LUDIRA

LUDIRA
Lima Puluh Tujuh


__ADS_3

Syailendra berbalik dan merengkuh tubuhku kedalam pelukannya, aku masih mengeluarkan air mata tanpa sesenggukan seperti tadi. Badanku terasa lemas kehilangan tenaga.


Entahlah.


Aku sendiri tidak paham apa yang membuatku merasa begitu hancur. Entah karena pengakuan tentang aku yang memandang Narendra sebagai almarhum suamiku, atau karena Narendra yang menerima begitu saja pengakuan ku. Membuktikan bahwa kami memang selama ini berkhayal.


Aku membiarkan Syailendra mengangkat tubuhku, merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Pelukan yang begitu kokoh, Pelukan yang membuatku merasa terlindungi. Aku justru men condong kan tubuhku arahnya, menyembunyikan wajahku di dada bidang pria itu, seperti inikah jika memiliki saudara laki-laki yang akan selalu hadir meluruskan langkah kita saat kita melangkah tanpa arah yang pasti? Fakta bawa aku selama ini sebatang kara membuatku kembali menangis dalam pelukan Syailendra.


"Menangis lah, kamu sudah terlalu lama menahan semua tangis mu. Biarkan ia keluar supaya langkahmu semakin ringan."


Sedih, hatiku sedih sekali. Sakit sekali. Aku hanya bisa memejamkan mata dan membiarkan semua air mata ini tumpah. Aku menggenggam erat tangan Syailendra yang satunya saat tangan yang satunya lagi sibuk menghapus air mataku yang tumpah membasahi pipi. Dan juga mengusap halus jejak air mata yang sudah mulai mengering.


"Tidurlah," bisik Syailendra sambil melepas genggaman tanganku. Dan naik ke atas kasur, berbaring di sebelahku. Meraihku dalam pelukan. "Menangis bukan berarti menjadikanmu menjadi perempuan lemah, Ra. Tidak apa apa, semua akan tetap baik baik saja. Kamu butuh waktu untuk dirimu sendiri, Ra." Begitu aku meringkuk kedalam pelukannya, Syailendra terus mengusap kepalaku, sesekali mencium lembut ubun ubun kepalaku.


"Kita sering lupa bagaimana untuk bahagia karena kita sendiri lebih seneng berteman dengan luka dan kecewa. Jadi, Ra. Kamu udah cukup berteman dengan luka dan kesedihan, udah... Nggak perlu lagi berteman dengan mereka. Masa depan kamu dan Almeera akan baik baik saja meskipun Dodi nggak lagi di sisimu." bisik Syailendra pelan. Tanganku semakin erat menggenggam kaos hitam yang di pakai Syailendra. Ya, aku memang sempat ketakutan, Almarhum Suamiku sudah menjadi bagian dari rencana masa depanku, dia pergi, aku takut masa depanku tak lagi sempurna tanpanya.


"Bagaimana kau bisa bangkit, Ra. Jika penyebab sedih mu masih terus kau pelihara dengan mengingatnya setiap hari. Ikhlaskan, terimalah. Biarkan Dodi tenang di alam sana, kalau kamu terus kaya gini, gimana dia bisa tenang?" sahut Syailendra sambil terus menepuk-nepuk punggungku pelan, lembut. Ada perlindungan semacam saudara yang aku rasakan.


Ingin rasanya aku menjawab apa yang dia katakan, tapi tenggorokan ku tercekat oleh rasa sedih yang menggebu-gebu. Rasa sedih yang bertamu tanpa rasa malu. Aku--aku sudah sangat bosan dengan air mata ini. Aku sudah lelah dengan dada yang terasa nyeri dan juga tertekan.


Bagaimana aku harus bersikap biasa saja ketika pria yang menjadi pusat semesta ku pergi ?


Bagaimana bisa aku baik baik saja saat duniaku tidak lagi sama?


