
Silvia, perempuan itu serius datang ke rumah. Ia datang ke rumah tepat setelah aku mengabari Syailendra bahwa putranya akan tidur di sini. Kebetulan nomor Syailendra tidak bisa di hubungi, sedang sibuk. Jadi hanya meninggalkan pesan WhatsApp.
"Mbaaaaak!" teriak Silvia begitu aku membuka pintu dan kami saling menjawab salam. Silvia berteriak dan langsung memeluk tubuhku erat. "Rindu sekalii." ujar Silvia pelan.
"Masuk dulu gih."
SIlvia mengangguk dan menggandeng tangan ku erat.
"Anak anak di mana?" tanya Silvia pelan,
"Kakak di tempat Eyangnya. Terus Adiknya lagi ikut sholat berjamaah di mushola kampung." terangku pelan.
"Mbak Dira kok baik banget sih sama pembantu. Di anggap keluarga banget gitu di sini."
"Ah, kamu. Biasa aja kok."
"Mbak? Aku tidur di mana nih?" tanya Silvia dengan senyum senyum dan kedipan mata. "Beneran kan aku boleh tidur di sini?" lanjut Silvia dengan wajah cemas.
"Boleh ih, sana masuk ke kamar tamu. Yang dekat kamarnya aku aja ya. Soalnya yang sebelah situ suka buat istirahat Narendra atau Papanya Adek." terang ku sambil menunjuk kamar tamu. Tidak ada respon jawaban dari Silvia, aku menoleh. Ternyata perempuan cantik itu sedang menatap heran ke arahku sambil tersenyum lebar.
"Ada apa?" tanyaku malu. Bahkan aku juga tersenyum malu. Di tatap tanpa kedip seperti ini ternyata bikin baper juga.
"Papanya Adek? Eh?Hahahahahaha." ujar Silvia pelan dan menekankan di kata papanya Adek. Kemudian tertawa lepas. Memeluk tubuhku dari samping. Menyandarkan kepalanya di lengan atas ku.
"Aku selalu bersyukur kepada Tuhan, melihat mbak Dita bisa bahagia seperti ini lagi." bisik Perempuan itu dengan suara yang dalam. Pelan namun penuh ketenangan.
"Heeeeyyy! Apaan sih! Hidup aku, sekarang ini terlalu rumit tahuuu."
"Hahahaha, cinta segi teh eh?" bisik Silvia dengan nada mengejek jahil.
Aku merengut, bibirku yang entah kenapa tertarik ke belakang, membentuk senyuman, ku paksa untuk manyun. Entahlah, aku ingin tersenyum mendengar kalimat Silvia ini.
"Eaaa eaaaa, malu ya bos? Uhuk uhukkk."
Hahahahaha, Silvia tertawa dengan bahagianya. Memeluk tubuhku erat dan melepaskannya perlahan. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamar tamu.
"Mbak... Soal yang makan malam itu, maaf ya." ujar Silvia sambil menoleh sekilas kepadaku yang ikut duduk di atas kasur.
"Kamu masih hutang penjelasan, Silviaa." sahutku pelan. Mencoba tersenyum. Meskipun hatiku sedikit resah. Semenjak mengungkit Shofia, Narendra menjadi dua sosok yang berbeda. Perlahan-lahan, Narendra menjadi begitu melelahkan.
Silvia yang di depanku, menarik nafas kemudian mengeluarkan secara perlahan. Kemudian menatap mataku dan juga menggenggam tanganku, erat.
"Mbak, aku cuma bisa cerita tentang yang aku alami. Bukan berarti aku nggak mau cerita semua, cuman... Urusan mereka itu terlalu rumit untuk di jelaskan."
Aku mengangguk. Membiarkan Silvia nyaman. Wajah cantik perempuan ini mulai meredup. Satu, sedih dan juga menderita.
"Aku lelah, mbak. Sebetulnya aku lelah." sahut Silvia mengawali pembicaraan. Matanya tidak lagi bisa fokus di satu arah.
