LUDIRA

LUDIRA
Empat Puluh


__ADS_3

Kami sama sama diam, membuat pikiranku melayang pada beberapa bukan yang lalu. Penjelasan tentang Narendra yang selalu mengkhawatirkan membuatku heran sendiri. Kenapa bisa secepat ini berubah? Kenapa kedua orangtuanya atau keluarganya justru merasa lebih baik dengan Narendra yang childish seperti ini. Entahlah, semakin di pikirkan semakin bikin bingung.


****


"Hey! Tari nafas!" bisik ku pelan saat menyadari tubuh di yang berdiri di sampingku ini menegang. Wajahnya bukan lagi datar tanpa ekspresi tapi juga kaku. Sorot matanya menakutkan. Garis bibirnya tidak muncul sedikitpun tanda tanda senyuman di situ.


"Semua akan baik baik saja, Narendra. Ingat, jangan lupa minta kekuatan sama yang di Atas. Ada Tuhan yang sangat mudah membolak balikkan hati. Oke?"


Masih dengan nada selembut mungkin. Wajah ini, ekspresi ini, Narendra versi ini, membuat dadaku nyeri seketika. Sekuat itukah kekuatan cinta? Melemahkan apa yang kuat! Membuat bodoh dalam hitungan detik.


"Siap? Kita masuk?"


Pertanyaan ku hanya di jawab anggukan kepala. Kami berjalan beriringan, masuk ke dalam restoran dengan konsep cafe sekaligus family ini. Bagian depannya cocok untuk di jadikan tempat nongkrong anak muda dan ada juga bagian khusus untuk ruang keluarga.


"Mbaak!"


Suara Silvia terdengar merdu, iya... Perempuan itu bukan hanya memiliki wajah yang ayu, kenes. Tapi juga suara lembut merdu. Aku membalas lambaian tangannya dan juga senyumannya. Sedangkan Narendra ini masih sama. Zombie, dia mirip monster tanpa ekspresi.


"Saya sengaja nunggu di sini." ucap Silvia sambil memeluk erat tubuhku. Sekilas aku menduga ada nada sedih di ucapannya. Bahkan saat aku mencoba melihat matanya, perempuan ini menghindar.


"Mas Narendra." sapa Silvia pelan, yang hanya di balas anggukan kepala Narendra. Ah, kebayang jaman kerajaan ini jadinya. Narendra yang ini emang bikin mati gaya.


Namun Silvia yang sudah terbiasa dengan Narendra yang seperti ini, hanya tersenyum dan mempersilahkan kami masuk ke dalam.


Saat saat yang mendebarkan tiba. Hatiku berdetak sangat cepat. Terlebih saat mata ini melihat dengan jelas perempuan yang kini berdiri menyambut kedatangan kami. Perempuan itu seperti membeku, menatap ke arah Narendra. Ya! Hanya ke arah Narendra.


Aku menoleh ke arah pria di samping ku ini, ia juga sama. Berhenti bergerak dan matanya tidak lepas dari perempuan itu.


Banyak perasaan yang tidak bisa di lukiskan, banyak rasa yang tidak bisa di jabarkan. Yang jelas, entah kenapa hatiku nyeri. Namun tidak sampai menumpahkan air mata seperti Silvia. Perempuan itu menangis diam diam, menghapus air matanya dalam diam. Menyembunyikan diriku.

__ADS_1


Sudah cukup adegan drama saling tatap begini. Aku harus bergerak. Bukan justru ikut seperti patung bodoh kaya gini.


"Nareeen." bisikku pelan sambil menyentuh tangan pria itu. Sebelumnya aku sudah menatap Silvia, supaya bergerak ke arah saudarinya itu.


"Kenalkan, mbak. Ini Sofia. Sof, ini mbak Ludira." ucap Silvia dengan nada yang cukup keras. Usaha bagus untuk menyadarkan perempuan bernama Sofia itu.


"Eh-Eh, iya. Saya Sofia, Mbak." ucap perempuan itu sambil berjalan ke arahku, mengulurkan tangannya. Hebat! Dia bisa tersenyum seakan tidak terjadi apapun.


"Saya Ludira. Senang akhirnya bisa bertemu dengan mbak Sofia." kataku pelan, sambil menggenggam lengan Narendra. Lumayan keras. Narendra hanya menoleh sejenak. Habis itu seakan tidak mengenal perempuan ini. Sedangkan Sofia, akhirnya mengganti senyuman hangat itu dengan senyum getir.


"Kita bisa duduk lanjut makan?" tanya Narendra dengan suara dingin. Menakutkan. Sumpah, ini orang beda banget.


"Eh ayo ayo. Silahkan Mas, Mbak!"


Kami semua bergerak ke arah tempat duduk masing masing. Aku duduk di samping Narendra dan Sofia Silvia duduk di depan kami.


