
Sudah hampir satu bulan lamanya setelah Narendra, pria itu mengatakan perasaannya. Mencintaiku. Meminta aku untuk bersedia menjadi masa kini dan masa depannya. Mulutnya memang mengatakan kalau bersedia melepas masa lalunya dan menempatkan aku sebagai satu-satunya masa kini dan masa depan pria itu. Bahagia? Memang begitu! Seharusnya aku bahagia. Bukannya justru merasa gamang dan mamang.
Narendra, pria baik hati. Pria yang berdiri teguh, gagah berani, kokoh pendirian. Meskipun aku sudah berkali-kali menolaknya meskipun hanya mendekat ke hidupku. Dulunya begitu. Sebelum akhirnya aku menyerah dengan semua perjuangannya, Ratu mana yang tidak meleleh hatinya ketika di perlakukan dengan begitu memuja. Perempuan... Wanita mana yang tidak akan terkesan saat pria itu memberikan versi terbaiknya yang selama ini tidak pernah di berikan bahkan di tunjukkan kepada siapapun.
Aku menyadari itu. Aku menyadari bahwa yang benar-benar membuatku akhirnya menyerah adalah Almeera. Putriku. Putri kecilku yang begitu kuat namun juga rapuh. Takdir, memainkan perannya dengan sangat sempurna. Narendra memutuskan untuk terus berjuang masuk kedalam hidupku demi sebuah senyuman yang ia puja-puja, seakan itu adalah sumber nafasnya. Pria imut, manis dan baby face itu memutuskan untuk tidak goyah dan memutuskan mundur pelan pelan saat aku terus menerus secara konsisten memukulnya supaya menjauh.
Demi melihat dan mengukir senyum di wajah putriku. Almeera. Gadis kecilku yang menjadi alasan utama Pria bernama Narendra Bagaskara itu bersikeras masuk kedalam hidupku dan dengan gagah berani menyeret aku dan putriku untuk keluar dari gelembung yang jiwa kami tinggali selama ini. Aku tahu, perjuangan pria itu memang menakjubkan.
"*Kamu tahu, Narendra? Kesalahan terbesar kita setelah kita berhasil memperjuangkan sesuatu?" tanyaku padanya di suatu sore. Sambil terus menatap ke arah sinar senja yang begitu cantik menghiasi hamparan langit yang cerah. Mendengar aku bertanya, Narendra menoleh kepadaku, mengalihkan sejenak pandangan matanya dari ponsel yang baru saja di gunakan untuk mengambil potret Almeera dan juga Aksara.
"Kita terlalu bahagia karena sudah mendapatkan apa yang selama ini kita inginkan... Perjuangkan. Sampai lupa caranya untuk merawat, mengembangkan supaya menjadi lebih baik lagi." bisik ku. Narendra yang masih terdiam sambil menoleh ke arahku dengan kedua tangannya yang masih memegang ponsel. Setelah mengucapkan hal itu, aku menoleh sekilas ke arah Narendra dan tersenyum. "Entah kamu sadari atau tidak, kamu sudah mendapatkan ku begitu kamu mendapatkan Almeera. Sayangnya, kamu terlalu sibuk mencintai sosok perempuan di masa lalu mu itu." Aku mengatakan kalimat itu dengan hati yang teriris nyeri sekaligus pedih. Pernah... Aku pernah hampir kehilangan kemurnian cintaku yang masih aku pertahankan untuk almarhum Bapaknya Almeera.
Narendra terdiam, menatapku nanar. Ekspresi wajahnya yang membuatku yakin dia saat itu tidak mematung. Aku tertawa. Tertawa sumbang. Teringat Syailendra yang memeluk menenangkan tapi juga terus memarahi kebodohan ku membuatku kembali tertawa. "Kita tidak pernah mengetahui kapan rasa itu datang kan, Ren? Perasaan cintaku, benih benih cinta ku datangnya terlalu cepat sedangkan kesadaran mu akan perasaan cintamu datangnya terlambat. Bagaimana kita menjadi tepat? Tepat untuk satu sama lainnya?" Aku kembali memandang ke depan. Ke arah senja yang mulai memudar. Siap pergi demi datangnya sang malam. Sebentar namun sarat makna dan keindahan.
