aja! Kamu nyamain aku dengan tokoh yang manaaa, Baaang!" sentak ku sambil terus menendang Syailendra, tidak perduli dia kesakitan.
"Ana! Tentu sana Anastasia!" Sahut Syailendra sambil menangkap kakiku dan dia bawa ke pangkuannya.
Aku mencoba menarik kedua kakiku, tapi pegangan Syailendra begitu kuat. "Lepasin, Dih!" Pintaku.
"Udah, nikmatin aja. Nggak aneh aneh kok. Cuma mijat aja." sahut Syailendra sambil memijat telapak kakiku. Membuatku tenang.
"Kadang aku takut buat jatuh cinta, Ra." ujar Syailendra pelan. Tanpa menatap ke arahku. Tatapannya lurus ke depan. Menerawang jauh sekali. Tapi tangannya masih sibuk memijat kakiku. Hari ini aku memakai jumpsuit motif bunga bunga. Jadi aman sekaligus leluasa saat kakiku bergerak. "Cinta itu rumit, efek sampingnya berbeda-beda setiap orang." lanjutnya.
"Jadi kamu bisa berhubungan intim tanpa ada perasaan?" tanyaku pelan. Mendadak teringat hal tadi yang di bicarakan.
"Heem, begitulah. Tapi nggak ada yang namanya kepuasan. Hambar, hanya sekedar kaya kita tuh makan buat ngilangin lapar aja. Nggak ada yang spesial."
"Terus ngapain di lakukan? Nggak ada faedah nya!"
"Ada dong. Bikin stresnya hilang. Hahahaha."
"Dih," cibir ku.
"Nanti beneran mau ke Surabaya?"
"Iya, walaupun aku selalu pantau lewat daring luring, tetap saja kan? Ada yang kurang kalau nggak secara tatap muka."
Aku mengangguk setuju. "Buatin bekal dong." pintanya dengan senyuman yang lebar.
"Mau apa?"
"Kue kering? Atau apapun deh."
"Ya sudah, lepasin kakiku."
Syailendra melepaskan pegangan tangannya dan aku pun turun dari ayunan. Melangkah menuju dapur. Aku teringat masih punya kue kering cokelat yang kemarin aku buat. Kurang lebih masih ada dua atau toples kaca ukuran sedang.
"Aku perhatiin, baju kamu fashion kamu kok nggak brandnya bukan yang berkelas ya?" tanya Syailendra sambil berjalan di sampingku, menyejajarkan langkah kakinya dengan langkah kakiku.
Aku memang tidak pernah lagi membeli barang branded sekelas yang biasa dulu aku pakai sewaktu almarhum masih ada di sini. Lagi pula aku merasa tidak memerlukan semua itu. Aku tidak lagi perlu datang ke pertemuan atau jamuan yang mengharuskan menjaga penampilan dari atas sampai bawah, dulu memang sering datang ke acara acara seperti itu, mendampingi mas Dodi. Sekarang aku terbiasa hidup sederhana. Kami hidup layaknya masyarakat menengah ke atas, bukan masyarakat kalangan atas dan atasnya lagi.
Aku merasa cukup tenang dengan semua kesederhanaan ini, bahkan rumah yang dulu kami tempati bersama mas Dodi, aku tinggalkan. Biar di rawat oleh para karyawan, mereka semua terpercaya dan juga bisa di andalkan. Toh, barang produk lokal juga memiliki kwalitas yang tidak di ragukan.
__ADS_1
"Ra? Jangan tersinggung."
"Nggak, emang iya kok. Lagian kamu ini pria lo, Bang. Ngapain sih ributin hal kaya gitu."
"Heran aja sih, fasilitas yang kamu gunakan biasa saja gitu. Padahal perempuan lain tuh--"
"Perempuan yang abang tiduri gitu?" tanyaku dengan nada sadis, bahkan aku sampai berhenti. Sedangkan Syailendra hanya tersenyum kaku. "Sorry deh. Yuk, ke dapur." sahut Syailendra sambil menarik lenganku. Bibirku masih manyun, aku paling nggak suka kalau udah bahas hal kaya gini. Seperti nggak ada topik pembicaraan yang lainnya saja. Bukannya aku munafik jadi perempuan. Hanya saja, entah itu merek ternama atau tidak asal aku suka dan menurut aku bagus terus nyaman di pakai, nggak masalah kan. Yang jelas harus pas dengan isi kantong.
Aku melanjutkan langkah kakiku setelah melepaskan tangan Syailendra. Langsung membuka laci penyimpanan begitu sampai di dapur. Mengeluarkan beberapa kotak kue kering cokelat.
