
"Assalamu'alaikum, Mbak?" suara Narendra di sebrang sana. Hangat dan ceria. Memang sangat beda dengan apa yang di gambarkan Silvia tempo hari. "waalaikumsalam, Ren. Jadi gimana Ren? ini Almeera sudah bilang belum?" tanyaku, sebenarnya keningku mulai berkerut, tidak percaya dengan mulutku yang melontarkan banyak sekali pertanyaan. Tumben.
"Sudah, Mbak. Nanti Narendra coba hubungi Papanya Aksara, minta izin kalau mau bawa Aksara ke tempat mbak."
"Gimana kalau izinnya sekalian nginap, Ren? besok weekend kaaan, jadi Almeera juga libur. " ucapku malu malu. Aduuh, bayangan Aksara memang membuatku sedikit berani. "Hahahaa. Aku heran deh, mbak kok bisa begitu ya sama Aksara tapi sama aku duuuhhh bangeeet." suara lebay Narendra kembali terdengar.
Sabar.. Sabar.. Jika belum melihat ekspresi dingin Narendra saat membicarakan mantan istrinya minggu lalu, aku tidak akan pernah percaya dengan apa yang Silvia jelaskan. Ini suaranya aja sok manja, sok genit seperti ini. huuuh.
"Ren, kondisikan suaranya. Risih, jijik dengarnya.".
Suara tawa kembali terdengar di ujung sana. Sekaligus suara tawa yang tertahan terdengar dari samping tempatku berdiri. Almeera, putriku.
" Maaf, Komandan! Jadi gimana ini rencananya?".
"Kamu minta izin sama Papa Mama nya Aksara dong, eh.. iya.. Atau aku di kenalin sama mamanya Aksara aja deh, eeh atau Kita yang kesana aja? nggak mungkin boleh kan sama mamanya kalau nginap di sini?" Tanyaku salah tingkah, bagaimana bisa aku tidak memikirkan tentang sosok mamanya Aksara ya? Atau karena minggu lalu saat mengantarkan Aksara, di sana hanya ada asisten rumah tangga. Saat itu juga aku tidak sempat bertanya tentang orang tuanya Aksara.
"Eeeem, saya cerita nanti saja deh, Mbak. Yang penting ketemu sama Aksara kan?"
"Eh, kok gitu si?"
"Gitu aja yaa, Mbak. Mau ngobrol sama ibu nggak? eh tapi saya lagi di luar."
Aduh, Narendra!!!
"Kamu sekarang jadi nyebelin gini, suka modus. Moduskan biar saya tanya kamu ngapain malam malam di luar?"
"Hahaha, mbak pinter bangeeet deh. Ya sudah, mbak."
"Mau ngomong sama Almeera lagi?" tanyaku pelan. Mungkin memang ada baiknya aku dan Narendra sedikit berbaik hati. Setidaknya kami sama sama tidak bisa move on dari kenangan masa lalu. Tidak rugi mungkin jika saling menguatkan. "Boleh mbak."
"Ini sayang, Om mau ngomong lagi." Ujarku sambil mengulurkan HP ke arah putriku.
"Iya, Ooom?"
"Jangan tidur kemalaman, Jangan baca bukunya Mama yaa!!" suara keras Narendra terdengar karena menang hpnya di louspeker oleh Putriku
"Buku Novelnya mama yang label Dewasa jangan di bacaaa, Oke sayang?"
"Almeera sudah dua belas tahun, Om."
"Pokoknya belum boleh, terus awas ya kalau Firthing, senyum senyum sama cowok yang suka kirim Adek surat itu."
__ADS_1
Aku tertawa, Narendra memang terlalu posesif.
"Iya iyaaa."
"Ya sudah, Assalamu'alaikum kesayangan om sama mamaaa."
"Waalaikumsalam." jawab kami, aku sangat putriku bareng.
Setelah menutup panggilan, Almeera memeluk tubuhku. Kembali membisikan kalimat Terima kasih sebelum kembali ke kamarnya.
****
[Assalamualaikum, Mbak. Nanti sekitar pukul sembilan, saya sama Aksara ke tempat mbak. Kalau tanpa pengasuh repot nggak?]
Selepas solat subuh, pesan Narendra masuk. Aku tersenyum senang, entah kenapa hatiku begitu hangat saat membaca pesan Narendra, kalau Aksara bisa kesini hari ini.
[Enggak dong. Memangnya mbak Delia kenapa?]
[Nggak papa sih, cuma kasihan kan nggak pernah liburan. Jadi lumayan lah bisa buat liburan. Papanya Aksara juga sudah setuju kalau Aksara nginap di rumah Mbak.]
Senyumku mengembang sangat lebar.
Mau protes, harusnya tetap sama mbak. Biar lebih nyaman. Tapi mau gimana lagi, ikut aja.
[Iya Iya, Komandan. Atau gimana kalau kita ke kebun binatang aja deh, Atau kemana gitu mbak?]
[Mendadak?]
[Atau nonton? Habis itu belanja buat bakar bakar?]
