
"Kamu ini sedang mengalami puber ke dua, Dek Dira. Karir kamu berjalan sewajarnya, biasa biasa aja. Hanya saja, perihal asmara yang sepertinya tidak berjalan mulus." ujar Bu Susi sambil menoleh ke arahku dengan wajah yang di hiasi senyuman manisnya.
Aku menunduk. Jari jemariku saling bertautan dan meremas. Aku setuju dengan apa yang di ucapkan senior ku ini. Hubungan asmaraku tidak baik baik saja. Aku terlalu takut mengakui kebenaran, terlalu naif.
"Cinta pertama kami itu Papanya Almeera kan?" tanya perempuan itu dengan nada yang menenangkan.
Aku mengangguk, mengiyakan. Mas Dodi memang cinta pertamaku. Atau lebih tepatnya, manusia pertama yang memberikan aku bukti bahwa cinta dan kasih sayang itu memang benar adanya. Sesuatu yang sangat asing bagiku. Sesuatu yang berbeda dengan yang selama ini aku rasakan.
"Almarhum yang dewasa, almarhum yang selalu telaten menyembuhkan luka yang kamu derita. Kemudian, beliau pergi untuk selamanya. Dan sayangnya, kamu justru merasa bersalah, merasa berkhianat setelah dengan sendirinya hatimu menemukan cinta." Sahut Bu Susi pelan namun begitu tajam dan tepat sasaran.
Kini kepalaku tidak lagi menunduk. Pandanganku memandang ke depan. Sejak kejadian malam itu, Syailendra menghilang entah kemana. Meninggalkan kami semua dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa di tunda.
Narendra mulai berubah. Semakin kesini, semakin memposisikan dirinya sebagai sosok adik yang selalu mengingatkan aku tentang berapa besarnya cinta abangnya. Menyebalkan. Meskipun terkadang sosok matanya begitu menyedihkan, patah hati. Namun wajahnya kembali berseri begitu Almeera menyebutnya Papa.
"Ma? Kalau Kakak manggil Om Narendra dengan sebutan Papa gimana? Boleh?" tanya putriku kala itu. Tentu saja aku setuju. Dan di luar dugaan aku, saat pertama kali Narendra mendengar Almeera memanggilnya Papa, pria itu menangis bahagia. Benar benar menangis.
"Jangan kamu kira ini akhir menyedihkan bagiku hanya karena kamu justru mencintai Syailendra, Ra. Ini akhir yang memuaskan. Aku bahagia, sangat bahagia." bisik pria itu setelah menangis terharu. Aku hanya tersenyum. Tidak menjawab dengan kata kata. Toh, semuanya sudah jelas tanpa perlu di jabarkan oleh kata kata.
Kini, tinggal hatiku yang menolak untuk mengakui keadaan yang sesungguhnya. Rasa nyaman bersama Narendra, tetap membuatku menatap dirinya sebagai orang lain. Objek halusinasi. Rasa ingin bersama, bukan murni karena dia adalah Narendra.
Tapi, saat bersama Syailendra. Aku bahkan lupa rasa sedih sekaligus fantasi fantasi ku tentang Mas Dodi, almarhum suamiku. Aku seperti menjadi diriku yang seutuhnya. Sisi gelap, sisi liar ku muncul begitu saja. Seperti sesuatu yang bebas, tanpa beban.
Dan saat pria itu pergi, menghilang setelah membuat kekacauan. Hatiku pedih. Lebih pedih di bandingkan di tolak Narendra. Ini menyakitkan. Sepertinya ini yang di namakan patah hati. Setiap ku pejamkan mata, senyum mas Dodi begitu tenang dan lembut. Berganti bayangan Syailendra yang tertawa, kenangan tentang tingkah pria itu yang seenaknya. Membuatku menangis.
Aku rindu.
Ya Tuhan, aku sungguh rindu pada ciptaanMu yang menyebalkan itu.
