LUDIRA

LUDIRA
Enam Puluh Lima


__ADS_3

"Mah, Adik sudah tidur?" tanya Almeera begitu aku duduk di sofa.


"Sudah, tidur di kamarnya." Aku menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di samping buku buku Almeera dan layarnya mati, tidak menyala. "Om Syailendra bilang apa sayang?" tanyaku pelan.


Mataku mengikuti gerakan tubuh Almeera yang pindah ke duduk ke sampingku. Tadi dia duduk di lantai. "Tanya soal mau nerusin di mana gitu." jawab putriku pelan.


"Oh ya? Terus kesayangan Mama jawab apa nih, dari kemarin kemarin di tanya, jawabnya masih belum jelas mulu." sindir ku sambil melingkarkan tangan ku ke tubuhnya. "Putrinya Mama sama Bapak sudah besar ya sekarang. Sudah mau masuk SMP"


"Maah, nggak boleh sedih loh." sahut putriku, aku mengelus lembut rambut Almeera. "Beberapa hari yang lalu, setelah pulang sekolah, Almeera pergi berkunjung ke tempat Bapak." bisik Almeera pelan.


Tanganku berhenti, mengambang di udara. Selama ini, Almeera selalu susah di ajak ke tempat makan almarhum Papanya. Bahkan kami hanya mengunjungi makan itu saat hari raya saja.


"Sama Om Narendra." bisik putriku lagi. Suaranya sengau. Khas Almeera kalau lagi mau menangis tapi di tahan.


Dugh!


Ini ulu hati seperti kena pukul lagi. Narendra? Narendra lagi? Kenapa begitu kuat ikatan di antara mereka? Bahkan sampai mempengaruhi keras kepalanya si anak.


"Om Naren, ngajak Al ke tempat adek bayinya Om Narendra di makamkan, Mah. Terus--" Suara Almeera tidak lagi hanya bergetar, tapi sudah mulai terisak. "Terus Om Narendra ngenalin Almeera ke Adek bayi. Habis itu Om Narendra tanya soal tempatnya Bapak. Jadi--" Suara Almeera kembali tertahan. "Jadi Almeera ngajak Om Narendra ke tempat Bapak."


Aku menepuk-nepuk lembut punggung Almeera. Mencium ubun ubunnya. Aku masih memilih diam, hanya mampu mendengarkan dan memeluk putriku yang sudah beranjak remaja ini.


"Terus tadi-- tadi Eyang sedih banget, Mah. Karena ... Karena beberapa teman Eyang bilang Almeera mirip banget sama Om Narendra." sahut Almeera sambi tersedu-sedu. "Mah ... Almeera nggak papa kok kalau Mama akhirnya menikah sama Om Narendra." sahut Almeera sambil mengeratkan lagi pelukannya.


Nafasku yang semula sesak kini menjadi begitu berat. Bahkan berkali-kali aku terus mencoba untuk menghirup dan menghembuskan nafas, berusaha menenangkan betapa kacaunya hatiku.


Kami, aku ... Narendra dan juga putriku, kami semua saling membutuhkan. Sejak awal, sejak Narendra ngotot masuk ke dalam hidup kami berdua, semua tampak begitu jelas. Narendra membutuhkan Almeera sebagai kekuatannya yang baru. Almeera membutuhkan Narendra sebagai sosok Papa yang selama ini dia rindukan.


"Jika kami tidak bisa bersama, Mama janji, Al. Mama janji tidak akan pernah melarang Almeera untuk bertemu dengan Om Narendra. Bahkan, mulai saat ini Almeera memanggil Om Narendra Papa pun, Mama tidak akan marah." sahut ku berat. Sangat berat. Beban ini menyakitkan.


Suara tangis Almeera semakin keras. Jantung ku seperti berhenti berdetak, nafasku entah hilang kemana. Air mataku sudah tumpah membasahi pipi sekaligus rambut Almeera. Hati orang tua mana yang tidak hancur mendengar isak tangis kesedihan putri sendiri?


"Mama dan Om Narendra butuh waktu, sayang."


