LUDIRA

LUDIRA
Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Kami semua kembali ke rutinitas seperti biasa. Bedanya ada Aksara di tengah tengah kami. Setelah mbaknya yang selama ini jadi baby sisternya Aksara mengundurkan diri karena mau menikah. Dan Aksara tinggal denganku saat papanya sedang di luar kota.


Reaksi Narendra awalnya menolak keras, dia orang yang paling nggak setuju dengan keputusan Syailendra tentang Aksara. Namun saat Syailendra bilang akan banyak acara di luar kota, pria itu akhirnya setuju, seperti. kedua orangtuanya.


Sejenak semua awan mendung di kehidupanku seperti bergerak menjauh, pergi meninggalkanku. Aku mengakui bahwa hidupku lebih berwarna, lebih menegangkan juga. Lebih seru dengan kedatangan Aksara.


"Mau ke mana Mbak?" tanya Silvia, perempuan yang di jodohkan dengan Narendra itu. Aku menoleh setelah merapikan mejaku. "Mau jemput adiknya Almeera, barusan dapat panggilan dari Missnya, katanya Aksara berantem sampai parah banget sama temannya." ucapku pelan, menjelaskan keadaan yang baru saja aku dengar. Memang setelah Aksara masuk ke dalam hidupku dan kami menjadi sangat dekat, nomor aku masuk ke dalam nomor wali yang harus di hubungi jika ada keadaan darurat seperti ini.


"Emang mas Syailendra di luar kota lagi ya? kok mbak Dira yang di hubungi pihak sekolah?"


"Begitulah, aku duluan ya."


"Hati hati, Mbak. Salam buat Aksara sama Narendra hehehehe."


"Nggak sama Narendra kok, cieee bilang aja ini pengen tahu kabar Narendra ya? Ayolah, Silviaa."


"Hehehe, Sudah ah mbak. Sana berangkat!"


Aku tersenyum miris, tahu betul jika hati perempuan manis ini merasakan nyeri. aku berkali-kali mencoba membujuk Narendra untuk sedikit membuka dirinya sedang Silvia, namun hasilnya tetap saja. Dia kekeh dengan apa yang selama ini dia katakan.


"Ayolah, Ren. Silvia itu baik, dia perempuan baik baik kan. Kenapa sih nggak coba mengenal dia lebih dekat lagi."


"Mbak aku udah katakan dari kemarin kemarin kan? Kalau soal dia di jodohkan dengan saya, aku terima. Tapi bukan berarti aku harus membuka diri aku dengan dia kan? apa lagi menyerahkan hati ini. Mbak juga tahu kan, hati perasaan cinta aku tuh masih hilang arah."


"Makanya Narendra, barangkali Silvia ini bisa mengembalikan cinta kamu. Silvia sudah berusaha untuk mendekat ke arah kamu lo, Ren. Tinggal kamunya aja."


"Maksudnya kamu, kalau aku udah kasih kesempatan ke Silvia terus kamunya juga kasih kesempatan ke Syailendra gitu?"


Ujung percakapan kami jika membahas Silvia itu adalah Narendra yang marah marah tidak jelas dengan melibatkan nama Papanya Akasara. Meskipun begitu, aku bersyukur karena Narendra tidak lagi merespon dengan hal negatif saat sesekali nama keluarga Sofia di sebut. Ini sudah terhitung tiga bulan lebih satu minggu dari kejadian bubur ayam itu.


"Hallo, Dir?" sapa suara berat di ujung sana. Aku kembali dari pikiranku saat dering panggilan terdengar, menepikan mobilku sebelum mengangkat panggilan masuk dari Syailendra. "Assalamu'alaikum." ucapku pelan. Papanya Aksara itu memang kebiasaannya buruk banget, nggak pernah salam dengan benar kalau telepon.


"Waalaikumsalam, hehehehe." jawab pria itu sambil tertawa. Papa macam apa? masih bisa ketawa konyol di situasi kaya gini.


"Ketawa gitu?"


"Maaaf maaf, jadi gimana? Kamu bisa ke tempat Aksara? Repot nggak?"


"Ini udah di jalan kok."


"Kita perlu cari baby sister lagi nggak? haduh, aku kepikiran aja sih kalau jadi ngrepotin kamu."


"Cari lagi juga nggak apa apa, kalau itu bikin kamu tenang. Di bahas nanti saja bisa nggak?"


