
Siang ini, sikapku terhadap Narendra sedikit lebih longgar. Aku tidak terbawa suasana baper atau bagaimana. Justru aku cenderung merasa bahwa kami ini sama sama saling mengasihani satu sama lain. Percakapan dengan Narendra masih terngiang jelas di telingaku.
"Bapak mau menjodohkan saya dengan Silvia, dia putri salah satu kenalan dekat bapak, keluarga Silvia juga ikut dalam prosesi pernikahan sirih antara saya dan mantan istri saya. Emmm, lebih tepatnya Silvia itu anak dari sepupu mantan ibu mertua saya." curhat Narendra sendu, "Silvia yang itu?" tanyaku memastikan. Silvia teman aku itu? Silvia yang selama ini curhat kalau suka sama Narendra tapi justru tampak baik baik saja kemarin saat mendengar gosip tentangku dan pria ini? "Iya, Mbak. Maulidya Silvia Atmanegara. Rekan kita." Ucap Narendra sambil menoleh ke arahku, datar. Wajahnya datar namun sorot matanya dingin, seperti terluka. Jauh sekali dengan Narendra yang seharian ini menggangguku.
"Terus? apa yang jadi persoalan? kamu belum bisa move on dari mantan istri kamu?" tanyaku teringat dengan kalimat yang Narendra ucapkan. Dasar kaum Pria! Belum move on tapi suka bikin baper perempuan lain, untuuuung... Sungguh beruntung hati ini masih menjadi milik mas Dodi. Kebiasaan jelek perempuan itu mau mau saja menerima rasa nyaman yang di berikan oleh pria meski pria itu belum jelas seutuhnya menjadi miliknya atau hanya hadir dengan rasa nyaman lalu pergi meninggalkan.
"Saya nggak bisa, Mbak. Berat untuk mencoba menerima kehadiran perempuan lain di sini." ujar Narendra sambil memegang dadanya. "Sesakit itu? Kenapa nggak nyoba kembali aja sama perempuan itu, Ren? Masih satu dunia kan? hahahaha." Ucapku sambil tertawa. Kita sama sama bodoh ternyata, sama sama manusia bodoh yang tahu teori tentang ikhlas, tentang melepaskan, tentang menerima namun nyatanya untuk sekedar praktek tidak cukup membutuhkan waktu seribu detik.
Suara kekehan Narendra membuatku kembali menatap pria ini, wajahnya kini tersirat rasa lelah yang sering aku lihat pada wajahku sendiri saat bercermin tanpa menggunakan topeng apapun. "Saya terjebak, Mbak. Saya sudah kehilangan dia, meskipun kami ujungnya bersama kembali. Percuma saja, karena memang sudah berbeda. Yang aku inginkan sosok dia yang berada dalam kenangan ku." Narendra menunduk, seakan melihat sesuatu yang kini dia berusaha tendang dengan kakinya berkali-kali. Sedangkan aku menghembuskan nafas kasar, membuang muka ke arah lain. Dada ini juga terasa sesak. Kami... Dua orang manusia bodoh yang terjebak dalam bayangan masa lalu. Terbelenggu hingga bertahun tahun lamanya.
"Mama, tolong suapin dong." pinta putriku sambil menyenggol lenganku dengan sikunya. "Oh iya, Sayang." ucapku begitu kembali dari pikiranku. "Ini.. hati hati ya, Aaa." lanjut ku menyuapi Almeera dengan tanganku sendiri.
"Tante kenapa bengong? Sedih ya?" tanya sosok tampan di sampingku. Aku menoleh, menatap mata bulat besar dan hitam kelam. "Tidak kok, sayang mau makan sama ikan juga?" tanyaku pelan. Aksara, balita tampan sekaligus menggemaskan ini sedang menatap ke arahku dengan tangan memegang mangkok plastik berisi buah stowberry yang tadi ia petik bersama putriku. "Mas Aksara suka susah makan ikan, Bu." jawab perempuan muda yang kini kembali ke samping Aksara sambil memegang piring berisi nasi dan juga telor dadar. "Kenapa, Mbak? nggak suka ya?" tanyaku.
Mbak yang aku duga pengasuh Aksara itu menggeleng pelan, "Bukan, saya juga kurang tahu alasannya apa." jawab perempuan hitam manis dan masih sangat muda, mungkin berusia sekitar dua puluh tahunan. Sekilas wajahnya seperti wajah salah satu artis di layar kaca televisi, Nana Mirdad.
