
"Raaaaaa?" Narendra memanggilku dengan berteriak. "Iya!" Jawabku. "Tolong ambilin air putih!" sahutnya sambil melambaikan tangan. Dia sudah duduk di tepian kolam bersama Aksara sedangkan Almeera masih berenang. Aku bergegas mengambil tumbler punya Aksara dan juga Narendra, membawanya ke pada mereka.
"Makasih"
"Makasih"
Aksara menjawab kompak bersama Narendra, karena hubungan keluarga, mereka begitu terlihat mirip. Bahkan kadang aku masih kurang bisa menerima, jika Almeera... Putriku juga mirip dengan Narendra.
"Adek udahan ya, mandi terus kita tidur siang. Mau pulang ke rumah mana?" tanyaku setelah mengambil handuk dan membungkus badan kecil Aksara. "Tidur di sini saja dulu. Jangan buru buru pulang, aku mau bicara sama kamu." ujar Narendra mendahului Aksara. "Iya, Ntee." Dukung Aksara. Aku mengangguk.
"Adek udahan?" tanya putriku yang sudah di pinggir kolam.
"Udahan, Kak. Kakak udahan yuk, adek mau bobok siang." ajak Aksara sambil ku keringkan rambutnya.
"Ya sudah! Ayuk!"
Almeera naik ke atas kolam dan menerima handuk yang di ulurkan Narendra. "Terima kasih, Om." ucap Almeera sambil tersenyum.
"Mbak? Mas?"
Kami menoleh, aku dan Narendra menoleh ke arah Silvia yang sedang berjalan ke arah kami. "Saya pamit pulang dulu ya." ujar nya dengan senyuman yang kembali hangat. Tidak lagi sesedih tadi.
"Mau saya antar, Sil?" tanyaku pelan. Dia hanya menggeleng.
"Nggak usah, tadi saya bawa mobil kok."
"Makasih ya, Sil. Atas bantuannya. Maaf, jadi kacau acara kita." ucapku sambil memeluk perempuan manis ini.
"Masih ada waktu lain kali, Mbak. Ngomong ngomong, aku ambil foto kalian tadi.
Udah aku posting di IG." sahut Silvia sambil tersenyum.
Eh?
"Udah biarin, nggak papa." sahut Narendra melihat keterkejutan ku. "Hati-hati, Silvia." lanjut pria itu dengan suara ceria.
"Tante pamit dulu ya anak anak. Bye bye!"
"Bye Tante, hati hati di jalan!"
"Bye Tan!"
Silvia berjalan meninggalkan kami. Saat aku ingin mengantarkan nya sampai pintu, Narendra hanya menggelengkan kepala. "Nggak usah." bisik nya sambil mengusap rambutnya dengan handuk.
"Almeera bisa bantuin Aksara mandi sama ganti baju?" tanya Narendra pelan.
"Bisa doong!"
"Tolong ya, om mau ada yang di bicarain sama Mama."
Almeera mengangguk dan mengajak Adiknya ke kamar mandi. Sedangkan aku menatap bingung ke arah Narendra. "Mau bicara apa?" tanyaku pelan.
"Duduk dulu deh di Gazebo, biar nggak berdiri kaya gini."
"Yang ada kamu mandi dulu, Ren. Ganti baju baru deh kita ngobrol. Ini mah nanti bikin basah semuanya."
Tentu saja aku menggerutu, baju kaos dan celana pendek pria itu basah kuyup dan juga airnya menetes, ribet kan.
"Lagian nanti masuk angin, Ren. Udah sana, mandi dulu kalau mau udahan."
"Ya sudah." jawab Narendra pelan.
"Aku tunggu di ayunan." ujar ku pelan sambil melangkah menuju ayunan.
Entah kenapa, hatiku merasa begitu nyaman saat berada di samping Narendra. Tidak ada desiran apapun di hatiku, atau detak jantung yang tak beraturan. Tidak ada. Hanya ada rasa nyaman yang begitu melenakan. Perasaan sayang yang hadir begitu saja.
