
Pertama kali aku melihat anak itu, aku langsung jatuh cinta padanya. Senyum, Wajah yang ekspresif sekali, kemudian entahlah.. Yang jelas aku begitu tertarik olehnya. Terjerat begitu saja oleh pesona anak balita yang bernama Aksara itu.
Dan ternyata bukan hanya diriku saja, melainkan putriku Almeera juga begitu tertarik dan langsung sayang dengan adik kecilnya itu. Sesampai di rumah pun tidak lepas dari pembicaraan tentang Dek Aksara yang seperti ini, Dek Aksara yang suka sekali dengan buah stowberry.
"Maa, dek Aksara itu kasihan loh, Maa." ucap putriku sambil membantu mencuci piring yang baru saja di gunakan untuk makan malam. "Dek Aksara itu jarang ketemu sama papanya, jadi kesepian gitu. Cuma sama mbak." lanjut putriku.
Memang semenjak dekat dengan Narendra, gadisku ini sering membicarakan kehidupan orang lain, jelas berbeda dengan kebiasaan kami yang dulu. "Mbaknya itu namanya siapa, Ra? Mama lupa nggak tanya." Baru ingat kalau aku benar-benar nggak tahu nama pengasuhnya Aksara.
"Delia, Mbak Delia, Mah." sahut Almeera, mengeringkan tangannya dan duduk di kursi. "Mama pengen ketemu sama Aksara nggak, Ma? Almeera kok rindu sama Aksara ya?"
Aku meletakkan kain lap tangan dan menoleh ke arah putriku. "Mama juga deh, cuma kita nggak punya kontaknya Delia kan? Atau coba Almeera menghubungi om Narendra ya?" Usul ku sepintas. "Ide bagus, Maa. Almeera pinjam HP nya Mama yaaa. Terima kasiih." sahut putriku gembira, berdiri dan memeluk tubuhku serta mencium pipiku sebelum berlari menuju kamar tidurku.
Dan Aku masih berdiri di tempat, geleng geleng kepala dengan tingkah putriku ini. Memikirkan Narendra jadi teringat dengan percakapan ku dengan Silvia, teman dekatku yang ternyata saat ini di jodohkan dengan Narendra oleh keluarga mereka berdua.
__ADS_1
"Mbak mau tanya apa? kok sampai harus berdua di sini. Tumben, hehehehe." ujar Silvia penasaran karena aku ajak makan berdua di kafe langganan aku dan juga mereka berdua, Silvia dan Dewi. "Maaf ya, jadi ganggu waktu kamu. Cuma ini kalau tidak lekas di luruskan, mbak takut ada salah paham kan repot." jawabku pelan.
"Sil, Narendra bilang kalau kalian di jodohkan." ucapku terus terang. Aku memang lebih suka langsung ke topik pembicaraan di bandingkan harus menjelaskan ini itu terlebih dahulu. Toh, yang aku ajak bicara tahu kalau saat ini aku sedang akrab dalam artian bukan akrab sebagai calon pasangan.
Silvia tersenyum malu, salah tingkah. "Mbak emang yaaaa. To the point banget. Nggak kasih aku persiapan dulu." Elak Silvia sambil membetulkan posisi duduknya, jelas sekali ini perempuan cantik sedang salah tingkah. Silvia itu bisa di bilang lebih kalem dari pada Dewi. Namun juga lebih iseng dari pada Dewi. "Aku kan jadi nervous gini, Mbak."
"Hahaha" Aku tertawa kecil, belum apa apa muka Silvia sudah memerah. "Kamu nggak pernah cerita sih." sahutku setengah menuduh. Iya... tidak pernah cerita sama sekali soal perjodohan, dia hanya selalu bercerita tentang Narendra yang ini Narendra yang itu, mencintai dalam diam dan terus menyebut nama Narendra dalam doa do'anya.
"Jadi mbak, sebetulnya kita memang di jodohkan. Keluarga aku tuh merasa bersalah dengan semua yang telah terjadi antara mas Narendra dan juga Mbak Sofia. Terus, mereka mencoba kembali memperbaiki hubungan dengan perjodohan ini."
"Terus mbaak, aku nggak bisa nolak. Lagi pula mbak tahu sendiri bagaimana perasaan saya ke Narendra. Cuma sikapnya Narendra itu bikin aku sadar, Mbak. Sadar kalau rasa nyaman tidak bisa di paksakan begitu saja, apalagi perasaan cinta. Mbak jangan heran deh, Narendra yang bersama mbak itu beda jauh sama Narendra yang aku kenal selama ini. Okelaaah, Narendra memang ramah supel banyak senyum gitu kan di lingkungan kampus, tapi senyumnya itu tidak sampai. ke mata mbak, tetap saja pandangan mata tidak bisa mengelabui, menutupi gejolak hatinya." Jelas Silvia panjang lebar. Sedangkan aku hanya mengerutkan kening. Jelas tidak bisa membenarkan apa yang Silvia katakan. Narendra itu pria jahil, iseng terus kekanak-kanakan.