"Terima kasih, cukuplah buat nyemil selama satu minggu." Ujar Syailendra sambil membuka tutup toples. Mengeluarkan dia keping kue kering.
"Enak?"
"Heeem, nggak perlu di tanya lagi. Terbaik dah."
Aku tersenyum lega sekaligus bahagia. "Kamu nggak mau buka toko roti?" tanyanya padaku.
"Gimana sih, kelihatan nya sewa orang buat keypoh tentang aku? Kok masih tanya soal itu." ucapku sambil tertawa.
"Ada hal yang terlewatkan? Kamu punya toko roti juga?"
Aku mengangguk. "Aku kebetulan punya mahasiswi yang dia tuh punya masalah ekonomi, padahal orangnya rajin dan giat banget. Ulet gitu. Terus, ya sudah. Aku suka sama karakternya dia, jadi kita jadi partner deh. Nama tokonya, Rainbow Sweet. Mampir ke sana, di lihat lihat dulu, barangkali suka."
"Suka sama siapa? Kue nya atau ownernya? Itu mahasiswi cantik? Hehehehe."
Plaaak!
Lagi-lagi aku memukul pria itu, entah kenapa kalau lagi sama Syailendra itu bawaannya lepas kendali. Kadang pingin gigit tuh orang saking gemasnya.
"Aaauuuuuhhhhh. You!" bentak Syailendra sambil mengelus pahanya yang baru saja aku pukul. Kebetulan memang aku yang berdiri dan Syailendra duduk nangkring di atas meja dapur.
"Gemes, Bang. Maaf deh maaaf." ucapku sambil menahan tawa.
"Kamu nggak tahu apa yang muncul di otak jahanam ku ini, Ra! Setiap kena pukul kamu tuh jadi pengen ngehukum kamu tahu nggak." ujar Syailendra sambil turun dari meja dan mengambil dia toples kue kering kemudian pergi meninggalkan ku dengan wajah masam.
Sedangkan aku masih berdiri seperti orang bodoh yang mengerutkan kening sambil menggerakkan kelopak mataku berkali-kali.
Syailendra ngambek? Hanya karena soal pukulan yang tidak seberapa? Aneh!
Aku menggelengkan kepalaku, kemudian menyimpan satu toples kue kering yang tidak di bawa Syailendra itu ke dalam tempat semula.
Ah, jadi teringat putriku.
Apakah Narendra juga baik baik saja?
Bagaimana keadaannya?
Ya Tuhan, hatiku kembali nyeri saat terbayang senyuman Narendra.
***
"Hati-hati, kalau sudah sampai nanti kasih kabar ya!" pinta ku sambil melambaikan tangan kepada Syailendra yang sudah duduk di dalam mobil.
"Oke! Kamu juga masuk mobil gih, Be Stroooong!" teriak Syailendra membuatku kembali tertawa. Sudah di putuskan, dia berangkat ke Surabaya dan aku pergi menjemput anak anak di rumah Narendra.
Usaha Syailendra mengompres mataku membuahkan hasil, aku tidak harus menggunakan kaca mata hitam untuk menutupi mataku yang bengkak. Setelah melambaikan tangan, aku masuk ke dalam mobil dan pergi ke rumah keluarga Bagaskara.
Sepanjang perjalanan, aku terus berusaha mendoktrin diriku bahwa semua akan baik baik saja. Dan aku berharap nanti tidak akan canggung saat bertemu dengan keluarga Narendra. Akun juga merasa penasaran, bagaimana Narendra menjelaskan luka lebam yang di miliknya jika anak anak bertanya.
"Sayang," sapa Ibu Basuki begitu membuka pintu rumahnya setelah aku menekan bel. "Assalamu'alaikum, Bu." salam ku sambil mencium punggung tangannya.
"Waalaikumsalam. Kok dari tadi nggak bisa di hubungi? Nggak aktif nomornya." tanya Ibu Basuki sambil menggandeng tanganku saat masuk ke dalam rumah. Beliau bahkan duduk di sampingku saat kami duduk di sofa.
Aku merasa begitu bahagia sekaligus tidak enak karena membuat beliau merasa khawatir. "Maaf, Bu. Nggak tahu kalau ternyata batrenya habis." jawab ku berbohong. Aku sengaja nonaktifkan nya setelah panggilan terakhir dengan Aksara.
"Ibu khawatir, tadi setelah sholat subuh, Narendra marah marah nggak jelas. Terus pergi gitu aja, pulang pulang wajahnya banyak lebam nya. Terus dia cuma bilang habis berkelahi dengan Syailendra."
"Habis itu gimana, Bu?"