Aku masih harus meyakinkan diriku, hatiku, bahwa dia adalah Narendra. Aku tidak boleh berandai-andai jika dia adalah mas Dodi. Aku harus kembali mengontrol hatiku sendiri. Supaya kami bisa baik baik saja, supaya kami bisa mengetahui perasaan kami yang sesungguhnya.
Telepon di saku celanaku bergetar, aku mengambilnya dan melihat ke layar ada pesan masuk dari Syailendra.
[Ada perkembangan nih yeee, baru di tinggal sebentar aja langsung topcer!]
[Turut berbahagia.]
Aku mengamati foto yang di kirim Syailendra. Foto akun yang sedang berdiri di samping Narendra dan kedua anak anak. Oh, mungkin ini foto yang di maksud Silvia. Jariku bergerak cepat menghubungi pria itu.
__ADS_1
"Hallo" Sapa suara berat di ujung sana.
"Assalamu'alaikuuuum!" ucapku gemas. Kebiasan sekali kalau Syailendra itu.
"Iya iya, waalaikumsalam."
"Sudah sampai?"
"Sudah."
"Fotonya dapat dari Ig nya Silvia ya?" tanyaku pelan.
"Iya, sama Silvia di kasih caption keluarga cemara. Udah baikan?"
"Baikan apa?"
"Kamu sama Narendra"
"Ooh, dia nggak gimana gimana, bersikap biasa saja. Perjalanannya gimana? Lancar?"
"Lancar kok. Oh ya? Aku seperti nya agak lama deh di sini."
Aku terdiam, entah kenapa aku begitu kecewa. Terlebih saat kami terdiam, ada suara wanita yang begitu lembut.
"Syailendra? Bisa cepat kesiniii."
"Iya, bentar. Sebentar lagi ya." jawab Syailendra begitu jelas di telingaku. Membuatku jadi menggigit bibir. Mungkin Syailendra sedang bersama wanita wanita penghibur nya. Duh, aku kok jadi kesal gini ya, kebayang aja sama Aksara.
"Lagi sibuk? Langsung buang sampah ya?" Sindir ku. Aku bahkan terkejut dengan nada bicara ku sendiri. Harusnya masa bodoh kan sama apa yang di lakukan Syailendra. Toh memang sudah sejak awal dia selalu mengakui berapa liarnya dia.
"Buang sampah apaan sih? Kok marah?"
"Iya buang sampah. Inget loh yaa, awas pokoknya kalau Aksara punya adik di luar nikah! Kasihan, Mas!"
Yups, mungkin ini yang menjadi alasanku begitu kesal dengan Syailendra. Aku paling tidak tega dengan bayi bayi yang di lahirkan di luar pernikahan. Ini yang membuatku berdiri gelisah ke sana begitu mendengar suara perempuan itu, padahal tadi sedang asyik di atas ayunan.
"Hahahaha, sumpah ! Aku barusan terkejut. Tapi di bolehin nihh kalau akun buang sampaaah?" Ledek Syailendra di ujung sana. Membuatku semakin kesal saja.
"Itu urusan pribadimu ya, aku bukan kamu yaaaaa yang suka ikut campur sama urusan pribadi orang laaaiiiin!!" bentak ku kasar. "Assalamu'alaikum!" Aku menutup panggilan itu tanpa menunggu jawaban Syailendra dan memasukan telepon genggam itu di saku kembali. Kesal dan juga marah, bisa bisanya dia. Baru sampai sudah berbuat sesuatu yang nggak baik.
"Syailendra. Dia emang gitu ya? Duh liar banget pergaulan nya. **** bebas?"
"Nggak gitu. Bukan **** bebas seperti yang kamu pikirkan. Dia hanya membutuhkan pelampiasan gairah seksual nya. Tidak sembarangan."
"Dih, yang barusan saling pukul ternyata juga saling membela ya." sindir ku pelan.
"Hahahaha, kami saling menyayangi."
Aku tersenyum, ikut bahagia dengan apa yang di katakan oleh Narendra.