"Khayalan kita sama, Dira. Tujuan kita sama, harapan kita juga sama, impian kita juga sama! Apalagi yang perlu di perdebatkan! Apalagi yang membuatmu begitu mudah mengucapkan bahwa kita tidaklah tidak tepat untuk satu sama lain!" sentak Narendra dengan nada suara terluka. Bahkan ponsel pintarnya entah terhempas ke mana. Karena pria yang memiliki karakter lembut dan sopan itu berdiri dengan kemarahan. Aku tahu, dia marah bukan padaku, tapi lebih kepada dirinya sendiri. Dia kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri. "Kita hanya perlu memulainya dengan takaran yang pas. Dengan resep yang sesuai. Tidak perlu menambah bahan-bahan yang lainnya lagi. Persetan Shofia! Persetan Syailendra!" Narendra tampak menahan dirinya supaya tidak berteriak. Akal sehatnya masih berhasil memperingati dirinya bahwa di depan kami berdua, beberapa meter di sana ada anak anak yang sedang asyik tertawa gembira, melukis di atas kanvas. "Ini hanya tentang kita... Kita berdua. Bertiga dengan putri kita." bisik nya lemah. Tubuh Narendra jatuh berlutut di depan ku, luluh... Ambruk di depan ku yang masih duduk dengan memeluk lutut. Pandangan matanya terluka, wajahnya memelas. Bibirnya bergetar. Sedangkan aku? Aku seperti ratu es yang memandang ke arah pria itu tanpa Ekspresi.
"Beri aku kesempatan! Biarkan aku yang menggenggam tanganmu kali ini. Masa bodoh, aku tidak perduli dan tidak akan pernah mempermasalahkan jika telapak tanganmu, jari-jari mu tidak membalas genggaman tanganku. Aku tidak akan pernah menuntut menjadi pemilik hati mu, cintamu ataupun tubuhmu. Terimalah aku sebagai imam mu, suamimu, temanmu, sahabatmu, bahkan musuh mu. Biarlah hanya aku yang ada untuk mu, menemani mu, menjadi pendamping mu dan menjadi sosok papa yang seutuhnya untuk Almeera." mohon Narendra, pria itu memohon dengan suara yang mengenaskan. Meruntuhkan semua kehampaan yang sejak tadi bertahta mengendalikan diriku. Aku menangis tanpa suara. Kami berdua menangis tanpa suara. Kenapa? Kenapa cinta yang hadir di hidup kami harus begini rumitnya? Kenapa tidak seperti pada umumnya? Yang sederhana ... Simpel namun sakral*.
"Nteeeee ... Nteeeeeee!" panggil Aksara, bocah laki-laki yang begitu menggemaskan ternyata terbangun dari tidurnya. Membuat semua lamunanku buyar dan kesadaran kembali. Aku meletakkan pena yang entah sudah berapa lama aku putar putar laku bergegas kembali ke kamar tidur. Syukurlah tadi saat masuk ke ruangan ini, pintunya tetap aku buka lebar. Jadi suara putra semata wayang Syailendra itu langsung terdengar.
"Uuu uuu... Kesayangan Papa Syailendra banguun yaaaa." ucapku sambil naik ke atas tempat tidur. Membungkuk ke arah wajah Aksara yang masih berbaring sambil mengucek matanya. Mencium gemas kedua pipi bocah laki-laki ini. "Nteee, petir." ucap anak ini sedikit ketakutan. Sambil memeluk leherku dengan kedua tangannya.
Ah? Ada petir kah?
"Mau minum dulu nggak? Aksara haus?" tanyaku.
"Iyah" jawabnya pelan, lirih. Dan juga melepaskan tangannya dari leherku. "Adek duduk yaa." Pintaku sambil tersenyum dan berusaha memajukan badan untuk mengambil gelas berisi air putih. Kemudian mengulurkan nya kepada Aksara.