"Om Narendra sudah bilang kalau-- Kalau mau melupakan Tante Shofia. Om Narendra-- Om bilang kalau Om--Om ingin memiliki keluarga bersama kita, Ma."


Aku menangis dalam diam. Inikah pertanda itu? Inikah keputusan yang terbaik?


"Maaf, Ma. Maaf kalau Almeera ikut campur urusan Mama."


Aku memeluk kembali putriku. "Terima kasih ya. Terima kasih sudah menjadi kekuatan Mama."


****


Setelah memastikan putriku terlelap dalam tidurnya, aku membetulkan selimut dan mencium kening Almeera lama. Harapan dan doa terbaik untuk dirinya. Kemudian aku berjalan menuju pintu, mematikan lampu kamar sebelum benar-benar keluar.


[Assalamu'alaikum, Narendra. Sudah tidur?]


Begitu menghempaskan tubuh di kursi kerja, tanganku meraih ponsel dan membuka aplikasi pesan, membuka kontak Narendra dan mengetik pesan cepat ke pada pria itu.


Sambil menunggu pesan itu terbaca, aku mengecek pesan yang masuk satu persatu. Membalas yang sekiranya memang penting untuk di balas. Kemudian aku iseng melihat ke status. Memilih milik Silvia dan membukanya. Ada foto perempuan cantik natural itu dengan caption yang membuatku tersenyum simpul.


Menunggu jodoh datang di temani permen gulali biar ada manis manisnya gitu.


Kemudian, aku kembali membuka status milik Syailendra. Tumben. Tumben Syailendra membuat status.


"Merenungi kisah ini, aku menghela nafas panjang dan bertanya dalam hati kenapa harus terus kamu yang memenuhi pikiranku."


Slide pertama. Membuatku mengerutkan kening. Dan tersenyum geli. Tumben, tumben banget pria itu.


Setelah membuka slide pertama, aku membuka slide kedua. Ada screenshot video call kami. Di gambar itu Aksara menoleh ke arah kamera dengan tangan merangkul leherku dan kepala bersandar kepadaku. Almeera yang tertawa sambil menyandar di lenganku. Dengan caption,


"Minjem keluarganya adik sepupu dulu!"


Heh? Apaan coba! Dasar sinting! Hahahaha. Duh, Syailendra!


Kemudian slide ketiga. Foto helikopter di atas sebuah gedung. Tanpa keterangan apapun.


Jadi? Dia beneran punya helikopter?


Ah, perasaan kacau, gelisah, sedih. Jadi menguap begitu saja. Berganti perasaan kesal dan juga gejolak yang entah apa namanya begitu melihat tentang Syailendra.


Ting.


Pesan masuk dari Narendra. Mengembalikan perasaan sedih yang baru saja hilang kembali berkunjung di dalam hati. Ah, nyeri.


[Waalaikumsalam, belum. Aku telepon saja ya? Video atau biasa?]


[Biasa saja.]


Begitu centang biru, tidak lama kemudian langsung ada panggilan masuk dari Narendra.


"Assalamualaikum, Ren? Ganggu nggak?" tanyaku pelan.


"Waalaikumsalam. Enggak kok. Area you oke?" Suara Narendra di sebrang sana begitu khawatir.


"Ke mana Ren?" tangan seseorang di sebrang sana. Suara pria.


"Bentar, ada panggilan penting." Sahut. pria itu.


"Aku nggak lagi baik baik aja, Ren. Tadi Almeera cerita soal kalain berdua ke tempat Almarhum Papanya." sahutku pelan. Hatiku mulai terasa penuh dan sesak. Aku mulai menangis, teringat betapa memilukan suara Almeera tadi.


"Almeera gimana? Baik baik saja?" tanya Narendra panik. "Aku kesitu aja ya?"


"Udah nggak papa, sudah tidur Almeera nya. Semoga besok nggak demam ya dia." Aku mulai di terjang gelombang kepanikan. Almeera suka sakit kalau udah begini.


"Tidur di kamarnya Almeera aja, Ra. Terus kalau demam, langsung kasih kabar aku." titah Narendra.