"Menerima orang lain, bukan berarti kamu mengkhianati Dodi, Ra. Justru dengan begitu, beliau merasa nyaman. Bahagia. Toh! Kamu pernah dengar wasiat almarhum Papanya Almeera, bahwa dia ingin kamu di cintai dan mencintai. Merasakan apa yang selama ini belum pernah kamu rasakan. Almarhum tahu, kalau cinta kamu ke Almarhum itu karena terbiasa. Beliau berharap kamu bisa jatuh cinta lagi." bisik Bu Susi, sambil meraih tanganku. Dan tangan yang satunya mengusap air mataku yang entah sejak kapan menetes.
"Mencintai pria lain selain almarhum suamimu itu bukan kesalahan, bukan pula suatu dosa" lanjut Bu Susi saat aku menoleh ke arah nya.
****
__ADS_1
"Mbak? Minggu depan kita sudah harus mengurusi pendaftaran Kakak loh ini!"
"Iya iya, tau! Kamu ini kok semakin kesini semakin cerewet aja sih! Liburan kampus tuh di manfaatin buat apa gitu, jangan di manfaatin buat gangguin aku gini!"
"Tiga hari, Mbaaak! Tiga hari kami ninggalin mbak di rumah sendiri. Inget itu!"
Aku memilih diam. Tiga hari yang lalu, Almeera dan Aksara ikut bersama keluarga besar Bagaskara pergi berlibur. Tentu saja aku menolak ikut bersama. Meskipun tetap saja aku mengikuti kegiatan mereka secara tidak langsung karena mereka tidak pernah lupa mengirimi foto kegiatan mereka. Belum lagi aku yang sekarang mulai gemar melihat sosial media.
"Pakdhe sama Budhe kamu yang dari Jogjakarta itu kok sering video call aku sih, Ren. Tanya macem macem soal Almeera. Risih tahu!" sahutku dengan nada yang nggak nyaman. Siapa yang nggak risih, kalau ada orang yang baru saja di kenal kok nyuruh buat tes DNA. Hanya karena mereka begitu yakin bahwa wajah Almeera itu duplikatnya Narendra.
Pria itu justru tertawa keras. "Kan tinggal di kasih lihat wajah Mas Dodi aja sih. Kenapa susahnya."
"Udah! Eh, mereka masih suka ngomongin berapa mirip nya kalian berdua. Aku risih, Ren."
"Marahin aja!"
"Kamu ... Dih!"
Aku meninggalkan Narendra yang masih tertawa itu. Berjalan ke arah dapur untuk membuatkan salad buah permintaan anak anak.
"Kata Aksara sama Almeera, kalau mereka nggak tidur bareng sama kamu, katanya kamu sering nangis ya? Rindu sama siapa? Mas Dodi atau--" Suara Narendra yang memang pelan dan hati hati, terhenti karena aku potong dengan kalimat sanggahan. "Bukan urusan kamu Narendra Bagaskara!!" Nada suaraku mulai meninggi. Aku tahu, dia akan kembali membahas pria tidak jelas itu.
"Kalau dulu, setiap kali kamu memejamkan mata, meskipun awalnya wajahku yang hadir tapi lama kelamaan yang ada hanya Mas Dodi. Tapi sekarang?Kebalikannya!" sentak Narendra keras. "Yaaaa kan mbaaak??? Ngaku sajaaaaa!" Lanjut pria itu dengan suara jahil begitu aku memilih diam.
“Mbak—“
“Sudah! Nggak perlu bahas Papanya Adek lagi, Ren. Aku tuh nggak bisa pokoknya kalau sama dia. Kebayang gimana pusingnya aku nanti kalau nurutin kemauan kamu buat menjalin hubungan asmara sama bang Lendra. Dia player, Ren. Betapa tersiksanya aku nanti, kebayang bayang itu. Parah deh!” potongku setengah menggerutu, padahal hati ini bergetar menahan sesak. Aku merindukan pria itu setiap saat. Semakin aku kesal, semakin rindu ini menyebalkan. Semakin teringat banyak hal yang tidak ingin aku ingat. Tanganku terus motong buah, meskipun mulai bergetar.