"Terima kasih."
Aku tersenyum. Mata Aksara terbuka lebar begitu aku turun dari tempat tidur. "Mau kemana?" tanya bocah itu panik. "Mau lihat di luar hujan atau tidak." jawabku berusaha tersenyum menenangkan.
Bocah berwajah imut itu menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi habis itu sini aja ya. Adek mau tidur sama Ntee."
Aku yang sudah berdiri di lantai menoleh tersenyum, menganggukkan kepalanya seperti yang di lakukan nya barusan. Wajah Aksara memang sangat imut. Putih bersih, jenis kulitnya lebih mirip ke Narendra dari pada Papanya, Syailendra. Mengingat nama itu, aku seketika menarik dan menghembuskan nafas kasar. Mataku yang memandang ke arah hujan di luar sana menjadi nanar, sendu. Pria itu, entah sedang berada di mana sekarang. Katanya hanya seminggu, nyatanya sampai hari ini, detik ini dia seperti menghilang tanpa kabar apapun. Meskipun itu hanya sekedar menyapa menanyakan tentang putranya.
"Sayang bobok lagi ya." ujar ku sambil naik kembali ke tempat tidur. Mendekati Aksara yang sekarang sedang duduk, kedua tangannya di atas selimut karena selimut hanya menyelimuti sebagian tubuhnya.
"Tante juga tidur kan? Istirahat?" tanya bocah itu khawatir. Aku sedikit merasa beruntung sekaligus lega karena wajah Aksara tidak begitu mirip dengan Syailendra. Jadi tidak harus terganggu dengan tiba-tiba teringat pria tidak sopan itu.
"Eem, maaf ya. Tante harus lembur kerjaan." aku mengucapkannya dengan nada menyesal. Terlebih wajah ganteng imut itu sudah mulai mellow. "Tapi kan nunggu adek tidur dulu, jadi jangan sedih gini." sambung ku. Memegang kedua pipinya.
"Buka sedih, Ntee. Aksara cuma nggak mau Tante kerja sampai larut malam. Nanti kalau Tante kecapean terus sakit gimana?" ucap Aksara sambil berbaring di pangkuanku.
Aah, speechless deh. Terharu banget aku.
Aku mengusap rambutnya pelan, dia bergerak membelakangi ku. Sesekali aku mencium kepalanya bangga. Aksara memang memiliki bakat menjadi anak yang begitu baik. Semua kebaikan sudah tertanam subur di karakternya. Aku akui, Syailendra, Hebat. Berkarakter, membentuk Aksara berkarakter sejak kecil.
Aku kembali menghadiahi putra semata wayang Syailendra dengan kecupan di pelipisnya. "Iya iya, Terima kasih ya sayangnya Tante." bisik ku pelan.
"Selamat malam, Ntee." ucap Aksara sambil menutup matanya. "Selamat malam juga, Papah. Aksara rindu banget sama Papah, Aksara cuma bisa bantu Papah, minta sama Alloh supaya Papah sehat. Aksara janji, besok kalau Aksara sudah sebesar Papah, Gantian Aksara yang bekerja." monolog bocah kecil itu membuatku bukan hanya tersentuh, hatiku sudah di remas-remas. Pilu. Mataku menghangat dan akhirnya, butiran air mata jatuh di pipiku. Aku memilih diam sambil mengusap usap rambut Aksara yang ternyata sudah mulai panjang, waktunya untuk potong rambut lagi.
Syailendra memang keterlaluan. Bagaimana bisa dia tahan tidak menghubungi putranya sendiri dalam satu bulan ini? Heran, apa sih yang bikin dia berbuat semuanya seperti ini. Apa susahnya coba menghubungi Aksara, kalau memang dia sengaja menghindari aku atas apapun itu alasannya, karena aku rasa terakhir kali bersama Syailendra, tidak ada perihal yang aku lakukan menyinggung perasaan Syailendra atau kuat untuk di jadikan alasan menghindari ku seperti ini.
