
"Wajahnya kok gitu, Mas Rendra?" tanya mbak Susi, aku menoleh. Ternyata pria itu sudah di depan mejanya.
"Iya ini, Bu." jawab Narendra pelan.
Aku masih mengamati wajah Narendra yang meskipun tidak lagi bengkak seperti kemarin sore, tetap saja masih biru keunguan.
"Berantem atau gimana, Mas?"
"Iya, Berantem." jawab Narendra sambil meringis geli. Sedangkan aku bingung sendiri, kenapa harus jujur banget kaya gitu coba. Apa dia nggak pernah merasakan kalau selama ini jadi idola karena sikap dan perbuatannya selalu baik.
"Whaaaat? Narendra Bagaskara berantem? nolong orang, Mas?" tanya Dewi dengan suara yang melengking indah sekali di telinga.
"Ah!" desahku pelan begitu pinggangku terkena tusukan bolpointnya Silvia.
"Kenapa sih dia?" bisik Silvia pelan. Aku menoleh ke arah Silvia dan ikut berbisik, "Khawatir neng?" tanyaku balik sambil tersenyum jahil.
"Hahaha, lumayan. Cuma nggak seperti Narendra yang biasanya. Masa berantem? serius bukan Narendra sekaliii."
Aku hanya tersenyum karena telingaku masih fokus ke suara Dewi yang kembali terdengar.
"Kenapa sih mas? di rampok atau gimana?"
"Berantem. Beneran berantem." jawab Narendra dengan penuh keyakinan.
"Sama siapa? Ada apa?"
"Sama Abang saya, saya nggak suka aja lihat abang saya melakukan sesuatu ya g menurut saya itu nggak baik." jelas Narendra pelan.
"Nggak mungkin gitu deh alasannya, itu terlalu sederhana buat di jadiin alasan mukul abang sendiri." cerca Dewi terus menerus.
Sepertinya ini anak emang terlalu ingin tahu dengan apa yang terjadi sesungguhnya dan aku berharap pria ini, Narendra tidak menceritakan yang sesungguhnya terjadi.
Aku menoleh lagi ke arah Silvia yang kini menoleh ke arahku dengan tatapan yang sangat sangat menggemaskan. Belum lagi dengan tingkahnya yang menumpukan kepala di tangannya.
"Dia berantem sama Mas Syailendra?" bisik Silvia pelan. Aku membuang nafas keras, "Begitulah." jawabku pelan, sama berbisiknya.
"Abang saya--"
Suara Narendra terhenti begitu aku mencuri curi kesempatan menatap pria itu, tolonglah semoga dia paham dengan apa yang aku maksudkan lewat tatapan mata. Bukan malah tersenyum jahil gitu.
__ADS_1
"Eeeeh, aduh!! Mas Narendra jangan senyum gitu dong, hati hayati meleleh ini gimanaaa. hahaha."
Aku menggelengkan kepala melihat tingkah Dewi, suara tawa juga terdengar dari beberapa rekan kami. Kecuali aku, Silvia dan pria yang menurut aku diam diam jatuh cinta dengan perempuan tomboi itu.
"Mbak?" panggil Silvia pelan,
"Heeeem."
"Aku tersenyum penuh cinta ke mas Narendra tapi tidak pernah sedikitpun mendapatkan balasan senyum seperi itu. Sedangkan mbak, menatap Narendra penuh horor saja dapat balasan senyum penuh cinta dari Narendra. Miris ya."
Aku serba salah. Perempuan di sampingku ini kini wajah cantiknya begitu suram sendu. Ia justru harus bertemu derita di ujung rindu yang selama ini ia jaga dengan segenap jiwa.
"I'm so sorry, itu bukan senyum penuh cinta, Silvia." ucapku pelan. Sangat menyesal bahkan hatiku dirundung perasaan bersalah.
"Aku bahagia, Mbak. Cukup melihat kalian bahagia saja itu sudah lebih dari cukup."
"Ah, aku heran dengan caramu mencintai, Sil."
Perempuan manis itu hanya tersenyum dan menatapku sangat dalam. Bahkan dia meremas tanganku lembut, seakan meyakinkanku untuk percaya dengan apa yang dia ucapkan.
"Aduh, Mas Narendra. Cerita doooong. Penasaran nih, Hayatiii." Desak Dewi tanpa malu.
"Saya lepas kendali saat melihat abang saya menyentuh sesuatu yang nggak boleh di sentuh sama dia, makanya saya pukul dia duluan." jelas Narendra sekilas menatap ke arahku, membuatku langsung menoleh ke arah Silvia dan yang lainnya. Aduh, ternyata Silvia menyadari tatapan Narendra ke arahku.
"Nanti saya cerita, Sil."
"Huahahahahaha. Ini bukan soal cewek kan Baaaang? Aduh, sama Hayati aja deh bang, akhir akhir ini udah beda dari yang dulu soalnya. Senyumnya matanya tatapannya, hidup bangeeet."