Ini bukan soal kehilangan yang mataku masih bisa melihatnya secara nyata. Ini soal kehilangan yang hanya menyisakan kenangan, ini soal kehilangan yang tidak bisa lagi ku tatap hadirnya dengan mataku. Atau ku dengar berita tentang kabar keberadaannya. Ini soal kehilangan yang abadi. Benar-benar abadi.


"Bersyukurlah, Ra. Kamu mengalami patah hati dan kehilangan karena memang langit yang memisahkan kalian. Bukan karena persoalan dunia yang memisahkan kalian. Bukan pengkhianatan atau perselingkuhan ataupun persoalan yang lainnya. Cintamu tetap utuh, cintanya Dodi tetap abadi di ingatan. Tidak rusak oleh hal hal menyedihkan. Kamu masih bisa terus mengingat secara detail setiap kenangan kalian saat kau merindu, tidak perlu repot repot berusaha menghapus kenangan itu." sahut Syailendra membuatku kaget. Ya, aku mungkin kutang bersyukur. Di luar sana, banyak perempuan menderita karena cintanya ternoda oleh pengkhianatan. Rumah tangganya hancur karena percekcokan yang mengusir cinta dari hati mereka.


Harusnya aku lebih bersyukur, berterima kasih kepada Tuhan karena memberikan hidup yang begitu indah. Aku yang broken home, tidak mengalami kekacauan rumah tangga, tidak mengalami pahitnya rasa sakit akibat cinta yang tidak murni lagi.


"Jangan sampai, karena kamu tidak tahu Terima kasih, Tuhan akhirnya memberikan rasa sakit yang lainnya supaya kamu tahu bahwa mengambil Dodi adalah cara terbaik saat harus memberimu rasa sakit." Ujar Syailendra dengan suara berat dan berwibawa. Membuatku merinding. Tangis ku bahkan berhenti. Bahkan aku memiliki kekuatan untuk mengangkat kepala dan melihat ke arah Syailendra yang langsung menatap mataku.


"Berterima kasihlah kepada Tuhan. Kamu beruntung karena di beri rasa sakit dengan cara yang baik dan terhormat."


Aku terdiam, mengigit bibirku untuk menahan isak tangis. Kini aku kembali menangis karena rasa penyesalan yang menyerbu perasaanku tanpa aba-aba.


"Jangan gigit bibir kaya gitu!" sentak Syailendra sambil menjauhkan tubuhku. "Ya Tuhan, Raaa. Aku tuh normal, aku juga bukan pria baik baik. Lihat wajah lemah kamu kaya gitu, lihat mata kamu kaya gitu, bikin aku tuh hilang akal." teriak Syailendra sambil berusaha berdiri. "Aku ambil susu cokelat dulu buat kamu, mungkin bisa buat kamu tenang." ucap Syailendra sambil berjalan meninggalkan aku yang menatap bingung tidak mengerti.


Detik yang lalu, dia begitu telaten menenangkan ku, detik berikutnya dia pergi meninggalkan aku tanpa menoleh sedikitpun. Syailendra, hanya pria itu yang bisa berubah-ubah dalam hitungan detik menit.


Dia kenapa lagi?


******


Tidak lama kemudian, Syailendra kembali dengan membawa baku berisi susu cokelat dan sesuatu untuk mengompres. Aku sudah duduk sambil bersandar, merenungi semua yang di katakan oleh Syailendra. Aku beruntung, ya... Aku lebih beruntung.


"Aksara?" tanyaku dengan suara serak.


"Udah normal lagi nih?" Syailendra balik bertanya dengan suara mengejek. Membuatku tersenyum malu.


"Maaf," bisik ku pelan.


"Nggak papa, kamu butuh sosok keluarga dan aku ada di sini untuk mu, untuk menjadi sosok saudara laki-laki yang kamu inginkan. Yang bisa kamu andalkan, yang bisa kamu jadikan sandaran juga." Syailendra tersenyum, duduk di sebelahku kemudian mengulurkan segelas susu cokelat. Aku menerima gelas itu dengan tersenyum bahagia dan juga sorot mata yang mewakili rasa terima kasihku.


