LUDIRA

LUDIRA
Tujuh Puluh Dua


__ADS_3

"Nteeee!!!" teriak Aksara sambil berlarian ke arah kami berdiri. "Eh? Sama Papa juga" sahut Aksara begitu melepas pelukanku.


"Hay Boy, gimana hari ini?" tanya Syailendra sambil menggendong putranya. Aku yakin ibu ibu yang sejak tadi kasak kusuk semakin terpukau dengan gaya Syailendra yang seperti ini.


"Hebat dong, Pa" jawab Aksara sambil tersenyum. "Jadi jalan jalan kan, Pah?" tanya Aksara begitu Papanya menurunkan dari gendongan.


"Jadi dong! Tante boleh ikut?" tanyaku sambil menggandeng tangan Aksara.


Aksara tersenyum cerah sekali. "Yes!! Terima kasih, Nteee!" sahut Bocah kecil itu sambil memelukku.


"Kok terima kasih sih? Kan Tante tanya, boleh nggak?" Aku tertawa, begitu juga Syailendra yang sudah berdiri di depan pintu mobil.


"Hahahaha, Tanteee!" sahut Aksara manja.


"Ayo ayooo, masuk mobil. Jadi tontonan orang nih!" ucap Syailendra dengan wajah cerah. Memandang kami berdua dengan sorot mata yang membuatku salah tingkah.


Aku mengikuti pandangan Syailendra yang mengarah ke beberapa wali murid yang sama sama sedang menjemput putra mereka. Aku mengangguk pelan ke arah mereka dan tersenyum. Begitu juga mereka, membalas dengan anggukan dan juga senyuman. Kemudian kami masuk ke dalam mobil. Berlalu meninggalkan tempat ini menuju entah kemana.


"Kita mau kemana?" tanyaku sambil menoleh ke Syailendra.


"Mau ke istana Eskrim terus habis itu belinya di bungkus aja terus kita ke area outdoor taman bermain terus habis itu baru ke restoran Jepaaang." jelas bocah yang sedang duduk di pangkuan ku itu dengan antusias.


Aku dan Syailendra saling bertukar pandang dan tersenyum bahagia setelah sama sama melihat ke arah Aksara. Perasaan bahagia bukan hanya sekedar hinggap sejenak di hatiku, tapi membuncah mengisi keseluruhan hatiku saat ini.


"Nanti, Adek mau beliin Kak Rara kerudung deh, Ntee. Ya? Boleh yaaa, kita departemen store yang itu Pa, yang kalau kita beli baju itu, Pa." Celoteh Aksara riang, sambil memajukan badannya ke arah Papanya. Memeluk leher Papanya Erat.


"Lepasin, Boy!" sahut Syailendra di tengah-tengah tawanya. "Nggak, nggak udah beliin Kakak kamu apapun." Syailendra masih menatap ke depan saat mengucapkan kalimat itu dengan wajah seriusnya.


"Nteeee!" rengek Aksara sambil menoleh ke arahku. Aku hanya tersenyum datar. "Tante ikut keputusan Papa aja deh. Kalau Papanya bilang enggak, Tante bisa apa?" jawabku semakin mendukung wajah muram Aksara.


"Papa iih! Kak Rara kemarin bilang mau beli kerudung warna violet tapi belum sempaat, Paaa."


"Enggak."


"Papa kok gitu siih!"


Aksara melepas pelukan tangannya dari leher Syailendra. Duduk di pangkuan ku lagi dengan wajah cemberutnya. Bagaimana aku tidak gemas dengan tingkah laku bocah laki-laki ini. Ngambek ala Aksara memang selalu menggemaskan. Aku menyukai momen seperti ini, saat mereka merengek minta sesuatu, saat mereka ... Aksara maupun Almeera manyun.


Anak yang baik, anak penurut, anak yang kalem kemudian prestasinya di atas rata rata. Belum lagi selalu ngertiin keadaan orangtuanya, selalu menerima. Itu semua idaman orang tua manapun kan? Tentu saja. Tidak terkecuali aku ataupun Syailendra.