"Dari awal, keluarga kami sangat merasa bersalah dengan keadaan ini. Kami menerima kenyataan, tidak berusaha mengelak atau menuduh ke mas Narendra soal gangguan jiwa yang di alami Mbak Shofia. Sepenuhnya salah keluarga kami, om dan tante terlalu memanjakan Mbak Shofia hingga membuat dia menjadi hancur, parahnya bukan hanya dirinya sendiri yang hancur. Melainkan juga menghancurkan orang lain."
Silvia bercerita pelan. Aku masih setia mendengarkan. Aku mencoba sabar untuk tidak langsung meminta Silvia menceritakan pokok intinya.
"Kemudian, setelah mereka bercerai. Keluarga kami mencoba untuk tetap menjalin hubungan dengan keluarga mas Narendra. Jadi para sesepuh kedua keluarga memutuskan bahwa mereka menjodohkan aku dan mas Narendra. Tanpa meminta pendapat ku terlebih dahulu. Aku bisa apa mbak? Selain menerima semua titah mereka. Toh, lambat laun, hatiku memang tertarik dengan Mas Narendra."
Aku mengangguk, tidak ada perasaan cemburu di hatiku. Padahal aku sempat meraba dadaku, mengira akan ada percikan rasa cemburu. Nyatanya tidak ada. Apakah mungkin karena aku sudah terbiasa dengan Silvia dan perasaannya kepada Narendra? Mungkin saja. Jadi tidak ada getar cemburu di hatiku.
"Mbak, aku lebih setuju kalau mas Narendra sama orang lain. Nikah sama orang lain daripada nikah sama aku. Kemarin saat keluarga Bagaskara memutuskan untuk membatalkan perjodohan ini, aku bahagia. Sungguh bahagia, lega. Karena sebenarnya, keluarga ku terlalu jahat. Mereka ingin aku menikah dengan mas Narendra kemudian menjadikan Mbak Shofia sebagai istri kedua mas Narendra. Perjanjiannya seperti itu. Sedangkan aku? Yang nggak punya suara sedikitpun cuma bisa berdoa. Minta kepada Tuhan bahwa mas Narendra mendapatkan jodoh yang terbaik."
Aku tercengang, kaget. Masa iya? Ada keluarga yang sebegitunya. Demi apa? Toh, keluarga Silvia dan Shofia sudah berlimpah segala hal.
"Demi apa mereka melakukan semua itu?" tanyaku pelan.
"Karena nggak mungkin ada yang mau menerima mbak Shofia. Jadi, jika aku menikah dengan Mas Narendra. Aku diharapkan bisa membujuk atau merayu mas Narendra untuk kembali menerima mbak Shofia." jawab Silvia lirih. "Sedangkan aku tahu betul, bagaimana menderitanya mas Narendra. Tapi juga aku kadang nggak tega sama mbak Shofia kalau dia lagi nggak kambuh. Sebenarnya dia baik kok orangnya." lanjut Silvia pelan.
"Kita serahkan saja kepada sang Pencipta, Silvia. Kita bisa merencanakan. Tapi pada akhirnya, keputusan akhirnya ada apa pemilik takdir." sahut ku pelan. Mengatakan dengan mudah kalimat itu. Hatiku lebih tenang. Aku justru merasa begitu bersyukur, karena kondisi yang aku alami lebih baik dari pada mereka semua.
"Silvia?" panggil ku pelan. Silvia yang sedang menatap tangannya dengan pandangan kosong itu, menoleh ke arahku.
Aku menggerakkan kelopak mataku pelan. Menarik kedua bibirku kedalam mulut, berusaha mengumpulkan keyakinan untuk menanyakan satu hal yang memang selalu mengganggu akal sehatku.
"Iya, Mbak?"
"Menurut kamu, Narendra masih mencintai Shofia nggak?" tanyaku pelan, suaraku tidak yakin.
Silvia mengusap wajahnya pelan. "Menurut aku, mas Narendra sangat memuja mbak Dira." jawab Silvia dengan nada yang berusaha meyakinkan. Sedangkan matanya, terlihat sedikit menyembunyikan sesuatu.