"Anak-anak gimana?" tanya ku pelan.
Narendra duduk di ayunan sebelah ku. "Lagi nonton kartun, barusan Aksara udah ngantuk banget kok kelihatannya. Kalau mereka tidur di sofa biar aku pindahin ke kamar, nanti." terang Narendra.
"Eem, kamu gimana jelasin sama anak anak soal lebam di wajah kamu, Ren?"
"Aku bilang, habis ngelawan perampokan. Terus mereka percaya." jawab Narendra sambil tersenyum janggal.
Aku mengangguk. Perampokan?
"Hubungan kamu sama Bang Lendra sudah sejauh itu?" tanya Narendra pelan.
"Hubungan apa? Kita nggak ada hubungan apa apa kok. Soal video kemarin kayanya emang sengaja bikin kamu emosi." sahut ku malu, aku teringat pengakuan Narendra yang entah mengapa tidak menggetarkan hatiku meskipun aku sudah tersipu malu seperti ini.
Narendra menatapku dan tersenyum, "Mungkin bang Lendra sengaja membuatku cemburu. Aku cemburu, Ra. Sungguh. Aku menyukaimu." ucap Narendra membuatku berhenti memainkan ayunan.
"Sebaiknya kita jujur saya, Ren. Sebelumnya maafkan aku. Aku nyaman kok sama kamu, nyaman banget, sayang juga. Tapi entah kenapa, jantungku tidak bergerak kencang." bisik ku pelan.
Aku menoleh kearah Narendra yang masih tersenyum dan memandang lembut ke arahku. "Jujur, Ra. Aku tertarik padamu, sangat tertarik padamu. Hatiku nyeri teramat sangat saat kamu bersama bang Lendra. Aku cemburu karena aku takut kamu akan lebih memilih bersama bang Lendra. Jantungku justru berdebar-debar begitu melihatmu. Aku bahkan merindukanmu setiap saat, Ra. Bersamamu, aku seperti meneguk air jernih saat haus datang berkunjung." Ungkapan perasaan Narendra membuatku lagi-lagi Speechless.
Aku tidak memiliki pengalaman seperti ini. Dulu aku jatuh cinta kepada Mas Dodi, dia yang pertama kali. Dia cinta pertamaku. Dan setelah itu aku tidak pernah mengenal cinta yang lainnya.
"Namun, aku juga ingin membuat pengakuan yang lainnya. Setiap kali kita bersama, aku.. Kamu dan Almeera. Selalu saja muncul di kepalaku. Andaikan kamu adalah Shofia, andaikan Shofia sebaik kamu dan kita saat ini adalah keluarga sempurna yang bahagia. Jahat kan?" sahut Narendra dengan suara tercekat. Dia bahkan tidak memandang ke arahku. Kepalanya mendongak melihat ke langit luas.
Hatiku tentu saja nyeri, hatiku merasa sakit dan aku tahu persis bagaimana perasaan Narendra saat mulai membandingkan seperti itu. Aku meneguk slavia ku berkali-kali.
__ADS_1
"Aku juga sejahat itu, Ren. Aku terus berfikir, kamu adalah mas Dodi. Membayangkan bahwa kami masih menjadi satu keluarga yang utuh. Harapan palsu yang aku ciptakan untuk diriku sendiri itu begitu kuat di otakku. Meskipun akal sehatku masih berfungsi, memanggilmu dengan namamu sendiri tetap saja hati dan khayalanku berjalan." terang ku pelan.
"Kita salah, Ra. Kita sama sama menjadikan satu sama lain sebagai pengganti, sebagai boneka yang bisa kita gunakan sebagai alat untuk memenuhi harapan yang kita buat, memenuhi ekspektasi. Bedanya, semua itu hancur saat Shofia datang. Semua kenangan buruk yang sedang aku berusaha tutup dengan kenangan indah, luluh lantah dalam sekejab mata. Kamu benar, Ra. Aku--aku yang masih terus mempertahankan kenangan tentang Shofia meskipun aku tahu itu membuatku menderita."