Setelah aku memastikan Aksara tertidur nyenyak dengan posisi yang tepat, aku beranjak dari tempat tidur, menuju perpustakaan kembali untuk mengambil ponselku. Aku putuskan untuk menghubungi Syailendra, mengabaikan perasaan gengsi yang membuncah tidak karuan di hatiku. Marah, kecewa dan akhirnya gengsi. Membuatku semakin malas untuk menghubungi pria menyebalkan itu. Satu minggu pertama, munafik jika aku tidak mengakui bahwa aku rindu, rindu kehadirannya. Rindu cekcok karena hal sepele. Rindu mendebatkan sesuatu yang nggak begitu penting. Aku sudah bersiap menyambut kepulangan nya, eh... Sampai hari ini dia tidak pulang. Tanpa kabar pula.
"Hallo, Dira." sapa suara berat tapi lembut. Terdengar serak. "Ada apa?" lanjut pria itu. Aku mendengus.
Dia Lagi-lagi melupakan salam.
"Aksara rindu padamu, kamu tahu? Setiap malam sebelum tidur ternyata dia selalu mendoakan kamu. Selalu bermonolog, bahwa nanti saat dia dewasa, Aksara ingin berkerja sekeras kamu supaya kamu bisa istirahat?" keluh ku dengan suara pelan. Awalnya memang ingin memaki, membentak, meluapkan semua kekesalan. Nyatanya tidak bisa. Aku kembali menjadi diriku yang datar, tidak terlalu ekspresif.
"Hmmmm."
Di ujung sana, pria itu hanya bergumam. Tidak menjawab ucapan ku. Aku yang sedang berdiri kini bersandar ke meja kerja.
__ADS_1
"Besok pagi, tolong hubungi Aksara. Tanyakan kabar putra mu itu!" sahutku sebelum mengakhiri panggilan.
Meskipun panggilan sudah berakhir, wajahku masih memandang ke arah layar ponsel. Ada pesan masuk dari beberapa orang. Salah satu di antaranya Ibu Basuki dan putranya, Narendra. Ibu jariku bergerak, mengusap aplikasi itu dan memilih pesan Ibu Basuki terlebih dahulu untuk di baca.
[Ibu besok pagi mau kirim sayur asem empal, sambal, tempe bacem. Kamu suka kan sayang?]
Mataku berkedip berkali-kali, juga membaca pesan itu sampai dua kali. Ibu Basuki, kalau menurut cerita Silvia, beliau tipe ibu mertua yang akan selalu menjaga jarak dengan menantunya, tidak akan pernah membawa masuk menantunya ke dalam lingkarannya. Namun, ketika bersamaku dan Almeera. Beliau justru menjelma menjadi perempuan sepuh yang penuh perhatian dan cinta kasih. Lembut serta begitu perasa. Meskipun terkadang suka sekali memaksakan kehendaknya, beliau tetaplah sosok yang bijaksana.
[Suka, Bu. Terima kasih ya.]
Aku membalas pesan itu cepat, meskipun setelah terkirim aku berharap pesan itu tidak mengganggu istirahat beliau. Karena ternyata sekarang sudah pukul setengah dua belas malam. Tengah malam, sudah hampir tengah malam dan mataku belum terasa mengantuk sedikitpun. Setelah menimbang nimbang, mempertimbangkan. Aku berjalan ke arah kursi dan kembali duduk di sana. Membaca satu persatu pesan dan email yang masuk kedalam akunku, mengamati dengan teliti jika itu hal yang penting. Hingga tiba di pesan masuk milik Narendra. Aku membaca pesan panjang itu dalam diam. Wajahku lagi lagi datar.
[Assalamu'alaikum, Dira. Hari ini, seperti saran darimu. Aku pergi menemui Shofia sendirian. Di panti asuhan yang Dia kelola. Ternyata dia baru saja melakukan pengobatan alternatif melalui Ustadz yang beberapa saat lalu kamu cerita kan itu. Eemm, bukan bertemu sih, hanya mengamati dan melihat dari kejauhan.]
