LUDIRA

LUDIRA
Lima Puluh


__ADS_3

Melihat Narendra berdiri di depan rumah, detak jantungku berdetak sangat cepat, bukan lagi nervous yang akun rasakan. Tapi juga ada perasaan bersalah dan juga menyesal. Entah sebabnya apa. Terlebih saat Syailendra menoleh ke arahku.


"Ada Om Narendra, Pa!" teriak Aksara antusias.


"Iya." jawab Syailendra pelan. Senyum di bibirnya terlihat kaku.


Setelah mobil berhenti, saat aku akan buka pintu, Narendra sudah berdiri di samping mobil dan memegang daun pintu mobil. Membuka pintu tersebut.


"Hallo jagoan!" sapa Narendra ramah, begitu pintu di buka dan Aksara yang duduk di pangkuanku itu turun lebih dulu.


Aku turun dari mobil, mataku tidak berhenti menatap interaksi Aksara dan juga Narendra. Aku tahu, Narendra sempat menatap kesal ke arah Syailendra. Tapi wajah kesal itu sirna begitu memandang ke arah keponakannya.


Narendra menggandeng tangan Aksara dan berjalan di sisiku, sedangkan Syailendra berjalan pelan di belakang. Tidak perduli, acuh dengan sikap Narendra yang seakan tidak perduli dengan kehadiran saudaranya itu.


"Habis dari mana aja, Dek?" tanya Narendra kepada Aksara.


"Habis jalan jalan sama Tante dan juga sama Papa. Om nggak kerja? Kok sudah di sini?" tanya Aksara penasaran.


Aku tertawa kecil, kecerdasan Aksara memang lebih menonjol jika di lihat dari usianya. Simbok yang mendengar kami masuk ke dalam rumah, berjalan tergesa-gesa menyambut kami semua.


"Sudah pulang, Bu?"


"Sudah ini, mbok. Simbok sudah makan siang?" tanyaku pelan.


"Sudah, bu."


Aku mengangguk dan tersenyum, sebelum menoleh ke arah Syailendra, Aksara dan juga Narendra. Mereka bertiga sedang duduk santai di sofa. Aksara sedang bercerita tentang semua yang di lakukan hari ini, sedangkan papanya tampak membuka iPhone, memainkan benda tersebut.


"Kalian mau minum sesuatu atau butuh sesuatu?" tanyaku sekaligus menawarkan.


"Jus jambu ada? " tanya Narendra pelan.


"Ada, Pak." jawab simbok cepat. Aku menoleh ke arah simbok yang sudah gesit menjawab pertanyaan Narendra. "Tolong mbok, saya mau jus jambu saja." pinta Narendra sopan.


"Aksara mau jus jambu?" tanya Narendra sambil menoleh kearah keponakannya itu. Aksara menggeleng pelan. "Sudah kenyang." jawab Aksara.


"Kamu mau apa, mas?" tanyaku ke arah Syailendra yang tampak serius menatap layar hpnya. Syailendra mendengar pertanyaan dari ku menoleh, "Nggak usah, makasih." jawab Syailendra.


Aku memilih duduk di samping Narendra, sempat mempertimbangkan untuk duduk di samping atau di dekat Syailendra, hanya saja karena wajah muram Narendra, membuatku jadi sedikit bergeser ke arah pria itu.


"Dek?" panggil Syailendra kepada putranya.


"Iya, Papa."


"Papa ada kepentingan, urusan bentar. Adek mau tidur di rumah mana?" tanya Syailendra pelan.


"Ehem!" dehem Narendra begitu mendengar kalimat Syailendra.


"Di rumah sini saja boleh, Pa? Kan nanti kakak mau tidur di rumah Eyang, jadi Aksara mau menemani tante di rumah." jelas Aksara pelan.


"Atau nanti ikut nginap di rumah Eyang? Aksara kan sudah lama tidak tidur di rumah Eyang." ajak Narendra mendahului Syailendra. Syailendra melirik ke arahku, kami bertukar pandangan mata.