"Oke oke, hati hati ya."


"Oke. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku memutuskan panggilan itu dan kembali mengemudi ke sekolahnya Aksara. Tumben sekali itu anak bikin keributan seperti ini. Selama ini dia baik baik saja kok. Moodnya juga bagus.


Setelah sampai di sekolahnya Aksara, aku langsung bergegas ke ruang kepala sekolahnya. Di sana sudah duduk dia orang yang memperkenalkan diri sebagai orang tua Zidan, teman sekelas Aksara yang wajahnya di pukul oleh putraku dengan tempat pencil.


Ya, ternyata Aksara memukul temannya menggunakan tempat pensil sampai. berkali-kali. Hingga wajah temannya itu memar. Ternyata anak cowok beda banget sama anak cewek, dulu kakaknya nggak pernah sampai gini.


"Sayaaang." bisikku pelan sambil langsung memeluk tubuh mungil yang kini meramaikan hidupku. "Hey, lihat ke tante." bujukku pelan sambil mensejajarkan tubuhku dengan Aksara yang kini terus saja menunduk.

__ADS_1


Kepala sekolah memang sudah menjelaskan kronologi kejadiannya, bahkan Zidan juga sudah meminta maaf kepada Aksara. Tetap saja putraku itu membisu, tidak merespon sedikitpun.


"Jadi awalnya zidan bertanya siapa yang membuatkan Aksara bekal makan siang, kemudian Aksara menjawab bahwa bekal tersebut di buatkan oleh Tantenya."


Aku mengangguk sambil mengeratkan pelukanku di tubuh Aksara. Terlebih saat kepala sekolah menjelaskan bahwa Aksara terpancing emosi hingga memukul Zidan, karena temannya itu mengatakan bahwa Aksara yang membunuh ibunya saat ibunya melahirkannya. Jadi harusnya Aksara tidak boleh dekat dengan siapapun karena pembawa sial. Papanya saja memilih sibuk di luar kota di bandingkan dengan menemani Aksara, makanya di titipin ke Tantenya.


Aku mendengar semua kalimat itu jadi memandang tidak percaya terhadap teman Aksara yang bernama Zidan itu, kenapa anak yang seharusnya masih sangat polos justru sudah mampu mengatakan hal kejam seperti itu?


"Tapi tetap saja tidak di benarkan jika memukul sampai seperti ini, harus di tindak lanjutin biar tidak jadi masalah di kemudian hari." ucap perempuan yang kini memangku Zidan. Aku menoleh ke Arah perempuan itu dan pria di sampingnya. "Maksudnya ibu Apa ya?" tanyaku pelan, mencoba tetap sabar meskipun Amarah sudah berada di ubun ubun.


"Di bawa ke psikiater atau tenaga ahli kejiwaan, barangkali ada bibit Pchyco."


Aku yang semula berlutut di lantai karena memeluk tubuh putraku, kini berdiri dan berjalan ke arah perempuan itu duduk.


"Ini soal harga diri, Bu. Seharusnya ibu saat ini sudah tidak lagi bisa berbicara apapun mengingat hal kejam sekaligus keji yang di keluarkan oleh anak sekecil Zidan. Baik! Anak saya, putra saya memang salah karena sudah memukul putra ibu, tapi coba bayangkan bagaiman perasaan ibu jika Zidan yang berada di posisi Aksara. hah! Kalau ibu mau di tindak lanjutin, okee.. Mari kita bawa kasus ini ke meja hijau. Barangkali bisa di selidiki bagaimana cara pengasuhan Zidan sampai sampai Zidan bisa mem-bully dengan kalimat kejam seperti itu."


Perempuan itu masih mencoba untuk membuka mulutnya, namun suaminya mencoba untuk menenangkan.


"Mohon maaf, Bu Ludira. Saya harap ini bisa kita selesaikan di sini." ucap pria itu pelan. Untungnya nada bicara pria itu penuh penyesalan, membuatku lebih mudah untu kembali menenangkan diri.


"Aksara, Deek." bisikku pelan sambil memegang jemari Aksara yang mengepal. "Tante di sini, Aksara baik baik saja." Ucapku pelan, memeluk tubuh mungil itu dan mengusap bagian belakangnya.