Tapi jika selalu dalam situasi seperti itu, kondisi seperti itu, bikin khawatir. Dulu, Almeera terlalu sempurna. Ngambek? Nggak pernah. Rewel juga nggak pernah. Terlalu dewasa justru membuatku khawatir.


Sekarang?


Aksara juga seringnya gitu. Jarang ngambek, jarang rewel. Harusnya usia segini tuh usia yang usil banget, minta ini itu. Mainan ataupun hal lainnya. Bukannya tidak bersyukur, hanya saja merasa ada yang kurang.


"Boy? Hey!" panggil Syailendra sambil tersenyum jahil ke arah Aksara yang masih manyun. "Cieee, ngambek nih? Hahahahaha." tawa Syailendra menggema, membuatku juga ikut tertawa. Dan mendekap Aksara yang sedang menyembunyikan wajah malunya di relung leherku.


"Papaaaa!!" Teriak Aksara kesal. Aku tahu, dan aku juga yakin jika Syailendra tahu, kalau putranya kini sedang tersenyum malu malu.


Syailendra menjulurkan tangannya ke arah kepala Aksara, mengacak-acak rambut lurus putranya itu. "Nanti kita mampir ke sana, sambil beli baju buat Papa sekalian." ucap Syailendra pelan, tenang.


Aksara yang mendengar perkataan Papanya itu, menoleh tanpa melepaskan tangannya dari leherku. "Seriuuusss?" tanya Aksara dengan nada suara yang lucu sekali. Membuatku tidak bisa menahan tawa sejak tadi.


Syailendra mengerutkan kening dengan tawa yang tertahan. "Kamu gemesin ih! Di ajari siapaa?" tanyaku. Mencium gemas Aksara yang tertawa pelan. "Anak aku tuh. Anaknya aja gemesin, apalagi bapaknya coba!" sahut Syailendra sambil tertawa. Semakin tertawa lebar begitu aku memukul pahanya keras.


Syailendra meringis begitu tanganku yang tadinya mukul paha pria itu bergerak ke atas, ke pinggangnya untuk mendaratkan cubitan kecil. "Ooouuhhhgggh!"


"Muluuut kok ya Narsis banget!"


"Harus dong! Kenyataannya emang gitu. Gemesin, bikin ngangenin! Ngaku deh! Nggak usah ngengsi gitu!" ledek Syailendra. Aku mendengus, memalingkan wajahku yang malu.


Tentu saja bukan malu karena ucapan Syailendra yang mengejek sekaligus super narsis itu. Tapi, tingkah aku barusan ini yang membuat aku benar-benar malu, sangat malu. Mungkin hal tersebut bagi Syailendra bukan hal yang penting. Bukan pula hal aneh. Beda jika untuk aku yang notabene nya selama ini tidak pernah agresif. Kaya gini kalau imannya kurang kuat, agamanya kurang mateng. Ya Alloh, ampun.


Jika bersama Narendra, lebih terjaga. Aku lebih bisa memegang teguh pendirian ku tidak keluar batas seperti tadi. Bukan hal seberapa jika mengingat sepak terjang Syailendra, tapi untukku yang selama ini sedang memperbaiki kwalitas imanku, bukan hal yang baik baik saja. Syailendra, Seperti magnet yang menarik diriku yang paling aku sembunyikan. Membuatku begitu nyaman menjadi diriku sendiri, bahkan versi paling rahasia.


"Es krim nya nanti jangan banyak banyak ya kalian!" sahut ku pelan begitu Syailendra membuka pintu mobil. Kita sudah sampai di parkiran istana Es krim yang di sukai Aksara.


"Siap!" sahut mereka berdua bebarengan. Sepanjang perjalanan tadi, kami memang diam. Aku sibuk dengan gundah gulana hatiku sendiri, Aksara sibuk bermain dengan mainannya setelah berterima kasih kepada Papanya soal kerudung buat Almeera dan Syailendra fokus dengan kemudinya.