"Kok kamu nggak cerita, Ren?" tuduh ku sebal. Sedih. Mereka berdua memiliki rahasia yang tidak melibatkan aku.


"Ludira, aku hanya ingin kamu tidak terganggu. Kamu kalau sudah menyangkut Almeera suka iya iya aja. Gimana kalau kamu jadi mengiyakan permintaan aku tanpa memikirkan dengan detail. Aku nggak mau ya, aku nggak mau membuat kamu merasa tersiksa."


Aku meleleh. Hatiku terenyuh. Bahkan, bahkan sampai tahap ini saja, Narendra tidak bertindak egois. Narendra mengutamakan keinginanku. Mengabaikan keinginan dan kebahagiannya sendiri. Padahal dia jelas jelas bisa memanfaatkan Almeera untuk mempengaruhi keputusanku, memanfaatkan Almeera untuk mendapatkan persetujuan hatiku. Tapi nyatanya? Tidak melakukan itu sama sekali.


"Aku hanya ingin mengenalkan Almeera kepada putriku, Ra. Ternyata, hatiku memang memilih Almeera sebagai putriku, benar-benar putri ku. Bukan sebagai pengganti ataupun bayangan." ujar Narendra dengan suara rendah. Membuat hatiku kembali remuk. Nyeri. Sesak. Nafasku semakin memburu, mataku mulai terasa panas. Dan akhirnya, air mata kembali meleleh.


"Aku melukaimu lagi ya, Ra?"


Aku menggeleng. "Bukan seperti itu, Narendra. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana. Harus menjawab apa. Almeera menginginkan kita bersama, Ren."


"Tenanglah, Ra. Demi kamu, demi kita. Aku akan melakukan berbagai hal, Ra."


Aku terdiam. Mencoba menenangkan diriku sendiri.


"Ra? Memintamu untuk pergi meninggalkanku atau memintamu untuk tetap berada di sampingku bukanlah hal yang terbaik. Biarlah Allah saja yang menuntun kita dengan cara yang indah." suara Narendra terdengar begitu teduh, menenangkan. Mengusir semua kegundahan, kegalauan yang baru saja mengusik jiwaku.


"Terima kasih, Narendra."


"Soal Almeera--" suara Narendra terpotong olehku. "Iya. Terima kasih sebelumnya." Potongku.


"Tidur ya? Aku tutup."


"Iya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku menutup panggilan itu dan meletakkan ponsel ke atas meja. Kemudian berjalan menuju kamar Almeera. Malam ini mungkin memang lebih baik tidur bersama putriku.


****


Suara tadarus Al Qur'an sebelum Adzan subuh membuatku terbangun, kepalaku terasa berat. Bahkan sampai tidak bisa bangun untuk sholat tahajud. Aku menoleh ke arah Almeera, dia masih tertidur nyenyak. Aku mencoba memegang kening nya, dan bersyukur keningnya tidak panas. Jadi putriku baik baik saja.


Alarm juga tumben tidak berbunyi. Atau bunyi tapi aku tidak menyadari kalau sudah aku matikan. Mungkin. Aku mencoba bangun dan duduk, menenangkan tubuhku sebelum memutuskan untuk bangun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Sayaaang... " bisik ku sambil mengelus pipi Almeera menggunakan punggung jari jariku.


"Eeeeehhhmm."


"Sudah subuh ini." sahut ku pelan.


Almeera menguap sambil menggeliat. Kemudian perlahan membuka kelopak matanya. Dan akhirnya tersenyum kepadaku.


"Mamah tidur di sini?" tanya Almeera dengan suara serak.


Aku mengangguk. "Iya, Sayang. Mama khawatir."


Almeera perlahan bangun dari tidurnya dan duduk, persis di sampingku. "Almeera baik baik saja kok, Mah. Makasih ya." sahut Putriku, memeluk tubuhku erat dan melepaskannya.


"Mama mau lihat adek dulu ya. Sayang mau sholat di mana?" tanyaku pelan.


"Di mushola ya, Mah."