"Tapi sama tante?" tanya Aksara sambil menoleh ke arah ku. Aku menggelengkan kepala pelan. Sambil tersenyum menyesal. "Tidak sayang, sama kakak saja ya." imbuh ku.


Aksara tampak sedang berfikir keras, sedangkan Syailendra yang sudah menoleh ke arah hpnya mulai tidak sabar menunggu jawaban dari putra kesayangannya.


"Nanti saya kasih kabar deh, Mas. Kalau mas ada acara, di tinggal dulu aja nggak papa." sahutku pelan. Mendengar saran dari ku, Narendra menoleh ke arahku, alih-alih melihat ke arah Kakaknya. Sedangkan Syailendra tersenyum lega.


"Trims ya!"


Aku mengangguk.


"Papa jalan dulu, Son!" pamit Syailendra kepada Aksara.


"Hati hati di jalan, Papaaa!"


Syailendra mengangguk.


"Pamit dulu." ujar Syailendra ke arahku. Aku mengangguk. "Nanti aku kasih kabar. Pakai mobil sini aja nggak papa."sahutku pelan. Syailendra mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan kami bertiga.


"Nteee? Aksara mau nonton film dulu boleh?" tanya Aksara dengan mata kucingnya yang menggemaskan. Imut sekali.


"Pandai merayu ya sekarang!" ujar Narendra sambil memeluk keponakannya itu, Narendra tahu betul kalau di rumah ini, ada peraturan tentang nonton televisi. Tidak di larang sepenuhnya, tapi waktunya di batasi. Atau tayangannya di pilih oleh orang dewasa.


Terlebih lagi setelah insiden pembullyan yang di alami Aksara. Aku jadi lebih waspada soal nonton televisi. Berusaha menjaga seketat mungkin tentang apa yang mereka lihat. Terlebih anak sekarang itu cerdas cerdas sekali. Lihat tutorial dance, hanya tiga kali saja sudah bisa melakukannya. Takutkan kalau seandainya anak anak mengkonsumsi tayangan yang tidak mendidik.


"Boleh, sama simbok ya." ucapku pelan, begitu melihat simbok yang datang dengan segelas jus jambu. "Terima kasih, mbok." lanjut ku setelah Simbok meletakkan jus Jambu di meja depan kami.


"Terima kasih, mbok." ujar Narendra juga.


"Sama sama, Pak... Bu."


"Tolong ini Aksara mau lihat televisi katanya, Mbok." pintaku kepada perempuan Sepuh yang baik hati itu.

__ADS_1


"Oh iya, Bu. Ayo! Den Bagus, sama simbah." ajak Simbok kepada putraku. Awalnya beliau juga membiasakan Aksara memanggilnya seperti majikan ke asisten rumah tangga, cuma bagiku kurang nyaman dengarnya. Akhirnya beliau mau di panggil simbah oleh putra dan juga putriku.


"Ayo, mbok." Jawab Aksara antusias. Aksara berdiri dan melangkah ke arah Simbok yang mengulurkan tangannya.


Aku mengamati Aksara yang berseri-seri, menggandeng tangan simbok sambil berlarian kecil. Hingga aku merasa terganggu dengan perasaan yang hadir karena terlalu lama di pandang oleh seseorang. Ya! Narendra, pria di sampingku ini, begitu aku menoleh ke arahnya, dia sedang memandang ke arahku dengan senyum senyum tidak jelas.


"Ada apa? Ada yang aneh ya?" tanyaku salah tingkah.


Narendra menggelengkan kepala. Dan mengalihkan pandangan ke arah jus yang segera ia raih. Narendra mengabaikan wajahku yang penasaran. Ia meneguk jus jambu kesukaannya itu dengan nikmat.


"Buah jambu nya segar ya?" tanya Narendra sambil mengamati gelasnya.


Aku mengangguk. "Iyalah. Belinya memang sedikit sedikit." jawabku sekaligus menjelaskan.


"Jadi? Sekarang selalu sedia buah jambu?" tanya Narendra sambil menoleh ke arahku, tersenyum bahagia. Binar matanya juga bahagia.