"Mau pesan rasa apa?" tanya Syailendra dengan suaranya yang berat. "Cokelat Stowberry mau?"


Aku mengangguk. Sedikit terkejut karena setelah bertanya soal pesanan, Syailendra masih mengamati wajahku dengan mata tajamnya. "Mikirin apa sih? Nggak nyaman gitu?" Desak pria itu. "Ingat umur, Ra. Mudah kena keriput kalau dahinya gitu!" protes Syailendra sambil menyentuh dahulu yang berkerut. Membuatku tersedak ludahku sendiri.


"So sweet bangeet sih itu si Om!" teriak gadis yang sejak tadi memperhatikan kami berdua. Aksara di mana? Bocah menggemaskan itu sudah lari ke zona bermain yang di siapkan tempat ini. Meninggalkan aku sendiri dengan Papanya. Tidak ada yang salah dan keliru. Apanya yang salah kan?


"Malu, Mas. Ih!" protes ku sambil menepuk tangan Pria itu. Pria yang kini terkekeh. "Sorry, aku nggak betah lama lama jadi pria sesopan Narendra. Coba deh hubungi dia, tanya gimana makan siangnya sama Shofia." ucap Syailendra sebelum meninggalkan meja dan beralih ke konter untuk memesan eskrim itu.


Tanganku seperti terhipnotis mengikuti saran yang di ucapkan Syailendra, duh... Kenapa aku jadi se-patuh itu dengan pria ini. Aku tertawa pelan, menggelengkan kepala. Meskipun begitu, tanganku masih membuka layar ponsel. Dan memang ada pesan WhatsApp dari Narendra.


[ π™ΊπšŠπš–πšž. π™·πšŠπš—πš’πšŠ 𝚊𝚍𝚊 πš”πšŠπš–πšž, π™»πšžπšπš’πš›πšŠ. π™°πš”πšž πš”πš’πš›πšŠ, πšŠπš”πšž πšŠπš”πšŠπš— πšπšŽπš›πš“πšŽπš‹πšŠπš” πšπš’ πšπšŠπš•πšŠπš– πš”πšŽπš—πšŠπš—πšπšŠπš— πš’πšŠπš—πš πš–πšŽπš—πšπšžπšŠπš› πšπš’ πšŠπš—πšπšŠπš›πšŠ πšŠπš”πšž πšπšŠπš— πš‚πš‘πš˜πšπš’πšŠ. πšƒπšŽπš›πš—πš’πšŠπšπšŠ? π™·πšŠπšπš’πš”πšž πš“πšžπšœπšπš›πšž πš–πšŽπš—πš’πšŽπš‹πšžπš πš—πšŠπš–πšŠπš–πšž πšπšŽπš—πšπšŠπš— πš™πšŽπš—πšžπš‘ πš›πš’πš—πšπšž. ]


"Ambyar?"


Aku yang masih terpaku menatap layar ponsel, terkejut dengan suara berat yang bertanya lembut. Aku mengangkat kepalaku, "Tahu Ambyar kan kamu, Ra?" tanya Syailendra dengan nada mencibir.

__ADS_1


"Aku ... Aku justru tidak terbayang Narendra sedikitpun tadi, sebelum aku menyentuh kamu itu, Mas. Aneh ya?" curhatku tanpa bisa aku kontrol.


"Bukan nyentuh, tapi mukul sama nyubit!"


Aku meringis.


"Aku nggak tahu perasaan ku gimana, Mas. Harusnya aku cemburu kan? Harusnya aku takut kehilangan kan?" tanyaku galau.


"Rasanya pengen meluk kamu banget, Ra. Nenangin perasaan kamu yang lagi labil kaya gini!" sahut Syailendra. "Jangan merasa tertekan, oke?" pinta Syailendra sambil meraih tanganku, menggenggam erat. Seperti sedang berusaha menyalurkan ketenangan yang dia miliki.


Aku mengangguk. Lagi lagi mengangguk patuh. "Mas?" sapa ku malu malu. "Aku kok jadi berasa jinak gini ya kalau sama kamu!" sahut ku sambil tertawa.