Aku mengangguk. "Siap siap dulu sana, biar nanti simbok tidak terlalu lama menunggu nya."


"Al sayang banget sama Mama."


Aku memeluk tubuh Almeera, mencium keningnya lama. "Sayang juga. Sayang banget."


Aku beranjak turun dari tempat tidur. Perlahan-lahan menuju ke kamar tempat Aksara tidur. Membuka pelan pintu kamar tersebut dan begitu kaget menyadari ada tubuh dewasa yang sedang tidur di samping putraku. Membuat ku urung masuk kedalam dan kembali menutup pintu kamar itu.


"Eh, Ibu." sahut Simbok. "Dari kamarnya Mas Aksara ya?"


"Iya, Mbok. Itu Papanya Aksara pulang jam berapa?" tanyaku penasaran.


"Belum lama kok, Bu. Baru sekitar satu setengah jam yang lalu."


Aku mengangguk. "Nunggu Almeera ya mbok?" tanyaku pelan.


"Ayo Mbok!" ajak Almeera begitu aku selesai berbicara.


"Eh panjang umur si Non. Ayo, Non."


"Adek masih tidur, Mah?" tanya Almeera pelan.


Aku tersenyum, terbayang posisi tidur Syailendra dan Aksara yang begitu menggemaskan. Posenya sama. "Iya, tidur sama Papanya."


"Weeeeh, bahagia banget pasti si Adek ya. Bangun bangun Papanya sudah di depan." suara Almeera begitu ceria dan juga bahagia. Sedangkan hatiku justru merasa tersentil. Aduh.


"Ke musholla dulu ya, Mah!" pamit Almeera.


Aku mengangguk. "Hati hati ya."


Begitu Almeera ke luar pintu, aku kembali ke kamarku. Membersihkan diri dan bersiap-siap untuk sholat subuh sendirian.


Setelah selesai sholat subuh, Almeera sudah membuka Al Qur'an di ruang depan bersama Simbok dan suaminya. Aku juga ikut bergabung sesudah menjawab panggilan dari Narendra.


"Almeera bagaimana, Ra?" tanya Narendra setelah mengucapkan Salam.


"Alhamdulillah, baik baik saja, Ren." jawabku pelan.


"Alhamdulillah."


"Lagi tadarus sama simbok. Oh ya, Syailendra tadi sebelum subuh pulang. Aku bangun tidur sudah di kamar Aksara." ujar ku pelan. Entah kenapa, rasanya seperti punya kewajiban melaporkan hal ini kepada Narendra. Membuatku tersenyum geli.


"Oh ya?" suara Narendra lumayan meninggi. "Ekhem, kamu jadi tidur di kamar Almeera kan?" tanya Narendra berusaha kembali menormalkan suaranya.


"Iya, aku tidur sama Almeera."


"Kok tiba-tiba pulang?"


"Aksara rindu kan? Mungkin itu."


"Kok pulangnya ke situ? Syailendra kan punya rumah sendiri." suara Narendra yang ngambek seperti ini membuatku tertawa kecil. Gemas.


"Hmmmmm. Kok nggak kamu usir?"


Aku tertawa. "Narendraaaa."


"Iya iya, nanti aku ke sana selepas subuh ya. Ribet ini perasaan."


"Ini hari senin loh ya, jadwal kamu penuh banget dari pagi."


"Bahagia ya kalau punya istri, jadi bisa di ingatkan terus. Hahahahaha."


Aku tertawa. "Nanti habis antar Almeera aku langsung ke kampus." sambung Narendra pelan. Membuatku tidak tega menolak.


"Iya iya. Sampai jumpa ya. Assalamu'alaikum. "


"Sampai jumpa, waalaikumsalam."


Almeera sudah pamit kembali ke kamarnya, belajar untuk ujian praktek. Simbok dan suaminya juga pamit kebelakang. Aku juga beranjak kembali ke kamar. Begitu sampai di depan kamar Aksara. Di sana sudah berdiri dia pria beda generasi. Dengan rambut yang sama acak-acakan.


