
Aku kira tidak ada lagi yang tersisa, semua harapan yang aku impikan setiap saat, hilang. Berkeluarga, hidup berkeluarga dengan kasih sayang yang selalu utuh hingga ujung usiaku. Aku kira akan menghabiskan sisa usiaku untuk terus mencintai dan merindukan almarhum suamiku tanpa sedikitpun sisa untuk mencintai pria lain, ternyata aku salah. Salah, sangat salah. Karena pada akhirnya... Aku mencintai nya, pria itu. Narendra Bagaskara.
Hari ini cuma ada janji dengan mahasiswa yang akan meminta tugas tambahan sebagai ganti tugas yang kemarin tidak di ikuti karena sedang sakit. Selebihnya, tidak ada kegiatan apapun. Rencana nya memang hari ini aku mau ngajak Aksara untuk ke perpustakaan daerah. Mengenalkan kebiasaan gemar membaca sedini mungkin.
Bukan berarti aku mengharuskan atau mewajibkan anak anakku gemar membaca. Aku hanya memberikan dukungan, menunjukkan berbagai hal yang mungkin sekiranya mereka sukai. Karena pada dasarnya semua manusia di ciptakan dengan keadaan baik, hanya saja... Di beri pelengkap berupa akal dan nafsu yang bisa di gunakan untuk memilih. Jadi, memilih tetap untuk menjadi orang baik dan berbuat baik atau menjadi orang baik tapi berbuat tidak baik. Itu kembali kepada diri kita sendiri.
"Terima kasih, Bu Ludira. Sudah menyempatkan waktu libur akhir pekan nya, mohon maaf ini jadi mengganggu waktu ibu Ludira bersama putranya." sahut Febian, mahasiswaku itu.
"Tidak masalah, Febian. Bagaimana keadaanya kamu sekarang? Asam lambung kan ya kalau tidak salah." tanyaku pelan. Saat ujian kemarin, ibu dari mahasiswa ini menemuiku ku. Meminta izin kalau putranya tidak bisa mengikuti ujian karena sedang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Iya, Bu. Alhamdulillah, ini sudah berangsur-angsur sembuh." jawab pemuda itu sopan.
Aku tersenyum, mengangguk saat pemuda itu meminta izin untuk undur diri. Pamit, pulang.
"Hati hati di jalan, Febian." ucapku pelan.
Febian mengangguk.
Setelah Febian keluar dari ruangan, baru aku kembali memusatkan fokus ku ke arah Aksara yang masih sibuk mewarnai buku warnanya yang kebetulan memang tersedia di mobil kami.
"Adek suka mewarnai?" tanya ku pelan.
Aksara yang mendengar aku bertanya, menoleh ke arahku berdiri.
"Iya... Kakak suka melukis. Aksara pengen bisa melukis seperti Kakak." jawab putraku dengan senyum polosnya.
"Adek suka musik nggak? Main alat musik gitu?" tanyaku pelan.
Walaupun memang hasil mewarnainya sangat bagus, alangkah bagusnya kalau dia memiliki sesuatu yang dia inginkan dengan sendirinya, bukan karena mengikuti minat orang yang dia gemari. Memang bukan hal yang keliru jika seperti itu, toh... Aksara sendiri memiliki kemampuan yang baik di bidang ini. Dan yang pasti tidak ada pemaksaan. Ia, melakukannya dengan suka rela.
"Yang suka main alat musik itu Papa Syailendra, Ntee. Papa suka main gitar. Kalau Aksara lebih suka main piano. Tapi nggak boleh sama Papa." sahut Aksara dengan wajah sendu.
"Papa pernah marah sama Eyang, soalnya Eyang ngajak Adek belajar piano." lanjut bocah kecil itu sambil meletakkan krayon warna merah di tempatnya dan menggantinya dengan warna kuning. Aku memilih diam, menunggu adiknya Almeera itu melanjutkan ceritanya.
"Adek nggak mau Papa marah marah. Kata Miss di sekolahnya Aksara, kalau suka marah marah nanti dadanya jadi sakit. Perasaannya jadi nggak happy. Terus kasihan Eyang juga. Di marahin itu nggak enak, Ntee. Jadi Adek milih nggak mau belajar alat musik. Teruuus pas Adek belajar melukis, Papa nggak marah."
Aku menarik nafas berat. Kemudian membalas senyum tulus dari wajah polos Aksara. Ah... Betapa baiknya hati ini anak. Mungkin... Mungkin nanti aku perlu sedikit bertanya soal ini dengan Syailendra. Semoga pria itu sudah baik baik saja dan kembali seperti Syailendra yang aku kenal.