"Huaaaaa huhuhuhuhu." teriak Aksara, menangis. Akhirnya aku lega saat Aksara menumpahkan semua air matanya, menangis sekencang mungkin, aku tidak perduli bahwa suara tangis Aksara yang begitu keras memenuhi ruangan ini. Aku tidak perduli. Aku merasa begitu tenang saat tubuh tegang Aksara mulai lemas dan kembali normal.


"Aksara--Aksara bukan pembunuh. Adek--adek bukan membunuh mama, Tanteee. Huhuhuhuhu. Zidan Bohong!!"


Aku terus memeluk dan menenangkan Aksara yang kini kalap menjerit-jerit sambil menangis, hatiku remuk redam. Air mataku menetes tanpa henti. Bahkan Miss yang dari tadi di dekat Aksara kini menangis sesenggukan.


"Bukan, Aksara bukan pembunuh. Mama meninggal karena memang Alloh sayang banget sama Mamanya Aksara. Nanti saat Aksara sudah mulai besar, Aksara akan paham jika Mamanya Aksara adalah perempuan yang sangat mulia karena meninggal di saat melahirkan Aksara." ucapku pelan. Sebetulnya aku bingung sekali harus menjelaskan bagaimana supaya bisa di pahami anak sekecil Aksara.


"Aksara bukan--bukan pembawa sial kan tante?" tanya Aksara padaku, aku tersenyum sambil menggelengkan kepala, mengusap wajah mendung milik putraku itu.


"Terus kenapa Papa sering sibuk? Papa nggak mau lihat Aksara karena Aksara yang bikin mama meninggal? Papa marah sama Aksara?"


Aku menggeleng keras, "Papa kerja untuk Aksara, untuk menyekolahkan Aksara supaya Aksara jadi anak yang baik. Papa nggak pernah marah sama Aksara kan? buktinya papa sayang banget sama Aksara."


Aksara memeluk tubuhku erat, sepertinya sudah lebih tenang dari pada tadi. Tidak lagi menangis histeris.


Setelah urusan semua beres, aku pamit pulang sambil membawa Aksara di pelukanku. Dan di bantu Miss Zelda yang membawakan tasnya Aksara. Meskipun tidak lagi menangis, Aksara masih saja diam. Bahkan tidak tertarik dengan semua hal yang aku tawarkan, akhirnya aku memilih untuk segera pulang ke rumah.


Sesampai di rumah, aku menggendong Aksara setelah turun dari mobil. Anak itu masih tetap diam, namun mengeratkan tangannya di leherku dan membenamkan kepalanya di sana.


"Sudah pulang, Bu Dira." ucap Mbok Minardi sambil berjalan ke arahku cepat. "Sudah, Mbok. Ini lebih awal dari biasanya." jawabku pelan sambil berjalan ke arah kamar tidur.


Salah satu kesepakatan ku dengan Syailendra adalah memperkerjakan asisten rumah tangga sekaligus ada tukang kebun dan juga sopir. Padahal menurutku semua itu tidak perlu. Awal mulanya, Syailendra mau menanggung semua biaya ini, namun aku menolak dengan tegas. Toh memang kita ini memang orang asing, dan aku memang sudah memikirkan asisten rumah tangga sejak Almeera jatuh sakit.


Sesampainya di kamar, ternyata Aksara sudah tertidur. Aku menidurkan anak malang ini dengan hati hati. Kemudian melepas sepatunya dan juga mengambil piyama milik Aksara yang bulan lalu di belikan oleh Almeera saat putriku itu berbelanja dengan Eyang Basuki. Aku memastikan Aksara sudah benar benar nyenyak sebelum aku keluar kamar untuk menghubungi papanya.


"Hallo, Dira?" ucap suara berat di ujung sana begitu sambungan telepon masuk. "Assalamu'alaikum, Syailendra." sahutku seakan tidak mendengar sapaan pria itu.


"Waalaikumsalam, gimana? sudah pulang?"


Aku menghembuskan nafas berat, mencoba mengontrol perasaanku untuk tetap kuat menahan air mata yang kini rasanya ingin jebol kembali.


"Pokoknya Aksara harus pindah dari sekolah itu!" sentakku keras. Satu kalimat yang memang begitu menghantui diriku sejak tadi.


"Hey, tenang. Kita harus memikirkan ini pelan pelan, Dira. Kamunya kalau mau nangis nangis dulu aja nggak papa."

__ADS_1


Benar, aku nangis. Hatiku masih sangat sakit dengan semua yang Aksara alami.


"Ini aku udah punya tiket buat pulang lebih awal, Oke? Strong ya, Dira."