"Selamat pagi, ganteng. Sudah bangun yaaa." sapa ku kepada Aksara. "Bahagianya bangun bangun sudah ada Papa."


"Pagi, Ntee." ujar Aksara sambil memeluk tubuhku.


"Papa tidur lagi aja deh kalau masih ngantuk." sindir ku saat melihat Syailendra menguap berkali-kali. "Papa biar tidur lagi ya sayang, capek banget itu."


"Iyah." Aksara mengangguk. Melepaskan tangannya dari tubuhku. "Terima kasih, Papa!" sahut Aksara sambil memeluk kaki Syailendra. Membuat Syailendra terbelalak kaget.


"Boy!" panggil Syailendra terharu. Kemudian mengangkat tubuh mungil putranya ke pelukan. "Gemesin sekali ya. Kantuknya Papa jadi hilang."


Aksara tertawa bahagia, saat seluruh wajahnya dicium oleh Syailendra dengan gemas. "Aksara sayang banget sama Papa." sahut Aksara sambil memeluk dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Syailendra.


"Papa juga. You are the best!"


Aku masih berdiri di depan mereka sambil ikut tersenyum bahagia.


"Habis sholat subuh?" tanya Syailendra sambil menoleh ke arahku.


"Iya. Jam berapa sampai rumah?" Aku balik bertanya.


"Nggak lihat jam."


"Paa, turuniin. Aksara mau ke kamarnya Kakak!" pinta bocah laki-laki itu.


"Eh? Ngapain? Kakak pasti lagi belajar!"


"Nggak papa, Mas."


Aksara turun dari gendongan Syailendra dan berlarian ke arah kamar Almeera. Aku mengikuti ke arah mata Syailendra memandang. Pria itu begitu bahagia.


"Trims ya!" sahut Syailendra tiba-tiba.


"Hmmm." gumam ku pelan. Wajahku jadi kembali cuek.


"Kok manyun? Ada apa?"


"Ada kamu!" jawabku kasar dan meninggalkan Syailendra berdiri sendiri. Kembali ke kamar.


Tidak lama kemudian pintu kamar di ketok.


"Raa? Bukain dong!"


Aku yang sudah melepas mukena dan melipatnya kembali, memilih diam kemudian pergi ke perpustakaan menggunakan pintu yang ada di kamar tidurku.


"Hay!" sapa Syailendra yang baru saja membuka pintu perpustakaan. Aku hanya melihat sekilas ke arahnya. Kemudian kembali membuang wajahku, bahkan memutar kursi ku untuk membelakangi pria yang sedang berjalan ke arahku.

__ADS_1


"I'm so sorry!" Ujar Syailendra dengan suara yang sedih. Pria itu berdiri di sampingku. Membungkukkan badan dan memutar kursi ku menghadap ke arahnya.


"Marah sekali ya?"


"Kamu kira? Apaan coba Bang! Salah aku tuh apa sih? Kamu sengaja gitu mengabaikan aku? Bahkan rela nggak menghubungi Aksara cuma sikap konyol mu itu!" sentak ku kasar. "Awas! Aku mau berdiri!"


Syailendra mundur dan memberikan aku berdiri dari duduk ku.


"Sini aku jelasin." ujar Syailendra dengan wajah lelah. "Duduk sofa dulu."


Aku pun duduk di sofa, sedangkan Syailendra masih berdiri dengan wajah yang begitu lelah.


"Eeeh!" teriakku kaget begitu Syailendra duduk dan langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan ku.


"Sebentar saja deh! Biarkan aku istirahat sebentar di sini." pinta Syailendra dengan suara yang memelas. "Satu bulan yang panjang dan berat banget buat aku, Ra." bisik Syailendra sambil memejamkan mata.


"Aku bukan mengabaikan kamu karena aku muak atau benci sama kamu. Itu murni karena aku nggak mau ketergantungan sama kamu. Aku memilih pergi karena aku pengen kasih waktu buat kamu berfikir, mengenali perasaanmu sendiri. Terlebih kepada Narendra. Aku ingin, aku ingin kamu menyadari tentang perasaanmu sesungguhnya." jelas Syailendra pelan. Matanya masih tertutup. Aku mengamati setiap inci wajah Syailendra yang begitu lelah.