"Apaaan! Liar kok jadinya. Suka mukul gitu! Hahahaha." Ucap Syailendra dengan tawanya yang entah kenapa memicu aku menyentuh dia lagi. Kali ini, bawaannya pengen nyubit tangannya yang sedang menggenggam tanganku.


"Coba deh, tanya sama Narendra masih makan siang bareng Shofia atau gimana?" pinta Syailendra kali ini dengan wajah serius. Yang aku jawab dengan anggukan.


[π™ΉπšŠπšπš’? π™±πšŽπš›πš‘πšŠπšœπš’πš•? π™ΌπšŠπš”πšŠπš— πšœπš’πšŠπš—πš πš‹πšŠπš›πšŽπš—πš πš‚πš‘πš˜πšπš’πšŠ πš—πš’πšŠ. ]


Begitu selesai mengetik, aku menunjukkan kepada Syailendra yang memang sejak tadi mengamati pergerakan ibu jariku. Tentu saja harusnya aku tidak perlu repot repot menunjukkan isi pesan itu, toh dia sudah melihat sendiri.


Tidak lama kemudian, centang dia jadi berwarna biru -- Pandangan mataku beralih ke arah Aksara yang kini berjalan ke arah tempat kami duduk. Melewati beberapa gadis gadis remaja yang entah kenapa begitu tertarik menyapa Aksara.


"Cool banget si Adek, duuh... Siniii sama Kakak!" celoteh salah satu dari mereka yang tertangkap pendengaran ku. Membuat aku menoleh ke arah Aksara. Yang memang tanpa ekspresi. Datar banget.


Dan--


"Uuuuccchhh senyumnyaaa diih, kecil kecil bikin meleleh. Butuh ibu tiri nggak yaaa!"


Aku tertawa, terlebih reaksi Syailendra yang terkekeh sambil menggelengkan kepala. Aksara tersenyum begitu aku melambai-lambai ke arah bocah menggemaskan itu.


"Remaja sekarang sebagian dari mereka menakutkan!" bisik Syailendra sambil mencondongkan kepalanya ke arahku. "Aku jamin, mereka suka rela kalau di minta jadi sugar!"


"Pengalaman ya? Kamu!" aku mencicingkan mataku kesal. Entah kenapa, meskipun sudah tahu sepak terjang keliaran Syailendra, tetap saja ada perasaan iiih gitu. Gemas tapi mukanya marah. Bukan juga cemburu. Entahlah. Terlalu absurd.


"Sudah datang es krim nya Pah?" tanya Aksara dengan wajah menggemaskan nya. Apalagi binar matanya yang begitu tertarik dengan hal yang ia tunggu tunggu. Eskrim cokelat.


"Barusan datang. Sini!"


Aksara duduk mendekat di antara kami berdua. Menarik cup mangkok pesanannya dan menikmatinya dengan binar bahagia. Membuatku luluh untuk kesekian kalinya. Benar benar bersyukur, Tuhan memberikan kesempatan aku mengenal Narendra-- ah, Narendra. Teringat pria itu membuat mataku kembali ke arah ponsel yang masih menunjukkan bagian WhatsApp yang masih terbuka. Sudah ada balasan dari Narendra.


[π™³πš’πšŠ πšπš’πšπš’πš™ πšœπšŠπš•πšŠπš– πšžπš—πšπšžπš” πš”πšŠπš–πšž, πš–πšŠπšŠπš... π™ΊπšŠπšπšŠπš—πš’πšŠ πš–πšŠπšŠπš πšœπšžπšπšŠπš‘ πš‹πšŽπš›πš‹πšžπšŠπš πš“πšŠπš‘πšŠπš πšœπšŠπš–πšŠ πš”πšŠπš–πšž. π™ΏπšŽπš—πšπšŽπš— πš”πšŽπšπšŽπš–πšž πš”πšŠπš–πšž πš•πšŠπš—πšπšœπšžπš—πš, πšπšŠπš™πš’ πš—πšπšπšŠπš” πšπš’ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πš’πš£πš’πš— πšœπšŠπš–πšŠ πš‚πš’πšŠπš’πš•πšŽπš—πšπš›πšŠ]


Isi pesan dari Narendra membuat aku menoleh ke arah Syailendra yang sedang asyik menyuap eskrim ke mulutnya sendiri. Begitu menyadari tatapan mataku, Syailendra menaikkan alisnya. Seakan bertanya "ada apa?"