****
Handphone milikku bergetar, ternyata ada panggilan tidak terjawab dari Narendra dan juga pesan WhatsApp dari pria itu.
[Assalamu'alaikum, Ludira.]
Aku membaca pesan itu dan membalas secepat mungkin.
[Waalaikumsalam, iya? Ada apa?]
Terus terang. Begitu, aku lebih suka langsung ke pokok permasalahan.
[Aku yang jemput Almeera ya, langsung pulang ke rumah Eyangnya aja. Ini akhir pekan loh, boleh nginap ya.]
Ah..
Boleh nggak ya.
Aku membaca pesan itu pelan. Tidak mudah rasanya membiarkan gadis remaja ku itu menginap di tempat orang lain. Eh? Orang lain? Ah! Mereka memang begitu baik dan memperlakukan kami sebagai keluarga mereka, tapi--
[Bayangin deh kalau Syailendra nggak kasih izin Aksara buat nginap di rumah. Sedih kan?]
Aku yang masih galau untuk menjawab pesan dari Narendra jadi meringis. Begitu membaca pesan yang di kirimkan barusan oleh pria itu.
[Iya.. Iya. Tanyain dulu deh, Kakak mau nggak nginap di sana.]
Akhirnya aku mengetik balesan. Mengirimkan pesan itu. Namun hingga beberapa saat, pria itu tidak membalas. Padahal biasanya begitu cepat dalam membalas chat dariku.
"Nteee." panggil Aksara mengagetkan ku. Ternyata aku masih memandangi layar handphone milikku. Menanti balasan dari pria yang menjadi pamannya Aksara itu.
"Iya sayang?"
"Ini bacanya apa?" tanya Aksara sambil menunjukkan cover buku.
"Pancake." jawabku pelan. Kemudian membuka buku tersebut. Ternyata buku dongeng yang bergambar salah satu kue kesukaan Almeera.
"Adek pengen kue kaya gini, Nteee." bisik Aksara pelan.
__ADS_1
Aku mengusap rambut Anak ganteng yang sedang duduk di depanku ini. Entah sudah keberapa kali, aku begitu merasa bersyukur bisa bertemu dengan malaikat kecil ini.
"Nanti kita beli di toko roti atau kita buat sendiri saja?" tanyaku dengan senyum yang begitu mengembang di bibirku. Semangatku begitu besar saat membayangkan betapa nanti akan melihat binar kebahagiaan di wajah bocah kecil yang pandai ini. Rasanya sama... Sama saat aku berusaha membuat Almeera tersenyum bahagia. Rasa di dalam hati ini begitu akrab, yaa... Aku menyayangi bocah ini seperti halnya aku menyayangi putri ku, Almeera.
"Buat aja deh, Ntee. Biar lebih asyik. Yaaa? Yaaaaah?"
Aku tertawa kecil. Kemudian merengkuh Aksara kedalam pelukanku. Menciumi ujung kepalanya. Aku bahagia, sangat bahagia. Hal sederhana yang bagiku, beberapa waktu lalu terasa tidak akan pernah ku gapai. Nyatanya justru kini Tuhan memberikannya begitu saja. Adiknya Almeera. Meski bukan langsung lahir dari rahim milikku.
"Mau baca buku apa lagi sayang?" tanyaku pelan, menatap manik hitam milik Aksara yang hitam pekat. Matanya indah. Terlihat pancaran kecerdasan di bola mata ini.
"Mainan aja yuk, Ntee. Di luar. Baca bukunya biar sama Kak Almeera saja." sahut Aksara sambil berdiri. Dia sudah memegang buku buku yang tadi di ambil dari rak buku. Setelah aku mengangguk, setuju dengan permintaannya, dia mengembalikan semua buku buku yang dia ambil ke tempatnya masing-masing. Cerdas sekaligus tanggung jawab.
Pandanganku dari Aksara terganggu saat handphone milikku bergetar lagi, ku raih benda tersebut. Ternyata ada pesan masuk dari Narendra Bagaskara.
[Sebenarnya aku nggak suka aja kalau kamu manggil Almeera dengan sebutan Kakak. Di kepalaku jadi kebayang kalau kamu, bang Syailendra, Aksara dan Almeera satu keluarga utuh. Nyeri gini hatiku. Cuma... Keinget sama Aksara tadi pagi, aku jadi bisa mengontrol hatiku yang merana. Aksara begitu bahagia dengan keadaan yang sekarang. Punya kamu sebagai figure mama yang selalu dia rindukan, punya Almeera sebagai figur kakak yang selalu membuat dia merasa tertarik dengan segala hal yang di lakukan Almeera dan ada bang Syailendra yang sekarang lebih punya banyak waktu untuk putranya.]
