LUDIRA

LUDIRA
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Cinta ini memang tidak sopan sama sekali, ia datang tanpa perduli bahwa aku sedang siap mencintai atau tidak.


Ya, aku bukan lagi tertarik, bukan lagi sayang dengan pria yang sedang berbicara denganku ini. Tapi mungkin sudah ada berapa persen kasar cinta yang tumbuh di atas singgasana perasaan ini.


Perlahan, pria ini sukses membuatku tidak hanya nyaman dengan kehadirannya.


"Maaf, aku terlalu takut untuk mengakui semuanya." bisik Narendra lemah.


"Aku paham, Ren. Mungkin, perasaanku juga hadir karena kamu dekat dengan Almeera dan juga sekilas kamu mirip dengan Mas Dodi. Disini aku yang lebih jahat."


"Aku nggak masalah, aku bahkan sebenarnya bersyukur. Setidaknya dengan kemiripan kami, aku bisa masuk ke dalam hidup mu dengan sedikit lebih mudah dari pada orang lain. Kamu nyaman jika berada didekatmu, Ludira. Aku kuat meskipun hanya sekedar membayangkan ada kamu dan Almeera di sisiku."


Aku terdiam, memegangi dadaku yang bergemuruh tidak menentu.


"Aku benci, hatiku sakit saat melihat Kalian berdua juga nyaman dengan kehadiran Bang Lendra."


Suara Narendra melemah, tercekat.


Ah, itu juga karena Syailendra adalah bagian dari hidupmu, Narendra. Jika bukan bagian dari hidupmu, entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu.


"Tapi bisa apa aku, Aku bukan pemilik mutlak kalian berdua. Aku juga sadar, bahwa hidupku terlalu rumit. Jadi awalnya aku ingin mundur, aku nggak mungkin memaksa kalian menerima kehidupanku yang rumit ini. Mungkin Almeera bisa, dia putriku. Tapi kamu?"


"Ren? Gimana kalau kita mencoba lebih saling terbuka soal Sofia. Mungkin dengan begitu kamu bisa lebih berdamai dengan dirimu sendiri dan bayangan tentang Sofia." usulku hati hati. Sangat hati hati bahkan sampai jantungku berdetak sangat cepat lebih dari sebelumnya.


"Asal kamu janji tidak akan pernah meninggalkan aku dalam kondisi dan keadaan apapun. Sisi burukku terlalu kelam, Ludira. Aku bahkan nggak mampu menerka akan seperti apa sifatku jika sisi itu muncul dalam permukaan."


"Janji, aku janji untuk mengatasi semua ini bersama." bisikku tenang, sangat tenang hingga aku sendiri terkejut.


"Aku ingin mencoba bertemu dengan Sofia, berdamai dengan kenangan yang terus menghantui malam malam ku."


"Cobalah."


"Bersamamu, aku ingin menemui dia bersamamu."


Ah, permintaan Narendra kini lebih semakin menakutkan saja. Dia sukses membuat hatiku meledak meminta pengakuan, kini justru memintaku menemani dirinya bertemu dengan perempuan yang aku yakini begitu di cintai pria ini. Aah, akankah nanti hatiku tidak hancur berkeping-keping? akankah aku siap menghadapinya? ataukah ini suatu yang yang bisa aku manfaatkan untuk lebih mengetahui seberapa besar kadar cintaku kepada pria ini. Narendra, kamu memang sesuatu!


💞💞💞💞


"Tehnya, Bu."


"Terima kasih, mbok."


"Perlu saya pijitin, Bu?"


Aku mengangguk, perempuan yang belum terlalu sepuh ini memang luar biasa. Beliau memiliki banyak sekali keahlian.


"Mbok? Rindu sama keluarga nggak?" tanyaku pelan.


"Nggak, Bu. Saya sama suami justru lebih nyaman di sini, ada ibu sama neng Almeera yang tidak pernah memandang kami sebelah mata. Saya jadi nggak enak sendiri."