Aku menarik nafas dan menghembuskan nafasku pelan, menstabilkan perasaanku. "Tutup ponselnya. Kita quality time dulu." bisik Pria itu begitu mendekatkan kepalanya ke arahku. Aku mengangguk. Menutup aplikasi dan mematikan layar ponsel. Kemudian baru menyimpannya kembali ke dalam tas.


"Buka aja!" ulang pria itu begitu aku berusaha menolak dan mengambil alih sendok di tangannya. "Enak kan?" tanya pria itu memastikan, begitu ia berhasil menyuapkan eskrim itu ke mulutku.


Enak.


Dingin.


Manis.


Persis?


Mirip siapa?


Lagi-lagi aku menggelengkan kepala, menutup wajahku yang memanas dengan kedua telapak tanganku.


Ya Alloh,


Malu banget.


Aku melihat ke sekeliling ku, mendapati beberapa remaja putri yang sedang hangout bareng itu memekik histeris, dengan pandangan memuja ke arah Syailendra. Membuat aku kembali menghembuskan nafas berat karena semangat tadi tertahan. Bahkan sampai menggigit bibirku saking malunya.


Syailendra menggunakan sendok yang baru saja keluar dari mulutku itu untuk mengambil eskrim dan menikmatinya tanpa beban sedikitpun. Setelah itu menyuapi ku lagi. Suapan yang aku tolak dengan celengan kepala.


"Ingat usia udah kepala berapa, Mas. Ada Aksara juga ih!" bisik ku, mendekat ke arah pria yang kini menaikkan alisnya itu. Melawati Putraku yang begitu tenang menikmati eskrim nya.


"Kiddo!" panggil Syailendra, mengabaikan tatapan peringatan dariku.


"Yes, Papa!"


"Papa boleh nyuapin Tante nggak? Soalnya dari tadi tante nggak mau makan es krim nya." sahut Syailendra dengan nada lembut sekali. Seakan yang di bicarakan tidak ada di sampingnya. Menyebalkan.


"Jangan Aneh aneh, Mas!" Ucapku. Setelah tersenyum ke arah Aksara yang menatapku prihatin. "Nte nggak suka Eskrim ya?" tanya Bocah tampan ini dengan puppy eye. Aduuuh, baper ih jadinya.


"Suka kok. Papa aja sih yang suka ngomong aneh aneh." jawabku pelan.


"Mau Aksara aja yang nyuapin?" tanya Aksara dengan senyum cerahnya.


"Boleh" jawabku.


Aku mencoba mengabaikan bisik bisik ribut di area ini. Dan juga tawa Syailendra yang entah kenapa membuatku turut merasa bahagia.

__ADS_1


"Menang banyak itu, Tante."


"Suami idaman dan anak impian!"


"Pengeeeen"


"Uuuuh, keluarga masa depankuuu."


***


[Kamu betul, Ludira. Kami saling mencintai saat kami bersama. Tapi? Setelah bertahun-tahun ini berpisah, aku kira ... Aku masih tetap mencintainya sebesar ataupun lebih besar dari pada dulu. Nyatanya? Hampa dan kosong. Hatiku hampa, Ludira. Setelah rasa marah hilang, hatiku benar-benar kosong. Tidak ada cinta untuk dirinya di sini.]


Wajah Syailendra terlalu datar, aku terlalu takut menerjemahkan sorot mata pria itu yang sepertinya menjadi lesu saat membaca pesan yang Narendra kirimkan padaku.