Speechless, aku nggak tahu harus ngomong apa lagi. Nggak tahu harus bales apa. Bahkan pandangan mataku beralih dari layar HP ke Aksara yang masih sibuk merapikan kembali buku buku di rak.
[Aku berharap bisa memiliki keluarga utuh seperti itu.]
Pesan dari Narendra kembali masuk, mataku berkaca-kaca saat membaca pesan ini. Aku juga... Aku juga selalu berharap berada di kondisi seperti ini. Mas Dodi menjemput Almeera, aku menemani adiknya Almeera. Hal sederhana yang menurut ku begitu bermakna. Keluarga utuh yang tenang, damai dan juga penuh cinta.
"Sudah, Nteee!" sentak Aksara dengan nada ceria sambil memeluk leherku. "Ayooo!" ajak bocah itu dengan rasa antusiasnya.
Aku menggandeng tangan mungil ini, menggenggam erat penuh cinta. Ada banyak sekali harapan yang muncul di benakku sebagai seorang ibu saat menatap ke arah putranya yang sedang bergerak riang gembira. Aksara, bocah kecil ini putraku. Salahkah jika aku memiliki perasaan seperti ini? Ah.
"Hati hati ya sayang!" teriakku begitu Aksara melepas genggaman tanganku dan berlarian menuju ayunan yang sekarang ini di mainkan nya.
Anak. Saat masih usia segini, dia melepaskan genggaman orang tuanya untuk mengejar mainan yang ia sukai. Nanti, seusia Almeera. Melepas genggaman tangan orangtuanya untuk mengejar apa yang ia impikan. Begitu seterusnya. Namun sejatinya, seorang anak tidak pernah terlepas dari genggaman orangtuanya. Karena orang tua akan selalu memusatkan perhatiannya kepada anak anaknya. Sampai kapanpun juga.
Handphone milikku kembali bergetar, ternyata panggilan masuk dari Papanya anak yang menjadi sebab senyum miliku terus mengembang penuh kebahagiaan.
"[Assalamu'alaikum, Mas?" Sapaku bagitu aku mengangkat panggilan ini.
"Wa'alaikumsalam, Ra. Kalian di mana sekarang?" tanya Syailendra dari sebrang sana.
"Di perpustakaan daerah, kenapa mas?" tanyaku setelah menyebutkan tempat kami berada saat ini.
"Mas?" panggilku pelan saat tidak ada suara apapun di ujung sana setelah suara deheman.
"Boleh kok. Aku ganti ke video ya." ucapku sambil mengganti panggilan suara ke video.
Aku melambaikan tangan begitu wajah Syailendra terlihat jelas di layar hp. Senyum Syailendra mengembang, meskipun sorot matanya masih terlihat sedih.
"Senyumnya sampai mata dong, Mas!" tegurku pelan.
"Hahahahaha. Kamu!"
"Kameranya aku pindah ke bagian belakang ya, biar bisa lihat Adek lagi main."
Pria itu mengangguk setuju.
"Bahagia banget ya Adek." ucap pria itu sambil tersenyum, bangga. Pria ini begitu bangga saat menatap putra semata wayangnya itu.
"Adeeeek? Say hello ke Papaaa!" teriakku, sambil melambai ke arah Aksara.
Aksara yang baru saja turun dari ayunan itu menoleh ke arahku, lalu melambaikan tangan.
"Bahagia, aku bahagia, Ra. Trims ya." bisik Syailendra dengan suara rendahnya. Ah, bikin jadi nggak nyaman kalau Syailendra sudah menggunakan nada bicara seperti ini.
Syailendra tersenyum dan menatap ke arah kamera dengan tatapan tajam sekaligus dalam. Aura kharismanya begitu terasa kuat. Santai tapi berwibawa. Wajahnya juga manly banget.
"Kerja kok pakai T-shirt sport kaya gitu, Mas?" tanyaku sambil mengerutkan kening, berusaha baik baik saja meskipun ada hal aneh di dalam hatiku. Nervous? Nggak mungkin deh.
"Emang dari tadi udah pakai kaos gini kok." sanggah Pria itu sambil melihat ke arah baju yang ia pakai.
"Habis olahraga langsung ke rumah Narendra terus kerja? Gitu? Nggak mandi dulu? Diiiih, jorok banget!"