"Silvia,"
"Iya mbak, oke oke. Jika mas Narendra masih ada perasaan cinta kepada mbak Shofia itu wajah deh, Mbak. Cinta pertama dengan luka yang tidak bisa di bilang sederhana itu memang sulit di lupakan. Iya kan?"
__ADS_1
"Narendra sulit sekali melepas Shofia." sahutku dengan suara lemah. "Mungkin mulai saat ini, aku harus kembali menatap hatiku, Silvia." kataku.
Kami sama sama diam. Hanya saling menatap dan bertukar senyuman. Sedangkan tangan kami saling menggenggam, berusaha saling menguatkan. Dari sikap diam Silvia, aku tahu. Perempuan ini juga merasakan kenyataan ini. Narendra, pria itu bukan hanya sekedar tidak bisa melepas Shofia dan masa lalunya. Tapi justru enggan beranjak pergi dari kenangan itu.
Aku sadar, hanya aku yang menggenggam tangan itu, sedangkan pria yang aku genggam tangannya dengan erat. Tidak membalas genggaman ini. Bodoh. Aku mulai berbuat bodoh.
"Maaf, jadi nggak nawarin apa apa ya. Kamu mau minum apa Sil?" tanyaku pelan. Berusaha keluar dari suasana yang tidak. Menyenangkan ini. Terlalu suram. Silvia tertawa ringan, dia memeluk tubuhku erat.
"Malam minggu gini mbak, bikin bakar bakar atau apa gitu." sahut Silvia dengan suara manja. Seperti adik perempuan.
"Hahaha, kamu ini yaa. Ya udah deh, lihat stok makanan di kulkas saja sana. Biar kamu pilih sendiri maunya apa!"
"Makasiiih, yuuuk. Langsung kedapur."
Aku tertawa pelan, kami berdiri dan berjalan ke arah dapur.
"Tanteeeeee. Assalamu'alaikum!" teriak putraku. Membuat langkah kaki kami berdua, aku dan Silvia terhenti. Dan menoleh ke sumber suara.
"Waalaikumsalam, sayang. Kesayangan Tante rajin sekali yaaa iniii." sahutku sambil meraih tubuh Aksara ke pelukan. "Tadi gimana di mushola?" lanjut ku pelan.
"Tadi ikut Aku tadarus sama orang orang di mushola. Adek diem kok, nggak main main. Nte tanya sama Aki deh, iya kan Aki?" sahut Aksara sambil menoleh ke mang sopir, suaminya simbok. Aku jadi ikut menoleh ke arah beliau.
"Iya, Bu. Alhamdulillah, baik banget den Aksara." jawab beliau.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Simbok sama mamang istirahat saja. Sudah masak buat makan malam kan?" tanyaku pelan.
"Sudah, Bu. Masak balado telur sama tempe bacem. Kalau yang buat ibu sama Aden, saya belum masak." sahut simbok pelan.
"Kan daging ayamnya masih, mbok. Kok nggak sekalian di goreng? Buat simbok sama Mamang maksudnya." ucapku.
"Saya bosan, Bu. Maaf." ujar Mamang malu malu.
Aku tersenyum. "Ya mbok, ini biar saya yang urus. Simbok istirahat saja." titahku kepada perempuan Sepuh yang masih memakai mukenah itu. Di jawab oleh anggukan kepala.
"Mari, Bu Dira." ujar Mamang pamitan.
Aku mengangguk pelan.
"Gila, hidup sama mbak Dira enak banget ya. Di perlakuan dengan baik dan juga mulia. Hebaat." sentak Silvia keras sambil bertepuk tangan. Membuatku tertawa karena tingkah lucunya itu.
"Hallo, Aksara. Masih kenal sama Tante?" tanya Silvia kepada Aksara setelah aku berhenti tertawa dan menepuk halus dirinya.
"Iiih, gemesin banget yaaaa. Ganteeeng banget sih."
"Sudah, Tante. Saya risih."
Meskipun Aksara sudah meronta ronta, Silvia masih saja gemas nyubit pipi Aksara. Cium gemas juga. Sampai akhirnya Aksara teriak teriak.