Mendengar jawaban itu membuatku tertarik untuk mencoba menawari balita ini makan ikan bersama Almeera, wajah gembul menggemaskan, hidung mancung seperti Narendra. Mata bulat besar, alis tebal. Sedikit khas Turkish. "Dedek mau makan ikan bareng Kak Almeera?" tanyaku berbisik ke arah Aksara.
__ADS_1
Aksara menatapku ragu, mengalihkan tatapan ke arah Almeera yang asyik memotong tomat dan juga mentimun kemudian menatap ke arah piring yang berada di tanganku. "Gimana? nyoba sedikit dulu ya sayang?" bujuk ku penuh harap. Wajah Aksara sangat ekspresif ternyata, mudah terlihat sedih, mudah terlihat bahagia. Ah, hati yang terluka memang suka mudah sekali mengenali hati yang terluka pula. "Ini yang di piring nggak ada yang bikin Aksara alergi kan, Mbak?" tanyaku pelan. Takutnya ada yang bikin Alergi kan kasihan, buat jaga jaga sebaiknya tanya ke yang biasa merawat. "Tidak, Bu."
"Coba dulu ya sayang, Ayoo.. berdoa terus mulutnya di buka, ini ada pesawat yang mau mendaraaaat. Aaaaa." Ucapku ceria, berharap keceriaan di suaraku membuat Aksara tertarik. Dan berhasil, "Aaaa, bismillah... Pinter!" sahut ku bahagia. Tangan kiriku Mengusap rambut tebal milik Aksara.
"Waah, hebat sekali mas Aksara." sahut Mbaknya keras sambil bertepuk tangan. Terlalu bahagia hingga suaranya cukup keras untuk memancing perhatian keluarga Narendra yang lainnya, termasuk putriku. "Almeera biar om saja ya yang nyuapin, Mama biar nyuapin dek Aksara." Titah Narendra, aku tersenyum. Pria ini sudah kembali seperti biasanya. Menyebalkan memang, namun teringat Narendra yang tadi, aku urung menegur pria itu. Alih alih cemberut justru tersenyum ke arah putriku.
"Nggak papa, Ma?" bisik Almeera penasaran. "Kenapa tidak? nggak papa kok." jawabku santai. Tapi wajah Almeera masih berkerut, penuh tanya.
"Lagi, Nte!"
****
"Terima kasih, Ludira." Bisik Ibu Basuki sambil memegang tanganku erat. "Untuk apa, Bu? justru Dira yang banyak sekali merepotkan di sini."
Ibu Basuki menggeleng pelan, "Kamu terbaik, jangan segan segan untuk berbagi apapun. Terima kasih juga sudah longgar sama Narendra."
"Sama sama, Bu. Kami pamit dulu." ucapku pelan. "Sudah di tunggu sama mereka." lanjut ku sambil tertawa kecil. Di mobilku, ada Narendra yang mengambil alih kemudi, ada putriku dan juga mbak pengasuhnya Aksara. Sedangkan Aksara, tertidur di gendonganku saat ini. "Hahaha, jangan lupa kasih kabar ya kalau sudah sampai." Pinta ibu Basuki. Aku mengangguk, mengiyakan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Bu.. Bapak."
"Waalaikumsalam, Sayang. Hati hati!"
Aku berjalan ke arah mobil, Narendra yang semula berada di dalam mobil, kini keluar dan berjalan kearah samping, membukakan pintu mobil untukku. "Tangannya mbak repot gendong Aksara." Jelas Narendra begitu aku menatap pria itu dengan mengerutkan kening. "Oke, Alasan di Terima. Terimakasih."
Narendra tersenyum, menutup pintu mobil dan berjalan kembali ke kursinya. "Jadi kita ke rumahnya Aksara dulu yaa?" tanya Narendra pelan. "Iya dong, habis itu aku sama Almeera bisa pulang sendiri." jawabku.
"Sudah ya, Ooom. Jangan mendebat mama." Celoteh putriku dari kursi belakang, di sambut kekehan oleh Narendra. "Mana berani, Om. Hahaha."
"Jangan berisik deh, Kalian. Ini adek lagi Bobok lo yaa!"
"Siaaap Komandaaan!" jawab Narendra sambil tertawa lucu.
Aku jadi ikut tertawa, "Laksanakan!!"
Hahaha, suara tawa bahagia kami mengisi kesunyian mobil ini.
__ADS_1