Aku tersenyum malu, merasa bahwa pria ini bisa menduga dengan baik bahwa aku sengaja memasukkan buah jambu selama daftar belanjaan ku demi dirinya. Memang iya, sekarang aku punya kebiasaan membuat daftar belanja yang isinya cukup berbeda dari kebiasaan ku yang dulu.


Jika sebelumnya hanya ada daftar kesukaanku dan juga kesukaan Almeera, tentu saja hal hal yang kita berdua butuhkan. Sekarang sudah bertambah beberapa kesukaan Narendra, kemudian kesukaan dan kebutuhan Aksara. Kalau Syailendra, sampai saat ini belum. Dia sudah terlebih dahulu membawa barang yang dia butuhkan dan soal kesukaan, dia tidak ribet, tidak pilih pilih. Justru tidak ada yang terlihat spesial bagi dia.


"Ada kesukaan Bang Syailendra juga?" tanya Narendra pelan, "Aku nggak mau melambung tinggi sekali deeeeh ujung ujungnya terjatuh untuk kesekian kali." sindir Narendra dengan wajah nya yang menyebalkan.


Aku kira, hari ini tidak ada drama cemburu cemburuan seperti ini. Eh ternyata, "Apaan sih maksudnya?" ujar ku.


"Tadi makan siang nya asik banget ya sampai lupa nggak ngasih kabar? Atau sengaja nggak kasih kabar?" cibir Narendra dengan wajah cemburu khas pria itu.


"Reen. Jangan gitu ih!"


"Jawab aja deh, Ra. Hatiku mah sudah kebal dengan rasa nyeri akibat lihat kemesraan kalian berdua." sahut Narendra sambil memegangi dadanya.


Hatiku juga sudah kebal, Ren. Iya... Terlalu kebal untuk merasa penasaran dengan kisah asmara mu. Yang sepertinya, terlalu enggan untuk kamu ceritakan. Aku paham, aku memaklumi. Bahwa masa lalu itu memang tidak mudah untuk di lupakan, atau di ungkit ungkit. Tapi ini loh, aku... Aku yang sudah bersedia menggenggam tanganmu. Berdiri di dekatmu.


"Kan, Diam!"


Aku menoleh kearah Narendra.


"Kan aku kira kamu lagi sibuk di kelas. Terus, ngapain juga harus laporan sama kamu, Ren." sahutku cuek. Rasa kesal karena teringat Kisah masa lalu Narendra yang begitu tertutup, membuatku jadi terpancing emosi. Nada suaraku jadi ikutan judes, nggak ramah sama sekali.


"Kok jadi ngambek? Kan aku tanya baik baik?" ujar Narendra dengan surat lembutnya.


Aku masih diam. Capek juga ya lama lama di cemburui tapi kenyataannya itu nggak ada apa apa yang layak buat di jadikan alasan cemburu. Harusnya, nggak perlu cemburu gitukan.


"Hay... Tadi tuh, aku udah telepon berkali-kali, kirim pesan berkali-kali. Terus nggak di jawab, nggak di lihat, nggak di balas." bisik Narendra dengan suara pelannya.


Aku teringat percakapan ambigu Narendra, tentang dia yang tidak terlalu nyaman Saat Almeera di panggil Kakak. Tentang kalimat yang katanya dia menginginkan keluarga bahagia juga. Terus emang aku buat status di WhatsApp, membagikan aktivitas aku dan Aksara yang tengah berada di perpustakaan daerah.


Setelah itu aku sibuk ngobrol dengan Aksara yang main di luar ruangan dan juga ngobrol video call dengan Papanya Aksara. Ah, Ya. Saat itu memang aku hanya menghubungi Syailendra tanpa mengecek isi WhatsApp yang lainnya. Sehabis itu kita memang menghabiskan waktu makan siang.


"Tadi makan siang keluarga ya?" tanya Narendra dengan suara sangat pelan. Ada kesedihan di suara itu.


Aku menoleh ke arah samping, kearah tempat Narendra sedang duduk dengan menyenderkan dirinya di sofa, kemudian tangannya berada di atas punggung sofa belakangku.