Aku menikmati setiap teguk susu cokelat hangat ini dengan memejamkan mata, berharap rasa manis dalam hidupku tidak hanya sekedar tegukan singkat, tapi juga bertahan selama mungkin. Hidupku sebelum bertemu mas Dodi, terlalu hambar. Sesekali bahkan terlalu pedih dan kesepian. Banyak penderitaan yang membuatku lupa caranya tertawa bahkan tersenyum. Tumbuh di lingkungan yang tidak sehat untuk mental dan pertumbuhan memang penuh perjuangan.


"Ra?"


"Heeem,"


"Aku nggak pernah dengar kamu bilang, Aku harap aku menjadi gadis kecil lagi, karena lutut yang terluka lebih mudah diobati daripada patah hati. Gitu?" tanya Syailendra sambil mengambil kain handuk kecil yang sedari tadi berada di baskom berisi air dan beberapa es batu.


Aku menoleh ke arah Syailendra yang sibuk memeras kain tersebut, aku tersenyum kecil. Dia perhatian, Syailendra dengan caranya sendiri membuatku menyadari banyak hal. Jika Narendra menarik aku untuk keluar dari zona gelembung yang aku ciptakan, maka Syailendra tanpa aku sadari memaksa ku untuk membuka mataku lebar lebar atas apa yang terjadi. Memaksaku menerima kenyataan dan melanjutkan hidup.


Aku meletakkan gelas yang aku genggam kembali ke baki, di samping baskom. Aku menarik nafas pelan dan juga menghembuskan nya, butuh energi tambahan untuk menjawab pertanyaan Syailendra. Karena sama saja mengorek luka lama. Luka kesedihan penderitaan yang sudah aku terima dengan lapang dada. Aku sudah berdamai dengan semua kenangan masa kecil.


"Masa kecilku tidak seindah orang lain. Aku tidak pernah menginginkan kembali ke masa lalu untuk menjadi anak kecil meskipun di masa sekarang ini begitu menyesakkan dada." sahut ku dengan senyuman. "Oh ya?" tanya Syailendra yang aku jawab dengan anggukan kepala.


"Tutup matamu, Ra. Aku mau kompres pakai ini." perintah Syailendra sambil menunjukkan handuk di tangannya. Suaranya kali ini memang lembut tapi jelas ada ketegasan di sana.


Aku tertawa kecil, merasa lucu. Harusnya dia yang sibuk merawat wajahnya yang juga babak belur, bukan malah sibuk mengurus mataku yang bengkak ini.


"Biar aku sendiri, Mas. Ambil lagi sana, buat mas sendiri. Wajah mas gitu, babak belur. Nggak khawatir jelek?" Ujar ku dengan tertawa. Syailendra hanya tersenyum dan menarik alisnya. "Rasa sakit akan berakhir tanpa kita sadari saat kita benar-benar mampu menerimanya, Ra. Iya kan?" bisik Syailendra sambil memegang pipiku dengan tangannya yang tidak memegang handuk basah itu.


Aku terkejut, tentu saja aku terkejut. Bukan hanya karena tangan Syailendra yang terasa dingin, bukan juga hanya karena perlakuan Syailendra yang manis ini. Tapi karena fakta yang barusan Syailendra ucapkan. Yaa, perlahan rasa sakit yang tadi menyerang hatiku memudar tanpa aku sadari.


"Bayangkan, jika kamu yang di panggil pulang oleh Tuhan dan bukannya suami kamu. Yakin? Kamu rela suami kamu terus terusan terpuruk seperti ini?" tanya Syailendra sambil melepaskan tangannya dan mulai menarik handuk itu di sekitar wajahku.

__ADS_1


Aku lagi-lagi terdiam membisu, hanya mampu memejamkan mata. Menikmati setiap sensasi dingin yang membuatku mampu berfikir lebih jernih, tentu saja aku tidak akan membiarkan Mas Dodi menderita karena kepergian ku.