"Angin malam nggak sehat. Harusnya kamu pulangnya pagi aja." sahutku pelan.


"Kamu khawatir?"


"Aku benci karena harus teringat dulu Almarhum Papanya Almeera suka pulang malam malam. Saat itu yang aku rasakan cuma bahagia. Harusnya aku khawatir, harusnya aku lebih mengetahui betapa bahayanya angin malam."


"Hey, kamu sudah hebat kok! Jangan menyalahkan diri sendiri."


Syailendra membuka matanya dan menatap ke arahku. Mengulurkan tangannya yang bebas untuk menyentuh pipiku.


"Kamu lebih memilih untuk bertahan dengan semua kenangan Dodi?" tanya Syailendra dengan suara yang dalam dan serius. Membuat bulu kuduk ku meremang.


"Kamu lebih memilih dia di bandingkan Narendra?" ulang Syailendra. Berbalik ke arahku. Menatap ke arah ku tajam.


"Maybe Yes Maybe No. Aku nggak tahu, Lendra! Awas iih, aku mau lihat Aksara. Kamu nerusin tidur di kamar aja kalau nggak mau sholat!" ujarku sambil berusaha menggeser kepala Syailendra yang berada di pangkuan ku.


"Jangan labil, Ra! Ada saatnya kau harus melepaskan seseorang, bukan karena tidak mencintainya, melainkan supaya kamu tidak membebani dia dengan apapun yang kau sebut itu cinta! Rindu! Saat ini yang di butuhkan Dodi itu Doa. Lepaskan, Ra. Jangan menahan Dodi di sini." sentak Syailendra. Pria itu sudah duduk di samping kiri ku dengan wajah marah.


Dadaku mulai trasa sakit. Nafasku mulai sesak. Aku... Aku belum bisa melepaskan Mas Dodi dengan sepenuh nya.


"Raa" panggil Syailendra lembut. "Pada akhirnya, hanya tiga hal yang berarti: Seberapa banyak kau mencintai,


Seberapa lembut kau menjalani hidup, dan seberapa ikhlas kau melepaskan sesuatu yang tidak dimaksudkan untukmu."


Aku menoleh ke arah Syailendra. Pria itu memandangku dengan sorot mata yang berbeda dari biasanya. Membuatku merasa begitu lemah dan tidak kuasa untuk tetap kuat menahan semua gejok ini.


"Kamu kira--kamu kira semudah itu, kamu nggak tahu betapa sepinya aku tanpa Dodi. Kamu nggak tahu Lendra! Kamu nggak tahu betapa matinya aku selama ini."


Aku menangis, kembali terisak. Menyebalkan. Syailendra selalu berhasil menguliti ketegaranku.


"Hus, sudah... Sudah." bisik Syailendra sambil merengkuh kepalaku ke dekapannya. "Pelan pelan. Kamu hanya perlu mengizinkan Dodi keluar dari angan angan gilamu. Melepaskan bukan berarti kamu harus melupakan semuanya. Justru membiarkan ia hidup dalam jiwamu, hatimu dan perasaanmu."


Syailendra menepuh lembut tubuhku. Ia juga membuanh nafas berat. Bodohnya aku, membiarkan pria ini kembali mengontrol perasaanku. Menjadi pengendali diriku. Aku selalu saja luluh dengan Syailendra. Selalu saja membiarkan pria ini melihat segala sudut tersembunyi.


"Berbahagialah, Ra. Kamu sudah berjuang habis-habisan. Sudah saatnya kamu siap tulus melepaskan."


Lagi-lagi aku menangis di pelukan pria ini, untuk yang kesekian kali.


"Al Meeera sepertinya menginginkan aku bersama Narendra." sahutku di tengah tengah isak tangis. "Sedangkan kamu tahu, kami berdua belum selesai dengan masa lalu kami."