"Aku merasa nyeri ulu hatiku kalau lihat kalian bertiga. Sakit, tapi juga aku nggak mau mengganggu. Atau merusak senyum bahagia di wajah Aksara." desah Narendra pelan.


"Maaf... Maaf tadi nggak kasih kabar dulu." ujar ku pelan. "Aku bukan istri atau kekasihmu, Ren. Yang harus sewaktu-waktu kasih kabar tentang aktivitas ku, walaupun yah... Sebetulnya aku ingin share apa nyang aku lakukan ke kamu, begitu juga aku ingin tahu tentang semua aktivitas kamu. Hanya saja, aku sadar, Ren. Kita memang saling menguatkan, tapi bukan berarti kita ini sudah berdiri di atas pijakan yang penuh kepastian." lanjut ku dengan mata menerawang.


Aku bosan,


Aku bosan dengan ketidak jelasan ini, perasaanku mulai serakah. Aku mulai menginginkan sesuatu yang pasti dan beraturan. Tidak asal asalan. Mungkin, jika sudah jelas kepastian dan kejelasannya, aku bisa menjaga diriku yang saat ini nyaman dengan kehadiran Syailendra. Rasa nyaman yang hadir layaknya seorang adik perempuan yang lama sekali merindukan kehadiran kakaknya.


"Syailendra... Bagaimana Syailendra di matamu, Ra?" tanya Narendra dengan tatapan mata yang sendu.


Aku manarik nafas pelan, memejamkan mata. Berusaha mengenali perasaan yang hadir saat berada di dekat Syailendra, pria asing yang aku kenal karena Narendra. Pria asing selain Narendra yang aku biarkan masuk dalam hidup ku ini. Bahkan, untuk Syailendra, aku buka sendiri pintu pintu ini. Aku jadi lebih merasa ringan saat berada di dekat Syailendra.


"Sosok Kakak laki-laki yang aku ingin kan selama ini." jawabku pelan.


Syailendra selama ini hadir dengan rasa protektif, rasa ingin menjaga yang berbeda dengan Narendra miliki. Syailendra selalu ingin berada di depanku untuk menghalangi semua kesedihan yang datang menyerang ku. Kehangatan yang aku rasakan dari sikap menjaga milih Syailendra dan kehangatan yang aku rasakan dari sikap menjaga milik Narendra itu berbeda, sangat berbeda meskipun sama sama hatiku menghangat.


Jika bersama Narendra, rasa hangat itu mengundang debaran hati yang berdetak dengan tanpa aturan, layaknya apa nyang aku rasakan pada saat usia usia muda, pertama kali tertarik dengan lawan jenis. Jika bersama Syailendra, rasa hangat itu mengundang sikap manja yang aku keluarkan begitu saja tanpa rasa malu.


Rasa melindungi yang dimiliki Syailendra itu berbeda dengan Narendra. Bahkan Syailendra tidak segan segan menjauhkan aku dari keluarga Narendra sekiranya menurut dia, mereka akan berbuat sesuatu yang kurang baik menurut Syailendra. Rasa melindungi yang Syailendra berikan kepada ku terlalu alami, hingga aku merasa kalau itu sudah menjadi bakat dirinya. Melindungi Ku dengan gagah berani. Tahu kapan saatnya harus berdiri tegak di depanku, menghalau semua hal yang pada akhirnya akan menyakitiku.


"Kamu nyaman sama dia?" tanya Narendra dengan suara perlahan.


Aku mengangguk lemah. Aku tidak mampu berbohong. "Ya." jawabku pelan. Sedikit ada rasa khawatir dan juga rasa takut kalau pria kekanak-kanakan ini akan salah paham dan melenceng jauh dari apa yang aku maksudkan.


"Pilih mana? Aku atau Syailendra?" tanya Narendra dengan suara tegas. Seperti tidak suka di bantah.


Aku menoleh, kami saling berpandangan. Aku... Aku merasa bahwa pria ini menakutkan. Hatiku gentar. Jiwaku bukan lagi nervous. Suara Narendra berbeda dari biasanya, ini lebih tegas, lebih berwibawa dan kharisma nya begitu besar.


"Ludira... Aku tanya, pilih siapa? Aku atau Syailendra?"