"Cinta yang begitu besar memang menakjubkan, bukan berarti kamu lantas membiarkan dirimu menderita hanya demi mempertahankan perasaan cinta kamu itu. Bulshit! Cinta bukan melulu soal pengorbanan dan juga kesetiaan tanpa syarat seperti ini." Sahut Syailendra dengan nada kesal. Membuatku membuka mataku kembali.


"Terus? Kamu sendiri, Mas? Kenapa kamu nggak nikah lagi?"


"Aku belum tertarik dengan pernikahan, Ra. Tapi bukan berarti aku tidak memiliki hubungan. Awas loh, bukan berarti aku nggak cinta sama mamanya Aksara, cuma yah... Aku pria, aku punya kebutuhan." sahut Syailendra setelah memaksaku untuk. Kembali menutup mata. Menahan handuk di kedua mataku dengan memijit pelan pelipis ku.


"Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.


"Kamu polos banget ya!!! Janda loh padahal hahahaha."


Aku memukul Syailendra asal, karena mataku tidak bisa melihat. Maksudnya apa coba? Bisa bisanya dia mengungkit-ungkit statusku ini. Apa hubungannya polos dan status janda? Beneran deh, Syailendra itu memang pandai betul bikin aku pengen mengumpat meskipun lagi sedih gini.


"Jangan ngambeeeek. Kamu dulu sebelum sama Dodi pernah pacaran?"


"Enggak, dia cinta pertama ku. Dan juga pacar pertamaku. Satu satunya juga."


"Pantas saja."


"Pantas saja apa?"


"Kamu nggak paham."


"Dih!"


Aku menatap kesal ke arah Syailendra yang sedang tersenyum lebar sambil memasukkan handuk itu kembali ke baskom yang penuh air dan es batu itu.


"Aku punya hubungan semacam friend with benefit."


"Sugar daddy?"


"Bukanlah, jadi semacam hubungan tanpa status. Kita sama sama membutuhkan gitu, aku bukan pria baik baik penuh sopan santun seperti Narendra, Ra. Aku udah bilang berkali-kali. Jadi kebutuhan biologis ku terpenuhi dengan hubungan itu."


"Eh?"


"Kok wajah kamu cuma heran, Ra? Padahal aku udah siap siap kamu bakalan jijik."


"Nggak kaget kok, kamu kan suka minuman keras sampai mabuk, jadi hal kayak gitu juga bukan hal yang nggak mungkin buat kamu. Cuma aku heran aja, kenapa mau maunya kamu gitu. Nggak takut kalau kena penyakit kelamin."


"Kita main aman dong, Ra. Aku udah pastiin kalau aku main sama perempuan berkelas, terus dia juga aman."


Tapi mas Dodi menolak. Cintanya begitu murni untuk ku. Aku memang harus berterima kasih kepada Tuhan, karena menghadirkan perasaan kehilangan dan rasa sakit ini bukan melalui pengkhianatan yang mas Dodi lakukan. Sehingga aku akan menjadi lebih hancur lagi.


"Terus? Sekarang masih gitu?" tanyaku penasaran, karena akhir akhir ini Syailendra selalu sibuk berada di sekitarmu dan putranya. "Enggak, aku bosen aja." Aku mengangguk saja meskipun agak terganggu dengan senyum Syailendra.


"Mas? Coba deh hubungi Silvia." pintaku begitu kembali teringat wajah Aksara. Pasti dia bingung karena bangun nggak ada aku atau papanya.


"Bentar, aku ambil HP dulu. Oh ya? Trims ya udah gerak cepat ngungsiin Aksara."


Aku tersenyum dan mengangguk. Menyibak selimut dan turun dari ranjang. Berjalan ke arah jendela kamar untuk membuka gorden. Sinar matahari langsung masuk ke dalam kamar. Ternyata sudah cukup siang. Tidak lama kemudian, Syailendra masuk kedalam dengan HP ku di tangannya.


"Makasih, Mas."


"Iya. Mau sarapan?"


"Nggak, udah cukup sama susunya, makasih lagi ya."


