
Pov Syailendra
Aku tidak pernah menganggap serius siapapun yang berkata bahwa cinta pada pandangan pertama itu memang benar adanya. Hingga aku sendiri merasakan sensasi konyol itu. Jiwaku bergetar hebat, jantungku berdetak memalukan, nafasku tercekat dan tatapan mataku tidak bisa lepas darinya.
Perempuan itu memang memiliki daya pikat yang tidak bisa di anggap remeh. Dari fotonya saja sudah terlihat bahwa dia memang misterius, tidak tersentuh apalagi bebas sepertiku. Dia ... perempuan yang menghadirkan kembali senyuman serta gairah hidup saudaraku tercinta.
Aku mengikuti Instragram milik saudaraku. Dia polos baik hati lemah lembut tapi bodohh. Bodohh ... Ia rela memberikan akses kepada orang lain selain dirinya sendiri untuk mengontrol jiwa raganya. Atas nama cinta. Bucin acutt yang siallnya bukan pada majikan yang tepat. Buktinya, ia sampai menderita sejauh ini. Meskipun bisa tersenyum, meskipun bisa tertawa dan bersikap ramah, tetap saja tida ada gairah kehidupan di mataya. Semua palsu.
Hingga akhirnya, dia bertemu dengan gadis mungil yang wajahnya kini memenuhi akun Instragram saudaraku itu. Persis. Wajahnya begitu mirip dengan adik sepupuku. Hanya saja dia versi gadis yang beranjak remaja. Diam diam, aku memiliki rencana ingin mencari tahu kebenaran yang ada. Jangan jangan dia sebenarnya adalah putri dari saudaraku.
Semenjak menikah dengan Mamanya Aksara, kepalaku terkadang ada sampah yang berbentuk drama konyol ala sinetron pengejar ranting. Bayi tertukar ? Hahaha. Nggak mungkin ... tapi juga mungkin. Di dunia ini, terlebih duniaku banyak sekali hal konyol yang nyata terjadi.
Shofia, perempuan jahanam yang d cintai oleh Narendra, saudara ku itu adalah gadis yang aku tolak cintanya. Aku kalau tidak suka ya bilang tidak. Lebih jujur dan lebih baik di bandingkan memanfaatkan perasaan gadis itu. Dan sialnya, Shofia jadi terobsesi dengan Narendra. Sampai akhirnya mereka menikah dan naasnya ... menghancurkan jiwa Saudaraku hingga titik penghabisan. Drama banget kan ? ini drama pertama dalam hidupku.
Habis itu, aku menikahi gadis manis polos yang cintanya di tolak Narendra karena adik tercintaku itu masih belum bisa lepas dari masa lalunya. Kemudian apa yang terjadi ... yang terjadi adalah istri imut ku itu memperkosa Narendra. Sampai akhirnya dia hamil. Konyol bukan ? drama banget hidup gueee. Ya Tuhan!!
Marah? Iya!
Kecewa? Jelas!
Patah hati? Eem ... sepertinya aku tertarik dengan gadis itu karena rasa kasihan. Jadi saat dia akhirnya membongkar semua ini sebelu ajalnya tiba. Yang aku rasakan adalah patah hati karena aku terlalu menyayangi Narendra. Bukan karena aku merasa di khianati istriku sendiri. Jauh di lubuk hatiku, aku merasa bahagia untuknya. Karena dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan sejak lama. Meskipun menggunakan cara yang begitu nista. Lagi lagi kebodohan atas nama Cinta.
Saat Narendra memberitahu bahwa dia dalam kondisi kritis, kumat sakitnya. Aku memilih terbang dari Surabaya. Meninggalkan semuanya. Dan kebetulan aku haus menjemput putra tunggal ku yang sedang berada di kediaman ibu dan anak yang menghiasi kehidupan Narendra sekarang.
__ADS_1
Ludira. Nama perempuan itu memiliki makna darah. Huek ! mual rasanya setiap menyebut nama itu. Kebayang wajah Mamanya Akasara, putraku. Pendarahan hebat setelah menjelaskan dosa dosanya. Ya Tuhan ... drama apalagi kali ini?
“Narendra?”
Suara lemah milik Dira membuat aku tersadar. Bukan hanya kembali ke alam nyata setelah pikiran menjelajah kemana mana, tapi juga membuat hatiku sadar, bahwa perasaan aneh ini. Perasaan cinta yang hadir sejak pandangan pertama, sejak perempuan ini membuka pintu rumahnya dengan wajah khas Alpha namun rapuh dan butuh tempat berpijak sekaligus bersandar yang kokoh mengerti dirinya.
Dira baru siuman setelah pingsan karena adegan drama yang melibatkan aku sekaligus Narendra. Adik sepupuku itu memilih mundur untuk diriku. Bodohh!! Entah sudah berapa kali kami saling memukul setelah sekian purnama tidak lagi berantem. Jelas sekali Ludira lebih memilih Narendra.
Mata ku terbuka lebar. Aku bahkan sampai merasa menjadi pebinor, perebut bini orang dan juga tukang tikung setiap kali berdekatan dengan Ludira. Aku ingin menjauh demi kebaikan bersama. Kebaikan hubungan mereka berdua dan juga demi kebaikan diriku sendiri. Akhir akhir ini aku menjadi gila, menjadi pria baik baik setelah sekian ribu detik menjadi pria yang tidak perduli aturan apapun.
Setelah adegan pingsan itu aku memilih pergi. Sudah cukup aku merecoki kehidupan mereka. Aku meninggalkan Aksara bersama mereka padahal beberapa saat lalu aku ingin menjadi egois dengan membawa Aksara ikut menjauh dari mereka.
