LUDIRA

LUDIRA
Empat Puluh Lima


__ADS_3

Aku bergerak maju ke arah Syailendra yang sepertinya terpancing oleh ucapan Narendra. Aku menahan tubuh pria itu dengan tangan yang aku letakkan di dadanya. Berharap pria itu tidak menambah kisruh keadaan.


"Sudah... Mas, sudah." bisik ku pelan. Mencoba menenangkan pria ini.


"Dasar bocah!" sentak Syailendra keras.


"Sudah, mas. Jangan bikin tambah ribut." sahutku pelan.


Sebelum memutuskan untuk pergi, Syailendra memandang ke arah ku, nanar. Dengan pandangan yang sulit ku artikan. Aku menghembuskan nafas berkali-kali, berharap dengan itu adalah usaha bagus untuk menenangkan perasaan. Narendra, menghadapi Narendra saat ini itu sepertinya dibutuhkan rasa tenang dan kesabaran yang lebih banyak.


Aku menoleh ke belakang, ke arah Narendra yang sedang berbaring. Aku mencoba memantapkan hatiku dan juga tekad yang aku miliki untuk beranjak menuju ke sana.


"Narendraa." panggilku pelan.


"Reeen."


Aku duduk di atas kasur persis di belakang pria itu. Emosi Narendra berubah-ubah, meskipun terlihat kekanak-kanakan seperti ini, aku tidak merasa keberatan atau illfeel.


"Hay..." ucapku sambil memegang tubuh pria itu.


"Aku salah ya? maaf ya?" bisik ku pelan. Namun membuahkan hasil karena akhirnya pria itu sekarang membalikkan badan ke arahku. Tidak lagi membelakangi ku.


"I'm so sorry. Kalau soal kamu, aku jadi kekanak-kanakan kaya gini." ucap Narendra sambil berusaha duduk dan bersandar.


Wajah pria ini murung, kacau. Kebayang jika para penggemarnya lihat pasti bakalan kaget banget. Narendra Bagaskara yang selalu terlihat rapi, wangi, bersih, dengan senyum yang simpel tapi menawan. Wajahnya kadang cool banget tapi ketolong sama sikapnya yang ramah dan juga suka menyapa siapapun juga. Dewasa dan penuh pesona.


"Aku cemburu, Ra. Tapi mengingat kondisiku yang tidak stabil seperti ini, aku memilih mundur. Mungkin bang Syailendra lebih baik di bandingkan aku."

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih, Ren? nggak jelas gini."


"Bang Syailendra suka kamu."


Hahahaha, aku tertawa dan juga menggelengkan kepala.


"Reen, kamu laper nggak? aku bawain bubur ayam loh."


"Lapar, tapi nanti. Kamu masih pengen ngobrol gini sama kamu, Ludira." ucap Narendra serius. Masih sambil menatap ke arahku. Wajahnya lemas, masih sangat lemas.


"Soal tadi malam--" ucapan Narendra terhenti, pria ini menarik nafas dan menghembuskan nya berkali kali, mencoba menenangkan kegelisahan yang terukir jelas di wajah tampannya. Tampan tapi imut.


Aku memilih diam, menunggu dan memberikan waktu untuk pria itu menjelaskan semuanya.


"Soal tadi malam, iman... keyakinan ku ternyata masih sangat lemah ya, masih bisa terprovokasi oleh Dia. Dan kamu pasti kecewa banget." ucap Narendra sambil menoleh ke arahku. Matanya... Wajahnya terlalu sendu dan juga sedih.


Aku mencoba tersenyum menenangkan. Kejadian semacam tantrum pada anak kecil itu ternyata nggak bikin aku memandang jelek ke Narendra maupun Sofia. Walaupun aku sedikit terkejut, namun bukan berarti aku lantas menghakimi mereka.


"Maksudnya aku sebagai masa depan kamu apa?" tanyaku pelan. Aku harus menanyakan hal itu, memperjelas kalimat itu supaya aku tidak terjebak dalam perasaan yang ternyata salah paham. Aku bukan lagi anak remaja yang merasa cukup hanya dengan kalimat seperti itu dan juga perasaan aneh yang datang seiring debaran didalam dada. Tidak... Aku butuh sesuatu yang lebih jelas dan juga pasti.