[Bakar bakarnya sudah kemarin, Narendra. Aksara sukanya apa ya??]
[Kita nonton aja deh, Mbak. Habis itu terserah mbak. Aksara suka semua, nggak pilih pilih kayanya. Aku kurang paham. Mbak aku kasih nomornya Delia aja ya?]
[oke.]
Aku tipe perempuan yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk mereka yang aku sayangi, tidak terkecuali anak balita yang bernama Aksara itu. Setelah selesai mengirim chat kepada Narendra, aku bergegas ke dapur. Melihat persediaan bahan apa saja yang bisa aku gunakan untuk membuat sesuatu.
"Dek Aksara suka Brownies, Ma" ucap putriku dari belakangku, rupanya baru saja selesai olahraga lompat tali. Di tangan putriku masih ada alat itu. "Yah, seperti nya memang kita harus belanja bulanan, Deh sayang." sahutku saat menyadari memang semua persediaan menipis bahkan beberapa sudah habis.
"Tadi om Narendra bilang katanya dek Aksara jadi ke sini, Al. Terus kita di ajak nonton dulu. Gimana?" Tanyaku,
__ADS_1
"Mama mau?" putriku justru bertanya balik dengan wajah bingung. "Iya." Aku tersenyum malu, "aaaaaaah, Alhamdulillah bangeeet." teriak putriku sambil meloncat memeluk tubuhku. Hahahaha, kami tertawa bersama. Aku memeluk tubuh putriku yang semakin tinggi saja.
***
[Bu, ini saya Delia. Tadi pak Narendra minta di buatkan list tentang mas Aksara. Mas Aksara tidak ada alergi, cuma menang sedikit sih untuk makan sayur. Terus suka brownies sama susu kedelai, sukanya rasa Stowbeery dan cokelat. Tidurnya mudah kok, Bu.]
Aku membaca pesan masuk dari Delia sambil menunggu kedatangan Narendra dan juga Aksara. Setelah membalas pesan dari Delia, aku kembali meletakkan HP di atas meja.
"Maaa, Om sama Adek sudah sampaaai." Teriak putriku dari depan.
Lagi lagi putriku yang kalem itu teriak teriak.
"Assalamu'alaikum, Mbak."
"Assalamu'alaikum, Tantee."
Aduuuh, imut sekali. "Waalaikumsalam, Sayaaaang."
Aku memeluk tubuh mungil Aksara setelah mengambil alih dari gendongan Narendra. Sedangkan Narendra kini memeluk putriku, sambil memandang ke arahku dengan senyuman yang begitu lebar. Ah, Silvia... Seandainya kamu bisa melihat semua ini, seandainya senyum itu untuk dirimu. Rasa nyeri karena merasa bersalah begitu menusuk di antara kebahagiaan yang hadir ini.
"Jadi kita bisa langsung berangkat saja kan? sudah siap semua?" tanya Narendra. Yang aku jawab dengan anggukan kepala.
Aku menggandeng tangan Aksara dan Narendra menggandeng tangan Almeera, mungkin jika di luar sana ada yang melihat kami dan tidak mengenal kami, bisa jadi mengira bahwa kami adalah keluarga yang bahagia. Nyatanya, kami adalah dia orang asing yang kebetulan terikat dengan dua anak anak yang berbeda.
"Tante duduk di depan aja, biar Adek sama Kaka yang duduk di belakang, iya kan kak?" ucap Aksara begitu saja saat aku membuka pintu bagian belakang.
Aduh, mau bilang apa aku? Sedangkan putriku kini menutup mulut, menahan tawa. Narendra? Tersenyum penuh kemenangan. Kali ini dia bebas menjadi petugas sopir jika begini.
"Tante di belakang aja ya sama Adek sama Kakak." Jawabku. "Atau kakak yang di depan ya, biar Aksara yang sama Tante." lanjutkan begitu mendapat ide berlian.
"Okeh, Deh."
Aku tertawa bahagia saat melihat Narendra tersenyum masam.
Sepanjang perjalanan, suara canda tawa Narendra dan juga putriku serta Aksara tidak berhenti. Semua begitu bahagia, bahkan diriku sendiri, hingga rasa sakit nyeri merasuk di dalam hati tanpa permisi. Pikiran sembrono yang begitu liat hadir di dalam benakku saat Narendra menoleh ke belakang, tersenyum ke arahku.
Seakan aku melihat mas Dodi di sana, ah... Ini seperti candu bagiku. Semakin aku menutup mata semakin ini semua menjadi sangat tidak terkendali. Kalimat yang berawalan seandainya seandainya, memenuhi otakku.
Seandainya langit tidak begitu cepat mengambil pulang mas Dodi, mungkin sekarang saat ini akan jadi acara keluarga bahagia. Almeera asyik tertawa bersama ayahnya dan aku di belakang mereka sambil bercanda juga dengan putraku.
Mengapa harus sesakit ini, saat kita menyadari bahwa kehaluan kita tidak pernah akan menjadi nyata. Iya, tidak akan pernah menjadi nyata karena aku hanya ingin mas Dodi, bukan peran pengganti.
__ADS_1