“Om mau pergi kemana?” tanya Almeera. Gadis remaja yang sempat aku curigai putri kandung Narendra. “Kalau adek mau di bawa Om pergi jauh dari Mama, Al nggak jadi ke pondok pesantren, Om.”
Nafasku tercekat. Aku tahu, dia sangat menyayangi Mamanya. “Terus kalau Mama tetap memilih sendiri, kamu nggak akan nikah ? nggak akan ninggalin Mama?” tanyaku. Ketebak banget dah.
“Kamu masih kecil, Kak. Nggak usah mikir kaya gini. Ini bukan drama sinetron yang nantinya akan ada perusak akad nikah atau Narendra kabur karena kembali ke Shofia. Mikirnya nggak usah aneh aneh. Bahagiain diri kamu aja dulu. Belajar mengenal diri sendiri, tanggung jawab sama diri sendiri. Kontrol diri sendiri! Berbuat yang terbaik untuk orang lain, oke kok Kak! tapi jangan sampai kita lupa caranya memberikan yang terbaik untuk diri kita sendiri!"
"Om?"
“Hmmmm ... apa ?”
“Om juga harus bahagia ya! Al juga sayang sama Om Syailendra kok.”
__ADS_1
Gadis itu tersenyum dengan sorot mata yang dalam. Entah kenapa, aku merasa tidak perlu bersusah payah menyembunyikan betapa nyeseknya ini ulu hati karena mamanya.
*****
Sudah berapa tahun? Ah! Baru beberapa bulan tidak bertemu dengan Ludira saja serindu ini. Se menyiksa ini. Usahaku menjauhi Ludira sudah sangat keras. Memberikan waktu bagi perempuan itu untuk memahami hati dan perasaannya. Aku tahu dia nyaman bersamaku. Tubuhnya menerima sentuhan ku. Eh-
Ya. Aku membuat sebuah kesalahan. Aku yang terbiasa menyentuh siapapun dan begitu aku menyentuh Ludira, menyentuh yang masih ukiran sopan, sangat sopan. Aku jadi tidak bisa menyentuh perempuan lain. Apalagi soal persetubuhan. Entah berapa lama. Yang jelas semenjak pertama kali bertemu Ludira, aku sudah berhenti menghubungi teman wanita. Aku mencoba dan hasilnya tidak bisa bangun. Se menyedihkan itu!
Mataku menatap ke arah rumah dengan pintu yang terbuka lebar. Semenjak mengenal ludira, ruah ni menjadi tempatku pulang. Bukan ... bukan rumah ini, tapi perempuan ini, Ludira dan juga anak anak. Mereka tempatku pulang. Miris, mereka semua milik Narendra. Bukan milikku. Aku menerima kenyataan pahit ini, makanya aku jadi sadar diri.
“Mbak—“ Narendra yang melihat aku berdiri di sampingnya mencoba memberitahu Ludira. Namun aku memberi kode supaya diam. Meskipun sepertinya Ludira tidak menyadari keberadaanku. “Sudah! Nggak perlu bahas Papanya Adek lagi, Ren. Saya nggak bisa pokoknya kalau sama dia. Kebayang gimana pusingnya aku nanti kalau nurutin kemauan kamu buat menjalin hubungan asmara sama bang Lendra. Dia player, Ren. Betapa tersiksanya aku nanti, kebayang bayang itu. Parah deh!” gerutu tidak jelas Perempuan yang aku rindukan setiap malam.
Ludira membelakangi kami berdua, entah sedang asyik memotong apa. Yang jelas tadi saat aku masuk ke dapur, Narendra sedang menunduk sambil mendengar omelan Ludira. Persis pasangan suami dan istri saja.
“Coba! Dia aja setega itu kaaannnn. Nggak ngasih kabar apapun ke Aksara. Di tinggal gitu aja. Ngilang seenak hati. Dulu pas ngilang di surabaya, nanya kabarnya ke kamu! Padahal Aksara sama aku. Gini? Giniiiii yang kamu sebut cinta!” omel Ludira lagi lagi tanpa menoleh ke belakang.
Aku tersenyum geli. Kemudian membisikkan sesuatu ke Narendra. “Mbak nggak rindu?” tanya Narendra, sesuai dengan yang aku bisikkan.
Meskipun tidak lama, perempuan itu sempat berhenti bergerak. “Kamu sudah tanya, Narendra. Munafik jika aku bilang kalau aku tidak merindukan pria itu. Ini tidak mudah untuk aku, Ren.”
“Kamu mencintai Syailendra, Ludira. Kamu harus mengakui kenyataan itu!” sahut Narendra sambil memandang ke arahku.
Dimatanya ada kesedihan yang bercampur dengan kerinduan dan juga kasih sayang. Membuatku menggelengkan kepala. Rasa nyaman bukan berarti cinta. Aku memang mudah membuat perempuan merasa nyaman denganku, tidak terkecuali perempuan yang kini memakai daster rumahan dengan kerudung sederhana.
__ADS_1
“Yang jelas aku menyayangimu, sangat menyayangimu, Narendra!”
Beruntung aku sudah menyadari hal ini sejak awal. Semua ini akan berakhir dengan Narendra, bukan Syailendra. Aku tersenyum lebar. Melangkah mundur perlahan meninggalkan mereka. Aku mungkin datang sebagai penawar luka yang di toreh Narendra. Aku bahkan kadang merasa berhasil merebut Ludira saat Narendra tidak lagi fokus pada perempuan ini. Namun kenyataannya posisiku di sini adalah cadangan, yang sewaktu waktu bisa di butuhkan dan bisa juga tidak di butuhkan. Siap menggantikan pemain utama sekaligus siap menyerahkan kembali ke pemain utama. Aku, Syailendra Bagaskara. Pria yang menerima keputusan takdir untuk selalu terhubung dengan pria yang bernama Narendra Bagaskara.