"Nteeeee, toloongiiiin."
"Hahahaha, Siiil, lepasin Silviaaa. Awas, anak aku nanti lecet!"
"Huuuuhhhhh, embaaak."
****
Aksara dan juga Silvia sedang asyik ngobrol. Ternyata Silvia, selain memiliki paras yang rupawan. Juga keibuan. Aku harap, dia akan bertemu jodoh yang benar-benar terbaik dari yang terbaik. Siapa sangka, jika keluarga Bagaskara yang terkenal adem ayem tanpa huru hara ataupun skandal dan juga gosip gosip murahan itu ternyata rumitnya minta ampun.
Aku jadi teringat kalimat kiasan, "Jangan menilai buku dari sampulnya" yang artinya "jangan menilai bobot atau nilai dari suatu hal dari penampilan luarnya saja". Tapi, bagaimanapun juga, keluarga Bagaskara itu hebat dan luar biasa. Mereka pandai bersabar, mereka pandai menghadapi masalah dan mendapatkan jalan keluarnya. Pelampiasan yang mereka ambil adalah hal hal yang baik dan juga positif.
"Siiil, kamu mau susu kurma juga nggak?" tanyaku dengan sedikit berteriak. Akhir-akhir ini, aku lebih suka membuatkan susu kurma untuk anak anak dari pada susu biasa. Susunya pun menggunakan susu sapi murni. Simbok yang suka beli langganan di salah satu warga sini.
"Boleh, Mbak." jawab Silvia sambil berdiri dan sepertinya mau berjalan ke arahku.
"Susunya susu murni loh, kamu oke? Nggak elergi kan?" tanyaku pelan, begitu gadis itu dekat dengan tempatku berdiri.
"Oke sih, nggak ada alergi. Anak anak mau minum susu segar kaya gitu?"
"Mau dong." Jawabku sambil menggunakan plastik tangan, memisahkan buah kurma dari bijinya.
"Iyalah, nggak di ragukan lagi. Orang ibunya macam Embak gini. Serba bisa." celetuk Silvia sambil tersenyum hangat.
Aku tertawa kecil. "Amiin, semoga jadi doa baik deh." Aku menoleh sejenak ke arah Silvia. Raut wajah gadis itu sedih. "Why? Apa yang bikin wajah kamu gitu?" tanyaku sambil terus menyiapkan buah Kurma nya.
"Aku juga merindukan keluarga, mbak. Capek jadi orang yang selalu nurut gini." desah Silvia.
Aku meletakkan pisau dan memeluk gadis ini. "Minta sama Tuhan, jangan malu buat ngadu se ngadu ngadu nya sama yang Menciptakan kita." bisik ku sambil mengusap punggung gadis yang aku peluk ini.
__ADS_1
"Sana, temenin Aksara. Lupakan sejenak ketidaknyamanan di sini." ujar ku sambil melepaskan pelukan dan menyentuh dadaku.
Silvia mengangguk. "Terima kasih, Mbak. Kamu yang terbaik." ucap Silvia sambil tersenyum. "Hahahaha. Lama lama aku terbang tinggi deeeh." jawabku sambil tertawa kecil.
Tidak lama kemudian, susu kurma yang aku bikin sudah selesai. Siap di nikmati oleh kita bertiga. Saat aku membawa susu kurma ke depan, pintu rumah terbuka dan seseorang mengucapkan salam dengan nada yang keras.
Syailendra! Khas Syailendra.
"Siapa sih, Mbak? Malam malam gini langsung masuk aja."
"Itu Papanya Aksara, Tante. Papa emang suka teriak teriak kaya gitu."
Aku meletakkan susu kurma di atas meja. Saat Syailendra sudah tiba di ruangan ini.
"Eeeh, ada tamu yaa." ujar Syailendra dengan badan sedikit sempoyongan.
Aku merasa ada yang tidak beres, langsung menarik tubuh Aksara, begitu anak itu mau berlari ke arah Papanya.