Aku memegang tangan beliau yang memijit bahuku.


"Saya tidak di beri Amanah berapa anak anak sama Alloh, Bu. Tapi alhamdulillah di beri suami yang mau menerima saya apa adanya."


Aku yang perlahan terlelap karena cerita dan pijatan beliau jadi membuka mata kembali.


"Bu?"

__ADS_1


"Iya, Mbok."


"Saya kemarin belanja di tukang sayur bareng ibu ibu komplek sini."


"Terus?"


"Mereka bercerita soal ibu."


"Iya... Terus?"


"Mereka mendoakan ibu segera membuka hati buat Pak Narendra."


Mendengar kalimat yang di ucapkan simbok, aku yang sudah berbaring tengkurap jadi duduk.


"Eh?"


"Iya, ibu ibu daerah sini sudah kenal Mas Narendra semua."


"Kok bisa?" tanyaku keheranan.


"Iya, Bu. Bapak bapaknya juga kenal sama pak Narendra. Itu sih kami sudah paham sejak kerja di sini, Bu. Saya sama suami kan sering sholat jama'ah di masjid kampung. Kebetulan suami saya ngobrol sama pak RTnya, ternyata kenal sama pak Narendra."


Aku melongo tidak percaya. Namun wajah yang senja ini begitu serius dan juga takjub, bangga dengan apa yang ia ketahui.


"Awalnya saya deg-degan, aduh takutnya di bicarain jelek. Sudah mau ancang-ancang membela ibu sama bapak. Nggak terima dong saya, orang ibu Baik banget. Kan ada yang bilang gini, mbak ludira jadi janda kok lama banget, ada yang bening gitu kok nggak tergiur."


Aku tersenyum geli, wajah simbok terlalu lucu.


"Ada juga yang bilang, orang mas Narendra bening begitu aja di tolak terus apa lagi suami kita kita ya. Emang kalau janda berkelas emang beda."


"HAHAHAHAHA."


Aku tertawa kencang sekali. Sampai sampai memeluk tubuh simbok.


"Kok mereka kenal sama Narendra ya, Mbok? Heran saya."


Simbok tersenyum manis sekali sambil memegang tubuhku menggunakan tangannya. Aku menundukkan kepalaku di bahu perempuan baik ini.


"Bapak hebat, Bu. Bisa menjaga kehormatan ibu, bisa menjaga ibu dari fitnah. Beliau sadar jika beliau sering kesini pasti akan menimbulkan bisik bisik tetangga. Makanya beliau melakukan sesuatu buang sekiranya tetap menjaga kehormatan ibu."


Aku terharu, benar-benar terharu dengan kenyataan ini. Aku sengaja tidak pernah belanja di sekitar sini karena malas mendengar bisikan tetangga, karena aku sadar. Menerima kunjungan Narendra berkali-kali akan menimbulkan fitnah, akan memancing gosip di lingkungan. Namun nyatanya? Narendra, pria cerdas itu menghilangkan semua gosip yang aku takutkan.


"Di habiskan dulu tehnya, Bu. Habis itu saya pijat lagi."


Aku mengangguk patuh, seharian ini memang badanku terasa pegal sekali. Aku membiarkan mataku kembali terpejam dengan senyuman di bibir yang memang berasal dari hatiku yang bergembira, membuncah penuh kegembiraan. Mungkin nanti saat aku sudah melepas lelah, aku bisa bertanya langsung dengan pria itu.


****


"Assalamu'alaikum, Mah. Mamaaah."


Suara putriku dan ketokan pintu membuatku terjaga dari tidur lelapku. Aku membuka mata perlahan dan menggerakkan badan.


"Waalaikumsalam, Sayaang. Masuuk."


Almeera, putriku membuka pintu dan berjalan pelan ke arahku.


"Mamah tidur siang sampe sore gini? Mamah sakit?" tanya putriku khawatir.