Salah siapa?


Dia sendiri yang memaksa meminjam ponselku untuk mencari tahu tentang pesan yang Narendra kirimkan. Dan bodohnya aku, seperti tidak ingin membiarkan pria itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.


Dan akhirnya seperti ini, pria itu memandang lekat ke arah layar ponsel, padahal beberapa detik sebelumnya, dia berbinar penuh kebahagiaan saat memandang, mengamati putranya yang asyik bermain di area outdoor ini.


"Kamu kok gitu sih ekspresi nya!" keluh ku acuh. Malas menduga-duga, aku ingin dengar langsung dari mulut pria ini supaya lebih jelas kebenarannya. Aku takut salah sangka, aku takut salah paham.


"Menurutmu, mereka hanya perlu dukungan untuk saling kembali bersama?" tanya Syailendra setelah terdiam cukup lama.


Aku menghembuskan nafas kasar. Gelisah, begitu kepalaku terbayang berapa gilanya Shofia. Ada perasaan takut dan khawatir yang merayap begitu cepat di relung hatiku. Siapapun dia, jika tahu tentang sisi gelap yang di miliki Shofia dan apa yang pernah dia lakukan, tentu akan mengkhawatirkan Narendra.


Shofia,


Perempuan itu bahkan tega membunuh darah dagingnya sendiri, buah hatinya bersama Narendra. Bayi mungil yang tidak berdosa dan belum tahu apapun itu meninggal dunia dengan cara yang mengenaskan.


Sampai saat ini, setiap kali terbayang cerita itu, tubuhku menggigil karena takut, sedih dan ketidak berdayakan ku. Bagaimana bisa seorang ibu bukan lagi sekedar menyiksa tapi melenyapkan sebagian dari dirinya yang lahir langsung dari rahimnya. Hanya untuk membuat pria yang katanya ia cintai merasa menderita. Dia rela berbuat hal keji seperti itu.


"Jangan menghakimi!" sentak Syailendra penuh peringatan. Entah sejak kapan dia sudah memeluk tubuhku. "Jangan terlalu memandang seperti itu kepada Shofia."


Aku yang meronta karena tidak nyaman dan merasa terganggu dengan sikapnya yang enaknya memeluk tanpa izin, jadi semakin terbakar amarah. "Kok membela Shofia sih! Jangan bilang kamu tertarik sama dia!" Syailendra kembali menarik ku ke dalam pelukannya.


"Bukannya membela. Kamu nggak tahu secara detail tentang Shofia, makanya aku bilang itu." Pria itu, Syailendra berusaha menenangkan aku yang entah kenapa jadi tersulut emosi. Namun salah, kalimat yang di ucapkan Syailendra semakin membuatku tersinggung.


"Emang aku nggak tahu apapun! Kalian terlalu sok rahasia rahasiaan." marahku.


Di luar dugaan, Syailendra justru terkekeh. Aku benci suara tawa yang-- ah! Menyebalkan! Ya Alloh, istighfar berkali-kali. Kenapa berat banget godaannya kalau bareng Syailendra.


"Mau dengar cerita?" tanya pria itu masih berusaha menarik tubuhku kembali ke pelukannya.


"Jangan sentuh sentuh! Bukan mahram!" sentak ku kesal, marah, pengen nangis.


"Hey--" suara Syailendra terhenti begitu mendengar Aksara yang memanggil kami berdua dari kejauhan. "Iyaa! Hati hati Kiddo!" Melambaikan tangannya. Bapakable banget memang. Pantas jika tadi di tempat eskrim riuh banget.


Fokus Syailendra kembali kepadaku, entah ini hanya karena aku yang sedang entah sekali, atau memang benar adanya. Syailendra menatap dengan sorot mata penuh kasih sayang.


Sayang?


Dia sayang sama Shofia kah? Sampai sampai, bercerita tentang perempuan itu justru dengan sorot mata lembut dengan kasih sayang yang begitu tulus. Kesabaran serta penuh pengertian.