“Coba! Dia aja setega itu kaaannnn. Nggak ngasih kabar apapun ke Aksara. Di tinggal gitu aja. Ngilang seenak hati. Dulu pas ngilang di surabaya, nanya kabarnya ke kamu! Padahal Aksara sama aku. Gini? Giniiiii yang kamu sebut cinta!” lanjut ku. Menyedihkan, bukan?
Kepada putranya saja bisa tahan tidak kasih kabar. Apalagi aku? Perempuan yang baru di kenalnya beberapa saat. Lagi pula, mengingat gaya hidup Syailendra, membuatku semakin terbakar cemburu. Perasaan yang tidak pernah aku rasakan kepada Mas Dodi. Begitu cemburu nya sampai sampai aku tidak bisa menahan diri untuk mengubungi pria itu, meskipun aku tahu tidak terhubung.
“Mbak nggak rindu?” tanya Narendra pelan. Semakin membahas Syailendra, semakin membuat pria itu tampak nyata di pikiranku. Juga semakin membuatku berhalusinasi.
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas kasar. Mengabaikan bau parfum Syailendra yang begitu nyata di hidungku. “Kamu sudah tanya, Narendra. Munafik jika aku bilang kalau aku tidak merindukan pria itu. Ini tidak mudah untuk aku, Ren.” sangat tidak mudah.
“Kamu mencintai Syailendra, Ludira. Kamu harus mengakui kenyataan itu!” sahut pria itu setengah membentak. Aku abai. Aku memilih untuk terus membelakangi Narendra supaya pria itu tidak melihat berapa hancurnya aku setiap membahas Syailendra.
“Yang jelas aku menyayangimu, sangat menyayangimu, Narendra!” bentak ku kasar. Aku menyayangi Narendra, itu sudah cukup. "Dengan kamu yang memposisikan diri sebagai Adik yang baik hati, itu saja sudah cukup, Narendra. Tolong ... Benar-benar jatuh cinta tanpa ada bayangan tentang almarhum itu sangat sulit." Lanjut ku gamang. Setelah keheningan yang mengisi ruang di antara kami.
Aku menarik nafas perlahan-lahan, begitu meletakkan pisau di atas talenan. Membiarkan air mata tumpah karena perang antara perasaan rindu, marah, kecewa, tidak jelas di dalam dada.
"Bahkan sekarang aku mencium bau pria itu, Narendra. Berhenti ... Tolong berhenti membahas tentang abang mu itu" bisik ku dengan suara parau.
Eh--
Kok?
"Ini aku. Maaf. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk dirimu. Aku rindu. Sangat rindu." bisik lemah, suara yang aku kenal begitu milik siapa. Tangan kokoh yang melingkar di pinggang ku dengan tidak sopan.
"Maafkan aku. Harusnya aku berdiri dengan gagah berani memperjuangkan mu. Namun, melihat kamu dan Narendra, aku menjadi lebih sadar diri. Bagaimana bisa aku takut kehilanganmu, jika memang sejatinya kamu sudah di miliki Narendra. Bagaimana bisa aku egois dengan memaksakan perasaanku ini."
Tubuhku menggigil. Perasaanku kacau. Aku rindu. Sangat rindu.
"Ra? Maukah kamu menjadi penyempurna diriku?"
Aku ... Aku-- Ya Tuhan, perasaan ini.
"Jadikan aku imam mu, Ludira. Pria yang selalu kau harap Ridhonya. Penanggung jawab, dunia akhiratmu."
Alloh...
"Mas?" panggil ku dengan suara bergetar. Meskipun sudah berusaha menenangkan perasaanku yang mendadak hilang arah. "Bisa tolong yang lebih sopan? Aku mau di lamar dengan cara yang sopan. Bukan dengan cara yang membuat akal sehatku terbang kemana-mana!"
Syailendra tertawa keras. Bahagia. Pria ini tetaplah Syailendra. Bukannya melepas tangannya, justru semakin memeluk erat tubuhku sambil mengucapkan kalimat hamdalah berkali-kali.
...🍀SELESAI🍀...
__ADS_1
😍😍😍😍😍😍😍😍😍
...Siapapun anda, Terima kasih sudah mengikuti dari awal sampai akhir....