__ADS_1


"Enggak kok, cuma kecapekan ajah. Sudah selesai lesnya ya? Pulang sama siapa?"


"Di jemput sama Om Narendra. Itu Om di bawah, Ma."


Aku mengangguk pelan.


"Mau ketemu Mama, Katanya."


"Oke. Mama mau mandi dulu."


"Almeera keluar ya, Ma. Almeera juga mau mandi."


Aku mengangguk lagi. Setelah putriku menutup pintu kamar, baru aku bergegas membersihkan diri di kamar mandi. Membuat tubuhku menjadi lebih segar.


Habis itu aku turun ke bawah, ternyata pria itu sedang di dapur, sendirian.


"Almeera di mana, Ren?" tanyaku pelan. Narendra yang sedang membuat teh lemon itu menoleh ke belakang Dan tersenyum begitu melihat wajahku. Dia selalu saja manis imut, babyface.


"Olahraga sepedaan katanya." sahut Narendra yang aku jawab dengan anggukan kepala. "Mau sekalian tehnya?" tanya Narendra.


"Harusnya aku yang buatin kamu teh, Ren." ujarku malu.


"Jangan dong, berasa aku tamu."


"Kaan emang tamu."


Narendra justru tertawa. Menyodorkan teh yang ia buat barusan. "Ini aja ya. Buat berdua." ucap Narendra dengan wajah kemerah-merahan, konyol.


"Ada apa?" tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan. Berusaha tidak larut dalam situasi romantis yang di ciptakan Narendra.


"Temani aku... Sore ini aku mau bertemu dengan Sofia." ucap Narendra dengan bola mata yang menatapku intens. "Itu kalau kamu izinkan, kalau tidak... aku juga nggak akan pergi." lanjut pria itu sambil tersenyum sangat dalam.


"Aku bukan seseorang yang musti kamu minta izinnya untuk bertemu dengan seseorang, Narendra."


"Ah! Ludiraaa. Kamu melukai hatiku."


Aku mencibir sikap Narendra yang berlagak patah hati itu.


"Kan aku sudah bilang, aku ibunya putri aku. Kamu adalah sumber kekuatanku sekarang. I'm yours."


Aku menatap tajam ke arah Narendra. Mencari gurat kebohongan atau bercanda. Nyatanya justru kutemukan keseriusan di situ.


"Aku nggak paham, Ren."


Iya, aku tidak paham sama sekali. Aku takut... sangat takut jika harus salah menafsirkan semua ini.


Narendra menghembuskan Nafas panjang.


"Kita hanya perlu saling meyakinkan diri. kita Masing-masing sebelum melangkah ke arah yang lebih sakral, Ludira. Aku menyelesaikan urusanku dengan Sofia. Aku perlu mengetahui, bahwa di hati ini, di jiwa ini, dia hanyalah sebuah jejak yang sudah terhapuskan."


"Aku tidak akan pernah seperti itu kalau soal Mas Dodi, Ren."


"Tentu saja berbeda, meskipun mas Dodi terus ada di hatimu, Aku ikhlas, Mbak. Sangat ikhlas."


Aku menatap pria itu tidak percaya. Mustahil sekali, apa aku sekarang ini masih bermimpi? ah tidak!


"Jadi, mau ya... temani aku makan malam."

__ADS_1


Aku masih diam mematung. Urusan dengan Narendra Bagaskara tidak sesederhana ini. Masih ada Sofia, Silvia, Syailendra bahkan keluarga. Juga terlebih ada putriku.


Kepastian dari Narendra sendiri membuatku ragu, beberapa hari lalu, pria ini masih begitu yakin bahwa dirinya adalah milik Sofia. Sangat yakin hingga memicu kemarahan ku. Dan saat ini, dia mengatakan bahwa dirinya adalah milikku. Semudah itukah membalikkan hati dan perasaan?


__ADS_2