LUDIRA

LUDIRA
Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

"Sudah lama?" tanyaku sambil menghampiri pria yang berdiri di parkiran.


"Belum." jawab pria itu sambil tersenyum. "Hallo jagoan!" sapa Pria itu sambil mengangkat tubuh mungil yang sejak tadi tangannya aku gandeng.


Syailendra mengangkat tubuh Aksara dan menggendongnya. Menciumi seluruh wajah putranya dengan gemas. Sedangkan Aksara tertawa geli. Begitu juga aku, tertawa bahagia menyaksikan semua ini.


"Ayo masuk!" ajak Syailendra sambil rangkul bahuku dengan satu tangannya. Sedangkan tangan yang satunya menggendong putranya. Aku yang tidak sempat menghindar dari perlakukan Syailendra itu hanya bergumam terkejut.


"Eeeh!"


Syailendra menoleh ke arahku dan melepaskan tangannya.


"I'm so sorry. Reflek gitu." bisik Syailendra.


Aku mengangguk. "Ayo masuk. Sudah pesen tempat kan?" tanyaku pelan. Kami berjalan bersama.


"Sudah."


"Terus ngapain nunggu di parkiran?" tanyaku penasaran.


"Biar lebih nyaman kan? Jadi bisa gini. Kita masuk secara bersamaan." ujar pria itu bangga.


Aku tersenyum. Kemudian karena merasa bahwa banyak mata yang sejak tadi melihat ke arah kami, aku menoleh ke sekeliling. Ternyata benar, beberapa remaja perempuan ataupun wanita menatap Syailendra, terpesona. Melihat semua itu kini aku menoleh ke arah Syailendra. Dia memang terlihat hot daddy banget kalau gini.


"Kita pesan tempat yang privasi kan?" bisikku lebih mendekat ke arah Syailendra.


Mendengar bisikan ku, Syailendra menoleh. "Iya, kenapa?" tanya pria itu sambil menatap wajahku.


"Risih gitu ih, kamu jadi pusat perhatian. Banyak banget perempuan yang melihat ke arah kamu dengan minat yang begitu besar." sahut ku pelan.


"Hahahaha. Pemilihan kata kata kamu kok jadi seperti lagi menggambarkan barang diskon ya?"


"Bukan giting dih!" ucapku sambil tak sengaja memukul lengan atasnya.


"Hahahaha."


***


Syailendra begitu antusias berperan sebagai ayah yang baik. Meladeni semua pertanyaan dari putranya yang rasa ingin tahunya begitu besar. Meskipun sesekali Syailendra menyuruh Aksara bertanya padaku.


"Aku pulang bareng kamu aja ya?" ucap Syailendra pelan.


"Mobil kamu gimana?" tanyaku.


"Nanti ada yang ambil."


Aku mengangguk setuju.


"Habis ini langsung pulang atau gimana? Kamu masih membutuhkan sesuatu nggak?" tanya Syailendra pelan.


"Langsung pulang aja ya?"


"Gimana kalau kamu ke salon, terus kami nunggu kamu sambil jalan jalan?"

__ADS_1


Aku menggeleng.


"Kamu, perempuan. Tapi nggak suka ke salon?" tanya Syailendra dengan nada tkdak percaya.


"Bukannya gitu. Cuman, buat apa gitu. Wajahku baik baik saja. Tubuhku juga baik baik saja." jelasku pelan.


Syailendra begitu sengaja mengamati wajahku dan sekujur tubuhku. Membuat pipiku jadi bersemu merah.


"Iya sih, untuk ukuran wanita berusia tiga puluh lima, kamu masih sangat segar." sahut Syailendra, membuat pipiku semakin panas.


"Sudah ah, yuk pulang!" ajakku pelan.


Kami keluar dari restauran itu juga bersama. Aksara berada di tengah tengah kami sambil tangannya menggandeng tangan kami berdua. Bohong jika aku tidak mendengar beberapa bisikan kagum ke arah kami, bahkan aku yakin jika Syailendra juga mendengar bisikan itu. Tapi dia lebih tampak menikmati daripada mengabaikan.


"Kuncinya mana?" pinta Syailendra begitu kita sampai di depan mobilku. Aku menyerahkan kunci mobil ke pada Syailendra.


"Aksara mau duduk di mana, sayang? Depan atau belakang?" tanyaku pelan.


"Depan aja, di pangku kamu. Nggak papa kan? Adek juga mau kan?" jawab Syailendra sekaligus menanyakan kepada putranya.


"Iya, Pa. Boleh ya Ntee?"


Aku mengangguk. Membiarkan Syailendra membukakan pintu mobil untuk kami berdua. Dan duduk di depan.