"Terus, saat Narendra bertemu dengan Almeera, sejak itu aku rasa ada yang berbeda dengan mas Narendra. Mas Narendra yang dingin tidak tersentuh dan perfect tapi justru menakutkan itu seperti menemukan semangat baru yang membuat dia terlihat lebih normal. Bukan patung atau tobat yang di setting tanpa kesalahan. Sejak saat itu mbak, aku memilih mundur pelan pelan. Aku berhenti berharap. Percumah kan kalau kita bersama dengan manusia yang pada akhirnya hanya memberikan kebahagiaan yang kosong. Bahagia sendiri, cinta sendiri itu tidak enak."
__ADS_1
"Jadi maksudnya kamu, Narendra yang selama ini kamu kenal jauh berbeda dengan Narendra yang aku kenal gitu?" tanyaku penasaran. Jangan kira otakku tidak hanya berpikir tentang semua penjelasan Silvia, tapi sekarang justru sudah lari kemana-mana. Terlalu banyak praduga.
Pertanyaan ku hanya di jawab anggukan kepala. "Aku kok jadi takut gini ya, Sil. Narendra punya kepribadian ganda atau altar ego?" tanyaku pelan yang serupa bisikan.
"Hahahahaha." Suara tawa Silvia terlalu keras hingga aku nepuk tanganya. Aduh ini perempuan.
"Mbak pikirannya aneh aneh gitu, ih. Mbak kan patah hati juga, tahu gimana rasanya kehilangan seseorang. Nah, mbak selama ini dingin, terus cuek dengan apa yang terjadi. di kehidupan orang lain, mbak hanya fokus dengan kehidupan mbak sendiri. Kalau Mas Narendra itu gimana ya, Mbak. Aku susah menggambarkan yang sekiranya nggak bikin mbak bingung. Intinya, aku bahagia dengan kondisi mas Narendra sekarang saat bersama mbak Ludira dan juga Dek Almeera." Jelas Silvia panjang sekali.
"Jadi soal perjodohan gimana, Sil. Aku nggak mau lo yaaa jadi alasan kegagalan perjodohan kalian, aku janda lo Sil. Rawan sekali sama fitnah. Terlebih ini menyangkut dua keluarga besar, jangan sampai ada kabar yang tentang aku yang menjadi orang ketiga di hubungan kalian." Jelasku begitu serius kepada perempuan yang kini tersenyum penuh kasih sayang sambil menggengam tanganku erat. Memandangku penuh kesenduan yang sulit aku artikan. Entah karena rasa nyeri di dadanya sendiri atau rasa khawatir sekaligus rasa perduli kepadaku. Pandangan mata Silvia itu prihatin sekali.
"Aku jamin, Mbak. Tidak akan ada fitnah kejaaam untuk mbak Ludira karena persoalan ini." suara lembut Silvia membuatku tersenyum, aku membalas menggenggam tangan Silvia dengan tanganku yang satunya. "Yakin kamu baik baik saja? ini cinta kamu ke Narendra besar banget lo, Sil. Aku pingin bilang ke Narendra buat mencoba membuka diri dengan kamu, memberikan kesempatan sama kamu, tapi kok gimana yaaa. Aku sendiri masih terjebak di sini, di dada ini masih begitu berharap bahwa kepergian mas Dodi hanya mimpi saja. Berharap suatu saat, beliau hadir di pintu seperti biasanya beliau pulang dari luar kota atau luar negeri."
Ah, ujung ujungnya suaraku sendiri yang serak. Aku selalu lemah jika harus membahas tentang ini. Aku mencoba menguatkan hatiku supaya tidak selemah ini. "Cinta tidak selalu soal memiliki, Aku mencintai mas Narendra itu soal aku memberikan sesuatu tanpa berharap untuk mendapatkan apa yang aku berikan juga. Hatiku sudah terlatih mbak, berkali-kali aku tersenyum kepada mas Narendra saat di luar jam kerja, tidak pernah di balas oleh senyum yang benar-benar senyum oleh mas Narendra. Aku tertawa, aku memandang penuh cinta, penuh kerinduan. Tapi aku tidak pernah mendapatkan semua itu dari mas Narendra. Jadi, Tolong mbak. Tetap seperti ini dengan Mas Narendra, aku cukup. puas melihat orang yang aku cintai merasa kembali hidup."
__ADS_1
Cinta, Silvia memiliki begitu besar cinta untuk Narendra. Sedangkan Narendra tidak bisa melihat semua itu, entah benar-benar tidak bisa melihat atau mencoba menolak untuk menyadari hal tersebut seperti diriku. Aku selalu menolak. untuk mengakui bahwa ada beberapa orang yang terlihat begitu susah payah mencintaiku tanpa syarat. Menerima aku dan juga lukaku, bersedia sabar menunggu aku hingga aku benar-benar pulih dengan semua ini. Ah, Cinta. Memang mampu menguatkan namun juga mampu melemahkan.