"Aku harus memilih yang bagaimana, Ren? Kamu jangan kekanak-kanakan. Lagi pula, memangnya apa yang akan kamu lakukan saat aku menjawab bahwa diriku, hatiku, lebih memilihmu dari pada Syailendra?" sentak ku kasar. Kenyataan tentang sampai saat ini, Narendra belum mau menceritakan tentang Sofia membuatku tersadar.

__ADS_1


Aku tidak boleh merasa terlalu baperan, kalau kalau Narendra begitu cemburu karena rasa cintanya kepadaku begitu besar. Bisa jadi karena dia merasa bahwa tidak nyaman karena memang akhir akhir ini aku dan Almeera lebih banyak menghabiskan waktu dengan Syailendra di bandingkan Narendra. Salah siapa kan? Narendra memang akhir akhir ini sibuk mengurusi semua persoalan pekerjaannya yang sempat ia tertunda karena sakitnya.


Melihat Narendra yang terdiam dengan wajah yang begitu datar namun sorot matanya lelah, aku memilih untuk mendahului merubah suasana. Mungkin karena sudah terbiasa seperti ini, hatiku tidak lagi merasa kaget dengan Narendra yang tidak pantas menjawab pertanyaannya yang aku berikan dengan jawaban yang tentu saja membuat aku tenang.


"Sudah jam segini, mau jemput Kakak kapan?" tanyaku pelan, seolah-olah tidak ada percakapan yang barusan. Mencoba untuk baik baik saja.


Narendra menoleh ke arahku. "Yakin? Yakin kamu siap menerima aku dengan semua kekuranganku? Dengan nasib buruk yang pernah terjadi di masa laluku?" tanya Narendra dengan suara tertahan. Wajahnya terlalu sedih. Matanya mulai sayu.


Mendengar pertanyaan Narendra, aku mulai merasakan sesak di dada. Rasa sesak itu naik hingga memenuhi tenggorokan ku. Aku mencoba menelan paksa ludah ku sendiri, tetap saja terasa tercekat. Kedua bola mataku mulai terasa nyeri dan juga panas.


"Bukannya aku meragukan kekuatan yang kamu miliki, Ludira. Bukannya aku meragukan kehebatan yang kamu miliki. Kamu, adanya kamu membuatku menjadi lebih fokus dengan kenyataan yang ada. Adanya kamu, membuatku tahu bagaimana caranya berekspresi. Adanya kamu di dalam hidupku, membuatku tidak perlu lagi memakai ribuan topeng untuk menjalani hari-hari ku. Kamu mengajarkan aku menjadi diriku sendiri." ujar Narendra dengan suara tenang namun kepedihan begitu terasa.


"Apa yang kamu takutkan, Ren? Jika memang seluar biasa itu, aku bagimu." bisik ku sambil membuang muka, menarik nafas dan juga membuangnya secara perlahan. Mataku seperti mencari-cari sesuatu di atas, padahal itu hanyalah upaya yang aku lakukan untuk menghalangi bulir air mata tumpah di pipi.


"Kamu menarik ulur perasaanku, Ren. Aku tidak mau menjadi perempuan bodoh yang mau mau saja menerima rasa nyaman yang terus kau sodorkan padaku, akan tetapi pada akhirnya hanya ada luka yang mendalam. Bukan kejelasan atau kepastian." sahutku lagi.


"Bahkan, perempuan sebaya denganmu saja tidak pantas di perlakukan seperti ini, Ren." bisik ku pelan, sangat pelan.


"Maafkan aku, Ludira. Maafkan aku."


Akhirnya, pria berparas rupawan ini mengulang ulang permintaan maafnya sambil menggenggam tanganku. Sedangkan aku terdiam, terdiam dalam sepi ku sendiri. Bukan ini yang aku inginkan. Bukan permintaan maaf yang aku inginkan. Ini terlalu ambigu, terlalu ambigu hingga aku sendiri takut menyimpulkan keadaan ataupun situasi seperti ini.