"Dia baik baik saja, cuma sedih banget wajahnya. Untungnya ada anak anak kan."
"Sekarang mereka di mana?"
"Lagi nonton film di perpustakaan."
Aku mengangguk pelan, tanganku masih di genggam oleh Ibu Basuki. Beliau menepuk-nepuk lembut punggung tanganku.
"Narendra nggak cerita detailnya sama Ibu, tapi Ibu tahu betul. Ini pasti ada sangkut pautnya dengan kalian." sahut Ibu Basuki tanpa memandang ke arahku. Mendengar apa yang di katakan beliau, tiba-tiba aku meneguk ludahku sendiri.
"Apapun itu, Ibu berharap yang terbaik untuk kalian bertiga. Ibu sungguh menyayangi kalian bertiga. Ibu setuju dengan saran Syailendra, Ibu tidak perlu ikut campur urusan kalian. Kalian sudah dewasa dan apa yang terjadi dengan Narendra dulu, membuat ibu jadi tidak berani berharap kamu akan terus berada di samping Narendra. Ibu juga wanita, Ludira. Wanita mana yang rela jika pasangannya masih terngiang-ngiang perempuan lain, meskipun itu hanya sekedar kenangan." ujar Ibu Basuki sambil menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ibu sudah memutuskan perjodohan antara Narendra dan Silvia, kami berusaha untuk menerima apa yang terjadi. Dan mengembalikan semuanya kepada Narendra. Ini hidup dia, ini kebahagiaan dia. Narendra berhak memutuskan sendiri dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri." lanjutnya padaku.
__ADS_1
"Terima kasih, Ibu sangat bahagia bisa mengenalmu, Ludira."
Aku mengangguk dan tersenyum. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Aku kehilangan kata kata. Speechless mendengar semua yang di ucapkan perempuan baik hati ini. Ibu mana yang tidak berusaha memberikan yang terbaik untuk putranya? Ibu mana yang tetap tega melihat penderitaan putranya? Tidak akan ada seorang Ibu yang rela jika putra tercintanya tersakiti.
"Mau ikut gabung nonton?" tanya Ibu Basuki, berusaha memecah keheningan di antara kami berdua. Aku mengangguk.
"Ibu dan bapak sehat sehat saja kan?" tanyaku pelan.
"Alhamdulillah, sehat semua. Bapak yang lagi sibuk, ini saja bapak lagi pergi ke sleman, katanya mau beli bibit buah buahan." jelas Beliau sambil tersenyum cerah. Mata beliau selalu saja bersinar begitu membicarakan suaminya. Padahal usia pernikahan mereka sudah begitu lama. Cinta yang murni. Mengagumkan.
"Bapak ke sana sama siapa, Bu?"
"Sama Hutomo, kenal nggak? Hutomo yang putranya juara di asian games itu loh."
"Oh iya iya."
Kami mengobrol bersama, sampai lupa kalau mau ikutan nonton bersama anak anak. Kepribadiannya yang hangat dan keibuan membuatku betah berlama-lama duduk di samping beliau, membicarakan segala macam topik pembicaraan yang seperti tidak ada habis habisnya.
****
"Nteeeee."
Suara Aksara terdengar olehku, aku menoleh dan ternyata memang Aksara yang sedang berlarian ke arahku. "Hallo, Sayang. Habis nonton apa ya?" tanyaku setelah menangkap tubuh Aksara.
"Habis nonton Doraemon," jawabnya padaku. Aku tersenyum. "Asyik nggak?" tanyaku lagi.
Aksara mengangguk antusias.
"Cucunya Eyang sudah lapar belum yaaa?" tanya Ibu Basuki yang sedang berdiri di dekatku. Kami memutuskan untuk masak olahan ayam. Ayam bakar rica untuk Almeera dan juga Narendra, ayam goreng biasa untuk Aksara.
"Sudah Eyang." Aksara menjawab dengan suara riang gembira nya, membuat ke khawatir ku tadi sirna. Dia baik baik saja. Aku harus berterima kasih dengan Silvia.
"Boleh saya bantu, Tante ?" sahut seseorang yang baru saja aku pikirkan itu. Aku menoleh ke arahnya dan kami saling bertukar senyum.
"Tunggu di ruang makan saja, Mbak Silvia. Ini sudah selesai kok." jawab Ibu Basuki dengan ramah. Ramah khas tuan rumah kepada tamunya. Membuatku sedikit mengerutkan kening.
Mereka akrab kan? Ini pernah jadi calon mantu loh.
Aku mengabaikan isi pikiran ku yang hampir terjun bebas, untung wajah Silvia yang sepertinya baik baik saja membuatku kembali tenang.