Narendra menundukkan kepala. Aku tidak tega melihat pria ini terlihat begitu hancur. Aku berdiri di depannya dan memeluk kepala pria itu. Mengusap lembut rambutnya saat ia mulai menangis tersedu-sedu. Memilukan. Hatiku kembali remuk redam. Nafasku ikut terasa berat.
Syailendra benar, aku harusnya bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan rasa sakit kepadaku melalui cara yang begitu lembut. Aku terus mengusap punggung pria ini, pria yang kini menangis tersedu-sedu. Sesenggukan hanya karena membiarkan masa lalu yang berbentuk belati itu menari-nari di atas lukanya.
"Ternyata--ternyata hatiku mencintai dua perempuan, Ra. Aku--aku sungguh merasa begitu bu--buruk." bisik Narendra di sela sela tangisnya.
Narendra melepaskan tangannya yang tadi memeluk erat pinggang ku. Kini menggenggam tanganku dan menengadah menatap ke arahku yang ikut menangis tanpa suara.
"Aku egoiskan, Ra? Menginginkan dua duanya? Yang pada akhirnya aku pahami bahwa itu akan menyakiti siapapun."
Tanganku, jari jariku bergerak mengusap air mata yang jatuh di pipi Narendra. Mengusap pipi pria itu dengan penuh kasih sayang yang aku miliki untuk nya.
"Jika Shofia masih mencintaimu, mungkin kamu sebaiknya berhenti menghukum dia dan juga dirimu sendiri." ucapku pelan. Hatiku kembali terasa nyeri.
Ya Tuhan, jika ini bukan perasaan cinta. Mengapa begitu menyakitkan saat mendukung Narendra kembali kepada Shofia? Mengapa begitu berat hati ini? Sakit dan nyeri.
"Benci dan cinta itu beda tipis, Ren." Sambung ku, akun berusaha mengabaikan dadaku yang mulai sesak. Bahkan mengambil nafas pun terasa begitu berat.
"Tapi aku juga mencintaimu, Ra."
"Cintamu padaku, mungkin lahir dari keterbiasaan, Ren."
"Aku selalu sulit melepas mu saat aku berfikir untuk kembali memberi kesempatan pada Shofia." Narendra tampak begitu sungguh-sungguh. "Izinkan aku bersamamu, Ludira." sambungnya dengan suara yang begitu berwibawa.
"Ren, aku hanya menyayangimu. Tidak mencintaimu, kamu sudah dengar kan?" aku berusaha meyakinkan Narendra, meskipun hatiku semakin sakit saja.
"Aku tahu, aku paham. Mungkin karena wajahku yang kebetulan begitu mirip dengan Mas Dodi, jadi kamu begitu mudah menerimaku. Aku rela, Ra! Asal kamu bersedia bersama ku. Kita akan baik baik saja seperti ini. Dan aku hanya perlu menganggap Shofia tidak ada di sini."
Aku masih terdiam. Air mataku kembali menetes.
"Menikahlah denganku, Ludira."
Aku melepas tangan Narendra dan seketika itu bergerak ke belakang. Aku terkejut bukan main. Tidak percaya dengan apa yang telingaku dengar. Syailendra? Otakku langsung muncul nama itu. Apakah dia sebenarnya n sudah menduga hal ini, makanya dia pergi ke Surabaya secara mendadak.
"Ludira, menikahlah dengan ku."
Narendra kini berdiri di depanku, jarak kami sangat dekat. Harusnya aku bahagia kan? Kejelasan yang selama ini aku inginkan sudah di depan mata. Kita bisa memulai kehidupan kita dengan lembaran yang baru, menyimpan masa lalu kita masing masing.
Ini kan yang sejak kemarin aku inginkan? Bersama Narendra, memiliki keluarga. Dan selama ini kami sudah baik baik saja, sudah selayaknya keluarga bahagia. Mengapa sekarang justru hatiku meragu, mengapa aku kembali dilema dengan semua ini.