"Oke."


Aku mencoba menghubungi nomor Silvia dan tersambung tidak lama kemudian. Dering ke dua langsung di jawab oleh perempuan yang baik hati itu.


"Iya, Mbak?"


"Kalian di mana?"


"Kami habis makan di restoran Asia. Gimana mbak?"


"Aksara gimana? Aku mau ngomong."


"Baik baik saja, tadi sempat bingung. Oke, ini dek, Tante mau ngomong."


"Hallo, Nte. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, sayang. Maaf ya, bangun bangun nggak ada tante. Sayang lagi apa ?"


"Nggak papa, Nte. Tadi kata tante Silvia, Nte sama Papa ada urusan mendadak. Aksara habis makan nasi goreng."

__ADS_1


Aku menoleh saat Syailendra berdiri di dekatku. "Aku mau ngomong." bisik Syailendra pelan. Aku mengangguk. "Papa mau bicara bentar ini, sayang." Ucapku sambil menoleh ke arah Syailendra. Dan mengulurkan ponsel itu kepadanya.


"Hay, Boy!" Sapa Syailendra dengan wajah sumringah. Suaranya juga baik baik saja.


"Iya Papa"


"Maaf ya, seperti nya Papa hari ini sampai minggu depan ada urusan bisnis, kerjaan di Surabaya. Aksara mau ikut atau di sini saja?" tanya Syailendra pelan, matanya menoleh ke arahku yang menyentuh sikutnya.


"Eeeemmm, satu minggu ya Pa?"


"Iyaah."


"Oke deh, nggak masalah. Lagian Papa kan sering sampai berminggu minggu dulu."


"Maaf ya, Son."


"Nggak masalah, Pah. Maaf ya, Pah. Aksara bikin Papa harus kerja terus."


Aku yang mendengar suara Aksara, menoleh ke arah Syailendra. Aduh, ini anak. Bikin terenyuh aja. Dia kenapa harus dewasa capet sekali ya.


"Ini kewajiban Papa buat memberikan yang terbaik untuk kamu, Aksara. Uang bukan segalanya, Boy. Tapi kebanyakan hal di dunia ini butuh uang. Kamu sumber kebahagiaan Papa dan kamu nggak bisa di ukur dengan jumlah berapa banyak uang, atau di tukar dengan uang. Tapi untuk merawat kamu, untuk memberikan fasilitas terbaik, semua butuh uang, Son. Terlebih kita ini pria, laki-laki harus bisa tanggung jawab." sahut Syailendra sambil tersenyum bangga. Sedangkan aku menahan tawa haru dan bersandar di lengan Syailendra.


"Love you, Pa!"


"Love you to, Son. Kamu yang terbaik dan akan terus menjadi yang terbaik."


"Terima kasih sudah jadi Papa yang super hero untuk Aksara. Aksara besok kalau udah dewasa pengen jadi kaya Papa."


Aku semakin tersentuh dengan kedekatan dua pria beda generasi ini. Syailendra yang sudah memindahkan Ponsel ke tangan yang satunya, melepaskan tangannya dan memeluk badanku yang barusan bersandar.


"Jangan gitu dong, kamu harus jadi versi terbaik dirimu sendiri. Kamu boleh melihat Papa, sebagai referensi kamu. Tapi, Nak... Jangan lupa, kata Confucius, Peribahasa China, Orang-orang yang kuat mencari sesuatu (potensi) di dalam dirinya sendiri. Sementara orang yang lemah mencari sesuatu (potensi) pada diri orang lain." sahut Syailendra dengan nada serius.


Aku yang mencubit perut Syailendra saat mendengar apa yang di ucapkan nya itu. Ada ada saja, masa iya ngomong gitu sama anak usia Aksara, lima tahun? Ya Tuhan. Ini bapak kok gini amat.


"Apaaan! Sakit banget!" bisik Syailendra sambil meringis sakit.


"Kenapa, Pah?" tanya Aksara yang terdengar panik.