Syailendra tertawa.
"Kamu lucu kalau lagi jijik gitu. Nggaklaaah, nggak gitu. Aku mandi kok, setelah mandiin adek. Kamu tanya deh sama Adek, Papa mandi nggak gitu." titah Syailendra sambil tersenyum lucu. Sedikit mengejek.
"Terus ngapain masih pakai kaos begituan? Itu kan buat olahraga!" ujarku dengan nada judes.
"Lebih nyaman ginian, keren juga kan? Aku arsitek, nggak perlu pakai kemeja terus menerus." jawab Syailendra sambil menaikan alisnya.
__ADS_1
"Iya, iyaaaaa. Arsitek yang bayaran nya lebih tinggi dari pada direktur. Terus juga arsitek yang punya banyak banget saham, karena suka iseng iseng beli saham pas dulu masih kuliah." sindirku
"Jangan lupa, aku low profile banget! Hahahaha." sahut Syailendra sambil tertawa lebar sekaligus lepas.
Aku tersenyum. Berjalan maju menghampiri putraku yang sedang asyik main.
"Mau ngobrol sama Papa dulu sayang?" tanyaku pada Aksara.
"Boleh, Ntee." jawab Aksara sambil meraih handphone yang aku ulurkan padanya.
"Hay, Papaaa! Assalamu'alaikum!" teriak Aksara riang.
"Waalaikumsalam, Jagoaan! Habis ngapain aja niiih?" tanya Syailendra dengan suara beratnya. Aku selalu suka dengan suara berat ini.
"Tadi ikut Tante ketemu sama Om ganteng, baik bangeeet Pah, adek di kasih cokelat." ujar Aksara sambil tersenyum, sedangkan aku tertawa. Iyaa, tadi Aksara memang di kasih cokelat oleh Febian. Katanya muridku itu memang wajib ada cokelat di tasnya, satu atau dua bungkus.
"Siapa sih? Om siapa?" tanya Syailendra dengan suara yang menurutku terdengar sedikit panik.
"Fabian, mahasiswa yang minta tugas tambahan karena kemarin nggak bisa ikut ujian." jawabku sedikit dengan suara keras.
"Kok bawa cokelat?" tanya Syailendra dengan nada penasarannya.
"Katanya emang udah kebiasaan gitu, dia suka aja kasih cokelat ke anak anak kecil yang dia temui." jawabku sesuai dengan alasan yang di katakan Fabian saat aku tanya kenapa harus ada cokelat di tasnya.
"Ah, nggak baik deh."
"Jangan su'udzon dih! Kamu ih, nggak baik. Dosa!"
"Terus ngapain lain, Dek?" tanya Syailendra kepada putranya, mengabaikan peringatan yang baru saja aku ucapkan. Aku di cuekin.
"Main ke perpustakaan daerah."
"Raaaa! Kamu tuh mau jadiin adek jadi maniak buku seperti Kakaknya?" protes Syailendra.
"Dih, kasar banget sih. Udah ah, matiin aja kalau cuma mau ngajak ribut."
"Hahahaha."
Aksara tertawa, entah bagian mana yang lucu.
"Pah? Papa udah makan?" tanya Aksara pelan.
"Belum, adek mau makan sama Papa?" tanya Syailendra lembut.
"Mau dong, ke restoran Jepang dong, Paaa." rengek Aksara pelan.
"Kasih hpnya ke tante dulu sayang." titah Syailendra. Aksara nurut, handphone kini sudah berada di tanganku lagi.
"Ya, Mas?" tanyaku pelan.
"Perlu ngajak Narendra nggak? Aku lagi males ribut." tanya Syailendra dengan wajah kesalnya.
"Nggak usah, nggak papa."
"Kamu jangan kasih kabar ke Narendra! Belum jadi istri, nggak perlu dikit-dikit izin sama Narendra." sentak Syailendra kasar.
"Heeeeeem."
"Kakak pulang jam berapa?" tanya Syailendra.
"Sore, nanti di jemput sama Narendra." jawabku pelan.
"Oh.. Ya sudah. Aku jemput ke perpustakaan daerah atau kita langsung ketemu di restoran nya?"
"Langsung aja deh."
"Oke."
Aku mengangguk.
"Papa setuju, Dek. Nanti kita langsung ketemu sama papa di sana." sahut ku kepada Aksara.
"Horeeeee!" teriak Aksara sambil melompat bahagia.
Melihat Aksara yang bahagia seperti itu, hatiku menghangat. Kamu... Keajaiban yang begitu nyata dalam hidup ku.
__ADS_1