"Om sama Kakak di mana sayang?" tanya beliau sambil membungkuk, mensejajarkan pandangannya dengan Aksara.
"Duduk di dekat ruang makan, Eyang."
"Bisa tolong panggilkan Om dan juga Kakak? Suruh ke meja makan yaaa."
Aksara mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan dapur. Aku memandang terpesona setiap gerak gerik anak kecil itu.
"Dia butuh sosok Ibu, Ra. Makasih ya, sudah mau merawat Aksara." bisik Ibu Basuki kepadaku. "Sudahlah, Bu. Ibu bikin saja jadi canggung." ucapku memutuskan untuk jujur. Dari pada canggung terus menerus.
Saat aku berjalan ke arah meja makan dengan Bu Basuki, di sana Narendra sudah duduk di samping Almeera dan juga Aksara. Sedangkan Silvia duduk di sebrang nya. Aku memutuskan untuk duduk di samping Silvia.
"Maaah!" sapa Almeera dengan wajah yang berseri seri. Membuatku membelokkan kakiku ke arah tempatnya duduk. "Hay, Sayang. Kamu bahagia?" sahut ku sambil membalas pelukan Almeera. "Iya, Mah. Makasih ya." bisik Almeera kepadaku. Aku mengusap kepalanya pelan dan Almeera melepaskan pelukannya.
"Mama duduk di samping Tante Silvia ya." ucapku padanya. Ia mengangguk.
"Sekalian tolong di ambilin, Ra." ujar Narendra dengan nada yang biasa biasa saja. Bahkan saat mataku melihat ke arah wajahnya, dia tersenyum hangat dan mencoba untuk bersahabat. Meskipun aku tahu betul, sekilas wajahnya begitu sedih.
Aku membalas senyum Narendra dan mengambil tempat nasi, mengambilnya sesuai selera Narendra. Dan juga sekalian mengambilkan Ayam panggang rica.
"Mau sama seladanya?" tanyaku pelan.
"Boleh." jawab Narendra. "Makasih ya." Lanjutnya yang aku jawab dengan anggukan. Setelah itu aku baru menyadari jika Silvia sejak tadi memandang ke arah kami. Membuatku tersenyum canggung begitu aku duduk di sampingnya.
Setelah kami semua selesai makan dan sholat dhuhur bersama, Kami berkumpul di samping kolam renang. Di sana Narendra sedang berenang dengan Almeera dan juga Aksara, sedangkan aku dan Silvia tidak ikut berenang bersama mereka. Dan Ibu Basuki pamit karena ada acara arisan di sekitar komplek.
"Mbak? Kamu beruntung banget ya, bisa langsung akrab dengan Ibu Basuki. Padahal beliau terkenal sulit akrab dengan siapapun." Bisik Silvia dengan pandangan lurus ke depan. Wajahnya sendu.
"Oh ya?"
Silvia mengangguk. "Sama aku saja jaga jarak banget." Lanjutnya pelan.
Masa iya? Padahal beliau kan keibuan banget, ramah juga terus baik hati. Nggak ada kesan dingin. Mungkin kalau seandainya aku tidak melihat sikap Ibu ke Silvia, aku tidak akan percaya dengan apa yang di katakan dia.
"Mbak emang spesial banget ya."
"Ah, kamu. Semua orang itu spesial, Silvia. Jangan insecure seperti itu."
"Aku jarang banget bisa ngobrol berdua dengan ibu Basuki, bahkan ke rumah ini saja kalau tidak ada urusan penting tidak berani. Aku kadang iri sama kamu, Mbak." Sahut Silvia dengan nada sedih.
"Silviaa, kita semua memiliki luka masing-masing. Luka yang aku miliki mungkin berbeda dengan luka yang kamu miliki. Kadang, luka orang lain tampak sederhana dan sepele dibandingkan luka kita sendiri. Padahal aslinya lebih parah. Semua kembali ke sudut pandang dan juga karena kita tidak merasakannya jadi terlihat tidak seberapa." ujar ku pelan.
Silvia memandang ke depan, tersenyum sedih. Sedangkan aku hanya bisa menghembuskan nafas berat. Aku berharap dia akan mendapatkan kebahagiannya sendiri. Seburuk apapun masa lalunya, kini dia sudah memperbaiki dirinya sendiri menjadi lebih baik lagi. Kita semua punya masa lalu bukan? Hanya saja, beberapa orang memilih memperbaiki masa depannya dengan menjauhi ataupun meninggalkan hal jelek yang pernah terjadi di masa lalu. Sedangkan beberapa orang, memilih menjadikan masa lalunya sebagai masa sekarang dan juga masa depan. Ah.
__ADS_1