Aku jadi teringat kembali percakapan ku dengan Almeera. Saat itu kami, aku putriku dan adiknya sedang berkumpul bersama di perpustakaan ini. Seperti malam malam biasanya sebelum tidur kami menghabiskan waktu di sini. Almeera belajar, aku bekerja dan Aksara di tengah tengah kami.
"Mah, Kakak ragu juga takut kalau nanti akan ada drama seperti di film film. Om Narendra ternyata memilih kembali dengan Tante Shofia dan meninggalkan Mamah." ucap putriku sambil meletakkan pensil di atas buku. Kemudian menoleh ke arahku.
*Yaa, Almeera, putriku ini tahu tentang Shofia dan Narendra bahkan dari sejak awal mereka bertemu. Narendra begitu terbuka dengan Almeera, pria itu sungguh-sungguh memperlakukan Almeera layaknya putrinya sendiri. Berdiskusi, memarahi, bercanda dan juga mengatur. Semua hal yang biasanya seorang Ayah lakukan, Narendra melakukannya.
Kebetulan besok paginya Narendra datang ke rumah, untuk mengantar Almeera berangkat sekolah sekaligus sarapan juga. Dan datangnya juga terlalu pagi.
"Masak apa, Ra?" tanya Narendra mengagetkan ku, tiba-tiba saja sudah berada di dapur. Tanpa terdengar langkah kakinya.
"Tumis ayam terus ada sayur rebus tanpa bumbu apapun. Dan juga aku buat susu kedelai. Itu sudah jadi di sebelah sana." ucapku sambil memberitahu letak susu kedelai yang sudah aku siapkan.
Narendra bergerak ke arah tempat yang aku tunjuk. Mengamati susu tersebut sebelum akhirnya kembali menoleh ke arahku yang baru saja mematikan kompor.
"Bisa buatkan yang rasa rasa melon?" pinta pria itu sambil meringis.
"Bisa, aku masih punya bubuk untuk perasa melon. Nanti tinggal di blender saja. Tolong dong sekalian ambilkan piring itu." pintaku. Narendra tersenyum dan mengambilkan piring yang aku maksud kemudian mengulurkan nya kepadaku. "Terima kasih." sahutku pelan. Setelah menerima piring itu, aku memindahkan Tumis daging dari teflon ke piring dengan hati hati.
"Sudah ada simbok kok masih repot?" protes Narendra dengan nada lembut.
"Nggak papa, nggak repot." jawabku pelan. Setelah membereskan semuanya. "Ren? Tadi malam Almeera bilang kalau dia takut kamu akan meninggalkan aku demi kembali dengan Shofia. Mungkin ada baiknya walaupun aku belum memberikan jawaban apapun ke kamu, emm ada baiknya kamu mencoba menghubungi Shofia, menemui dia. Kamu juga perlu membuktikan kepada dirimu sendiri, Ren. Kalau kamu benar-benar ingin melepas masa lalu kamu."
"Aku akan coba. Demi kamu, demi Almeera."
"Dan juga demi dirimu sendiri. Itu yang paling utama. Kita, aku dan Almeera hanya penyemangat saja."
Aku tersenyum dan meninggalkan pria itu. Membawa lauk pauk yang sudah aku masak ke meja makan.
"Reeen! Bantu bawa sini!" teriakku begitu menyadari Narendra masih terdiam di dapur*.
Ting!
Notifikasi dari ponsel membuatku kembali menoleh ke layar itu. Berhenti mengingat.
[Hanya centang biru tanpa balasan?]
Bunyi pesan dari Narendra membuatku tersenyum malu, aku memang masih membuka chat Narendra jadi pasti masih terlihat status online.
[Belum tidur? Sudah tengah malam]
Lagi, pesan dari Narendra masuk. Perasaan ini seperti deja vu. Perasaan yang sama seperti awal awal kami berdua lebih dekat. Hangat, dekat dan juga akrab.
[Jadi gimana? Ceritanya soal ketemu sama Shofia itu.]