Sepanjang perjalanan, Aksara bercerita banyak hal. Keceriaan begitu menyelimuti kami bertiga. Hingga suara panggilan masuk membuat hening suasana.


"Tolong di angkat, Ra!" titah Syailendra sambil menunjuk handphone yang berada di saku celananya.


"Hahahaha. Inih!"


Melihat wajah ku yang keberatan, akhirnya Syailendra yang merogoh saku kantong nya dan mengambil iPhone seri terbaru miliknya. Dasar pria Metro seksual.


"Dari Anandita. Video call." sahutku memberikan tahu.


"Angkat saja."


Aku menuruti perintah Syailendra. Dan sekilas, wajah cantik itu muncul di layar.


"Maaf, Bos! Ganggu yaa?" tanya perempuan bernama Anindita itu.


"Hay?" sapaku pelan.


"Hallo, Bu." jawab Anindita sambil tersenyum malu.


"Saya mau laporan bu, sama pak Bos." sahut perempuan di sebrang sana.


"Ada apa, Dit?" sahut Syailendra.


Mendengar suara bosnya, Anindita jadi salah tingkah. Terlihat sekali di wajah cantik sekaligus manis itu.


"Nganu, Bos."


"Ngomong aja, Dit." ujar Syailendra santai.

__ADS_1


"Nggak enak deh, Bos. Nanti aja ya? Takut ganggu acara keluarga bos." jawab Anindita pelan sambil tersenyum canggung.


"Nggak papa, bilang aja." Ujar Syailendra tanpa menatap ke arah layar. Sedangkan Aksara sudah bermain dengan mainan yang dia bawa di mobil.


"Gini, Pak. Anu-- itu."


Aku mengerutkan kening melihat perempuan berambut panjang lurus ini berjalan mondar mandir. Wajahnya sesekali menoleh ke arahku dan tersenyum canggung.


"Nanti saja ya, Bos. Nggak mendesak juga kok. Bye byee bos!" sahut Anindita cepat sekali. Belum sempat menjawab sudah di matiin itu panggilan.


Aku menoleh ke arah Syailendra, setelah meletakkan IPhone miliknya. Tahu sedang ku lihat, Syailendra hanya menggerakkan bahunya.


"Asisten, hanya asisten. Jangan mikir aneh aneh. Lihat kamu mandang aku kaya gitu jadi bikin aku ngerasa sebagai suami yang di curigai istrinya." sahut Syailendra dengan senyuman khasnya. Aku tertawa pelan dan membuang muka ke arah Aksara. Memeluk tubuh kecilku semakin erat dan mencium ujung kepalanya.


"Adek capek nggak?" tanyaku pelan.


Aksara mengangguk.


"Ngantuk?" tanyaku lagi.


"Belum, Ntee."


"Kok jadi diam gini?"


"Lagi konsentrasi ini, Ntee."


Aku tertawa lagi, menciumi pipi Aksara gemas. Aku tidak perduli jika Syailendra men curi-curi pandang ke arah kami berdua.


"Nteeee."


"Hahahaha. Kamu sih, kalau lagi serius gini bikin gemas." sahutku pelan.


"Lama lama Aksara jadi mirip Almeera kalau lagi serius gitu." sahut Syailendra pelan.


Aku menoleh ke arah Syailendra, kemudian mengamati wajah Aksara. Masa iya sih? Ada ada saja.


"Nanti kakak mau nginap di tempat Eyang Basuki, adek mau ikut?" tanyaku pelan. Aksara yang sedari tadi memainkan mainannya, berhenti. Kemudian menoleh ke arahku.


"Kok kakak tadi nggak bilang apa apa ya sama Adek?" tanya Aksara dengan wajah kecewa.


"Iyaa, kakak aja nggak tahu kok. Ini om Narendra kan tadi kasih tahu tante kalau mau jemput kakak terus nginap di tempat Eyang." jelasku pelan.


"Yaaah, kalau Aksara ikut tidur di tempat Eyang Basuki. Nanti nggak bisa bareng sama Tante."


"Jadi kamu nggak ikut nginap di sana?" tanya Syailendra pelan.


"Nggaklah, habis makan malam biasanya pulang. Atau justru kadang nggak kesana. Kan Almeera sudah di jemput sama Narendra." jelasku pelan.


"Aku kira, kamu nginap di sana."


"Nggaklah. Lagian juga nggak sering kok, Almeera tidur di tempat Eyangnya."


Syailendra mengangguk pelan. Mungkin hanya perasaanku saja yang mengira bahwa ada semburat rasa lega di wajah pria itu.

__ADS_1


__ADS_2