Semua orang tertawa. Bahkan kami, aku dan Silvia ikut tertawa.
Plaaak!!
"Narendra udah soldout! nih akuuu, akuu yang dari dulu nungguin kamu!" teriak pria itu, pria yang diam diam memang menaruh perasaan kepada temanku yang tomboi cantik dan juga baik hati, selera humornya juga sangat bagus. Meskipun di depan kami semua, tingkahnya sangat menggemaskan namun di depan muridnya sikapnya cool sekali. Profesional.
Aku menggelengkan kepala pelan, menata beberapa berkas yang memang harus aku bahwa untuk mengisi kelas hari ini. Semoga Narendra tidak menceritakan sesuatu yang akan memancing pembicaraan tentang aku dan dirinya saat aku tidak di ruangan ini.
"Mbak janji ya, Habis ngisi kelas langsung cerita sama Aku." desak Silvia dengan muka serius. Aku hanya tersenyum, berharap ku temukan semburat kecemburuan. Tidak ada, tidak ada tanda tanda cemburu sedikitpun di wajah cantik ini, justru yang ada binar kebahagiaan yang menurutku tidak masuk akal, mengingat seharusnya Silvia ini sedih karena sikap Narendra ke perempuan lain, meskipun itu aku.
***
__ADS_1
"Belum baikan juga?" tanyaku pelan, kepada pria yang berdiri di dekat ku. "Lumayan, terima kasih salepnya." jawab pria itu tanpa menoleh ke arahku.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Habis potong rambut ya?" tanyaku pelan. Entah kenapa nada bicaraku lebih lembut dari biasanya. Jika seperti ini, penampilan pria itu semakin mirip dengan almarhum mas Dodi.
"Kenapa? mirip mas Dodi?" tanya pria itu sambil menoleh ke arahku.
"Sekarang sudah nggak begitu sedih ya? udah bisa move on?"
Aku menggeleng pelan.
"Belum sepenuhnya, cuma saya lebih mudah menerima kenyataan sekarang ini."
"Why? Kenapa?"
Aku menghembuskan nafas kasar, bimbang juga karena jika aku menceritakan lebih jujur maka Narendra, pria ini akan bersikap menyebalkan lagi.
"Syailendra? karena Bang Syailendra kan?"
"Bukaan, bukan .... kalau maksud kamu aku menerus perasaan yang berbeda dengan Syailendra."
"Lantas? Wajah kamu terlalu ekspresif, Dira."
Ah, pria ini. Kenapa semakin ke sini semakin susah untuk berbohong ataupun menyembunyikan sesuatu dari Narendra. Kenapa Narendra sekarang ini selalu tahu apa yang ada di otakku ini.
"Narendraa."
"Kan? Sebegitu pentingnya Syailendra bagi kamu sekarang, Dira. Sampai sampai bisa menentramkan hatimu yang selama ini terjebak dalam masa lalu." sahut Narendra dengan wajah ketus.
"Kamu sedih?" tanyaku memastikan apa yang aku lihat di wajah Narendra saat ini.
"Yaa!"
"Kenapa? Kenapa Narendra?" tanyaku keras. Aku tidak ingin hatiku dan juga pikiranku kacau dengan prasangka ini itu yang entah benar atau tidak. Ucapan Syailendra, ucapan Silvia, seakan akan pria di depanku ini menaruh perasaan istimewa padaku.
"Karena aku nggak sukaa! Aku benci jika harus melihatmu berbinar penuh kebahagiaan hanya karena adu mulut dengan Bang Lendra tentang Aksara. Hatiku nyeri, Diraaa. Sangat tidak bisa jika harus melihat kamu begitu nyaman, begitu akrab dengan Bang Lendra." jelas Narendra dengan suara yang lebih tinggi.
"Aku benci jika harus kehilangan kendali atas diriku sendiri jika menyangkut tentang dirimu." lanjut Narendra memandang tajam ke arahku.
__ADS_1
"Jadi? apakah aku bisa menyingkirkan luka hatimu karena Perempuan itu? Bagaimana dengan kata katamu sendiri tentang Sofia yang terus menerus menjadi pemilik mutlak dirimu, hatimu, jiwamu, Haaah????" bentakku kasar. Mengabaikan jika orang orang rumah bisa mendengar kami. Entahlah, perasaan ini lebih kacau dari pada yang aku bayangkan.
"Jadi Narendra Bagaskara! sikapmu semakin membuatku tidak bisa mengendalikan hatiku juga. Aku butuh kepastian yang pasti! Hatiku butuh kejelasan! bukan rasa nyaman yang terus terusan kau berikan, bukan rasa rindu yang meski sudah aku usir paksa tetap saja menetap di jiwaku!" Ucapku sambil terengah-engah. Sakit sekali dada ini, nyeri uku hatiku.