Kami, aku dan Narendra sudah terbuka tentang permasalahan kami. Dia tidak masalah ataupun terganggu dengan hatiku yang belum bisa mencintainya sebagai Narendra, bukan sebagai kembarannya Almarhum suamiku. Pria ini bersedia menerima kenyataan itu. Dia berlapang dada dengan pengakuan ku.
Apalagi yang aku tunggu?
Apalagi yang membuatku di rundung ragu dan dilema?
Apalagi yang membuatku gelisah?
Dia, Narendra sudah menerima dan memilih aku sebagai masa depannya. Dia sudah memilih langkah ini. Jika kita bisa saling menguatkan, maka apapun kendalanya tidak akan mampu memisahkan. Iyakan seperti itu? Benarkan, apa yang aku pikirkan ini?
Aku tidak lagi perlu ketakutan, bahwa aku berjuang sendirian. Aku harusnya tidak meragukan kesungguhan Narendra untuk melangkah ke depan bersama denganku. Dia memilih aku sebagai masa depannya. Bersedia melepas masa lalu yang selalu ia genggaman erat dalam jiwanya.
YA Tuhan,
"Kamu perlu istikharah, Narendra. Jangan gegabah seperti itu. Pernikahan bukan hal yang main main." Sentak ku keras saat aku mampu terjaga dari rasa terkejut yang sepertinya baru saja melumpuhkan saraf saraf dalam tubuhku. Iya, kami harus istikharah terlebih dahulu.
Narendra menggeleng pelan. "Aku pernah salah membaca peringatan setelah sholat istikharah, Ra. Sebaiknya cukup dengan rasa yakin dalam diriku sendiri." ujar Narendra pelan. Kembali membuatku terkejut.
"Sebelum aku menjawab permintaanmu tadi, bersediakah kami menceritakan kepadaku? Segala tentangmu, Narendra." bisik ku dengan suara lembut yang dalam. Aku tidak ingin merasa lelah meyakinkan bahwa semua baik baik saja. Aku perlu.. Aku perlu tahu semua yang terjadi sehingga aku tidak merasa asing saat mereka kembali membahas tentang ini.
"Itu hanya membuatku terluka, Ludira. Untuk apa membicarakan yang sudah sudah. Aku ingin menutup lembaran itu. Cukup sudah aku bertahan selama ini dengan terus terbayang kisah suram tersebut." sahut Narendra dengan wajah yang mengeras. Aku tertawa, tertawa sangat keras.
"Kamu pernah berfikir nggak, Ren? Kamu yang tidak terbuka seperti ini justru membuatku takut. Takut jika suatu saat nanti kamu akan meninggalkan aku. Aku bukan pecinta drama seperti Syailendra. Tapi kemungkinan seperti itu terlalu besar mengingat cinta kamu yang sepenuh jiwa kepada Shofia! Apa? Apaaa? Apa jaminannya kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan ku, Ren? Aku takut, saat mulai jatuh cinta kepadamu, sungguh jatuh cinta kepadamu, kamu pergi ninggalin aku." aku berteriak. Kemudian menangis. Belum belum sudah nggak bisa menahan cemburu ku ini, apalagi nanti?
"Sudahlah, Narendra. Anggap saja tadi kamu hanya salah bicara. Kamu benar, tidak ada perempuan yang rela di duakan dengan apapun juga. Aku egois, Ren. Aku belum bisa sepenuhnya jatuh cinta padamu, tapi aku tidak mau berbagi dengan siapapun. Aku perempuan yang serakah, Narendra. Maaf, mungkin aku tidak sesuai ekspektasi mu." Sambung ku. Kemudian melangkah meninggalkan Narendra.
"Tunggu, Ra."
Aku berhenti, tapi tidak menoleh.
"Beri aku waktu, beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya, menceritakan semua yang kamu inginkan. Beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku sungguh menginginkan kamu sebagai masa depan ku."
__ADS_1
Aku menoleh ke arah Narendra, "Beri aku waktu juga Narendra, untuk memikirkan semua ini. Tolong, biarkan aku pulang bersama anak anak." pintaku pelan.