"Pesan apa?" tanya Sofia kaku. Aku yakin dia berusaha sangat keras untuk menghilangkan kecanggungan nya itu.


"Aku ngikut kamu aja." bisik Narendra sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku. Membuatku reflek memandang ke arah depan.


Perempuan perempuan itu jadi salah tingkah setelah ekspresi terkejut. Terlebih Sofia, jelas terkejut dan juga sedih. Meskipun aku juga melihat ada sedikit kemarahan di matanya. Sedangkan Silvia, meskipun terkejut, ia juga malu dan ada binar lega di matanya. Aneh, sama sama punya perasaan dengan Narendra, tapi reaksi mereka sungguh berbeda jauh.


"Ayam bakar sambal, mau? Minumnya apa? Lemon tea?" tanyaku pelan. "Atau mau masakan padang aja? Sunda? Atau rawon?" lanjutkan antusias, mencoba mengembalikan Narendra yang biasanya.


Aku nggak perduli dengan raut wajah tertekan sekaligus terluka milik perempuan bernama Sofia itu. Sungguh, saat ini aku hanya berharap bisa melihat Narendra yang asyik, bikin kesel terus suka manja minta ini itu kalau lagi makan di luar. Rewel suka perintah juga. Bukannya mirip orang tertekan seperti ini. Pria dengan rasa tertekan yang sangat tinggi. Hingga tidak ada binar kehidupan di matanya. Sakit, ternyata hatiku sesakit ini saat menyadari bahwa Narendra versi ini. Pesakitan!!


"Masakan padang aja." bisik Narendra pelan. Aku menatap pria itu sambil mengangguk dan setelah itu menoleh ke arah Sofia, senyuman tentu saja masih di bibirku. "Mbak Sofia apa?" tanyaku pelan. "Mau masakan padang ajah?" lanjutku menawarkan.


"Dia nggak suka masakan Padang, terlalu berminyak alasannya." jawab suara di sampingku. Pria itu kini menatap ke arah depannya dengan tatapan yang sulit aku artikan. "Ka-Kamu masih ingat?" tanya Sofia dengan suara terbata bata. Wajah perempuan ini sendu, matanya berkaca kaca. Sedangkan aku yang masih terkejut karena tindakan Narendra ini, saling bertukar tatapan penuh arti dengan Silvia.

__ADS_1


Narendra membuang muka, seakan tidak peduli dengan Sofia yang kini menutup mulutnya setelah mengusap pelan air mata yang tumpah di pipinya. Ah! menyedihkan.


"Sorry." bisik Narendra sambil menatap penuh penyesalan kepadaku. Aku yakin, kedua perempuan di depanku ini kembali tercengang.


Haduuh, Narendra Bagaskaraaaaa!!!!


Aku hanya menatap pria itu, tidak mengerti. Ah, baiklah. Aku paham.


"Nggak ada yang salah." bisikku pelan. "Jadi mbak Sofia pesan apa?" tanyaku dengan nada dan wajah setenang mungkin.


"Saya nasi pecel sama ayam goreng aja, Mbak." ucap Perempuan itu dengan suara Parau.


Aku mengangguk. Kemudian menyerahkan Catatan pemesanan ke Silvia.


"Kalian bisa ngobrol dulu, aku sama Silvia mau pesen." ujarku sambil tersenyum kepada Silvia yang tampak tidak setuju.


"Jangan. Biar aku aja. Sekalian pesan rendang kesukaan adek." ucap Narendra dengan suara lembut penuh kasih sayang. Dan juga ajaibnya, wajah Narendra menjadi wajah yang aku kenal. Hangat, lembut, imut dan penuh cinta. Ah, ternyata putriku memang memiliki efek luar biasa buat pria satu ini.


"Rendangnya masih ada di rumah, kan kemarin Mas Syailendra udah bungkusin banyak banget buat Kakak." protesku begitu teringat Rendang yang masih satu box di dalam kulkas.


Aku tersenyum bahagia, bukan karena teringat oleh Syailendra. Tapi karena wajah Narendra bukan lagi seperti Zombie, tapi sudah ala Narendra yang ngambek.


"Kaaaan. Yang jadi prioritas sekarang Syailendra yaaaa." sindir Narendra kekanak-kanakan. Seakan tidak perduli dengan dua perempuan di depan kami yang menatap dengan pandangan yang sulit aku jabarkan.


"Narendraaaa." panggilku menenangkan.


Pria itu masih diam, masih menatap ke arahku dengan tatapan ngambek. imut bangeet. Hahahaha.


"Hahahahahaha"

__ADS_1


Suara tawa Silvia menggema, sangat keras. Menyadarkan Pria itu bahwa di ruangan ini bukan hanya kami berdua. Seketika, wajahnya kembali menjadi mayat hidup saat melihat ke arah Sofia yang menatap pria itu nanar.


__ADS_2