"Nggak Papa, Boy. Ini tante kamu kok suka banget nyubit, padahal sakit banget loh. Kamu hati-hati ya, Son. Jangan sampai kena cubitan juga."


"Dih, kamu!" Teriakku sambil melepaskan diri dari pelukan Syailendra. Meninggalkan pria yang sedang tertawa itu.


Setidaknya, senyuman yang terbit setelah tangis kesedihan yang menyayat hati memang terasa begitu mewah. Aku beruntung, mengenal Narendra yang juga membuatku mengenal Aksara dan juga Papanya.


"Sudah dulu ya, Son. Nanti bilangin sama tante Silvia buat ngajak kamu ke rumahnya Eyang Basuki, Oke? Nanti di jemput di sana, sekalian jemput kaka." sahut Syailendra yang masih terdengar olehku. Aku yang sudah memegang daun pintu, berhenti dan melangkah lagi ke arah Syailendra berdiri.


"Kok di jemput di sana?" tanyaku kesal. Dia ini gimana sih? Aneh aneh betul dah isi kepalanya. Orang tahu kan aku dan Narendra habis ngapain? Nggak mungkin banget dan gimana coba buat ngadepin Narendra.


"Kenapa? Belum siap kalau ketemu sama Narendra? Lagian nanti harus jemput kakak juga kan?"


"Iyaaa, aku belum siap aja ketemu sama Narendra. Nggak tahu harus gimana."


"Santai aja, biarkan hatimu yang membimbing. Hahahaha. Mandi sana gih! Aku juga mau mandi."


Aku cemberut, enak banget ketawa begitu. "Malah ketawa!" sentak ku kasar.


"Semua akan baik baik saja. Ajak hatimu berbicara. Oke?"


"Terus kenapa mendadak ada kerjaan di luar kota?"


"Heeeem, nggak banget deh kalau Aksara lihat wajah aku yang babak belur kaya gini. Nggak lucu. Dia anak yang cerdas, Ra. Kalau dia lihat papanya gini terus omnya juga gini, iya kali dia nggak mikir kalau om sama papanya berantem lagi?"


Aku mengangguk setuju.


"Yakin? Satu minggu?" tanyaku sedikit keberatan. "Kenapa? Kok berat banget gitu." Syailendra tersenyum mengejek.


"Ribet sih kalau harus galau sendirian hahahaha."


Aku tertawa, iyakan? Masa iya harus galau sendirian padahal udah terbiasa dengan solusi konyol dari dia.


"Kamu, cih!" sahut Syailendra kembali merengkuh tubuhku kedalam pelukannya. "Kamu tahu, selama ini tuh aku suka dengan kebebasan, cuek sama hidup orang lain, masa bodoh aja sama hal selain diriku dan Aksara. Cuma, pas lihat kamu sama Narendra tuh, jiwa kakak tertua yang aku miliki meronta ronta, hahahaha. Lucu! Padahal apa ya faedahnya buat aku." bisik Narendra sambil memeluk erat kepalaku.


"Aaaaaaaarrrrggggggggghhhhhhh! Shiiit shitt!" teriak Aksara begitu aku mengigit dadanya.


"Emang enak? Suka banget dih meluk meluk tanpa izin. Awasss ini hati emak emak mudah baper! Nggak mau ya aku, habis di baperin sama Adeknya eeeh di baperin juga sama Abangnya. Enggaaak sebodooooh itu Hayati, Baaaaang!" sahut ku sambil menertawakan suara Syailendra. Aku memilih membalikkan badan dan berlari kecil ke arah pintu.


"Besok besok jangan gigit pas di Bagian itu, Raaaa!!!!! Dasar perempuan polooooos, nggak tahu apa kalau kaya gitu nggak cuma bikin sakit!!! Heran dah, dulu ngapain aja sih sama Dodi, sampai sampai nggak sepengalaman ini jadi Janda! " teriak Syailendra yang terdengar samar samar oleh telingaku.

__ADS_1


***** 😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂


__ADS_2