"Ya sudah." ucapku singkat sebelum mengucapkan salam dan menutup panggilan. Aku masih menangis saat pesan dari Narendra masuk.


[Pulang lebih awal? katanya ke sekolah Aksara. Ada apa?]


Aku mengusap wajahku pelan sebelum membalas pesan singkat Narendra.


[Aksara mukul temannya. Temannya itu juga kelewatan, masa anak sekecil itu bisa bilang kalau Aksara yang membunuh mamanya. Heran aku tuh, gimana sih orangtuanya itu. Kok bisa anak yang seharusnya masih polos bisa ngomong kalimat kejam kaya gitu]


[Mungkin mamanya si Anak itu suka nonton sinetron atau film yang emang nggak boleh di lihat bareng sama anak kecil tapi mamanya justru nonton bareng si anak kan bisa jadi. Atau lingkungannya itu memang akrab dengan kekerasan verbal. Aksara yang sekarang gimana?]


[Tidur, kecapean nangis.]


[Yang jemput Almeera siapa?]


[Pak Minardi. Kenapa?]


[Aku saja yang jemput ya? Mau nitip apa?]


[Nggak nitip apa apa. Langsung pulang aja ya, nanti Almeera ada belajar kelompok.]


[Siap komandan.]


[Laksanakan]


Hahaha, aku tertawa kecil sambil mengusap sisa sisa air mata di mataku.


[Mau donat di tempat langganan?]


[Enggak.]


[Bakso? sama tetelannya?]


Aku tersenyum malu, akhir akhir ini emang setiap perasaanku atau perasaan Narendra tidak nyaman, kita sering pesan Bakso di tempat yang dekat dengan sekolahnya Almeera.


[Boleh.]


Pesan dari Syailendra masuk, bunyinya membuatku mengerutkan kening sekaligus merasa bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa di selesaikan oleh diriku sendiri.


[Hidup ini memang sangat kejam. Biarlah Anak anak, Aksara ataupun Almeera merasakan semua ini. Semakin kita berusaha menjauhkan Anak anak dari masalah, semakin anak anak tidak bisa mengasah kemampuan nya dalam menghadapi masalah. Melindungi, oke. Tapi juga harus bijaksana.]


[Iya, trims.]


[Bukan hanya anak anak yang sedang belajar tumbuh kembang. Tapi kita juga sedang belajar menjadi orang tua yang baik. Jadi, kenalkan jalan keluar yang berani kepada anak-anak. Jangan biarkan anak anak kita menjadi pribadi yang lemah dengan persoalan yang ada. Karena apa? karena satu masalah selesai akan datang masalah berikutnya, terus seperti itu sampai akhir hayat nanti.]


[Seperti aku yang tidak bisa menghadapi kepergian Mas Dodi dengan baik?]


[Kamu bukan ibu yang buruk, Oke? jangan insecure. Semua orang punya titik lemah dalam dirinya.]


[Oke.]


[Kita berusaha sama sama menjadi orang tua hebat untuk anak anak kita.]


Aku menatap pesan itu dengan mantan yang kembali buram oleh air mata. Syailendra memang sangat kuat dalam menghadapi persoalan hidupnya. Bahkan pria itu mampu merelakan kepergian istri yang teramat di cintainya itu dengan perasaan damai.

__ADS_1


"Sampai maut memisahkan, itu dulu doa kita berdua. Maka saat dia pergi meninggalkan aku dengan bayi mungil, aku tetap mencoba tenang. Hatiku hancur tentu saja, tapi aku bukan pria lemah yang menyerah dengan kesedihan. Aku bangkit, aku memilih untuk fokus ke jalan keluar. Dan hasilnya aku berada di titik ini. Aku tidak kehilangan hidup dan dirimu sendiri. Dan hanya pria bodoh yang membenci putranya karena kematian istrinya saat melahirkan."


Aku mengenang salah satu percakapan kami, memang benar. Harusnya aku bisa melepaskan semua ini dengan mudah padahal aku tahu persis keterangan bahwa segala sesuatu adalah milik Sang Maha Esa. Ternyata cinta yang besar hingga menutup cinta kepada sang Pencipta memang menyakitkan. Sekaligus menyedihkan. Karena seandainya cintaku kepada Tuhan ku lebih besar, aku tidak akan merasa sesakit ini saat Mas Dodi meninggal dunia.


__ADS_2