"Aku rasa... Aku mulai serakah karena tidak hanya cukup dengan Almeera yang membuatku merasa menjadi daddy. Tapi mulai menginginkan kamu sebagai istri ku. Aku menginginkan sebuah keluarga yang normal." bisik Narendra dengan suara parau. Nafasnya tidak beraturan.


Aku menduga bahwa pria ini sedang menahan air mata yang mendesak ingin keluar dari matanya.


Debaran di hatiku semakin berdetak tak menentu tapi mengapa di hatiku terasa begitu ragu. Ragu bahwa pria ini benar-benar akan memilih aku sebagai masa depannya.


"Mas Dodi? Apakah kau di atas sana melihat kami berdua? Maafkan aku, mas. Maaf, hati ini tak lagi bisa sepenuhnya mencintaimu. Aku janji, aku tidak akan pernah melupakanmu begitu saja. Kamu tetap akan selalu ada disini mas, di hati ini."

__ADS_1


Ruangan begitu hening, kami berdua memilih sibuk dengan angan-angan kami sendiri. Sampai pria ini kembali menoleh ke arahku.


"Aku punya sisi gelap yang ternyata belum sepenuhnya bisa aku singkirkan. Lagi lagi, kehadiranmu membuatku cukup kuat untuk tidak berlutut di depan perempuan itu. Dulu... Dulu setiap dia seperti itu, setiap dia marah seperti itu, aku akan selalu berlutut, tunduk dengan semua yang dia katakan. Semua yang dia perintahkan. Raga ini, jiwa ini sudah tidak lagi menjadi miliki seutuhnya. Tapi, ternyata... Bersamamu aku mampu melawan semua itu. Melawan desakan yang begitu kuat. Suaramu, sentuhan mu, kenyataan bahwa ada kamu yang akan selalu menggenggam erat tangan ku, membuatku berusaha sekeras mungkin untuk tetap memegang kendali."


Aku terharu. Hatiku terasa begitu nyeri dan juga sakit. Bahagia yang hadir ini, beriringan dengan rasa yang bercampur aduk. Mataku menghangat, tenggorokan ku tercekat. Aku menangis. Menangisi kesedihan, rasa sakit, rasa tersiksa yang begitu nyata di mata Pria ini. Aku marah, marah kepada apa yang dia alami. Rasanya aku tidak terima.


"Kemarin, mungkin aku terlalu marah. Rasa benci di hatiku ini membuatku hilang kendali. Aku kalah." lanjut Narendra dengan suara lemah.


"Setidaknya kamu sekarang tahu bagaimana caranya tetap mengkontrol dirimu sendiri saat bertemu Sofia. Lepaskan, semua rasa benci di hatimu. Biarlah rasa amarah itu pergi. Maafkan lah apa yang pernah terjadi. Terima, terima apa yang memang sudah di takdirkan sang Pencipta." sahutku dengan suara tenang.


"Maafkan dirimu sendiri dan juga dia. Berdamailah dengan masa lalu. Biarlah itu semua berlalu, Narendra."


"Berat."


"Berat karena belum terbiasa." jawabku meyakinkan.


"Kamu tetap akan berdiri di sisiku?"


Aku mengangguk, "Aku akan terus menggenggam tanganmu, Narendra. Hingga kamu sendiri yang melepaskan genggaman ini." ucapku pelan. Hatiku sudah memutuskan. Hatiku sudah mempertimbangkan dan ini adalah keputusan terbaik. Aku tidak ingin telat atau bahkan salah dan juga mengingkari perasaanku kepada Narendra.


Iyakan?


Aku benar-benar mencintai Pria bernama Narendra Bagaskara ini?


Mas? Aku tidak salahkan ? Keputusanku ini memang benar kan, Mas?


Ah!

__ADS_1


Aku dan masa lalu ku,


Narendra dengan masa lalunya. Seandainya pria ini mau menceritakan keseluruhan yang terjadi selama bersama Sofia, mungkin aku bisa lebih paham tentang bagaimana nanti aku bersikap. Setidaknya meskipun aku tidak akan menghakimi apapun yang terjadi, aku bisa tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Aku tidak akan seperti orang bodoh yang tidak tahu menahu persoalan ini sedangkan orang-orang di sekeliling ku mengetahui semuanya dengan detail.


__ADS_2