"Tunggu di sebentar ya, Papa masih kotor tuh." titah ku sambil menunjuk ke arah kemeja putih milik Syailendra yang terlihat lecek dan juga kotor. Ada beberapa noda.
Aksara mengangguk. Sedangkan Silvia memandang ke arahku dengan wajah marah.
"Kenapa kalian kaku gitu?" tanya Syailendra yang masih diam di tempat.
"Stop! Jangan coba coba ke sini. Sana, langsung ke kamar mandi!" teriakku dengan nada kasar. Huh, enak aja dia. Kesini kok dalam kondisi setengah mabuk. Dasar nggak ada akhlak.
"Apaan sih, marah marah. Aku mau peluk adek kok." sahut Syailendra sambil berjalan ke arah kami. Untung sempoyongan, jadi nggak terlalu cepat sampai ke sini.
"Yaaaaaaakkkkkhhhh. Jangan dekat dekat! Kotor gituu!" teriakku kesal. Bukan marah. Sedikit bisa memaklumi keadaan ini. Kehidupan Syailendra memang sedikit lebih bebas dari pada Narendra. Dia sendiri yang mengakui hal tersebut. Tapi, ke sini dalam keadaan mabuk?
Ya Tuhan!
Tepuk jidat dah, saya.
Aku melepas pegangan ku di tubuh Aksara. Kemudian berdiri dan menuju tempat Syailendra yang tersenyum konyol.
"Kamu, lebih manusiawi kalau marah gitu."
Aksara dan Silvia tertawa melihat kami berdua, aku yang berdiri dengan wajah kesal dan Syailendra yang mengacak acak rambutnya.
"Aku mau peluk Aksara. Kok kamu yang maju?" tanya Syailendra dengan suara genitnya. Membuat Silvia kembali tertawa.
Aku menoleh ke arah mereka berdua, Silvia dengan tenang menutup mulutnya, menahan surat tawanya yang mau keluar. Sedangkan putraku, duduk sambil menatap ke arah televisi yang sedang menayangkan kartun bus. Tangan mungilnya memegang mug yang berisi susu kurma hangat.
"Dek? Papa sering pulang kaya gini ya?" tanyaku pelan, tanganku masih sedekap di dada.
"He eh, suka bau gitu kan, Nte. Padahal Adek mau tidur, di cium cium gitu. Sebel sih, tapi adek rindu. Kan dulu papa nggak pernah pulang."
Bibirku semakin manyun. Sedangkan Syailendra hanya meringis.
"Eh, jarang pulang. Papa pulang tapi sukaa laamaaa banget baru pulang."
Haduh, pantas saja. Pantas kalau Aksara nggak begitu terkejut dengan penampilan Papanya ini.
"Adek sama Tante Silvia bentar ya." pintaku sambil menoleh ke arah Aksara dan juga Silvia. Mereka berdua mengangguk, bedanya Silvia tidak bisa berhenti tersenyum.
"Siniii, siniiii." Sentak ku sambil menarik kemeja Syailendra. "Bad boy kok sampai se kebangetan kaya gitu." teriakku sambil terus menarik Syailendra ke arah kamar tamu.
"Aku nggak mabuk kok. Cuma minum dikit aja." ucap Syailendra.
"Tetap saja salah. Punya anak kok di kasih contoh kaya gitu."
"Dianya nggak tahu."
"Terus ngapain ke sini? Harusnya pulang ke rumah!!"
"Sepi, males."
"Masuk kamar, mandi. Bersihin diri. Baru boleh ketemu sama Aksara. Terus pulang, nggak boleh nginep di sini. Nanti di antar Mamang!"
"Aye aye Captain!"
Braaakkk
Aku keluar kamar tamu sambil membanting pintunya, keras. Kesal banget sih.
"Ceileeeee, ada istri yang ngambek niih." goda Silvia begitu aku kembali bergabung dengan mereka.
"Apaan, kalau ngomong tuh yaaaa."
__ADS_1
Silvia tertawa sambil memeluk tubuhku. Heran, ini anak gadis orang suka banget meluk aku.
****