"Bukan kalimat itu yang aku perlukan, Ren." desahku pelan. Sangat pelan. Memegang punggung tangan milik Narendra yang berada di atas tanganku yang satunya. Aku coba melepaskan tangan pria ini. Dan berdiri, mungkin memang dia belum siap untuk ke arah hubungan yang serius. Mungkin aku memang harus cukup dengan keadaan seperti ini. Mungkin ini cara terbaik untuk menghilangkan perasan yang mulai tumbuh subur, menghilangkan perlahan supaya kembali hanya milik almarhum suamiku.


"Jemput, Almeera. Ren!" titah ku dengan nada dingin. Kemudian melangkah meninggalkan pria itu duduk termangu sendirian.


****


Narendra, pria itu selalu bersikeras membuatku tersenyum. Dengan keriangan nya, kebahagiaannya dan sikapnya yang tak pantang mundur meskipun sudah aku cuekin berkali-kali. Lamunanku terhenti saat ada Handphone milikku berbunyi.


"Assalamu'alaikum, Sil?" sapa ku.


"Waalaikumsalam, Mbak. Mbak Dira bagaimana kabarnya? Sejak kejadian itu kita jarang ngobrol bareng." sahut Silvi di ujung sana.


"Iya. Jangan mikir aneh-aneh loh, ini memang lagi sibuk banget sama Aksara."


"Nggak enak saja sih sama Mbak Dira. Aku juga kangen bangeet."


"Ada acara nggak? Mau main kesini?"


"Jomblo sih mbak, jadi malam minggu kaya gini ya cuma di rumah aja hehehe."


"Ya sudah, sini gih!"


"Beneran boleh?"


"Boleh lah."


"Nginap sekalian ya?"


"Iya. Lagian di rumah cuma sama Aksara. Kakaknya nginap di tempat Eyang Basuki."


"Hahahaha. Tumben di kasih izin?"


Sesaat aku terdiam.


"Narendra bawa bawa Aksara sih, jadi aku kalah argumentasi."


"Cieeee. Emang nggak cemburu ya, mbak?"


"Cemburu apa?"


"Ya, cemburu sama kalian. Mbak Dira, mas Syailendra sama Dek Aksara."


"Nggak tahu lah, Sil. Kamu kesini aja ya."


"Siap deh, Mbak. Nanti ngobrol di rumah aja kalau sudah sampai."


"Iya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Handphone yang tadi berada di telingaku, kini berpindah berada di depan wajahku. Mataku cukup lama memandang ke arah wallpaper layar utama ku, bergambar foto kita bertiga. Aku, Almeera dan juga Aksara.


Sudah sejak lama aku menyadari dan juga mengakui bahwa wajah Almeera itu versi perempuannya Narendra. Aneh kan? Beberapa teman-teman ku sempat becanda andaikan Narendra memiliki putri, bisa jadi seperti sinetron di layar kaca televisi. Putri yang tertukar. Aku hanya tertawa kecil saat menanggapi candaan mereka semua. Meskipun di dalam hatiku terasa nyeri.


Mereka berdua hanya mirip, seharusnya begitu. Harusnya cukup dengan wajah yang kesannya mirip. Tapi, makanan kesukaan mereka juga sama. Belum lagi minuman dan kebiasaan mereka juga nyaris sama persis. Wajah bukan? Jika aku dulu sempat ketakutan.


"Sekarang kalau di perhatikan, Aksara juga mirip dengan Almeera. Kenapa bisa terjadi hal seperti ini?" batinku resah.


Kalimat Bu Susi, temanku. Menerobos akal ku, terngiang-ngiang. Jodoh itu banyak kemiripan. Kamu dan Narendra sudah terlalu banyak hal yang mirip dan juga chemistry di antara kalian lumayan kuat. Chemistry ayah dan anak di antara Narendra dan juga Almeera juga siapapun bisa melihatnya. Apa. Lagi yang di ragukan?


Ah, bukan aku yang ragu di sini. Tapi dia, Dia... Narendra Bagaskara yang masih belum mampu memutuskan apa yang akan dia ambil. Aku, sebagai masa depannya. Atau Sofia, masa lalunya.

__ADS_1


__ADS_2