Bagaimana bisa Syailendra menatapku seperti ini sedangkan dia akan bercerita tentang Shofia. Perempuan yang katanya, pernah mengejar Syailendra sedemikian rupa. Perempuan yang juga menghancurkan Narendra sedemikan rupa pula.


Aku memalingkan muka. "Lihat aku!" pinta pria itu pelan. Aku abai. Malas.


Untuk apa kau harus melihat sorot mata penuh kasih sayang padahal Di sisi lain aku mendengar kisah tentang wanita jahanam. Menyebalkan.


"Baiklah, yang ngambeeek. Habis ini ke salon ya, buat perawatan itu mukaa, kasihan kan? Di ajak cemberut terus." canda Syailendra. "Kalau mau ketawa, ketawa aja! Nggak udah gengsiii. Hahahaha."


Ya Tuhan,


Hanya Syailendra, yang bisa membuatku manyun ala remaja Abegeh di detik lalu dan membuatku tertawa malu malu di detik berikutnya.


"Shofia pernah mengalami pelecehan seksual di saat dia masih kecil. Dan sayangnya tidak ada yang tahu. Terus, keluarga yang sibuk dan juga tekanan supaya menjadi bintang di setiap bidang apapun, membuat Shofia remaja menjadi frustasi. Jarang mendapat apresiasi dari keluarganya, pengakuan bahwa dia sudah berusaha dengan begitu hebatnya, tidak pernah dia dapatkan."


Syailendra terdiam. Aku juga terdiam, kita sama-sama terdiam. Hanya ada suara anak anak yang bermain. Namun hatiku bergemuruh, tubuhku lemas. Tahu tahu betul, bagaimana beratnya tumbuh di lingkungan yang tidak sehat.


"Shofia cerdas, sangat cerdas. Dia tidak hancur, rapuh atau menutup diri. Justru dia jadi semacam kecanduan **** sejak usia remaja. Dan karena lingkungannya masih mempercayai klenik, ilmu Hitam. Dia jadi tidak asing dengan hal tersebut terlebih dia memang gemar sekali dengan hal yang berbau sihir. Dia ingin mengendalikan semuanya. Mendapatkan apa yang dia inginkan." lanjut Syailendra sambil menggenggam tanganku, menarik tanganku ke arah bibirnya, dan mengecup ringan.


Tubuhku bergetar. "Aku lega saat tahu kamu bisa menjadi pribadi sehebat ini. Arah kebaikan yang kamu ambil." Bisik pria itu tanpa menoleh ke arahku.


"Shofia seperti itu karena dia merasa, bahwa dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini. Dan juga tidak ada yang benar-benar menginginkan dirinya dengan tulus." Syailendra kembali menjelaskan dengan pelan. Aku menganggukan kepala berusaha mencerna dengan jelas.


"Itu yang membuat aku sedikit memahami semua kegilaan Shofia." bisik Syailendra. Membuat aku kembali menoleh ke arah Pria yang kini menatap ke arah langit luas. Tidak ada binar di mata itu. Tidak ada semangat di wajah itu.


Aku menyadari sesuatu yang entah kenapa begitu menohok jantungku. Kenyataan yang membuat mataku terbuka semakin lebar. Membuat aku merasa nyeri sekaligus lega secara bersamaan.


Syailendra,


Pria itu perduli kepada siapapun. Bukan hanya padaku, itu yang membuat aku merasa diliputi perasaan lega. Tidak perlu takut akan ada drama seperti aku dan Narendra. Dia memang sebaik itu, kepada siapapun juga.


Mengingat betapa pontang pentingnya dia mengusahakan kesembuhan untuk Shofia kemarin. Ternyata bukan demi diriku. Beruntung aku tidak terlanjur salah paham.

__ADS_1


Nyeri? Entah kenapa, perasaan egois yang sejak kapan tumbuh ini, membuatku merasa kecewa. Karena bukan karena aku, Syailendra seperti ini. Bukan hanya demi aku. Dan aku tidak sepenting itu buat Syailendra.


__ADS_2