Ibu jariku bergerak mengetik balasan untuk Narendra, saat pesan itu terkirim ternyata saat aku melihat namanya justru bukan Narendra Bagaskara. Tapi kontak yang ada namanya Syailendra.
Panik.
Aku panik, terlebih begitu terkirim dan langsung centang biru. Jariku dengan cepat menghapus pesan itu. Dan scroll ke bagian atas. Ternyata Syailendra mengirim pesan singkat.
[Anak-anak baik baik saja kan?]
__ADS_1
Haduh, bisa bisanya nggak fokus kaya gini. Efek pikiran ke mana-mana ini pasti.
Ibu jariku mengetik balasan untuk Syailendra. Pesan pertama yang ia kirimkan setelah begitu lama tanpa kabar.
[Anak anak sehat, baik baik saja. Adek kayanya nggak kaget sih satu bulan tanpa ketemu and dapat kabar dari Papanya. Cuma bukan berarti dia nggak rindu. Aku nyesek aja sih.]
Aku kembali mendengus. Tidak lama kemudian, ada panggilan masuk dari Syailendra.
Angkat?
Atau tidak ya?
Baiklah, angkat saja.
"Assalamu'alaikum." Aku mengucapkan salam dengan nada kesal.
"Waalaikumsalam. Gimana sama Rendra?" tanya pria itu dari sebrang sana. Suaranya berat, rendah dan dalam. Membuatku sedikit bergidik ngeri dan bulu kudukku meremang.
"Baik. Terima kasih buat usahanya!" sindir ku teringat terakhir kali kita bersama.
"Jangan ngambek, kelihatannya jadi manja. Kamu nggak suka jadi perempuan manja kan?"
"Hmmmm. Mas? Kamu tuh gimana sih jadi Papa. Heran aku tuh, anak nggak nanyain kamu tuh bukan berarti nggak rindu sama kamu. Adek diam nggak nanyain kamu tuh bukan berarti nggak perduli. Kamu kalau tahu doa apa yang di panjatkan putramu setiap dia mau tidur pasti sedih!" sentak ku kasar.
"Iya iya, besok pulang. Aksara rindu banget ya sama aku?" tanya pria itu dengan suara rendah.
"Iya!"
"Bodooooh, gitu aja perlu bertanya." Batinku kesal.
"Kamu rindu?"
"Iyaaaaa!" teriakku marah, kesal.
Eh?
"Kamu tanya apa barusan?" tanyaku memastikan. "Rindu apa?" ulang ku pelan.
"Hahahahaha"
Suara tawa terdengar begitu merdu di sana. Membuatku malu. "Kamu rindu juga nggak sama aku?" ucap pria itu di sebrang sana. Lirih namun ada ketegasan di sana. Membuatku membisu.
Iya kah? Aku sebenarnya rindu? Benar murni rindu? Bukan karena sudah terbiasa jadi rutinitas jadi merasa kehilangan lantas merindu?
Ah!
"Nggak. Aku lebih baik tanpa kamu di sini." ujar ku. Benar, aku baik baik saja tanpa dia. Dan aku lebih baik baik saja tanpa dia. Aku kembali bisa menguasai perasaanku sendiri. Aku kembali bisa berpijak pada pijakan ku sendiri.
Kami terdiam. Hingga akhirnya terdengar suara pria menyanyi.
"I hate you, I love you, I hate that I love you
Don't want to but I can't put nobody else above you I hate you, I love you,
I hate that I want you You want her, you need her And I'll never be her"
Aku terdiam. Aku paham lirik ini. Tanganku memegangi dadaku yang begitu merasa nyeri.
"Sampai jumpa minggu depan. Ludira."
Aku masih tercengang, tidak mampu mencerna kondisi saat ini. Bahkan sampai pria itu menutup panggilannya.
"Bagaimana bisa? Narendra menjadi Syailendra? Bagaimana bisa keadaan nyaman bersama Narendra menjadi kisruh dengan hanya suara singkat Syailendra?"
Haduh, hatiku.
__ADS_1
"Mungkin aku memang perlu tidur dan beristirahat." batinku sambil berjalan ke arah kamar tidur.
*****