"Al Meera hanya ingin kamu dan Narendra bahagia dan berdamai dengan masa lalu, Ra. Bukan berarti Kakak mengharuskan kamu bersama Narendra. Kakak akan sangat menderita dan merasa bersalah kalau kamu memutuskan sesuatu dengan alasan demi dia." ucap Syailendra. Pria itu menyentuh pipinya di ujung kepalaku. Menggerakkan nya perlahan, seolah-olah sedang mengelus lembut.


Aku kehilangan urat maluku. Membiarkan kepalaku semakin bersembunyi di pelukan Syailendra. Berharap semua akan baik baik saja begitu aku membuka mata. Berharap kondisi perasaanku kembali damai dan tidak lagi merasa galau ataupun labil.


"Jangan tidur loh, aku nggak kuat gendong kamu ke kamar. Agak gemukan ya?" bisik Syailendra menggoda. Aku yang sedang menangis histeris jadi berhenti.


Eh? Gemukan?


"Apaan sih, Kamu!" sentak ku kesar. Memukul dada bidangyang basah oleh air mata ku barusan. "Gemuk apaan!"


Syailendra tertawa sambil menangkap kedua tanganku. Kemudian kembali meraih tubuhku ke pelukannya.


"Dasar bodoh! Jangan nangis lagi ya. Mending cemberut kaya gini."


"Lepasin deh. Jangan dekat dekat kamunya! Aku jadi murahan banget kalau sama kamu. Heran!"


Tak!


Syailendra menjitak keningku.


"Sakit!" teriakku.


"Kalau ngomong itu yang bener. Aku mau sholat dulu. Habis itu tidur lagi. Bangunin kalau mau sarapan ya?"


Aku manyun. Meskipun begitu tidak tega rasanya. "Jadi? Mau sarapan sama apa?" tanyaku pelan.


"Sup? Bisa?"


Aku mengangguk. "Sup dimsum, mau?"


Syailendra menjawab dengan dua ibu jarinya. "Ya sudah. Sana ke kamar." Ujarku pelan.


Tok... Tok... Tok.


"Bu?" panggil simbok dari balik pintu.


"Iya, Mbook!"


"Ada tuan Narendra di ruang depan!"


Eh?


Aku menoleh ke arah Syailendra.


"Aku tidur nanti aja."


"Sekarang juga nggak papa kok."


"Udah, sana ke depan dulu!"


Aku mengangguk. Beranjak meninggalkan Syailendra.


"Tunggu!" pinta Syailendra tiba-tiba. Menghentikan langkah kakiku. "Air matanya di hapus dulu. Cuci muka ya?"


Aku mengangguk. "Terima kasih."


Aku dan Syailendra sama sama tersenyum sebelum akhirnya aku pergi menemui Narendra.


******


"Habis nangis ya?" tanya Narendra begitu melihatku mendekat ke arahnya.


"Eh?" gumamku. "Padahal sudah cuci muka lo ini."


Narendra menghela nafas panjang. "Habis ngapain di perpustakaan?" tanya Pria itu dengan wajah muram.


"Harusnya tadi masuk aja sih, biar tahu habis ngapain. Bukannya malah nunggu di sini." ujar Syailendra yang sudah mendekat ke arah kami. Lagi-lagi mendahului ku saat ingin menjawab pertanyaan dari Narendra.


"Kamunya juga, Bang! Ngapain dih harus langsung ke sini. Nggak pulang ke rumah sendiri!"


Syailendra mengangkat kedua alisnya. Menjatuhkan badannya di samping Narendra. Mengulurkan tangannya di belakang Narendra dan memeluk Pria itu. "Cemburu? Bilang!" bisik pria itu. Masih terdengar olehku.


"Kamu seharusnya lebih menghormati Ludira, Bang! Bukannya merendahkan seperti ini." sahut Narendra dengan wajah kesal.


Aku membisu. Merendahkan?

__ADS_1


"Apanya yang merendahkan. Kita enggak tinggal bersama kok." jawab Syailendra santai. Membuat Narendra mendengus. "Percuma ngomong sama kamu, Bang!" Cibir Narendra.


__ADS_2